
“Dari mana saja kamu?” suara berat Hernan benar-benar
lantang dan terdengar marah.
Nisha juga tidak mau kalah. Ia balik menatap Hernan dengan
tatapan tajam.
“Bukan urusanmu!!!” ucap Nisha kesal dan berjalan melewati
tubuh Hernan.
Hernan benar-benar marah sekarang, ia menarik tangan Nisha
kasar dan membuat tubuhnya menabrak tubuh Hernan.
“Apa maksudmu bicara begitu padaku? Apa kau tidak
menghargaiku, hah?!” ucap Hernan dengan mata memerah.
Grey tidak bisa tinggal diam. Ia segera menghampiri Hernan
dan Nisha. ia takut jika berbuat kasar padanya. “Hei, bung. Jangan main kasar
pada wanita!” ucap Grey.
Hernan membalikkan badan dan menatap tajam Grey. “Apa
urusannya denganmu, bocah?”
“Aku bukan bocah! Justru kau yang kekanak-kanakan karena
bersikap kasar pada wanita.” Bantah Grey.
“Aku adalah suaminya, jadi aku berhak melakukan apapun
padanya!”
“A-apa? Suami?”
“Benar! Nisha adalah istriku. Jadi sebaiknya kau jangan
mendekatinya lagi.”
Grey menatap Nisha. “Benarkah itu, Nisha? Kau adalah
istrinya?” Tanya Grey berharap jika Nisha menyangkalnya.
Nisha memalingkan wajahnya. Ia tidak menjawab. Hernan yang
sudah amat marah segera menarik tangan Nisha dan membawanya masuk kedalam
rumah.
Sementara Grey hanya berdecih tak percaya dengan apa yang
dikatakan Hernan.
Nisha menepis tangan Hernan yang terus mencekalnya. “Lepaskan!”
kesal Nisha ketika mereka sudah memasuki ruang tamu.
“Apa yang kau lakukan malam-malam dengan bocah itu, huh?”
lagi-lagi Hernan bertanya soal hubungannya dengan Grey.
“Sudah kubilang bukan urusanmu! Bukankah di perjanjian sudah
tertulis jelas, jika kita dilarang untuk mencampuri urusan pribadi masing-masing.
Aku tidak pernah mencampuri urusanmu dengan siapapun. Jadi, kau juga jangan
ikut campur urusanku!” Nisha pun segera masuk ke dalam kamarnya dan mengunci
pintunya.
Nisha merebahkan tubuhnya di tempat tidur. Hatinya amat
sesak dengan perlakuan Hernan padanya. Di kala kesedihannya, Nisha tiba-tiba
ingat dengan pangeran masa kecilnya. Pangeran yang membuatnya selalu ingin
berada di negeri dongeng seperti buku yang selalu dibacanya.
“Kakak… Aku merindukanmu… Kau sekarang ada dimana?” Lirih
Nisha sambil terisak diatas bantalnya. Karena lelah menangis, akhirnya Nisha
pun tertidur dan masuk ke alam mimpi. Ia berharap bisa bertemu dengan
pangerannya di alam mimpi.
.
.
.
Keesokan harinya, Hernan terbangun dan mendapati suasana
rumah yang begitu sunyi. Mereka memang hanya tinggal berdua saja. Karena Hernan
ingin privasi mereka terjaga dan sandiwara pernikahan mereka tidak terbongkar.
“Kemana gadis itu? apa sudah pergi kuliah?” Tanya Hernan
sambil menuju meja makan.
Hernan melihat sebuah catatan kecil tertempel diatas meja
makan. Itu adalah catatan dari Nisha.
“Aku hanya membuat
roti lapis, karena tidak ada bahan makanan lain. Jika kau tidak suka, tidak
perlu dimakan, buang saja ke tempat sampah. Pulang kuliah aku akan berbelanja
kebutuhan dapur.”
Hernan tersenyum kecil melihat roti lapis sederhana diatas
meja. Ia pun mengambilnya dan memakannya. Ia memang tidak bisa pergi ke kantor
dengan perut kosong.
Jam perkuliahan pun telah usai, Nisha bergegas untuk pergi
ke supermarket karena dia harus membeli bahan makanan untuk persediaan di
rumahnya. Ketika berjalan keluar kelas, Nisha menangkap sosok yang ia kenal.
“Hai, Nisha…” sapa Grey.
“Kamu? Apa yang kamu lakukan disini? Bukankah kelasmu bukan
disini?” Nisha berusaha menghindari Grey. Namun Grey terus mengikuti langkah
Nisha.
“Grey!!!” Nisha mulai kesal. “Baiklah. Aku minta maaf atas
apa yang terjadi semalam. Aku…”
“Tidak apa. Aku bisa mengerti. Sekarang, ayo kuantar pulang!”
Grey bukanlah pria yang mudah menyerah. Nisha pikir setelah kejadian semalam,
Grey tidak akan mau menemuinya lagi.
“Aku akan berbelanja ke supermarket.”
“Oke! Aku akan mengantarmu.”
Nisha mengernyitkan keningnya. “Sudahlah, ayo pergi!” Grey
menarik tangan Nisha menuju motornya terparkir. Tanpa bisa menolak, Nisha pun
segera naik ke motor besar Grey.
Nisa mendorong troli dan memilih bahan makanan apa saja
untuk kebutuhan di rumahnya. Ia harus bisa mandiri sekarang karena di rumah
bahkan tidak ada asisten rumah tangga. Ia akan tunjukkan pada Hernan jika ia
bukanlah gadis manja seperti yang selalu Hernan katakan.
Nisha tertawa lepas karena Grey memainkan sayuran dan
membuat lelucon dengan sayuran itu.
“Berhentilah bercanda. Itu adalah makanan, Grey. Tidak baik
bermain-main dengan makanan.” Ucap Nisha sambil tertawa.
“Kau bisa masak?”
“Hmm, sedikit-sedikit bisa sih. Ibu Delina sering
mengajariku memasak.”
“Ibumu?”
sangat segar.” Tunjuk Nisha.
Usai berbelanja, ternyata Nisha membeli banyak barang. Ia tidak
yakin jika Grey bisa membawanya dengan menggunakan sepeda motor.
“Bagaimana cara membawanya? Sebaiknya aku naik taksi saja.” Ucap
Nisha.
“NO, NO. Tidak perlu. Ayo!”
Mereka berdua menuju ke parkiran mobil. “Eh, tunggu! Bukankah
tadi kita membawa motor? Kenapa kesini?”
“Ini mobilku!” tunjuk Grey pada salah satu mobil mewah
berwarna hitam.
“Apa kau serius?” Tanya Nisha tidak percaya. “Lalu motormu?”
“Tenang saja. Sudah diurus oleh asistenku.” Jawab Grey
santai dan memasukkan barang belanjaan Nisha kedalam bagasi.
Nisha hanya manggut-manggut dan masuk kedalam mobil. Selama perjalanan,
Nisha sesekali melirik kearah Grey yang fokus menyetir.
“Kenapa? Apa ada yang ingin kau tanyakan?” Tanya Grey.
“Tidak. Tidak ada.”
“Aku hanya lebih suka mengendarai motor saja. Karena menurutku
lebih bebas dalam menguasai jalanan. Kau tahu ‘kan rasanya?”
Nisha tersenyum. “Hmm, sedikit tahu karena aku beberapa kali
membonceng denganmu.”
“Jadi… Kau benar sudah menikah?” tanya Grey tanpa ragu, karena memang itulah tujuannya menemui Nisha hari ini.
“Eh?” Nisha menatap Grey.
“Jawab saja. Aku tidak akan marah.”
“Hmm, iya. Aku sudah menikah. Aku dan Hernan dijodohkan.” Jawab
Nisha sambil menunduk.
“Sudah kuduga.”
“Eh?” Nisha mendongakkan kepala menatap Grey.
“Sikapnya terhadapmu tidak menunjukkan jika dia peduli
padamu. Dia hanya ingin menguasaimu saja. Dan membuatmu tunduk padanya karena
dia adalah suamimu.”
“Kenapa kau bicara begitu?”
“Aku akan memperlakukanmu lebih baik dari dia, Nisha.”
“Eh?”
Grey menghentikan dan menepikan mobilnya. Grey menatap tajam
Nisha dan meraih tangan Nisha.
“Nisha, sejak pertama kali bertemu denganmu. Aku merasakan
sesuatu yang aneh dalam hatiku. Aku rasa aku jatuh cinta denganmu…” ucap Grey
jujur.
“Eh? A-Apa maksudmu?” Nisha memalingkan wajahnya. Ini adalah
pertama kalinya ada seorang pria yang menyatakan perasaan kepadanya.
“Aku yakin kau memiliki perjanjian dengannya.”
Nisha langsung menoleh kearah Grey. “Kenapa kau bicara
begitu?”
“Hanya menebak saja. Jadi itu benar? Kau memiliki perjanjian
pernikahan dengannya.”
Nisha tidak bisa membocorkan rahasianya dan Hernan pada
Grey. Bagaimanapun juga mereka sudah sepakat tidak akan memberitahu siapapun
tentang kontrak pernikahan mereka.
“Grey, antarkan aku pulang sekarang! Hari sudah mulai gelap.”
Ucap Nisha.
“Hmm, baiklah. Tapi, kau harus ingat. Aku akan menunggumu. Dan
aku akan membuatmu lebih bahagia daripada lelaki itu.”
Nisha tidak menjawab dan hanya melihat keluar kaca mobil. Grey
menekan tombol musik untuk mendengarkan lagu agar suasana lebih mencair.
Dan secara tidak sengaja lagu yang mengalun sangat cocok
dengan suasana hati Grey saat ini.
🎵 I won't lie to you
I know he's just not right for you
And you can tell me if I'm off
But I see it on your face
When you say that he's the one that you want
And you're spending all your time
In this wrong situation
And anytime you want it to stop
I know I can treat you better than he can
And any girl like you deserves a gentleman
Tell me why are we wasting time
On all your wasted crying
When you should be with me instead?
I know I can treat you better
Better than he can
I'll stop time for you
The second you say you'd like me to
I just wanna give you the loving that you're missing
Baby, just to wake up with you
Would be everything I need, and this could be so different
Tell me what you want to do 🎵
(Shawn Mendes – Treat You Better)
Tanpa Nisha duga, Grey meraih tangan kanan Nisha kemudian
mengecupnya lembut. Tak lupa Grey menyunggingkan senyum maskulinnya dan membuat
jantung Nisha berdetak lebih cepat dari biasanya.
#bersambung
jangan lupa tinggalkan jempol kalian sebelum back to menu, hehehe
terima kasih...