
......***......
Ana terbangun dan berada di sebuah ruangan dengan nuansa serba putih. Matanya terbuka mulai menyesuaikan cahaya yang masuk. Ia mengerjapkan matanya dan melihat sekeliling. Dilihatnya Alvin sedang tertunduk dan sesenggukan.
"Alvin?" ucap Ana lirih.
"Kak Ana! Kakak sudah siuman?"
"Apa yang terjadi denganku?" Ana berusaha bangkit dari tidurnya.
"Kakak pingsan di depan kamar Daddy."
"Ya Tuhan! Apa yang terjadi denganku?"
Seorang perawat datang ke kamar itu dan memeriksa kondisi Ana.
"Kakakmu tidak apa, Nak. Dia hanya kurang cairan dan juga sepertinya dari pagi kakakmu ini belum memakan apapun." jelas si perawat pada Alvin.
"Nona Ana, makanlah dulu! Bukankah kau harus menjaga ayahmu yang sakit? Kau harus menjaga kesehatanmu. Kalau begitu saya permisi!" perawat itupun undur diri.
Ana melihat kearah Alvin yang masih menangis.
"Jangan menangis! Kau adalah anak lelaki. Kau harus kuat!" Ana beranjak dari tempat tidur dan segera berdiri.
"Kak! Kakak harus makan lebih dulu!"
"Kakak tidak lapar!" Ana kembali melangkah.
"Kak! Kakak mau kemana?"
"Ada yang harus kakak kerjakan. Tolong kau jaga Daddy, ya!"
"Kak! Sebenarnya apa yang terjadi?" Alvin kembali terisak. Ana memeluk tubuh adiknya yang bergetar.
"Kau tenang saja! Kita pasti akan baik-baik saja! Kakak pergi dulu ya!" Ana mengecup kening adiknya kemudian pergi dari ruangan itu.
Ana melajukan mobilnya menuju kediaman Alonso. Meski hatinya ragu, tapi bisa saja ia mendapat jawaban dari sana. Ana tiba disana dan segera berlari melewati gerbang yang menjulang tinggi. Mansion Alonso memang tak sebesar milik ayah Ana. Tapi tetap saja bisa dikatakan hunian ini adalah hunian mewah.
Ana menggedor pintu utama. Mansion itu terlihat sepi. Tak ada penjaga di luar gerbang seperti biasanya.
"Uncle Alonso!!! Jessline!!! Keluar kalian!!!" Ana menggedor pintu cukup keras.
"Jessline!!!" Ana kembali berteriak. Keringat mulai mengucur di pelipisnya.
Setelah menggedor dan berteriak selama beberapa lama, akhirnya ada seorang pelayan yang membukakan pintu untuknya.
"Ada apa, Nona? Kenapa menggedor pintu rumah tuan saya?" Pelayan itu tidak mengenali Ana begitu juga dengan Ana.
"Maaf. Saya ingin bertemu dengan pemilik rumah ini. Namanya Tuan Alonso."
"Tuan Alonso? Pemilik rumah ini bukan bernama Tuan Alonso, Nona." jelas si pelayan.
"Ada keributan apa ini?" seru seorang pria paruh baya yang menghampiri Ana dan si pelayan.
"Maaf, Tuan. Nona ini mencari Tuan Alonso." jelas si pelayan.
"Kau boleh kembali bekerja." titah si pria paruh baya.
"Tuan ini siapa? Bukankah pemilik rumah ini adalah Uncle Alonso?" tanya Ana tanpa berbasa-basi.
Pria paruh baya itu tertawa kecil mendengar pertanyaan Ana. "Maaf, Nona. Memang benar rumah ini dulunya adalah milik Tuan Alonso Gerardo. Tapi beberapa hari yang lalu, saya sudah membelinya dari putrinya yang bernama Jessline."
Ana tertegun mendengar penuturan pria didepannya ini. "A-apa?!"
Ana masih mencoba mencerna semua rentetan kejadian yang ia alami. "Lalu, dimana Uncle Alonso, Tuan?"
"Maaf, saya tidak tahu. Jika tidak ada lagi yang Nona butuhkan, sebaiknya cepat pergi dari rumah saya." Pria itu menutup pintu dengan kasar.
Ana berbalik badan dan melangkah dengan gontai. Matanya memanas. Ia menggeleng cepat.
"Tidak! Aku tidak boleh menangis!" Ana menguatkan dirinya sendiri. Ia merasakan sakit dibagian perutnya. Ia ingat jika dirinya belum memakan apapun hingga siang ini.
Ana segera melajukan mobilnya ke sebuah resto cepat saji favoritnya, Wac'D. Ana berjalan cepat menuju meja kasir.
"Saya pesan 2 potong ayam goreng ukuran besar, dua buah nasi, dan satu gelas cola ukuran jumbo." ucap Ana kepada kasir yang mencatat pesanannya.
"Baik, silahkan ditunggu." jawab si kasir.
Ana segera duduk di kursi yang kosong. Tekadnya sudah bulat. Ia harus mencari jawaban dari semua masalah ini.
Tak lama pesanan Ana datang. Ana segera melahapnya dengan semangat membara. Ana memasukkan ayam goreng besar beserta nasinya kedalam mulut.
"Aku harus kuat! Aku harus kuat!" gumam Ana berkali-kali dalam hati.
Sudut matanya mulai tergenang buliran bening yang hampir saja terjatuh. Sungguh ia tak kuat menahan semua kesakitan ini sendiri. Tapi ia harus kuat demi ayah dan adiknya.
Ana melahap habis semua pesanannya dan juga cola jumbo di gelas itu. Kini tubuhnya kembali bugar meski harus di isi dengan junk-food.
Ana melanjutkan perjalanan menuju perusahaan milik ayahnya, GD Group. Ia pasti menemukan sesuatu disana. Ana memasuki bangunan tinggi itu dengan langkah tegap dan lebar. Ia harus menemui asisten ayahnya, Robert Cams.
Ana menunggu di ruang yang sudah disediakan. Seorang pria paruh baya menghampiri Ana.
"Ana!"
"Uncle Robert!" Ana menghambur memeluk Robert.
"Kenapa kau datang kesini? Kudengar ayahmu terkena serangan jantung."
"Jadi, Uncle sudah tahu?"
Ana duduk di sofa dan memperhatikan Robert yang sedang memilih kertas-kertas di mejanya. Ana berdoa dalam hati jika Robert bisa membantunya keluar dari masalah pelik ini.
"Bacalah, Ana!" Robert memberikan beberapa berkas pada Ana.
Ana membacanya perlahan. "Apa maksud semua ini, Uncle?"
Robert menghela nafas sebelum menjelaskan semuanya. "Begini, Ana. Pamanmu, Tuan Alonso, melakukan banyak perjanjian bisnis dengan Julies Corp. Dan ternyata Pamanmu itu mengingkari semua perjanjian bisnis itu dan membawa kabur uang yang harusnya milik Julies Corp."
Ana masih mencoba memahami setiap kata yang diucapkan Robert. "Jadi, maksud Uncle jika Uncle Alonso telah menipu Julies Corp?"
"Bisa dikatakan seperti itu. Dan sebagai ganti dari kerugian yang dialami oleh Julies Corp, maka perusahaan ini telah menjadi milik Julies Corp. Sudah tertera di perjanjian jika perusahaan ayahmu menjadi jaminan untuk kerjasama bisnis itu!"
Tubuh Ana makin beringsut di sofa. Hatinya sudah tak kuasa menahan semua beban ini. Tangis Ana pun pecah.
Robert merasa tak tega dengan keadaan Ana. Tapi ia juga tak punya kuasa untuk membantu Ana.
Setelah puas menangis. Ana menenangkan diri. Ia kembali bicara pada Robert.
"Ana, maafkan Uncle. Karena Uncle tidak bisa membantumu."
"Tidak apa, Uncle. Aku pasti bisa melewati ini semua."
"Jika kau ingin bertemu dengan perwakilan Julies Corp, maka kau bisa menemuinya disini. Dia bernama Tuan Todd Candler. Dia adalah orang kepercayaan Tuan Alfred Ardana."
"Iya, Uncle. Antar aku menemuinya sekarang."
Langkah Ana tak main-main ketika memasuki ruangan yang dulu adalah milik ayahnya. Ada rasa sedih di hati Ana. Namun ia memilih untuk tetap tegar meski hatinya pilu.
"Selamat siang, Tuan Candler." sapa Robert.
"Oh, Tuan Robert. Silahkan duduk. Dan siapa ini?" tanya Todd.
"Ini adalah Ana. Dia adalah putri sulung dari Tuan Alfonso Gerardo. Dia ingin menemui Anda, Tuan." jelas Robert.
"Baiklah. Silahkan duduk, Nona."
Robert undur diri agar Ana bisa bicara dengan leluasa dengan Todd.
"Bagaimana Nona Ana? Apa ada yang ingin Nona bicarakan dengan saya?"
Ana menelan salivanya sebelum bisa mengutarakan niatnya. Sungguh Ana tidak mengerti tentang bisnis ayahnya.
"Umm, bisa Anda ceritakan yang terjadi kenapa perusahaan ayah saya bisa diambil alih oleh Julies Corp?" tanya Ana dengan suara bergetar. Pria didepannya ini tak nampak seperti orang jahat. Ana yakin bisa bicara baik-baik dengannya.
Ana mendengar penjelasan secara rinci dari Todd yang membeberkan beberapa berkas dihadapan Ana. Semua berkas itu adalah sah dimata hukum dan tidak bisa dibatalkan.
"Maaf, Nona Ana. Saya tahu perasaan Anda. Kehidupan keluarga Anda berubah drastis dalam semalam. Bukan Tuan Alfonso yang melakukan ini semua. Tapi justru keluarga Anda yang terkena imbasnya. Saya tahu jika Tuan Alfred dan Tuan Alfonso sudah lama berteman. Tapi perjanjian bisnis tetaplah bisnis. Tidak bisa kami batalkan. Sekali lagi kami minta maaf."
Ana mengangguk paham kemudian berpamitan dari ruang kerja ayahnya yang kini sudah berubah menjadi milik Julies Corp. Ana kembali bertemu dengan Robert.
"Ana..." tatapan Robert seakan mengasihani Ana.
"Ini, ada sedikit uang untukmu!" Robert memberikan sebuah cek pada Ana.
"Tapi, Uncle...."
"Terimalah! Ayahmu sudah sangat baik pada keluargaku. Dan juga, itu adalah sisa saham milik ayahmu. Kau bisa menggunakannya untuk membiayai penyakit ayahmu. Jika Uncle ada waktu, pasti Uncle akan menjenguk ayahmu."
"Terima kasih, Uncle." Ana memeluk Robert sebelum akhirnya berpamitan keluar dari gedung itu.
Sementara itu dari kejauhan, Todd sedang memperhatikan Ana dengan ponsel yang menempel di telinganya. Ia sedang berbicara dengan Grey.
"Iya, gadis itu baru saja datang kemari. Aku baru dapat kabar jika ayahnya masuk rumah sakit karena serangan jantung. Kasihan sekali nasibnya."
"Cih, itu adalah salah keluarganya. Perusahaan kita rugi ratusan juta Pounds! Ditambah lagi aku tak bisa mendapatkan resort itu karena sudah lebih dulu terjual. Benar-benar keluarga brengsek!!!" umpat Grey yang membuat Todd menjauhkan ponsel dari telinganya.
"Sudahlah, Tuan Grey. Kita sudah mendapat perusahaannya."
"Perusahaan kecil begitu mana bisa dibandingkan dengan Julies Corp."
Todd memutar bola matanya malas. "Terserah kau saja, Tuan. Yang terpenting kita sudah mengambil alih GD Group. Kita bisa langsung mengambil langkah setelah ini."
"Kau lakukan saja bagianmu. Dan aku akan lakukan bagianku!" Grey menutup telepon dan mendengus kesal. Ia membanting ponselnya.
"Tuan, apa yang akan Tuan lakukan sekarang?" tanya Black.
Grey berpikir sejenak. Kemudian senyuman seringai menghiasi wajah tampannya.
"Kau temui gadis itu, lalu bawa dia kehadapanku. Dia harus membayar semua hutang keluarganya." ucap Grey.
"Baik, Tuan."
......***......
#bersambung...
*Mak, udah episode 6 kok Ana gak ketemu2 sama Grey?
kenapa sih kok kayaknya alurnya lambat amat? tidak seperti cerita2 sebelumnya?
Ada gak yg ngerasa begitu? Hehe, sabar yes. ini memang sengaja kubuat alurnya agak lambat dari biasanya. Karena mamak pengen pembaca kebawa sama situasi yg ada didalam cerita ini. tentang kesedihan Ana dan kegelisahan Grey yang selalu mengenang Nisha lewat Ana.
Tenang, cerita ini tidak akan dibuat sepanjang jalan kenangan kok.😬
Akan ada saatnya Grey bertemu dengan Ana dan banyak hal terjadi diantara mereka.
So, semoga kalian tetap setia menanti cerita ini UP ya genks.
Terima kasih