
Akhir pekan biasanya adalah hari dimana rata-rata orang menghabiskan waktu untuk bersantai atau sekedar berlibur sejenak setelah berkutat dengan pekerjaan mereka. Namun lain halnya dengan Dirga. Pria 41 tahun ini lebih memilih hari sabtunya digunakan untuk bekerja.
Sebenarnya ia hanya ingin menghindari Diya, gadis yang diangkat menjadi Putrinya 15 tahun lalu. Gadis itu kini telah tumbuh dewasa dengan kecantikan alami yang membuat mata pria kagum saat melihatnya.
Hubungan Dirga dan Diya menjadi canggung setelah Dirga dengan tidak sengaja mencium sudut bibir Diya. Setelah kejadian itu, Dirga merutuki dirinya karena sudah berbuat kelewat batas.
Yang dikatakan Diya memang benar. Dirga sudah tidak lagi menganggap Diya sebagai putrinya. Dirga merasakan sesuatu hal yang lain dengan hatinya terhadap Diya.
Lantas kenapa Dirga tidak mengakuinya? Dirga hanya membuat Diya bersedih karena perasaan yang menyiksa itu kian hari semakin besar dan tumbuh.
Dirga mengusap wajahnya kasar karena terus teringat dengan pertanyaan Diya. Sebuah pesan di grup chat miliknya membuyarkan lamunan Dirga.
Pasalnya, beberapa pesan beruntun bersahutan dengan ramai di ponselnya.
Dirga memeriksa ponselnya dan membaca apa saja yang dibicarakan oleh teman-teman kuliahnya. Ternyata mereka berencana untuk pergi ke klab bersama-sama. Dirga meletakkan ponselnya. Ia merasa malas untuk pergi ke tempat-tempat seperti itu.
Meski ia tak menampik, sesekali Dirga juga meminum anggur. Kembali ponselnya berdering yang ternyata sebuah panggilan dari teman lamanya, Miko.
Miko membujuk Dirga agar datang ke klab untuk bertemu yang lain. Merasa tak enak hati jika menolak, akhirnya Dirga mengiyakan permintaan Miko.
Pukul enam sore, Dirga telah tiba di klab. Dan ternyata teman-temannya juga telah tiba disana. Miko melambaikan tangan pada Dirga.
Dirga duduk disamping Miko. Ada 4 pria di meja itu sekarang. Mereka bercerita tentang kehidupan rumah tangga mereka masing-masing. Dirga hanya diam mendengarkan cerita dari teman-temannya.
"Kau sendiri bagaimana, Ga? Kau sudah lama menduda. Apa kau tidak berencana ingin menikah lagi?" tanya Miko.
"Aku belum memikirkan hingga kesitu, Mik."
"Wah, sayang sekali jika adikmu kau anggurkan selama bertahun-tahun, Ga." sahut Jerry.
Mereka bertiga tertawa, namun tidak dengan Dirga.
"Eh, lihat itu! Bukankah itu Alexa?" seru Andrew menunjuk pada sosok wanita cantik yang baru memasuki klab.
Wanita itu mengedarkan pandangannya. Begitu matanya tertuju pada sosok 4 pria yang ada di meja pojok, Andrew melambaikan tangan. Alexa berjalan menghampiri mereka.
"Kupikir kau tidak akan datang, Lexa." sapa Miko.
"Hanya kita-kita saja yang datang?" tanya Alexa.
"Yah, mau bagaimana lagi? Mungkin yang lain sedang sibuk." timpal Jerry.
Alexa melirik kearah Dirga yang hanya terdiam sambil menyesap pelan anggurnya.
Ketiga teman Dirga seraya menggoda Dirga dan Alexa. Mereka sama-sama single karena Alexa juga telah bercerai dengan suaminya.
"Kenapa kalian tidak bersama saja? Kalian kan sama-sama sedang sendiri?" celetuk Andrew.
Dirga menatap sinis pada Andrew. Sejak kuliah, Alexa memang menaruh hati pada Dirga. Tapi cinta Alexa tidak pernah bersambut pada Dirga.
"Kalian jangan menggoda Dirga. Aku dan Dirga hanya berteman, iya kan, Ga?" balas Alexa.
Dirga sama sekali tak menanggapi semua ucapan teman-temannya. Dirga memang sudah berubah sejak kematian istrinya. Ia tak lagi bersikap hangat seperti dulu.
"Hei, lihat itu! Anak remaja jaman sekarang memang memprihatinkan. Mereka sudah berani datang ke tempat seperti ini." tunjuk Andrew pada dua gadis remaja yang baru saja memasuki klab.
Dirga awalnya tak mau ambil pusing dengan kalimat Andrew, tapi mendengar kata 'remaja' membuatnya teringat akan Diya. Dan benar saja, mata Dirga terbelalak karena melihat salah seorang gadis yang baru masuk tadi adalah seseorang yang ia kenal.
Dirga mengepalkan tangannya. Ia amat marah saat ini. Ia tak pernah mengira jika Diya akan berani datang ke tempat seperti ini. Dan siapa teman yang bersamanya? Dirga sudah melarangnya untuk bergaul dengan teman kampusnya itu, namun ternyata Diya tak mendengarkan kata-kata Dirga.
Dirga terus memperhatikan tingkah gadis yang tak lain adalah Diya. Pandangan matanya tak lepas sejak saat Diya duduk di depan meja bar, dan meminum jus jeruknya.
Diya yang juga sedang mengedarkan pandangannya ke sekeliling klab, akhirnya bertemu pandang dengan tatapan Dirga.
"Om Dirga?"
Diya segera memutus adu tatapnya dengan Dirga. Diya meraih kembali gelasnya dan meneguk habis jus jeruknya. Diya mengatur nafasnya yang tak beraturan.
"Kenapa harus bertemu disini sih? Lalu, siapa wanita yang ada disampingnya? Apa itu pacarnya? Apa karena itu Om Dirga tidak menyukaiku?" batin Diya menanyakan banyak hal.
Ketika Diya ingin meminta satu gelas lagi jus jeruk pada Chiko, lengannya dicengkeram erat oleh seseorang.
"Om?" Diya mengerutkan keningnya.
"Ayo pulang!" ucap Dirga dengan penuh penekanan.
...***...
#bersambung
Jangan lupa dukungannya untuk karya receh mamak yg satu ini. Kuharap kalian tetap setia menemani sampai cerita ini selesai yaak 😊😊
Give me Like, Vote, Comments, and Gifts, Becoz U are my everything 💟💟💟
...TERIMA KASIH...