Raanjhana

Raanjhana
Meet Me on Facebook : 07. ENGAGEMENT



Saat usiaku sekitar empat atau lima tahunan, aku memiliki tetangga baru didepan rumahku. Mereka baru pindah dari luar kota. Keluarga itu juga memiliki anak seusiaku, tapi berjenis kelamin laki-laki.


Dilihat sekilas dia seperti anak yang nakal. Ibunya saja selalu berteriak padanya. Dan saat itu, aku berpikir untuk tidak perlu menjadi temannya. Selama ini aku memang tidak memiliki banyak teman. Ibuku bilang, aku tipe penyendiri. Berbeda dengan adikku.


Namun entah mengapa, anak laki-laki itu tiba-tiba mendatangiku dan memintaku menjadi temannya. Aku menolak saat itu. Untuk apa berteman dengan anak lelaki nakal seperti dia. Pikirku saat itu.


Tapi anak itu bukan tipe anak yang mudah menyerah. Setelah satu tahun dia pindah jadi tetanggaku, dan aku mulai masuk ke sekolah dasar, tanpa disangka kami satu sekolah, dan satu kelas pula.


Aku kesal melihatnya. Dia memang anak jahil yang suka mengerjai teman-temannya. Tapi suatu hari, saat ada anak lain yang mengolok-olokku, dia membelaku. Dia punya sisi baik juga. Dan kamipun mulai berteman.


Itulah awal dia memanggilku dengan nama tengahku. Dewi. Aku kesal saat dia memutuskan untuk memanggilku Dewi. Itu memang namaku, tapi sangat jarang orang menyebut nama itu. Lalu, akupun membalasnya, aku memanggilnya dengan nama tengahnya juga, Dewa.


Dia bilang, dia ingin berbeda dari yang lain. Dan dia bilang, kami seperti pasangan. Dewa dan Dewi. Teman-teman jadi meledek kami. Aku kesal padanya. Kenapa harus memanggilku begitu? Tapi... lama-lama aku terbiasa dengan semua ejekan yang di berikan oleh teman-teman. Kami masih anak-anak saat itu. Tidak tahu apa maksud dari arti 'pasangan'.


Hingga kami lulus sekolah dasar, aku makin bergantung pada Dewa. Dia sudah seperti nyawa untukku. Sifatku yang tertutup, dan Dewa yang selalu ceria dan bersemangat, membuat hari-hariku makin berwarna.


...***...


"Kamu cantik sekali, Vi..." ucap Ibu di ruang ganti hotel bintang 5 tempat acara pertunangan Adniyan dan Sivia akan berlangsung.


"Terima kasih, Bu."


"Sebentar lagi acara dimulai. Kamu bersiaplah. Ibu keluar dulu."


Sivia memandang dirinya di depan cermin. Penampilannya malam ini memang sangat berbeda dari biasanya. Ia memakai gaun putih panjang berlengan pendek. Ia tak suka menggunakan gaun tanpa lengan, karena terlalu mengekspos bagian tubuhnya. Adniyan sendiri juga tak mau kalau bagian tubuh kekasihnya dilihat oleh orang lain.


"Hai, Vi... Lo cantik banget malam ini..." Razona datang menemui Sivia.


"Hai... makasih ya udah mau datang." Balas Sivia sambil mengelus perut Razona yang kian membesar.


"Oya, lo gak undang teman-teman lo?"


"Enggak, rencananya nanti gue sama Mas Iyan bakal adain acara sendiri buat teman-teman kita."


"Ooh gitu. Ya udah, ayo keluar. Semua tamu udah nungguin lo diluar."


...***...


Acara pertunangan berjalan dengan lancar. Selain keluarga, tamu undangan yang hadir rata-rata rekan bisnis Adniyan. Usai bertukar cincin, Adniyan mengajak Sivia berkeliling sambil berkenalan dengan keluarga besarnya.


Nenek Adniyan, dari Papanya, yang selama ini tinggal bersama adik laki-laki Papanya, ikut hadir dalam pesta pertunangan ini. Adniyan mengenalkan Sivia pada Neneknya.


"Gimana pilihan Iyan, Nek? Cantik 'kan? Iyan gak salah pilih 'kan?"


"Benar. Calonmu ini sangat cantik. Nenek bangga padamu."


"Terima kasih, Nek." Sahut Sivia sambil tersenyum manis.


Nenek Adniyan usianya sudah sekitar 70 tahun, tapi masih terlihat bugar dan awet muda. Orang jaman dulu biasanya lebih pintar menjaga kesehatan tubuhnya dibanding orang jaman sekarang, yang rata-rata banyak memakan junk food atau makanan siap saji.


"Vi, aku kenalkan pada Om Andreas. Dia adik Papa satu-satunya."


Adniyan menggandeng tangan Sivia dan membawanya pada sesosok lelaki tinggi besar dengan setelan jas berwarna silver, dan rambut tertata rapi. Usianya sudah tak lagi muda, namun auranya yang berkharisma membuatnya tampak lebih muda dari usianya.


"Permisi, Om."


"Oh, Iyan. Ada apa? Kamu mau mengenalkan tunanganmu ini ya? Om sudah melihatnya tadi. She's so beautiful and ellegant. I like your dress, darla..."


Sivia tersenyum canggung. "Nama saya Sivia, Om. Bukan Darla..."


Adniyan dan Om Andreas tertawa kecil melihat tingkah polos Sivia.


"Kamu masih sangat polos. Om suka gayamu. Iyan, kapan-kapan ajaklah dia main ke Milan. Nanti Om ajak ke acara Milan Fashion Week."


"Sivia belum pernah naik pesawat, Om. Tapi nanti akan aku jadwalkan kalau memang waktu kami senggang. Sivia mengelola sebuah salon kecantikan, dan tiap hari dia sibuk disana."


"Tu-tunggu, Om. Apa tadi? Milan Fashion Week? Apa tidak salah Om?" Sivia terperangah mengetahui kalau paman Adniyan ini bukanlah orang sembarangan.


"Vi, Omku ini seorang desainer. Dia tinggal di Milan. Banyak produk perusahaan yang memakai desain dari Om Andre."


"Wah, benarkah? Jadi ... Om ini yang bernama Andreas Nugraha? Selama ini, aku hanya mendengar kabar tentang Om saja. Jadi benar, kalau Om adalah pamannya Mas Iyan?"


"Eh? A-apa? Milan? Aku rasa itu terlalu berlebihan, Om." Sivia melirik ke arah Adniyan.


"Come on, Iyan. Kamu bujuk dia. Supaya mau bersekolah fashion."


"Sivia tidak bisa dipaksa, Om. Kalau memang dia ingin, pasti akan dia lakukan. Vi, kamu pikirkan lagi dulu saja tawaran Om Andre. Aku akan mendukung apapun keputusanmu..."


"Hehehe. Aku belum memikirkan untuk kuliah, Mas. Lagipula, usiaku sudah gak muda lagi. Malu juga kalo ikut kuliah sama anak-anak muda."


"Jangan menggoda Sivia terus, Om. Sana kalian temui tamu yang lain. Biar Kakak yang temenin Om Andre." Martha datang untuk menemani Andreas.


"Kalau begitu, kami permisi dulu, Om. Silahkan nikmati pestanya." Ucap Adniyan sambil membawa Sivia pergi.


Sivia menemani Adniyan bertemu dengan rekan bisnisnya. Ia merasa bosan karena tak paham soal bisnis. Adniyan melirik Sivia yang merasa tidak nyaman dengan situasi ini.


"Vi, kalau kamu bosan, silahkan berkeliling dulu saja. Aku harus menemui beberapa klien lagi. Nanti aku akan menyusulmu."


"Iya, Mas. Aku mau cari Ibu dan Nisa dulu."


Sivia berkeliling mencari keberadaan Ibu dan adiknya. Tamu undangan memang tidak terlalu banyak, namun karena ruangan hotel cukup luas, jadi agak sulit menemukan satu orang diantara kerumunan para tamu. Sivia berjalan sambil melihat kiri dan kanan. Belum nampak sosok Ibu dan adiknya, ia malah bertemu dengan seorang teman yang ia kenal.


"Lho?! Kok lo bisa ada disini?" Tanya Sivia heran melihat keberadaan Raga.


"Dari tadi gue nyariin lo, ternyata ada disini. Selamat ya atas pertunangan lo!  Gue ikut senang."


"Thanks, Ga. Tapi, kok lo bisa ada disini?"


"Gue kerja di perusahaan calon suami lo."


"Hah? Serius?!"


"Vi, ternyata kamu disini. Lho, kalian sudah saling kenal?" Adniyan datang bergabung.


"Dia temanku sejak SMP, Mas."


"Baru aja aku mau kenalin Raga ke kamu, ternyata kalian sudah saling mengenal. Raga adalah sekretaris aku di kantor."


"Eh? Jadi, bos yang selalu kamu ceritakan itu-- adalah Mas Iyan?"


"Iya, Vi. Kayaknya sebentar lagi, gue harus panggil lo dengan panggilan bu bos nih, hehehe."


"Hahaha, kalian ngobrol dulu saja. Aku tinggal dulu ya, Vi. Sepertinya Papa memanggilku." Adniyan kembali pergi meninggalkan Sivia dan Raga.


"Sekali lagi selamat ya, Vi. Lo emang beruntung. Lo dapat sang pangeran."


"Pangeran? Apa maksudnya?"


"Orang-orang dikantor menyebut pak bos dengan panggilan 'The Prince' karena dia adalah pewaris tunggal Grup NG . Lo bagai dapat tiket lotre, Vi."


Sivia tersenyum simpul. "Apaan sih! Gue gak pernah memandang Mas Iyan sebagai seorang pewaris perusahaan besar. Oya, gue bakal adain acara buat teman-teman gue dan Mas Iyan. Mungkin sekitar 2 atau 3 hari lagi. Nunggu Mas Iyan agak senggang."


"Serius?! Itu sebabnya lo gak undang teman-teman hari ini?"


"Iya, begitulah."


"Oh ya, Vi. Sorry banget. Gue harus segera cabut dari sini." Raga melirik jam tangannya. "Malam ini gue pindah ke apartemen Aryan. Umm, you know, personal problems." Raga menggaruk tengkuknya.


"Oh, I know. Jangan sungkan. Kalau ada apa-apa, lo bisa cerita ke kita-kita. Sekali lagi thanks sudah datang."


"Oke. . Kalo gitu, gue permisi dulu. Salam buat pak bos ya!"


Sivia menatap Raga yang kian menjauh darinya.


Bagaimana bisa dunia begitu sempit? Semua yang kukenal, terasa hanya berputar-putar pada satu titik saja. Semoga ini jadi hal yang bagus.


......


Next??🔜🔜🔜🔜