Raanjhana

Raanjhana
Bonus Episode Takdir Cinta Nisha



Nisha menatap dirinya di depan meja rias dengan memegangi ponselnya. Sebuah pesan masuk dari Grey. Ia masih memandangi ponselnya dan bingung akankah menjawab pesan itu atau tidak.


Hernan yang mendapati istrinya mematung, lalu menghampirinya.


"Ada apa, sayang?" tanya Hernan.


"Kak..."


Nisha menunjukkan ponselnya pada Hernan.


"Nisha, maaf bila aku mengganggu waktumu. Aku hanya ingin berpamitan denganmu. Apakah kau punya waktu? Aku sudah ada di bandara. Hari ini aku akan kembali ke London sesuai dengan permintaan ayahku. Jika kau tidak berkenan juga tidak apa. Aku tahu kau sudah memiliki suami. Maafkan aku jika hatiku memilihmu."


Begitulah isi pesan Grey pada Nisha.


Hernan menatap Nisha yang juga sedang menatapnya.


"Kak..."


Hernan sudah bisa menebak apa yang ingin Nisha katakan.


Hernan menghela nafasnya pelan. "Baiklah, aku akan mengantarmu menemuinya."


Mata Nisha berbinar kemudian memeluk Hernan.


"Terima kasih, Kak."


"Hmm." Hernan hanya menjawab dengan dehaman. Meski hatinya berat menyetujui Nisha menemui Grey, tapi ia juga tak ingin istri tercintanya bersedih karena tak bisa menemui Grey untuk terakhir kalinya.


Setibanya di bandara, Nisha mengedarkan pandangan mencari keberadaan Grey. Beberapa kali ia juga menghubungi ponsel Grey namun tidak diangkat.


Sementara itu, Grey memandangi ponselnya. Tertera nama Nisha di layar ponselnya. Wanita yang ia rindukan dan cinta akhirnya menghubunginya. Namun entah kenapa ia enggan mengangkatnya. Karena ia tak ingin mengucap kata perpisahan.


Saat ia masih memandangi ponselnya, seseorang memanggil namanya. Grey membelalakkan mata ketika tahu siapa yang memanggilnya.


Nisha berlari menghampirinya. Nisha mengatur nafasnya yang memburu karena sedari tadi berlarian mencari sosok Grey.


Grey tersenyum bahagia melihat gadis pujaannya. Grey segera membawa Nisha dalam pelukannya.


"Grey..." suara Nisha tercekat karena pelukan Grey yang begitu erat.


"Terima kasih sudah bersedia datang." Grey memejamkan mata menikmati kebersamaannya dengan Nisha.


Dan diantara ribuan orang yang ada di bandara, ada sepasang mata yang memperhatikan kebersamaan mereka berdua dengan mengepalkan tangan, namun ia tidak bisa melakukan apapun. Ia hanya menggeram pelan melihat istrinya di peluk oleh pria lain.


Setelah beberapa lama, Grey melepaskan pelukannya.


"Maaf, aku..." Grey merasa tidak enak hati pada Nisha.


"Tidak apa. Apa pesawatmu akan segera berangkat? Kenapa kau tidak memberitahuku jika kau akan pindah?"


"Bagaimana aku bisa memberitahumu sementara kau tidak pernah membalas pesan dan panggilan dariku."


"Maaf..."


"Aku yang seharusnya meminta maaf karena sudah membuatmu datang kemari."


Nisha menggeleng. "Kau adalah temanku. Aku datang untuk mengucap..."


Grey mengarahkan jari telunjuknya ke bibir Nisha. "Tolong jangan katakan perpisahan. Aku tidak suka. Aku justru berharap bisa bertemu denganmu suatu saat nanti."


"Eh?"


"Jangan ucapkan selamat tinggal. Tapi ucapkan sampai bertemu lagi."


Nisha tersenyum kemudian mengangguk.


Terdengar suara pemberitahuan jika pesawat Grey akan segera lepas landas. Tepat setelah itu, Hernan menghampiri mereka berdua.


"Tolong jaga Nisha ya. Jangan sampai kau menyakitinya lagi. Jika tidak, aku akan merebutnya darimu." ucap Grey pada Hernan.


"Cih. Jangan khawatir. Aku tidak akan menyakiti dan membuatnya menangis lagi. Aku juga tidak akan membiarkan orang lain merebutnya dariku." tegas Hernan.


Nisha memukul lengan Hernan pelan.


"Kalau begitu aku berdoa untuk kebahagiaan kalian. Sampai bertemu lagi, Nisha, Hernan." Grey melambaikan tangan kemudian perlahan hilang dari pandangan.


Nisha dan Hernan melihat pesawat Grey yang sudah terbang membelah langit biru. Setetes air mata lolos ke pipi Nisha.


Hernan bisa melihat jika Nisha begitu kehilangan Grey.


"Apa kau sesedih itu kehilangan dia?" tanya Hernan.


"Kakak, jangan berpikiran buruk dulu. Aku hanya menganggapnya sebagai temanku, sahabatku."


"Aku tahu." Hernan tersenyum kemudian membawa gadis kecilnya dalam dekapannya.


"Aku tahu cintamu hanya untukku."


Nisha terkekeh dalam dekapan Hernan. "Iya, iya, aku memang hanya mencintai kakak. Sangat sangat mencintai kakak..." Nisha makin mengeratkan pelukannya pada tubuh Hernan.


"Ayo pulang! Bukankah kita akan ke rumah kakek hari ini."


"Ah iya, kakak benar. Aku sampai lupa, hehe."


Dan mereka pun keluar dari area bandara lalu menuju ke rumah keluarga Nisha. Malam ini rencananya akan ada makan malam keluarga di rumah Haidar.


Setibanya di rumah kakeknya, Nisha langsung berhambur ke dapur karena disana sudah ada ibunya, ibu asuhnya dan juga ibu mertuanya yang sedang menyiapkan makanan untuk keluarga.


"Wah, baunya harum sekali. Aku ingin ikut membantu juga, boleh kan Bu?" ujar Nisha.


"Boleh. Kau juga harus pandai memasak agar Hernan tidak makan diluar terlalu sering." balas Antonia.


"Ibu! Kak Hernan selalu kubawakan makanan untuk bekal ke kantor. Dia sangat menyukai masakanku."


Para ibu pun akhirnya menggoda Nisha dengan berbagai macam kata. Namun tiba-tiba saat mereka asyik bercanda, Nisha merasa ada gejolak tak tertahankan dari dalam perutnya.


Nisha memegangi mulutnya yang terasa ingin memuntahkan isi dalam perutnya. Nisha berlari cepat menuju kamar mandi. Para ibu pun panik dan mengikuti Nisha.


Para bapak dan juga Hernan ikut panik karena para wanita berlari mengikuti Nisha.


Nisha keluar dari kamar mandi dan disambut oleh keluarganya yang terlihat cemas.


"Kalian? Kenapa ada disini?" tanya Nisha heran.


"Sayang, kau tidak apa? Ibu bilang kau sakit." Hernan mendekati Nisha dan memegangi wajah Nisha.


"Jika dugaan ibu benar, maka..." Adelia menggantung kalimatnya.


Satu jam kemudian, Haidar meminta dokter keluarga untuk datang memeriksa Nisha.


"Kakek, aku tidak sakit." ucap Nisha.


"Sudahlah, Nak. Kau ikuti saran dari kami para tetua." balas Haidar.


Nisha dan Hernan saling pandang. Para tetua terlihat menganggukkan kepala. Nisha tak bisa menolak.


Usai diperiksa, dokter pun memberitahu hasilnya.


"Selamat, Nona Nisha hamil." ucap sang dokter.


"Hah? Hamil?" Nisha dan Hernan saling pandang.


Para tetua sangat bergembira dan saling berpelukan. Sementara Hernan masih mematung tidak percaya. Ia masih mencerna apa yang baru saja dikatakan oleh dokter.


"Selamat, Hernan. Kau akan segera menjadi seorang ayah." ucap Rio dengan menepuk bahu Hernan dan membuatnya tersadar dari lamunannya.


"Astaga! Anak ibu ternyata kau memang hebat, nak! Kau pasti selalu menggempur Nisha, benar kan? Akhirnya kau berhasil juga!" ucap Adelia yang selalu bicara ceplas ceplos dengan memeluk Hernan, lalu beralih pada Nisha.


"Untuk lebih jelasnya silahkan nona Nisha datang ke dokter kandungan. Saya hanya dokter umum." jelas dokter sebelum akhirnya ia berpamitan.


Hernan yang akhirnya tersadar langsung memeluk Nisha.


"Sayang, kau hamil. Aku akan menjadi seorang ayah. Dan kau akan menjadi ibu. Terima kasih, sayang. Karena kau sudah memberiku kebahagiaan yang tak terkira." ucap Hernan dengan bahagia.


Hernan menciumi wajah Nisha dengan senangnya. Ia bahkan lupa jika para tetua sedang memperhatikan mereka.


"Kakak...." Nisha menginterupsi aksi Hernan. Sungguh ia malu karena Hernan menciuminya.


Karena tak mau menganggu, para tetua pun pergi dari kamar Nisha dan menutup pintunya.


Hernan kembali meraih wajah Nisha kemudian makin mendekatkan wajahnya. Nisha tersenyum karena tahu apa yang akan dilakukan Hernan selanjutnya. Nisha memejamkan matanya saat merasakan lembutnya bibir Hernan menyapu bibirnya.


...***...


...T A M A T...


Genks, jangan buru2 unfav, karena karya ini berisi beberapa kumpulan cerita. So, stay tuned utk dapat notif up dari mamak.


terima kasih 😘😘