Raanjhana

Raanjhana
Part 8 : Om Dirga, I Love You



Diya dan Echa tiba di sebuah pusat perbelanjaan dan berkeliling membeli barang-barang kebutuhan remaja putri. Echa banyak membeli baju. Sedangkan Diya masih bingung harus membeli apa. Sedari kecil, Diya diajarkan untuk bisa berhemat dan menabung, bukan untuk menghambur-hamburkan uang.


Meski Dirga memberi Diya banyak kemewahan, tapi Diya tak serta merta menghabiskan uang yang Dirga berikan. Diya justru tertarik saat melihat kaus-kaus pria yang menurutnya akan sangat cocok jika Dirga memakainya.


Walaupun sudah berumur, tapi Dirga bukanlah pria tua yang tidak mengerti mode. Justru Dirga sangat menjaga penampilannya. Mulai dari sering berolahraga dan menjaga pola makannya. Sehingga bentuk tubuh dan otot-otot lengan serta perutnya membuat para kaum hawa menelan ludah saat melihatnya.


Diya menggeleng cepat saat mengingat betapa indahnya bentuk tubuh om-nya itu. Echa mendekati Diya yang sedang termenung di bagian pakaian pria.


"Di, apa yang sedang kau lakukan? Kau ingin membeli pakaian pria?"


"Hah?! Ah, aku ... aku ingin membeli sesuatu untuk Om Dirga. Tapi aku bingung harus membeli apa. Dia tidak suka jika aku memberinya hadiah."


"Astaga, Diya! Memberi hadiah untuk orang tersayang bukan hal yang salah. Belikan saja satu untuknya. Lagi pula itu tidak akan membuat om-mu itu jatuh miskin, bukan?"


"Benar juga. Baiklah, kalau begitu aku akan pilih satu untuk Om Dirga."


Diya dengan gembira memilah memilih kaus berkerah untuk Dirga. Ia tersenyum sendiri membayangkan betapa tampannya Dirga saat memakai kaus pemberian darinya.


Usai berbelanja pakaian untuk Dirga, Echa kembali menuju ke butik khusus wanita. Diya mengerutkan kening karena lagi-lagi Echa membeli pakaian.


"Cha, bukankah kau sudah membeli banyak baju tadi. Sekarang mau beli apa lagi?"


"Kemarilah, Diya!" Echa menarik lengan Diya.


"Bukankah kita akan pergi ke klab? Kita harus punya baju yang sesuai dengan suasana klab."


"Hah?! Maksudmu?"


"Lihat ini!" Echa menunjukkan sebuah dress mini dan terbuka. Diya menggeleng.


"Tidak. Aku tidak bisa memakai pakaian terbuka seperti itu."


"Come on, Diya! Mana ada orang pergi ke klab dengan pakaian tertutup seperti itu? Kemeja panjang dan celana panjang. Astaga, Diya! Kau harus berubah, girl."


Echa membawa Diya bercermin di sebuah kaca besar yang ada di butik itu.


"Kau cantik, sayang. Tapi kau harus sedikit mengubah penampilanmu. Mana ada lelaki yang tertarik dengan wanita yang tertutup sepertimu."


"Hah? Benarkah?"


Apa karena ini Om Dirga tidak menyukaiku? Apa aku harus berubah seperti yang dikatakan Echa? Tapi, apa Om Dirga akan menyukainya?


"Apa kau mencemaskan Om-mu lagi?" sepertinya Echa mengetahui apa yang menjadi kegundahan Diya.


Dengan pelan Diya mengangguk.


"Dengar, tidak ada pria yang tidak suka dengan wanita seksi. Percayalah padaku!"


"Baiklah. Aku akan menuruti saranmu." ucap Diya kemudian.


Diya memilih dress selutut tetap tanpa lengan. Meski merasa risih saat memakainya, tapi Echa selalu meyakinkan Diya jika dirinya nampak sangat memukau dan cantik. Kulit putihnya terekspos jelas.


Echa mengajak Diya ke salon langganannya untuk menata rambut dan merias wajahnya. Dua jam berkutat di dalam salon, akhirnya Diya dan Echa keluar dengan penampilan yang bak wanita dewasa.


"Cha, aku tidak percaya diri." Ucap Diya dengan terus menarik dressnya agar tidak terlalu pendek.


"Astaga, Nona! Kau sangat mempesona. Sudahlah, jangan pikirkan hal lain. Dan mulai hari ini kau harus mencintai dirimu sendiri melebihi orang lain. Apa kau mengerti?"


Lagi-lagi Diya hanya bisa menganggukkan kepalanya. Mereka berdua berjalan keluar dari area pusat perbelanjaan. Mata para lelaki menatap tajam kearah mereka yang berjalan bak bidadari.


"Kau lihat, bukan? Mereka menyukaimu, baby..." bisik Echa di telinga Diya.


Benarkah?


Dalam hati, Diya masih merasa ragu jika ini adalah hal yang benar. Benarkah Om Dirga-nya menyukai perubahan pada diri Diya?


Ecla melajukan mobilnya menuju sebuah klab malam. Masih pukul tujuh malam. Namun klab malam milik kekasih Echa sudah buka.


Echa dan Diya disambut oleh dua orang pria berbadan besar yang menjaga di depan pintu masuk klab. Echa membisikkan sesuatu ke telinga salah satu pria. Tak lama pria itu mempersilahkan mereka berdua masuk.


Diya terus merangkul lengan Echa. Sungguh ini adalah pertama kalinya Diya datang ke tempat seperti ini. Suara musik memekakkan telinga terdengar di seluruh sudut ruangan.


Klab malam ini termasuk klab mewah para orang berduit. Terlihat dari penampilan orang-orang yang datang kesana. Echa mempersilahkan Diya untuk duduk di depan meja bar. Echa menyapa seorang bartender bernama Chiko.


"Diya, kau ingin minum apa?" Tanya Echa dengan sedikit berteriak.


"Orange jus saja, Cha. Aku tidak minum alkohol." jawab Diya dengan mengedarkan pandangannya ke sekeliling tempat itu.


Dan ketika minumannya telah tersaji di depannya, Diya yang sedang menyeruput jusnya tiba-tiba tersedak dan memuntahkannya. Netranya menangkap sosok yang ia kenali yang juga sedang menatap tajam kearahnya.


"Om Dirga?" gumam Diya.


...***...


#bersambung...


Jangan lupa dukungannya untuk karya receh mamak yg satu ini. Kuharap kalian tetap setia menemani sampai cerita ini selesai yaak 😊😊


Give me Like, Vote, Comments, and Gifts, Becoz U are my everything 💟💟💟


...TERIMA KASIH...