
Nisha dan Hernan bergegas turun ke lantai bawah. Mereka
sudah terlambat untuk berangkat ke kantor dan kampus. Mereka bahkan melewati
sarapan mereka. Mereka berdua hanya berpamitan pada Adelia dan Rio yang sedang
santai di ruang keluarga.
Nisha dan Hernan segera menuju ke mobil yang sudah di
siapkan oleh asisten rumah tangga Hernan. Langkah mereka terhenti karena
melihat Asha terlihat sedang menunggu Hernan.
“Hernan…” sapa Asha.
Nisha melirik kea rah Hernan yang juga sedang menatap Asha.
Karena tak mau jadi orang ketiga diantara mereka, Nisha memutuskan naik ojek
seperti hari kemarin.
“Aku naik ojek saja. Kak Asha silahkan naik.” Ucap Nisha.
Nisha segera berjalan cepat menuju depan komplek karena ia
sudah terlambat.
Namun secara tak terduga, Hernan mengikuti langkah Nisha dan
menarik lengan Nisha.
“Jangan naik ojek.” Ucap Hernan.
“Eh?”
“Ayo ikut denganku!” Hernan menarik lengan Nisha agar
kembali ke mobil. Hernan menempatkan Nisha duduk di depan.
“Kalau kamu mau ikut, duduklah di belakang!” ucap Hernan
pada Asha.
Asha berdecak kesal namun tidak bisa menolak. Ia pun sudah
terlambat ke kantor. Ia hanya pegawai biasa di perusahaan Hernan. Meski mereka
dekat, tapi urusan pekerjaan berbeda dengan urusan pribadi.
Selama perjalanan, mereka bertiga hanya saling diam.
Sesekali Nisha melirik ke arah Hernan. Nisha merasa ada yang aneh dengan sikap
Hernan pagi ini. Bahkan tadi mereka terbangun dengan posisi yang amat membuat
canggung.
“Aku akan mengantar Asha lebih dulu ke kantor. Tidak apa
‘kan?” Tanya Hernan melirik Nisha.
“Eh?”
“Hernan…” Asha memprotes. Tapi sepertinya Hernan tidak
menggubrisnya. Hernan tetap menuju ke perusahaannya lebih dahulu.
Nisha hanya menunduk. Ia merasa tidak enak hati pada Asha.
Bisa Nisha lihat jika Asha terlihat kesal.
Tak lama mereka tiba di perusahaan AAA Company, perusahaan
milik Hernan yang dibangunnya bersama Dirga. Hernan meminta Asha untuk turun
dari mobilnya. Dengan kesalnya Asha turun dari mobil tanpa mengucapkan kata
terima kasih.
Hernan kembali melajukan mobilnya menuju kampus Nisha.
Sekali lagi Nisha melirik kearah Hernan.
“Kita makan dulu ya! Bukankah tadi kita melewatkan sarapan
di rumah.” Ucap Hernan.
Nisha hanya mengangguk setuju. Ia juga lapar.
“Tidak apa ‘kan kau terlambat kekampus?”
“Tidak apa. Hanya bolos sekali sepertinya tidak apa-apa.”
Nisha meringis.
“Ternyata kau bisa badung juga ya.”
“Kau yang mengajariku jadi badung…” ujar Nisha tak terima.
“Lagipula siapa yang tidur hingga tidak ingat waktu begitu.
Pakai meluk-meluk aku segala.”
“A-Apa?!” Nisha melotot kepada Hernan. “Bukankah kau yang
lebih dulu yang memelukku?”
“Oh ya? Entahlah. Kita ‘kan sedang tidur. Mana tahu siapa
yang lebih dulu memeluk. Benar ‘kan?” ucap Hernan tak mau kalah.
Nisha menyudahi perdebatannya dengan Hernan. Percuma saja
menurutnya. Hernan bukan tipa pria pengalah. Nisha memandang keluar kaca mobil.
Dan tidak disangka, Hernan malah menuju ke kampus Nisha.
Nisha membulatkan mata ketika Hernan malah memarkirkan mobilnya di parkiran
kampusnya.
“Ayo turun!” titah Hernan.
“Kau bilang ingin sarapan. Kenapa malah ke kampusku?” Tanya
Nisha mengernyit heran.
“Bukankah di kampusmu ada kantin? Kita makan di kantin
saja.”
“Heh? Apa? Makan di kantin?” teriak Nisha.
“Ayo cepatlah, tadi katanya lapar!” Hernan menarik lengan
Nisha agar berjalan lebih cepat.
Nisha menundukkan kepala kala teman-teman kampusnya melihat
kearahnya dan Hernan. Selama ini Nisha memang dikenal tidak dekat dengan pria
manapun. Hernan bertanya pada mahasiswa yang ia lewati dimana letak kantin
kampus.
Hernan mempercepat langkahnya dan menarik tangan Nisha.
Setelah sampai di kantin kampus, Hernan mencari tempat duduk yang menurutnya
nyaman. Pandangannya tertuju pada meja dan kursi yang paling pojok.
“Kita duduk disana saja!” ucap Hernan sambil menunjuk bangku
pojok.
Nisha masih tak habis pikir dengan tingkah Hernan. Namun Ia
tak bisa membantah keinginan Hernan.
“Kau ingin makan apa?” Tanya Hernan.
“Terserah saja. Aku bisa makan apapun.” Jawab Nisha.
Hernan memesankan nasi goreng dan lemon hangat untuk sarapan
mereka.
“Kenapa makan dikantin kampusku?” Tanya Nisha.
“Tidak apa. Hanya untuk menghemat waktu saja. Benar ‘kan?”
jawab Hernan santai.
Tak lama pesanan mereka datang lalu mereka menyantapnya
lahapnya.
Beberapa pengunjung kantin melihat kearah Hernan dan Nisha.
Kebanyakan para mahasiswi menatap Hernan yang dianggap si pria tampan dan
berwajah bule. Nisha mempercepat makannya agar mereka segera keluar dari
kantin.
“Aku sudah selesai. Sebaiknya kau segera berangkat ke
kantor.” Ucap Nisha.
“Apa kau lupa, aku adalah bosnya. Aku bebas berangkat kapan
saja. Iya ‘kan?”
Nisha memutar bola matanya malas. “Jika tahu CEO nya macam
begini, seharusnya ayah dan kakekku tidak menanam saham mereka di perusahaanmu.”
“Cih, berani sekali kau bicara begitu. tapi nyatanya aku
berhasil memajukan perusahaanku dan membuat ayah serta kakekmu bangga padaku.
Sekali-kali terlambat kan tidak apa.”
“Terserah kau saja. Aku akan pergi ke kelasku. Aku sudah
bolos di jam pertama. Aku tidak bisa bolos lagi.” Nisha meninggalkan Hernan dan
berjalan cepat keluar kantin.
Hernan membayar tagihan makan mereka, lalu berlari kecil
mengejar Nisha. Hernan kembali mencekal lengan Nisha.
“Belajarlah yang rajin ya! Nanti pulang kuliah aku akan menjemputmu…”
ucap Hernan sambil mengacak rambut Nisha.
Nisha yang baru pertama kali diperlakukan dengan manis oleh
Hernan, hanya bisa berdiri mematung.
“Sebenarnya dia kenapa sih? Apa dia kesurupan? Hiiiiii
ngeri!” Nisha bergidik ngeri.
“Ciye-ciyee, yang diantar suami ke kampus. Kemana saja tadi
di jam pertama?” ledek Dewi dan Lala.
“Ssssttt! Kalian! Bisa tidak jangan berteriak begitu?!”
sungut Nisha kesal.
“Untuk apa malu, Sha? Kalian ‘kan memang sudah menikah.”
Lanjut Dewi.
“Sudahlah, susah sekali bicara dengan kalian.” Kemudian
Nisha berlalu meninggalkan Dewi dan Lala.
“Hmm, sepertinya Kak Hernan mulai bucin nih sama Nisha.”
tutur Dewi.
“Semoga saja deh. Mereka terlihat sangat cocok kok.” Sahut
Lala.
.
.
.
Sementara itu, dikantor Dirga lagi-lagi mendapati Asha
datang terlambat. Ia pun menegur Asha.
“Kenapa akhir-akhir ini kau datang terlambat, Asha? Apa kau
sengaja menunggu agar bisa berangkat dengan Hernan?” selidik Dirga.
“Kalau iya, kenapa?”
“Asha!!! Kau harus ingat, Hernan sudah menikah. Jadi, jangan
mengharapkan dia lagi. Apa kau mau jadi orang ketiga diantara mereka?”
“JIka iya, kenapa? Aku tidak keberatan walau harus jadi
orang ketiga diantara mereka.” Jawab Asha lantang.
“Asha… Kau benar-benar sudah tidak waras!”
“Iya, aku memang tidak waras. Apa salahnya jika aku
memperjuangkan cintaku?”
“Kau berjuang ketika semua perjuangan itu sudah berakhir,
Asha. Kau tidak bisa dengan mudah masuk kedalam lingkaran pernikahan Hernan dan
Nisha. Aku yakin cepat atau lambat Hernan akan bisa menerima Nisha sebagai istrinya.
Dan mereka akan saling mencintai.”
“Dan aku juga yakin jika Hernan masih mencintaiku.”
“Dulu kau bahkan tidak bisa memilih antara aku dan Hernan.
Kenapa sekarang kau malah memillih Hernan disaat Hernan sudah menikah. Aku
tidak mengerti jalan pikiranmu, Asha. Lakukan saja apa yang ingin kau lakukan.
Tapi aku tidak membantumu jika kau sampai sakit hati karena patah hati.” Dirga pun meninggalkan Asha. Ia tak mau berdebat lebih dari ini dengan wanita yang mengisi ruang hatinya.
Kalimat terakhir Dirga membuat Asha kesal dan mengepalkan
tangan. Ia akan menyusun rencana agar Hernan bisa kembali padanya dan meninggalkan
Nisha.
.
.
.
Sore harinya, Nisha sedang menunggu taksi di jalan depan
kampusnya. Ia tidak akan mengharapkan kehadiran Hernan untuk menjemputnya.
Hubungan mereka tak sedekat itu untuk terus membuat Hernan merelakan waktunya
hanya sekedar untuk mengantar jemput dirinya.
Nisha membulatkan mata kala melihat sepeda motor besar
menghampirinya. Itu adalah Grey. Nisha juga terkejut karena dari arah
berlawanan juga datang sebuah mobil yang tidak asing bagi Nisha. itu adalah
mobil Hernan.
Kedua pria itu menghampiri Nisha. Nisha melihat secara
bergantian kedua pria yang ada disamping kanan dan kirinya.
“Ada apa ini?” gumam Nisha dalam hati. Nisha memperhatikan
kedua pria itu nampak saling pandang dengan tatapan yang sengit.
“Nisha, ayo pulang!” ucap Grey.
“Tidak bisa! Nisha akan pulang denganku!” balas Hernan
dengan menatap tajam kearah Grey.
Nisha berada dalam dilema. “Bagaimana ini? Kenapa mereka
datang bersamaan begini?” batin Nisha.
#bersambung…