
Halo readers kesayangan mamak, Raanjhana (Lover/Kekasih) is
back! Don’t forget to leave Like and Comments
*Happy Reading*
Keesokan harinya, Hernan terbangun dari tidurnya dan melihat Nisha masih terlelap di ranjang empuk miliknya. Hernan sedikit kesal dengan sikap Nisha yang tidak menggubrisnya ketika ia bertanya soal kepergian Nisha.
Hernan naik ke atas tempat tidur dan membangunkan Nisha.
“Hei, gadis manja. Bangun! Ini sudah siang!”
“Hmm…” Nisha hanya berdehem pelan dan masih memejamkan matanya.
“Ayo bangun! Aku tahu ini adalah hari minggu, tapi kau adalah menantu dirumah ini. Setidaknya tunjukkan rasa hormatmu pada orang tuaku. Hei!!! Kau tuli, huh?”
Nisha masih bergeming dan makin memeluk erat gulingnya. Samar-samar Hernan mendengar Nisha menggumam pelan. Hernan memegang kening Nisha. Ia membulatkan mata.
“Kau demam. Apa kau sakit? Ini pasti karena kau pergi semalam. Sebenarnya kau pergi kemana?”
“Aku tidak apa-apa. Aku hanya ingin tidur.” Jawab Nisha lirih akhirnya terbangun karena mendengar Hernan terus mengoceh.
“Aku akan menyuruh bibi untuk membawakan kompres untukmu.
Kau demam begini apanya yang tidak apa-apa.”
Hernan segera pergi ke dapur dan menemui asisten rumah tangganya. “Bi, buatkan kompresan untuk Nisha. Cepat ya!”
“Baik, tuan muda.”
Tak lama Hernan kembali ke kamar dan duduk di samping ranjang. Ia memeras handuk dan menempelkannya di dahi Nisha. Nisha tak menolak dan masih memejamkan matanya. Hernan memperhatikan Nisha yang masih terpejam. Tiba-tiba ia ingat jika semalam Nisha memberinya sebuah kado.
Hernan menuju sofa dan melihat dua kotak kado ada disana. Satu adalah dari Asha, dan satunya adalah dari Nisha. Ia memilih membuka kotak
kado dari Nisha lebih dulu. Ia tersenyum kala melihat sebuah dasi bermotif garis-garis berwarna biru langit ada disana. Ada sebuah kartu ucapan disana.
“Selamat Ulang Tahun Hernan. Semoga kau selalu sukses di
usiamu yang kian matang. Ini hadiah kecil dariku. Semoga bisa menambah koleksi dasimu, hehe. Dari: Nisha Wilhelmina.”
Hernan tersenyum lalu menatap Nisha yang masih berbaring. Nisha mulai menggeliat dan melepas handuk kompres di dahinya.
“Hei, kenapa dilepas?”
“Sudah kubilang aku tidak apa-apa.”
“Bagaimana kau bisa demam? Sebenarnya kau pergi kemana?”
“Aku tidak suka keramaian. Aku hanya ingin menghabiskan waktuku sendiri. Bukankah biasanya kau pergi bermain golf bersama ayahmu jika hari
minggu? Pergilah! Aku baik-baik saja.” Ucap Nisha dengan lirih.
“Kau makanlah dulu. Tadi aku meminta bibi untuk membuatkan
bubur untukmu.”
Pintu kamar Hernan diketuk dan munculah bibi dari balik pintu. “Permisi, tuan muda. Ini buburnya untuk nona muda.”
“Bawakan kesini, bi. Nisha, kau makan ya!”
“Oh ya, tuan muda sudah ditunggu tuan besar dibawah.” Ucap bibi.
“Pergilah. Aku tidak apa.” ujar Nisha.
“Baiklah, tapi jangan lupa kau makan buburnya.”
Nisha mengangguk. Hernan berpamitan pada Nisha lalu keluar
dari kamar.
.
.
.
.
.
Siang harinya, Hernan kembali usai bermain golf bersama ayahnya. Ibunya bilang demam Nisha sudah turun dan sekarang dia sedang tidur.
“Makanya kau jangan sering mengajaknya lembur, nak. Kasihan
‘kan Nisha. dia pasti tidak sanggup mengimbangi gairahmu.” Adelia tersenyum menggoda putranya.
“Ibu! Apaan sih?” sungut Hernan dengan wajah memerah.
“Astaga, ayah. Lihatlah putramu ini. Ternyata dia masih malu-malu meski sering mengajak istrinya lembur. Semalam kau pasti menggempurnya habis-habisan, hah. Makanya menantu ibu sampai sakit begitu.”
“Sudahlah, bu. Jangan menggoda putramu terus. Tentu saja dia
seperti ayahnya. Gempur terus sampai mencetak gol, hahaha.”
“Ayah! Kalian berdua sama saja! Sudah, aku akan ke kamar
saja.” Sungut Hernan sambil berlalu.
Di dalam kamar, Hernan melihat Nisha masih meringkuk di
tempat tidur.
“Sepertinya kau sangat suka tidur ya. Seharian ini kau hanya berada di tempat tidur. Gara-gara kau sakit, ibu dan ayah terus menggodaku.
Huuuuffftttt!!!”
“Maaf…”
Hernan terkejut karena melihat Nisha sudah membuka matanya.
“Hu’um. Lagipula ibumu benar. Aku sakit karena kau.”
“Karena aku? Kok bisa?”
“Sudahlah, tidak perlu dipikirkan.” Nisha memiringkan tubuhnya memunggungi Hernan. Saat ini ia tak mau mengingat kejadian semalam
yang membuat hatinya sesak.
Senin pagi, Nisha sudah bersiap untuk berangkat ke kampus.
Tubuhnya juga sudah baikan dan sudah bisa beraktiftas kembali. Nisha dan Hernan keluar dari rumah dan menuju mobil yang sudah siap menunggu di depan rumah.
Ketika mereka akan memasuki mobil, mereka berdua bertemu dengan Asha yang juga akan berangkat bekerja.
“Lho? Asha? Kau sendiri? Tidak bersama Dirga?” Tanya Hernan.
“Dirga sudah berangkat lebih dulu karena harus bertemu
dengan klien.” Jawab Asha.
Nisha hanya diam mendengar percakapan mereka.
“Asha ‘kan juga bekerja di perusahaan Hernan yang dibangun bersama Dirga. Tentu saja mereka sangat dekat karena setiap hari bertemu.” Batin Nisha.
“Kalau begitu kau ikut dengan kami saja. Aku akan mengantar Nisha kekampusnya dulu.” Tawar Hernan.
“Eh tapi…” Asha melirik kearah Nisha.
“Kalau begitu kalian berdua saja. Aku bisa naik ojek. Aku takut Kak Asha terlambat karena harus mengantarku lebih dulu. Permisi!” Nisha berjalan
kaki menuju depan komplek rumah lalu memanggil tukang ojek yang mangkal disana.
Sementara Hernan dan Asha masuk ke dalam mobil tanpa mempedulikan Nisha.
“Apa tidak sebaiknya kau mengejarnya, Hernan. Apa tidak apa
dia naik ojek begitu?” tutur Asha.
“Biarkan saja. Dia sudah besar, pasti bisa ke kampusnya sendiri. Lagipula ini memang sudah siang. Aku takut terlambat untuk rapat pagi.”
Asha hanya melirik Hernan yang tampak fokus menyetir.
.
.
.
.
.
Nisha tidak bisa konsentrasi dalam mengikuti kuliah hari ini. Pikirannya tertuju pada Hernan dan Asha yang seakan tidak terpisahkan. Mereka terlihat saling menyimpan rasa namun tidak bisa bersama. Apalagi saat pesta ulang tahun Hernan kemarin. Nisha benar-benar tidak dianggap ada oleh Hernan. Meski pernikahan mereka hanya sandiwara dan banyak perjanjian didalamnya, tapi apa salahnya jika Hernan mengenalkan Nisha sebagai teman atau bahkan sepupunya. Bisa saja ‘kan?
Nisha berjalan gontai keluar kampus. Karena tidak melihat keadaan sekitar, Nisha hampir saja tertabrak motor yang melaju. Beruntung Nisha hanya jatuh terduduk karena syok tiba-tiba ada motor yang ingin menghantamnya.
Seorang pria muda turun dari atas motor besarnya dan menghampiri Nisha yang jatuh terduduk.
“Hei, nona. Kau tidak apa-apa? Maaf ya, aku hampir menabrakmu. Lagipula kau sendiri menyeberang tidak melihat kanan dan kiri. Itu sangat berbahaya, nona.” Pria muda itu terus mengoceh namun Nisha hanya diam dan merapikan bajunya.
“Nona apa ada yang terluka?” pria itu kembali bertanya.
Nisha hanya menggeleng pelan. Ia bahkan tidak menatap pria
yang hampir mencelakainya. Ia langsung memanggil taksi dan pergi dengan taksi
itu.
Keesokan harinya, Nisha bertemu dengan pria muda itu lagi. Mereka
satu kampus namun berbeda jurusan. Pria muda itu kembali mendekati Nisha yang sedang menunggu taksi. Beberapa hari ini ia benar-benar tidak ingin berlama-lama bersama Hernan. Ya kecuali saat terpaksa harus tidur satu kamar dengannya.
“Halo, nona. Kita bertemu lagi…”
Nisha mengerutkan keningnya. “Kamu siapa?”
“Wah, kau lupa ya? Aku orang yang hampir menabrakmu dengan
motorku. Kenalkan, namaku Grey.”
Nisha tertawa kecil. “Maksudmu abu-abu?”
“Hahaha, kau bisa saja nona. Terserah saja kau memanggilku
apa.”
Nisha kembali tertawa, dan lebih lebar.
“Nah, begitu ‘kan cantik, nona. Sejak bertemu aku tidak pernah melihat senyummu.”
“Omong-omong, aku minta maaf ya. Karena aku, kau hampir saja terlibat kecelakaan.” Ucap Nisha.
“Tidak, nona. Aku juga salah karena aku suka sekali kebut-kebutan. Kau mau pulang?”
“Iya.”
“Bagaimana kalau aku mengantarmu?”
“Eh? Ah tidak perlu. Aku bisa naik taksi.”
“Tidak apa. Ayolah! Anggap saja sebagai permintaan maaf karena aku hampir menabrakmu.”
“Hmm, baiklah kalau begitu.”
Nisha naik ke motor besar milik Grey. Dan motor melaju dengan kecepatan sedang. Hingga beberapa hari berlalu, Nisha selalu diantar pulang oleh Grey. Dia pria yang baik dan menyenangkan. Sangat berbeda dengan suaminya yang hanya bicara saat ada perlunya saja.
#bersambung