Raanjhana

Raanjhana
Part 2 : Om Dirga, I Love You



Dirgantara Agung, pria tampan berwajah oriental berusia 26 tahun, seorang CEO dari Agung Group, yang terkenal dengan wajah datar dan dinginnya. Sebenarnya dulu ia adalah pria yang ramah dan murah senyum. Tapi semenjak kepergian istrinya setahun lalu, ia mulai berubah.


Hatinya yang hangat kini menjadi dingin apalagi terhadap perempuan. Rasa sakit karena ditinggalkan wanita yang dicintai rasanya tak bisa hilang meski sudah ditelan waktu.


Tapi entah kenapa hatinya menghangat ketika melihat wajah polos seorang gadis kecil yang masih berusia 5 tahun itu. Ada desiran aneh saat menatap mata beningnya. Itu seakan mengingatkan padanya tentang masa lalunya.


Dirga sudah saling mengenal dengan mendiang istrinya sejak mereka masih kecil. Dan rasanya gadis kecil ini membawakan kenangan lama untuknya.


Dirga membawa Diya ke rumah mewahnya bersama dengan Esih. Ya, Dirga sadar jika Diya masih terlalu kecil untuk ditinggal sendiri.


Diya hanya mengenal Esih. Dan Esih juga hanya memiliki Diya. Suaminya telah meninggal lama dan ia tak memiliki seorang anakpun. Sehingga saat melihat Diya, seakan ia merasa ditakdirkam untuk menjadi ibu asuhnya.


Diya terperangah melihat rumah Dirga yang begitu mewah.


"Wah, rumah Om sangat besar dan indah." ucap Diya hingga membentuk mulutnya seperti huruf O.


"Kamu suka tinggal disini?" tanya Dirga dengan membungkukkan badannya agar sejajar dengan Diya.


"Diya pasti suka tinggal disini, Om. Terima kasih, Om." Diya memeluk Dirga.


"Iya, sayang. Sekarang sebaiknya kalian istirahat. Kamar Diya ada di lantai atas."


Diya segera berlari keatas ditemani seorang asisten rumah tangga bernama Tini.


Esih sangat bahagia karena Diya menemukan orang baik untuk menolongnya dan juga dirinya.


"Sekali lagi saya ucapkan terima kasih, Tuan. Saya bisa bekerja disini sebagai pembantu." ucap Esih.


"Tidak, Bi. Bibi hanya akan mengasuh Diya. Untuk urusan rumah tangga sudah ada yang mengurusnya."


"Ah, begitu ya Tuan. Umm, tuan, mohon maaf jika saya lancang. Apa... tuan tinggal sendiri disini?"


"Iya. Saya tinggal sendiri. Sejak istri saya meninggal kini saya sendiri."


"Eh? Maaf, tuan. Maaf saya sudah lancang..."


"Tidak apa. Saya mengerti. Sebaiknya bibi juga beristirahat. Kamar bibi ada diatas juga."


"Tidak, tuan. Berikan saja saya kamar bersama dengan asisten yang lainnya."


"Hmm, ya sudah. Nanti biar Tini yang tunjukkan kamar untuk Bibi."


Dirga berpamitan dan naik ke lantai atas menuju kamarnya. Saat akan memasuki kamar, Dirga mendengar suara sorak sorai gembira dari kamar yang diyakini adalah kamar Diya.


Dirga tersenyum kemudian memasuki kamar Diya. Dilihatnya Diya sedang melompat lompat diatas tempat tidur dengan senangnya.


"Apa sesenang itu hanya melompat diatas ranjang?"


"Eh, Om? Maafkan Diya, Om. Diya sudah lancang..."


"Om tidak marah. Kamu bisa bermain sepuasmu disini."


"Benarkah?" mata Diya seketika berbinar cerah.


"Iya. Lakukan hal yang kau suka. Tapi ingat! Kamu harus selalu mematuhi perintah Om. Apa kamu mengerti?"


"Iya, Om.Terima kasih karena sudah membawa Diya dari sana. Sebenarnya Diya masih ingin tinggal di rumah ayah, tapi... Disana banyak orang jahat. Diya takut!"


"Tenanglah, disini aman. Kamu tidak akan terluka lagi."


"Iya, Om."


"Sekarang tidurlah. Besok kita akan cari sekolah untukmu."


"Sekolah?" Diya mengerutkan keningnya.


"Iya. Kau akan bersekolah seperti teman-temanmu yang lain. Kau akan mendapat teman baru nanti."


"Oh, begitu ya. Baiklah, Om. Diya akan selalu menuruti perintah Om."


Dirga mengacak rambut Diya pelan.


"Bagus. Kau harus menjadi orang yang lebih sukses dari Om."


Diya meringis kemudian mengangguk.


Kau sungguh menggemaskan. Benar-benar seperti dia saat kecil...


Dirga merebahkan tubuh Diya dan menyelimutinya.


Ketika Dirga akan beranjak, tiba-tiba Diya memegang tangan Dirga.


"Om, jangan pergi." pinta Diya.


Dirga tersenyum. "Om ada pekerjaan. Tidurlah!"


Diya tak mampu lagi membantah. Ia sudah berjanji.


"Baiklah, Diya akan tidur."


Dirga memberikan kecupan selamat tidur sebelum keluar dari kamar Diya.


"Selamat tidur, putri kecil..." gumam Dirga sebelum menutup pintu kamar Diya.


...***...


#bersambung...