
“Brengsek!”
Fendi melayangkan tamparan keras ke pipi Diya dan membuat Diya jatuh ke lantai. Diya menangis sejadinya sambil memegangi pipinya.
“Hentikan!!!” sebuah suara membuat Fendi menghentikan aksinya yang akan menarik lengan Diya.
Fendi menoleh ke sumber suara yang berasal dari suara Ahdan.
“Apa yang Tuan lakukan? Kenapa menyakiti Nona Diya?” Ahdan membantu Diya berdiri.
Diya menundukkan wajahnya tak berani menatap Fendi. Fendi mendengus kesal dengan sikap Ahdan yang menghentikannya. Harusnya tadi ia bisa memaksa Diya agar berbuat lebih.
“Nona, mari saya antar pulang,” ucap Ahdan.
Diya hanya mengangguk dan mengikuti langkah Ahdan tanpa berpamitan dengan Fendi. melihat Diya pergi bersama asistennya, Fendi hanya terdiam. Baginya Ahdan bukan hanya sekedar seorang asisten, melainkan saudara. Fendi merasa tak memiliki siapapun selain Ahdan setelah ayahnya menikah lagi.
Diya terdiam selama perjalanan menuju ke rumah Dirga. Ahdan merasa iba melihat Diya yang terlihat tertekan.
“Tolong maafkan sikap Tuan Fendi, Nona.” Bela Ahdan.
“Sejak kapan Kak Fendi berubah menjadi sangat kasar seperti tadi?” Diya bahkan masih peduli pada Fendi.
“Sejak Papanya menikah lagi.”
“Apa?! Jadi Om Leon menikah lagi?”
“Iya, Nona.”
Diya merasa bisa memahami semua tindakan Fendi padanya. Kini Diya malah ingin membuat Fendi kembali seperti dulu.
“Nona jangan berpikir jika Nona bisa mengubah Tuan Fendi. Ia sudah menjadi pria dingin dan tak mudah memaafkan.”
“Eh? Bagaimana kau tahu tentang apa yang sedang kupikirkan?”
“Tentu saja. Saya bisa melihatnya dari mata Nona. Nona tenang saja. Saya akan bicara baik-baik pada Tuan Fendi agar bisa melepaskan perusahaan suami Nona.”
“Eh? Apa maksudmu?”
“Tuan Fendi ingin menghancurkan perusahaan Tuan Dirga. Saat ini Agung Group sedang di ujung tanduk.”
“A-apa?! Jadi ini yang Kak Fendi maksud tadi.” Diya menggeleng pelan.
“Maaf, apa kau bisa menyetir lebih cepat lagi? Aku ingin segera tiba di rumah dan bertemu dengan suamiku.”
Ahdan mengangguk dan mulai menginjak pedal gas lebih dalam.
...…***…...
Diya tiba di rumah dan langsung disambut oleh pelukan Dirga. Diya memeluk erat suaminya itu.
“Maafkan aku, Om…” ucap Diya dengan sesenggukan.
Dirga merasa tak paham dengan maksud istrinya. “Ada apa? Kenapa kau meminta maaf?” Dirga menghapus air mata Diya. “Aku tahu kau lelah. Sebaiknya kau istirahat ya! Besok baru kita bicara lagi.”
“Om tidak marah padaku? Aku baru saja pergi dengan…”
“Sudahlah. Tidak perlu membicarakannya sekarang.” Dirga merangkul Diya dan membawanya ke kamar mereka. Diya hanya menautkan aslinya tak mengerti dengan sikap Dirga kali ini.
Pagi harinya Diya bangun lebih awal dan membantu Esih menyiapkan sarapan. Saat sedang memasak, Alman datang ke rumah Dirga.
“Om Dirga masih di kamarnya. Kau tunggu saja dulu di ruang tamu,” ucap Diya menyambut kedatangan Alman.
“Oh, iya Nyonya,” balas Alman canggung.
Tak lama Dirga turun ke lantai bawah dan menemui Alman. Ia bicara dengan berbisik agar Diya tidak mendengarnya. Namun ternyata Dirga salah. Diya sudah berada disana dan melihat Dirga dan Alman sedang berbisik.
“Ada apa ini sebenarnya? Apa Om tidak akan memberitahuku?” suara Diya membuat dua orang yang sedang berbisik menjadi kaget.
“Ah, tidak ada sayang. Apa sarapan sudah siap? Alman boleh bergabung sarapan dengan kita?”
“Tentu saja, Om. Alman adalah anggota keluarga kita juga, bukan?”
Alman hanya tersenyum. Kemudian mereka bertiga menyantap sarapan bersama.
Diya menahan Dirga yang akan berangkat ke kantor. Ia ingin Dirga menceritakan semua masalahnya pada Diya. Bukankah suami istri harus saling berbagi?
Dirga merangkum wajah istrinya. “Tenang saja. Om yakin semua pasti akan baik-baik saja.”
“Tidak semudah itu, Om. Kak Fendi sudah berubah. Dia bukan lagi orang yang kukenal dulu.” Diya memegangi tangan suaminya yang merangkum wajahnya.
“Lalu aku harus bagaimana?”
“Om tenang saja. Serahkan semua pada Diya. Diya yang akan mengurusnya.” Diya mengangguk tanda jika dirinya baik-baik saja.
“Tidak, sayang. Kau bisa terluka jika…”
“Tidak. Om percayalah padaku. Aku bisa menjaga diriku.” Diya tersenyum meyakinkan Dirga.
Dirga tidak akan bisa melarang istri kecilnya itu. “Baiklah. Tapi pastikan kau baik-baik saja.”
“Pasti, Om.” Diya mengecup sekilas bibir suaminya sebelum ia pergi bersama Munir untuk menemui Fendi.
...…***…...
Diya tiba di kantor Fendi dengan langkah tegap dan yakin. Ia bertemu Ahdan sebelum menemui Fendi. Baru setelah Ahdan mempersilahkan Diya untuk masuk ke ruangan Fendi, Diya mulai melangkahkan kakinya perlahan.
Fendi tersenyum gembira melihat kedatangan Diya ke kantornya.
“Diya!” Fendi bersorak gembira dan ingin memeluk Diya.
Namun secepat kilat Diya memundurkan langkahnya. Fendi mengerutkan keningnya.
“Bukankah kau datang untuk menyerahkan dirimu?”
“Apa?”
“Dengar! Tidak ada yang bisa kau lakukan untuk suamimu selain menyerah, Diya.”
“Kak…” Diya menatap Fendi dengan wajah memelas.
“Baiklah.” Fendi kembali duduk di kursi kebesarannya. “Baca ini!” Fendi melemparkan setumpuk berkas kearah Diya.
Diya memungutnya dan mulai membacanya. Ia menghela nafas kasar membaca tiap lembar yang ada disana.
“Kenapa kau melakukan ini, Kak? Kau adalah orang baik. Kau tidak akan melakukan hal sekeji ini.”
“Itu dulu, Diya. Setiap orang boleh berubah, ‘kan? Buktinya kau sendiri sudah berubah.”
Diya menggeleng pelan. “Baiklah. Apa yang kau inginkan?”
“Mudah saja. Tinggalkan Dirga dan hiduplah bersamaku.”
“Apa?! Apa kakak sudah gila?” Diya mulai meradang.
“Terserah kau saja. Jika tidak mau juga tidak apa. Suamimu itu akan kehilangan perusahaan dan juga rumah yang kini kalian tempati.”
“Apa!!!”
“Jika tidak ada lagi yang ingin kau bicarakan, sebaiknya kau keluar! Aku masih banyak pekerjaan.” Fendi menunjuk dagunya kearah pintu keluar.
Diya mengepalkan tangannya. “Baik. Jangan sampai kakak mengingkari janji kakak. Kakak harus melepaskan Om Dirga jika ingin mendapatkanku.” Suara Diya mulai bergetar.
“Oke!” Fendi beranjak dari duduknya. “Jika dari kemarin kau menurut, semua ini tidak akan terjadi, Diya.” Fendi membelai wajah Diya. “Kau masih cantik seperti dulu. Tetaplah menjadi gadis kecilku, hmm?” Fendi membawa tubuh Diya dalam dekapannya.
“Maafkan aku, Om. Maafkan aku… Aku tidak bisa membiarkanmu hancur hanya karena aku…” batin Diya menangis lirih.
...…***…...
#bersambung
*hiks hiks hiks, mamak sedikit mewek bikin part ini, huhuhu.
*rekomendasi Novel hari ini jatuh pada 👇👇
...‘Perjuangan CEO Muda’ karya kak Restviani....
Kisah perjuangan Kyara yang bikin meleleh dan kadang bikin gregetan, dibalut dengan beberapa adegan nyata didalamnya. Kyara, gadis biasa yang dipermainkan oleh kekasihnya hingga banyak makan asam garam dan akhirnya menemukan peraduan terakhir yang tertambat pada sosok Bagas. Perjuangan mereka hingga menuju kebahagiaan lumayan panjang tuh. Ada banyak pelajaran yg bisa kita ambil dari kisah ini. yuk simak ceritanya. Masukkan ke favorit kalian yak!