Raanjhana

Raanjhana
Trapped by Cold CEO : 08. Tuan Muda Menagih Hutang




"Wah, wah, jadi kau sudah siap untuk bermain, Nona Anastasia Gerardo?" suara Grey membuat Ana terkejut dan memicingkan matanya.


Grey bangkit dari duduknya dan menghampiri Ana. Sontak Ana langsung berdiri ketika melihat seringai tajam dari wajah tampan Grey.


Ana menelan salivanya melihat tatapan dari singa lapar yang siap menerkam mangsanya. Ia bergeming dan tak menjawab pertanyaan Grey. Degup jantungnya mulai tak beraturan. Kini ia merasa telah memasuki sarang singa jantan.


Sedangkan Grey, ia memperhatikan Ana dari ujung rambut hingga ujung kaki. Penampilan Ana yang memakai sweater lengan panjang dan celana jeans slim-fit memang terkesan sangat biasa. Namun wajah cantiknya tak memudar meski tak memakai riasan di wajahnya.


Ketika tatapan itu makin menghunus kearahnya, Ana tak kuasa mengangkat wajahnya. Ia hanya bisa menunduk. Ia sudah tahu jika masalah yang dibuat oleh pamannya tak berhenti hingga disini saja. Pasti akan datang masalah yang lebih besar dari ini.


Bunyi ketukan dan suara langkah kaki yang kian mendekat membuat Ana akhirnya mendongakkan wajahnya. Itu adalah pria yang tadi ditemuinya.


"Tuan, ini berkas yang Tuan minta," ucap Black.


Grey membalikkan badan dan kembali duduk di sofa. Lampu ruangan pun sudah kembali dinyalakan oleh Black.


"Silahkan duduk, Nona." perintah Grey.


Dengan gugup Ana duduk di sofa itu. Jarak antara dirinya dan Grey lumayan jauh. Ana baru menyadari jika Grey adalah pria yang ditemuinya di resort. Pria yang salah mengenalinya sebagai Nisha.


"Baiklah, Nona Ana. Aku akan membuatnya sederhana saja. Ini semua adalah berkas-berkas dari kerjasama antara aku dan Tuan Alonso. Berkas ini berbeda dengan yang kau lihat saat mendatangi Todd Candler."


Ana menelan salivanya. Ia berusaha setenang mungkin menghadapi pria dengan tatapan membunuh ini.


"Total kerugian yang dialami olehku adalah sebesar 200 juta Pounds setelah dikurangi dengan penyitaan perusahaan milik ayahmu. Seharusnya rumah yang kau tempati menjadi milik kami. Juga resort yang baru diresmikan itu. Tapi kau tahu? Semua itu bahkan sudah lebih dulu dijual oleh pamanmu!" suara Grey menggelegar menandakan ia sangat marah saat ini.


Ana meringkuk dalam duduknya. Ia benar-benar tidak tahu apapun soal bisnis dan teman-temannya. Namun kini ia yang malah terjebak dengan Tuan Muda yang menagih hutang padanya.


"Ba-baiklah. A-aku akan melunasinya. Semuanya." ucap Ana dengan suara bergetar. Entah dari mana ia bisa mengatakan hal semacam itu pada Grey.


Grey tersenyum menyeringai. "Kau yakin kau bisa melunasi semuanya?"


Ana kembali menelan salivanya. Tenggorokannya terasa amat kering saat ini. Tapi untuk meneguk satu tetes air pun rasanya sulit.


"I-iya, Tuan. Aku akan membayarnya."


"Oke! Kapan tepatnya itu?"


"Eh? Umm...." Ana mencoba berpikir.


"Secepatnya, Tuan."


"Baguslah. Aku pegang kata-katamu, Nona. Sekarang pergilah! Dan aku tunggu pembayaran hutangmu."


Ana beranjak dari duduknya dan segera pergi dari ruangan itu tanpa berpamitan. Hatinya bergemuruh tak kuasa menahan sesak.


Sepeninggal Ana, Grey menarik sudut bibirnya.


"Kau awasi terus gadis itu, Black. Jangan sampai dia mengingkari janjinya untuk membayar hutang."


"Baik, Tuan."


Sementara itu, Ana merutuki dirinya yang telah berkata lantang pada Grey. "Kenapa aku bicara begitu dengannya? Dari mana aku dapat uang sebanyak itu? Astaga, Ana! Kau sudah menggali kuburmu sendiri." Ana memukul pelan bibirnya yang sudah lancang menantang si tuan dingin, Grey.


Ana kembali ke rumah yang disewanya dan mengacak berkas-berkas penting milik ayahnya. Ia berharap menemukan berkas berharga yang bisa ia jual. Tiba-tiba ia teringat dengan cek yang diberikan oleh Robert saat Ana berkunjung ke GD Group.


"Sepuluh juta Pounds? Ini masih jauh dari kata cukup. Bagaimana ini?" gumam Ana dengan tubuh yang sudah lemas dan lunglai.


Namun Ana tak putus asa. Ia membaca satu persatu berkas-berkas milik ayahnya. Ia yakin pasti ayahnya menyimpan hartanya di suatu tempat. Hingga akhirnya tubuh lelah Ana tak bisa lagi menahan kantuk. Ia pun tertidur dengan kertas-kertas berserakan disampingnya.


......***......


Ana terbangun dipagi hari karena bunyi ponselnya yang terdengar nyaring ditelinganya. Ana meraih ponselnya dan menjawab panggilan itu yang ternyata dari rumah sakit. Ana segera berlari ke kamar mandi dan membersihkan diri kemudian langsung menuju ke rumah sakit yang letaknya tak jauh dari rumah yang disewanya.


Ana menemui seorang perawat yang mengatakan jika Ana harus segera melunasi tagihan rumah sakit jika ingin ayahnya tetap mendapat perawatan terbaik. Ana menuju ke bagian administrasi.


"Berapa biaya untuk perawatan pasien bernama Alfonso Gerardo?" tanya Ana.


"Untuk pelunasannya sebesar satu juta Pounds, Nona." jawab petugas administrasi.


Ana mendesah pelan. Sungguh pikirannya penat memikirkan semua ujian ini. "Baiklah, aku akan kembali lagi kemari. Aku akan bawakan uangnya." ucap Ana pada petugas itu.


Ana segera berlari keluar rumah sakit. Dilihatnya mobil yang masih ia pakai hingga saat ini.


"Aku akan menjualnya." Ana membawa mobilnya keluar area rumah sakit dan menuju bank untuk mencairkan cek yang diberikan oleh Robert. Ana tak mengambil semuanya, hanya satu juta untuk keperluan rumah sakit ayahnya.


Setelah dari bank, Ana menuju ke sebuah showroom mobil untuk menjual mobilnya. Mobil mewahnya hanya laku sebesar 500 ribu Pounds. Ana kembali menghela nafasnya. Ia juga harus mengirimkan uang untuk biaya kuliah Alvin di Italia.


Ana menyemangati dirinya sendiri. Ia tak boleh lemah sekarang. Ana kembali ke rumah sakit menggunakan bus umum. Kini ia harus terbiasa hidup sederhana tanpa ada kemewahan sama sekali.


Seorang pria yang sedari tadi mengikuti kemana langkah Ana pergi, hanya menggeleng pelan. Ia tidak tega melihat penderitaan Ana yang sebenarnya bukan karena ulahnya.


"Malang sekali nasibmu, Nona." gumam pria yang tak lain adalah Black. Ia mengikuti langkah Ana hingga akhirnya menuju kembali ke rumah sakit.


Ana segera membayar semua tagihan milik ayahnya dan meminta perawatan yang terbaik untuk ayahnya. Ana kembali menuju ruang intensif untuk melihat kondisi ayahnya.


"Daddy..." mata Ana kembali hangat. Buliran bening itu telah luruh ke pipi mulusnya.


"Es krim?" suara seseorang membuat Ana segera menyeka air matanya.


"Kau? Kenapa ada disini?"


Black memutar bola matanya malas. "Aku hanya mengawasimu. Ambillah! Bukankah wanita menyukai es krim?"


Ana menerima es krim dari tangan Black. "Terima kasih."


Mereka duduk di bangku panjang rumah sakit.


"Kau tidak melakukan apapun tapi kau yang terkena imbasnya. Hidup memang tidak adil, bukan?" ucap Black sambil menikmati es krim ditangannya.


Ana tidak mengira jika pria yang terlihat tanpa ekspresi ini bisa juga bicara lembut. Ana tersenyum getir mendengar kata-kata Black.


"Kau benar, Tuan. Aku bahkan tidak tahu apapun soal bisnis. Tapi kini aku harus terjun didalamnya. Tapi, aku yakin setelah kesakitan dan penderitaan yang aku alami, aku pasti akan menemukan kebahagiaan. Aku percaya itu. Meski aku sendiri tidak tahu kapan datangnya hari bahagia itu. Terima kasih atas es krimnya, Tuan." Ana bangkit dari duduknya dan meninggalkan Black.


Black tersenyum mendengar ketegaran hati Ana. "Aku berdoa untukmu, Nona." gumam Black.


#bersambung dulu ya genks


*Partnya mulai agak kupendekkan ya genks. Tapi kuusahakan akan UP 3x sehari kayak minum obat, hehehe


Terima kasih atas dukungan kalian 😘😘😘