Raanjhana

Raanjhana
Meet Me on Facebook : 26. Kesempatanku



-Sivia PoV-


Dua hari kemudian, Pak Robert sudah menyiapkan semua hal untukku agar bisa berangkat ke London. Aku berpamitan pada Ibu dan Nisa. Aku memeluk mereka erat.


"Pergilah, Nak. Kamu harus menjemput kebahagiaanmu." pesan Ibu untukku.


"Iya, Bu. Terima kasih karena sudah mendukungku."


"Jangan lupa kasih kabar kalo sudah sampai, Mbak."


"Iya, pasti."


Aku menempuh perjalanan sekitar 15 jam di dalam pesawat. Berbagai rasa tak bisa kuungkapkan dengan kata-kata. Aku sangat bahagia. Tak henti-hentinya kupandangi fotoku dan Dewa saat masih anak-anak hingga dewasa. Terimakasih Tuhan, terimakasih banyak.


Begitu tiba di London, ada seseorang yang menjemputku di bandara. Dia adalah orang suruhan pak Robert.


"Silahkan ikut saya, Nona. Pak Robert sudah menunggu. Saya Ikmal."


Aku sangat terkejut karena ternyata dia adalah orang Indonesia juga. Baguslah, paling tidak ada seseorang yang aku kenal disini.


Ikmal mengantarku ke sebuah resto atau cafe. Disana ada seseorang yang sedang duduk menungguku. Mungkinkah itu Pak Robert?


"Sivia... Silahkan duduk!"


Pak Robert adalah orang yang sangat sopan, dan murah senyum. Dia pasti atasan yang menyenangkan dan baik hati. Dan yang terpenting ... He's Indonesian.


Sangat berbeda jauh dengan namanya yang agak kebarat-baratan. Tapi aku tak memasalahkannya. Toh itu bisa saja nama samaran. Karena Dewa sudah bercerita padaku tentang pekerjaannya yang seorang agen rahasia.


Pak Robert bercerita sedikit tentang Dewa. Lalu membawaku ke sebuah apartemen.


"Nah, Sivia. Ini adalah apartemen milik Bayu."


"Eh?"


"Tapi, tenang saja. Dia tidak ada didalam. Dia masih bekerja."


Pak Robert membukakan pintu kamar apartemen Dewa. "Masuklah. Silahkan istirahat didalam."


"Eh?" Aku bingung untuk kesekian kalinya.


"Bayu akan pulang nanti malam. Kamu bisa siapkan kejutan kecil untuknya." Pak Robert mengedipkan sebelah matanya padaku.


Dengan senyum kikuk aku pun mengiyakan dan masuk kedalam apartemen Dewa. Cukup luas tempatnya. Dan sangat sunyi. Bisa kutebak kalau Dewa jarang berada disini. Aku menjelajahi seluruh ruangan disana. Masih pukul tiga sore. Aku akan beristirahat dulu, dan aku akan memasakkan sesuatu yang spesial untuknya.


*


*


Pukul delapan malam, aku sudah menyiapkan makan malam. Belum ada tanda-tanda kedatangan Dewa. Mungkin dia akan pulang dalam satu jam. Pikirku. Aku akan mandi terlebih dahulu. Karena terlalu lama berkutat di dapur, bajuku jadi berbau asap. Aku tak mau Dewa melihatku dengan keadaan bau masakan.


Pukul sembilan malam, aku keluar dari kamar dengan sudah rapi. Aku melangkah ke arah dapur. Dan betapa terkejutnya diriku saat mendapati Dewa sudah berdiri di samping meja makan. Dia membelakangiku. Aku sangat gugup. Apa yang harus kulakukan? Aku meyakinkan diriku untuk tenang dan mengambil nafas.


"Dewa---" panggilku.


Dewa membalikkan badan dan bertemu pandang denganku.


"Sivia?!"


Aku tersenyum padanya yang masih berbingung ria melihat keberadaanku di apartemennya.


"Ini---bukan mimpi kan?" ucapnya seraya masih tak percaya aku ada di depannya.


Aku mengangguk. Dan dengan cepat dia menuju ke arahku lalu memelukku. Pelukan erat khas Dewa. Aku merindukannya.


"Kamu---bukan istri orang kan?" tanyanya ketika melepaskan pelukannya.


Aku tertawa mendengarnya. "Tentu saja bukan. Kalo aku istri orang, mana mungkin aku ada disini."


Dewa kembali memelukku. Dan aku membalasnya.


"Love you too, Vi. Tidak ada kata terlambat dalam cinta. Kita akan memulainya dari sekarang. Aku tidak akan melepaskanmu lagi..."


Aku mengangguk.


......***......


-Di balik layar-


Bayu datang ke kantor Robert dengan tergesa-gesa dan nafas memburu. Ia mengetuk pintu dengan keras.


"Masuk!" suara Robert dari dalam.


Bayu memasuki ruangan tanpa menyapa lebih dulu.


"Bagaimana bisa Bapak melakukan ini padaku? Kenapa bapak memberikan kartu apartemenku pada Sivia?" Bayu seakan meluapkan emosinya pada atasannya itu.


Robert tertawa kecil melihat kemarahan pegawainya itu.


"Bukankah kamu senang Sivia ada disini?"


"Aku memang senang. Tapi ... tapi ... bagaimana bisa aku tinggal satu atap dengannya? Ini sangat berat untukku."


Robert mengerutkan keningnya. "Apa maksudmu?"


"Anda seorang pria, pasti tahu apa maksudku."


"Oooh." Robert mulai paham dengan maksud Bayu.


"Bagaimana bisa aku terus menahan---"


"Hasrat lelakimu?" Robert tersenyum smirk. "Jadi, kalian belum melakukannya?"


"Pak---kita adalah orang timur. Aku tidak akan mengkhianati kepercayaan keluarga kami."


"Hmm, baiklah. Akan kupikirkan sebuah cara." Robert mengedipkan sebelah matanya ke arah Bayu.


...***...


Beberapa hari kemudian,


"Ini adalah kontrak kerja kamu yang baru. Silahkan kamu tanda tangani!"


"Eh? Apa ini Pak?"


"Read it and sign!" Perintah Robert.


Bayu membaca dengan seksama kontrak kerjanya.


"Apa? Korea Utara? Yang benar saja!" Bayu menolak.


"Benar. Kamu akan menggantikan tugas James. Setelah kupikir-pikir, kamu akan lebih baik dari James."


"Tapi kenapa harus Korea Utara?"


"Kamu sendiri kan yang memintaku untuk memikirkan sebuah cara agar kamu tidak tinggal satu atap dengan Sivia. Inilah jalan keluarnya."


"What?! Bapak tidak salah? Tidak satu atap dengan Sivia tapi aku harus ke Korea Utara? Kenapa tidak sekalian saja Bapak menyuruhku ke Kutub Utara!"


"Jangan marah! Aku melakukan ini karena aku yakin kamu pasti bisa melakukannya dengan baik. Hanya sepuluh hari saja. Oke?" Dan seperti biasa, Robert mengedipkan matanya ke arah Bayu.


Bayu mengacak rambutnya. Ia sangat frustasi mendengar keputusan Robert.


......***......


......