Raanjhana

Raanjhana
Part 15 : Om Dirga, I Love You



Sebulan kemudian,


Pagi yang hangat kembali menyelimuti pasangan baru yang sedang di mabuk cinta. Diya mulai membuka matanya dan melihat sang suami yang masih terpejam.


Sungguh suatu karunia tak terduga bagi Diya bisa mendapatkan cinta dari seorang pria yang gagah ini. Gagah bukan hanya tampangnya saja, tapi kemampuan di ranjangnya juga sungguh luar biasa meski usianya telah memasuki kepala 4. Mungkin itu yang dinamakan dengan puber kedua.


Semalam Diya merengkuh kebahagiaan kala Dirga kembali memasukinya dengan penuh gairah dan cinta. Diya menggeliat pelan dan akan bangun dari tempat tidurnya.


Namun tangan besar itu kembali merengkuhnya.


"Mau kemana? Ini masih pagi, tidurlah kembali." ucap Dirga dengan suara khas bangun tidur dan mata yang terpejam.


"Ish, Om! Ini sudah siang. Aku malu jika terus terlambat bangun."


"Biarkan saja. Memangnya siapa yang akan memarahimu?"


"Bukan takut karena dimarahi, tapi aku malu, Om."


"Kau ini! Terlalu banyak bicara sekali!"


Dirga terbangun dan kembali menindih tubuh Diya.


"Om!" pekik Diya.


"Berikan aku satu ronde sebelum berangkat ke kantor!"


"Astaga, Om! Semalam kan sudah..."


Diya tak akan bisa mengelak karena Dirga sudah lebih dulu membungkamnya. Dan terjadilah pagi yang panas di kamar pengantin baru itu.


Diya kembali mendapat pelepasannya hingga menuju nirwana. Tubuh mereka terkulai lemas sebelum akhirnya mereka sama-sama menuju kamar mandi dan melakukan ritual mandi bersama. Hanya mandi. Dan tak ada yang lain. Karena mereka harus berkutat dengan pekerjaan dan kuliah.


Diya berangkat ke kampus bersama Dirga. Sifat posesifnya bertambah besar semenjak mereka menikah. Diya harus menuruti semua keinginan Dirga dan harus melapor jika akan pergi bersama Echa.


Echa bisa melihat jika Diya terlihat lelah karena ulah suaminya.


"Bagaimana kau bisa tahu?" selidik Diya.


"Nona, aku bisa melihatnya. Tapi, kulihat kau juga sangat bahagia."


"Ya. Tentu saja aku bahagia. Meski aku mendapat seorang duda, tapi Om Dirga adalah yang terbaik. Dia sangat baik dan perhatian."


"Semoga kau selalu bahagia ya!" ucap Echa.


"Terima kasih, sayangku. Kau adalah sahabat terbaikku."


"Semoga aku cepat mendengar kabar bahagia lainnya."


"Apa maksudmu?"


Echa melirik kearah perut rata Diya. Seketika wajahnya memerah.


"Apa sih?"


"Kau harus segera hamil jadi kau bisa makin mengikatnya."


"Aku percaya pada Om Dirga. Dia pria yang setia."


"Astaga, Echa! Kau benar. Wanita itu! Wanita yang bernama Alexa. Kurasa aku harus berhati-hati dengannya." ucap Diya dengan menggebu.


.


.


.


Entah kenapa siang itu, Diya merasa penasaran dengan pekerjaan suaminya. Ia menyambangi kantor suaminya dan membawakan bekal makan siang untuknya.


Diya menaiki lift menuju ruangan Dirga. Ketika tiba disana, ternyata Dirga sedang rapat bersama kliennya.


Diya menunggu di dalam ruang kantor Dirga. Tentu saja semua orang tahunya jika Diya adalah keponakan Dirga. Karena sejak kecil Diya diasuh oleh Dirga.


Diya mengedarkan pandangan memperhatikan tiap sudut ruangan itu. Di meja kerjanya terdapat foto pernikahannya dengan Diya.


Diya tersenyum senang karena Dirga memajang foto mereka. Tak banyak orang yang tahu jika Dirga telah menikah dengan anak yang diasuhnya. Diya juga belum siap mempublikasikan pernikahan mereka. Ia takut dianggap tak tahu diri karena menjerat seorang duda tampan kaya raya.


Setelah sekitar 30 menit menunggu, akhirnya Dirga kembali ke ruang kerjanya. Diya tampak antusias menyambut Dirga.


"Om!" Seru Diya dengan senyum manisnya.


Dirga mengerutkan kening bingung.


"Sayang, kau ada disini?"


"Hmm, aku ingin memberikan kejutan untuk Om. Aku bawa makan siang untuk Om."


"Terima kasih, sayang."


Tiba-tiba seseorang masuk ke ruangan Dirga. Firasat Diya benar. Jika Alexa masih mendekati Dirga.


"Dirga, kau sedang ada tamu?" ucap Alexa yang tidak tahu jika tamunya adalah Diya.


"Jadi Om meeting bersama wanita ini?" ucap Diya dengan nada sinis.


"Iya. Kami adalah rekan bisnis." Jawab Alexa yang tahu jika Diya sedang cemburu.


"Sayang, kau sudah bertemu dengan Alexa, bukan? Dia adalah teman lamaku." jelas Dirga.


"Iya, kami adalah teman lama. Sangat lama hingga kami selalu bersama." Alexa sengaja menghampiri Dirga dan memeluk lengan Dirga.


Diya meradang. Sungguh ia tidak suka dengan sikap Alexa yang terang-terangan mendekati Dirga padahal ia tahu jika Dirga adalah suami Diya.


Dengan langkah mantap Diya menarik lengan Dirga agar menjauh dari Alexa.


"Dia adalah suamiku. Dan aku tidak akan membiarkan siapapun merebutnya dariku."


Tanpa diduga Diya segera mencium bibir Dirga di depan Alexa. Diya amat berani hingga ia me.lu.mat habis bibir Dirga dengan ganas. Dirga mulai membalas ciuman panas istrinya. Ia pun terbawa suasana dan tak mempedulikan Alexa yang melihat adegan tersebut.


Alexa mendengus kesal melihat adegan ciuman panas itu. Ia menghentakkan kaki kemudian pergi dari ruangan Dirga.


"Sialan! Dasar bocah ja.lang! Kau akan menerima akibatnya karena sudah berani melawanku!" batin Alexa dengan mata memerah.


#bersambung...