Raanjhana

Raanjhana
Takdir Cinta Nisha : 17. Treat You Better



“Dari mana saja kamu?” suara berat Hernan benar-benar


lantang dan terdengar marah.


Nisha juga tidak mau kalah. Ia balik menatap Hernan dengan


tatapan tajam.


“Bukan urusanmu!!!” ucap Nisha kesal dan berjalan melewati


tubuh Hernan.


Hernan benar-benar marah sekarang, ia menarik tangan Nisha


kasar dan membuat tubuhnya menabrak tubuh Hernan.


“Apa maksudmu bicara begitu padaku? Apa kau tidak


menghargaiku, hah?!” ucap Hernan dengan mata memerah.


Grey tidak bisa tinggal diam. Ia segera menghampiri Hernan


dan Nisha. ia takut jika berbuat kasar padanya. “Hei, bung. Jangan main kasar


pada wanita!” ucap Grey.


Hernan membalikkan badan dan menatap tajam Grey. “Apa


urusannya denganmu, bocah?”


“Aku bukan bocah! Justru kau yang kekanak-kanakan karena


bersikap kasar pada wanita.” Bantah Grey.


“Aku adalah suaminya, jadi aku berhak melakukan apapun


padanya!”


“A-apa? Suami?”


“Benar! Nisha adalah istriku. Jadi sebaiknya kau jangan


mendekatinya lagi.”


Grey menatap Nisha. “Benarkah itu, Nisha? Kau adalah


istrinya?” Tanya Grey berharap jika Nisha menyangkalnya.


Nisha memalingkan wajahnya. Ia tidak menjawab. Hernan yang


sudah amat marah segera menarik tangan Nisha dan membawanya masuk kedalam


rumah.


Sementara Grey hanya berdecih tak percaya dengan apa yang


dikatakan Hernan.


Nisha menepis tangan Hernan yang terus mencekalnya. “Lepaskan!”


kesal Nisha ketika mereka sudah memasuki ruang tamu.


“Apa yang kau lakukan malam-malam dengan bocah itu, huh?”


lagi-lagi Hernan bertanya soal hubungannya dengan Grey.


“Sudah kubilang bukan urusanmu! Bukankah di perjanjian sudah


tertulis jelas, jika kita dilarang untuk mencampuri urusan pribadi masing-masing.


Aku tidak pernah mencampuri urusanmu dengan siapapun. Jadi, kau juga jangan


ikut campur urusanku!” Nisha pun segera masuk ke dalam kamarnya dan mengunci


pintunya.


Nisha merebahkan tubuhnya di tempat tidur. Hatinya amat


sesak dengan perlakuan Hernan padanya. Di kala kesedihannya, Nisha tiba-tiba


ingat dengan pangeran masa kecilnya. Pangeran yang membuatnya selalu ingin


berada di negeri dongeng seperti buku yang selalu dibacanya.


“Kakak… Aku merindukanmu… Kau sekarang ada dimana?” Lirih


Nisha sambil terisak diatas bantalnya. Karena lelah menangis, akhirnya Nisha


pun tertidur dan masuk ke alam mimpi. Ia berharap bisa bertemu dengan


pangerannya di alam mimpi.


.


.


.


Keesokan harinya, Hernan terbangun dan mendapati suasana


rumah yang begitu sunyi. Mereka memang hanya tinggal berdua saja. Karena Hernan


ingin privasi mereka terjaga dan sandiwara pernikahan mereka tidak terbongkar.


“Kemana gadis itu? apa sudah pergi kuliah?” Tanya Hernan


sambil menuju meja makan.


Hernan melihat sebuah catatan kecil tertempel diatas meja


makan. Itu adalah catatan dari Nisha.


“Aku hanya membuat


roti lapis, karena tidak ada bahan makanan lain. Jika kau tidak suka, tidak


perlu dimakan, buang saja ke tempat sampah. Pulang kuliah aku akan berbelanja


kebutuhan dapur.”


Hernan tersenyum kecil melihat roti lapis sederhana diatas


meja. Ia pun mengambilnya dan memakannya. Ia memang tidak bisa pergi ke kantor


dengan perut kosong.


Jam perkuliahan pun telah usai, Nisha bergegas untuk pergi


ke supermarket karena dia harus membeli bahan makanan untuk persediaan di


rumahnya. Ketika berjalan keluar kelas, Nisha menangkap sosok yang ia kenal.


“Hai, Nisha…” sapa Grey.


“Kamu? Apa yang kamu lakukan disini? Bukankah kelasmu bukan


disini?” Nisha berusaha menghindari Grey. Namun Grey terus mengikuti langkah


Nisha.


“Grey!!!” Nisha mulai kesal. “Baiklah. Aku minta maaf atas


apa yang terjadi semalam. Aku…”


“Tidak apa. Aku bisa mengerti. Sekarang, ayo kuantar pulang!”


Grey bukanlah pria yang mudah menyerah. Nisha pikir setelah kejadian semalam,


Grey tidak akan mau menemuinya lagi.


“Aku akan berbelanja ke supermarket.”


“Oke! Aku akan mengantarmu.”


Nisha mengernyitkan keningnya. “Sudahlah, ayo pergi!” Grey


menarik tangan Nisha menuju motornya terparkir. Tanpa bisa menolak, Nisha pun


segera naik ke motor besar Grey.


Nisa mendorong troli dan memilih bahan makanan apa saja


untuk kebutuhan di rumahnya. Ia harus bisa mandiri sekarang karena di rumah


bahkan tidak ada asisten rumah tangga. Ia akan tunjukkan pada Hernan jika ia


bukanlah gadis manja seperti yang selalu Hernan katakan.


Nisha tertawa lepas karena Grey memainkan sayuran dan


membuat lelucon dengan sayuran itu.


“Berhentilah bercanda. Itu adalah makanan, Grey. Tidak baik


bermain-main dengan makanan.” Ucap Nisha sambil tertawa.


“Kau bisa masak?”


“Hmm, sedikit-sedikit bisa sih. Ibu Delina sering


mengajariku memasak.”


“Ibumu?”


sangat segar.” Tunjuk Nisha.


Usai berbelanja, ternyata Nisha membeli banyak barang. Ia tidak


yakin jika Grey bisa membawanya dengan menggunakan sepeda motor.


“Bagaimana cara membawanya? Sebaiknya aku naik taksi saja.” Ucap


Nisha.


“NO, NO. Tidak perlu. Ayo!”


Mereka berdua menuju ke parkiran mobil. “Eh, tunggu! Bukankah


tadi kita membawa motor? Kenapa kesini?”


“Ini mobilku!” tunjuk Grey pada salah satu mobil mewah


berwarna hitam.


“Apa kau serius?” Tanya Nisha tidak percaya. “Lalu motormu?”


“Tenang saja. Sudah diurus oleh asistenku.” Jawab Grey


santai dan memasukkan barang belanjaan Nisha kedalam bagasi.


Nisha hanya manggut-manggut dan masuk kedalam mobil. Selama perjalanan,


Nisha sesekali melirik kearah Grey yang fokus menyetir.


“Kenapa? Apa ada yang ingin kau tanyakan?” Tanya Grey.


“Tidak. Tidak ada.”


“Aku hanya lebih suka mengendarai motor saja. Karena menurutku


lebih bebas dalam menguasai jalanan. Kau tahu ‘kan rasanya?”


Nisha tersenyum. “Hmm, sedikit tahu karena aku beberapa kali


membonceng denganmu.”


“Jadi… Kau benar sudah menikah?” tanya Grey tanpa ragu, karena memang itulah tujuannya menemui Nisha hari ini.


“Eh?” Nisha menatap Grey.


“Jawab saja. Aku tidak akan marah.”


“Hmm, iya. Aku sudah menikah. Aku dan Hernan dijodohkan.” Jawab


Nisha sambil menunduk.


“Sudah kuduga.”


“Eh?” Nisha mendongakkan kepala menatap Grey.


“Sikapnya terhadapmu tidak menunjukkan jika dia peduli


padamu. Dia hanya ingin menguasaimu saja. Dan membuatmu tunduk padanya karena


dia adalah suamimu.”


“Kenapa kau bicara begitu?”


“Aku akan memperlakukanmu lebih baik dari dia, Nisha.”


“Eh?”


Grey menghentikan dan menepikan mobilnya. Grey menatap tajam


Nisha dan meraih tangan Nisha.


“Nisha, sejak pertama kali bertemu denganmu. Aku merasakan


sesuatu yang aneh dalam hatiku. Aku rasa aku jatuh cinta denganmu…” ucap Grey


jujur.


“Eh? A-Apa maksudmu?” Nisha memalingkan wajahnya. Ini adalah


pertama kalinya ada seorang pria yang menyatakan perasaan kepadanya.


“Aku yakin kau memiliki perjanjian dengannya.”


Nisha langsung menoleh kearah Grey. “Kenapa kau bicara


begitu?”


“Hanya menebak saja. Jadi itu benar? Kau memiliki perjanjian


pernikahan dengannya.”


Nisha tidak bisa membocorkan rahasianya dan Hernan pada


Grey. Bagaimanapun juga mereka sudah sepakat tidak akan memberitahu siapapun


tentang kontrak pernikahan mereka.


“Grey, antarkan aku pulang sekarang! Hari sudah mulai gelap.”


Ucap Nisha.


“Hmm, baiklah. Tapi, kau harus ingat. Aku akan menunggumu. Dan


aku akan membuatmu lebih bahagia daripada lelaki itu.”


Nisha tidak menjawab dan hanya melihat keluar kaca mobil. Grey


menekan tombol musik untuk mendengarkan lagu agar suasana lebih mencair.


Dan secara tidak sengaja lagu yang mengalun sangat cocok


dengan suasana hati Grey saat ini.


 


 


🎵 I won't lie to you


I know he's just not right for you


And you can tell me if I'm off


But I see it on your face


When you say that he's the one that you want


And you're spending all your time


In this wrong situation


And anytime you want it to stop


 


 


I know I can treat you better than he can


And any girl like you deserves a gentleman


Tell me why are we wasting time


On all your wasted crying


When you should be with me instead?


I know I can treat you better


Better than he can


 


 


I'll stop time for you


The second you say you'd like me to


I just wanna give you the loving that you're missing


Baby, just to wake up with you


Would be everything I need, and this could be so different


Tell me what you want to do 🎵


(Shawn Mendes – Treat You Better)


Tanpa Nisha duga, Grey meraih tangan kanan Nisha kemudian


mengecupnya lembut. Tak lupa Grey menyunggingkan senyum maskulinnya dan membuat


jantung Nisha berdetak lebih cepat dari biasanya.


#bersambung


jangan lupa tinggalkan jempol kalian sebelum back to menu, hehehe


terima kasih...