
Ana kembali ke kamarnya setelah apa yang ia katakan pada Grey tadi membuat hatinya amat sesak. Ia terduduk sambil memegangi dadanya. Sungguh ia tak ingin kisah cintanya yang bahkan belum dimulai berakhir dengan cara cukup tragis.
Setelah puas menangis, Ana bangkit dan membereskan barang-barangnya kedalam tas besar. Ia akan kembali menyewa rumah di dekat rumah sakit agar bisa memantau kondisi ayahnya. Tekadnya sudah bulat. Ia akan
melupakan Grey dan kisah semu mereka selama tinggal bersama.
Disisi lain, Grey masih mematung di meja makan setelah Ana meninggalkan luka didalam hatinya. Grey tidak melanjutkan makan malamnya dan malah menuju keluar mansion.
Grey berpapasan dengan Simon yang sedang berjaga diluar.
“Tuan? Tuan mau kemana? Ini sudah malam,” ucap Simon.
“Bukan urusanmu!” jawab Grey datar. Hawa dingin kembali menyeruak dari tatapan dan kata-kata Grey.
“Eh?” Simon tertegun namun tak cukup berani untuk mencegah tuannya pergi.
Grey melajukan mobilnya dengan cukup kencang membelah jalanan kota London. Ia tiba di klub malam miliknya dan bertemu dengan Black.
“Tuan? Bukankah Tuan bilang jika tidak bisa datang kemari?”
“Hmm, aku berubah pikiran. Suruh orang untuk membawakan wine untukku.” Titah Grey sambil berjalan menuju private room miliknya.
“Baik, Tuan.” Black mengedikkan bahu. “Ada apa lagi ini? sepertinya ada yang tidak beres dengan Tuan Grey.” Gumam Black lalu menghubungi Simon untuk mencari tahu.
Dua jam telah berlalu sejak Grey meninggalkan mansionnya dan memilih untuk bersama alcohol untuk menenangkan hatinya. Namun bukan ketenangan yang didapat, malah racauan tak jelas dan kesadaran yang mulai
menghilang.
“Ana!!! Kenapa kau lakukan ini padaku? Kenapa kau tidak bisa merasakan cintaku? Kenapa?!” Grey berteriak dan meracau sambil terus menenggak minuman keras.
Black segera mendatangi ruangan Grey dan memintanya berhenti minum. Namun Grey malah memberikan sebuah tinju untuk Black. Grey terus memanggil nama Ana.
Black memijat pelipisnya. “Pasti terjadi sesuatu dengan mereka. Aku akan menghubungi Simon agar membawa Nona Ana kemari.”
“Halo, Simon.” Sapa Black ketika panggilan terhubung.
“Iya, Black. Ada apa?”
“Cepat kau bawa Nona Ana kemari!”
“Hah? Memangnya ada apa?”
“Tuan Grey mabuk berat dan dia terus memanggil nama Nona Ana.”
“Astaga! Baiklah, aku akan memeriksa apakah Nona Ana masih terjaga atau tidak. Kenapa tidak kau bawa saja Tuan Grey pulang?”
“Dia bahkan menghajarku. Dia sudah tidak terkendali. Hanya Nona Ana yang bisa menghentikannya.”
“Baiklah kalau begitu.”
Panggilan berakhir.
Simon segera berlari menuju kamar Ana. Dan secara kebetulan Ana belum tertidur.
“Nona, tolong ikutlah denganku sekarang juga!”
“Hah?! Ada apa Simon?”
“Tuan Grey mabuk dan dia terus memanggil nama Nona.”
“Apa?! Ya Tuhan, apa yang sudah dia lakukan? Baiklah, ayo!”
Selama perjalanan, Ana hanya terdiam memikirkan kondisi Grey. Ana merasa bersalah pada Grey. Ini pasti karena kata-katanya tadi saat makan malam. Ana memejamkan mata dan berharap Grey baik-baik saja.
Tiba di klub, Ana berlarian masuk mencari keberadaan Grey. Ia bertemu Black yang segera membawanya menemui Grey.
Ruangan itu sudah kacau balau karena ulah Grey yang memecahkan botol-botol wine. Ana mendekati Grey yang masih terus meminum alcohol.
“Tuan…” panggil Ana. Sebenarnya ia sendiri takut karena Grey sedang dalam kondisi tidak sadarkan diri.
“Hmm,” Grey hanya berdeham tanpa menatap Ana.
“Tuan, ini aku.” Ana menatap Grey sendu. Sungguh ia tidak menyangka jika ia akan menyakiti Grey seperti ini.
“Siapa kau? Untuk apa kau datang kemari? Aku hanya ingin Ana! Hanya Ana!”
“Ini aku, Ana. Sadarlah!” Ana merangkum wajah Grey seperti yang biasa ia lakukan.
“Ana? Ini benar kau?”
Ana mengangguk. “Ayo pulang!”
“ANA!!!” Grey memeluk Ana erat.
“Maafkan aku, Ana. Maafkan aku!” berkali-kali Grey mengucap maaf pada Ana.
Dengan dibantu Black dan Simon, Ana membawa tubuh ambruk Grey kedalam mobil kemudian melaju kembali pulang menuju mansion.
...…***…...
Keesokan harinya, Ana menyambut Grey yang turun dari kamarnya dalam keadaan sudah rapi.
“Selamat pagi,” sapa Ana diiringi senyuman.
Grey membalas senyum itu. “Selamat pagi.”
“Hari ini Tuan ingin sarapan apa? Telur orak-arik atau telor goreng saja?” tawar Ana.
“Umm, aku suka telor orak-arik.” Jawab Grey.
“Baiklah, aku juga menyukainya.” Ana langsung menempatkan diri di dapur dan memasak telor orak-arik.
Grey memperhatikan Ana dengan seksama. Sepertinya hubungan mereka akan mulai menghangat kembali.
Ana menyiapkan telor orak-ariknya di piring kemudian memberikannya pad Grey.
“Silahkan, Tuan!” Ana tersenyum kemudian menuang susu kedalam gelas.
“Terima kasih, Ana. Ini sangat enak!” puji Grey.
Ana pun menyuapkan telor orak-arik kedalam mulutnya. Ana tersenyum senang karena Grey menyukai masakan simple buatannya.
Ana merapikan piring kotor mereka dan mencucinya di wastafel. Tanpa diduga Grey datang dan memeluk Ana.
“Tolong jangan pergi! Aku tidak bisa hidup tanpamu, Ana.” Gumam Grey sambil menopangkan dagunya di pundak Ana.
Ana menghela nafas. Ia menjawab dengan sebuah anggukan.
“Aku akan buktikan jika aku hanya menyimpanmu dihatiku. Percayalah!”
“Iya, aku percaya. Maaf karena kemarin aku bersikap di atas batas normal.” Sesal Ana.
Grey membalikkan tubuh Ana. “Kau akan pindah dari sini. Aku sudah menyiapkan tempat tinggal untukmu.” Grey mencium kening Ana kemudian berbalik dan bersiap berangkat ke kantor.
Ana ingin sekali memprotes tindakan Grey yang selalu memutuskan sesuatu tanpa persetujuannya terlebih dahulu. Namun rasanya percuma. Selamanya Ana akan terjebak dengan CEO dingin ini.
Ana mengantarkan Grey hingga ke pintu depan.
“Bersiaplah! Nanti siang Black akan menjemputmu.”
“I-Iya.”
“Kau tidak marah ‘kan?”
“Tidak! Tentu saja tidak!” Ana kembali tersenyum.
Grey mendekat dan memberikan satu ciuman hangat di bibir Ana. “Sampai bertemu lagi.”
Ana melambaikan tangan saat mobil Grey mulai melaju meninggalkan mansion bersama Simon.
Ana masuk kedalam rumah dan duduk di sofa ruang tamu. Ingatannya kembali ke waktu semalam saat Black meminta tolong padanya.
“Tolonglah, Nona! Hanya Nona yang bisa mengembalikan Tuan Grey seperti dulu.”
“Tapi, Black. Dia bahkan hanya mengingat tentang Nisha!”
“Tidak, Nona. Nona Nisha hanyalah masa lalu. Dan mereka tidak akan pernah bersama karena Nona Nisha sudah menikah.”
“Apa?!”
“Aku yakin jika Tuan Grey mencintai Nona. Bukankah Nona juga mencintai Tuan?
Ana terdiam.
“Aku tahu masih terlalu dini untuk menyimpulkan. Tapi aku yakin Nona adalah cinta sejati Tuan Grey. Nona hanya perlu bersabar lebih lama lagi.”
Ana masih diam.
“Aku sudah mengenal Tuan Grey sejak masih anak-anak. Dia memang keras dan dingin karena dia ingin mencari perhatian. Aku yakin Nona bisa menghangatkan hati Tuan Grey.”
Ana memejamkan mata mengingat semua permintaan Black padanya. Selama ini Black sudah bersikap baik padanya. Ia tidak mungkin menolak permintaan Black.
“Silahkan masuk, Nona!” Black mempersilahkan Ana masuk ke sebuah apartemen yang cukup mewah.
Siang ini Ana pindah ke apartemen yang sudah disiapkan Grey. Ana juga sudah menerima tawaran Alfred untuk bekerja di perusahaan milik Grey.
Ana mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan apartemen.
“Black, bukankah apartemen ini terlalu besar untukku? Aku hanya tinggal sendiri.”
Black tertawa. “Tidak, Nona. Nona tidak akan tinggal sendiri disini.”
“Maksudmu?” Ana mengerutkan keningnya.
“Tuan Grey juga akan tinggal disini.” Balas Black santai.
“APA?!”
Ana memekik terkejut. Ternyata ia memang tidak akan pernah lepas dari jeratan Grey, sang CEO dingin.
#bersambung
*wokwokwokwok, judulnya kan terjebak oleh CEO dingin, Ana! Ya jelas aja kau tidak akan lepas dari Grey, hahahaha. (otornya ngakak sendiri)
Mulai nih jerat2 cinta akan tercipta. maaf ya karena ada kerikil kecil utk ana dan grey. namanya juga hubungan pasti gak selalu lurus2 aja khan? setelah ini ada kerikil apa lagi ya yg akan menerpa mereka?
Jangan lupa dukung selalu karya receh satu ini yak kesayangan.
...Terima kasih...