Raanjhana

Raanjhana
Meet Me on Facebook : 05. The Ex-Lover



...Oh mantan kekasihku,...


...Jangan kau lupakan aku,...


...Bila suatu saat nanti,...


...Kau merindukanku,...


...Datang, datang padaku. . ....


...Lyla (mantan kekasih)...


......***......


Tiga tahun lalu, aku bertemu dengannya. Lelaki gagah berkacamata yang kini sudah jadi suami wanita lain. Awal pertemuan kami sangatlah aneh. Aku yang tak tega meninggalkan Nisa naik angkot seorang diri untuk menuju kampusnya, akhirnya memutuskan untuk mengantarkannya tiap hari menggunakan sepeda motor maticku.


Saat itu, aku masih bekerja serabutan. Sudah lulus kursus kecantikan, namun masih belum ada pekerjaan tetap. Aku bekerja di salon milik orang lain, dan juga bekerja paruh waktu di tempat pijat. Orang bilang, tanganku empuk saat memijat.


Kota Baru ini sangat berbeda dengan Kota Lama yang pernah kutinggali. Disini kehidupan berjalan keras. Harus kuat mental dan fisik bila kamu ingin sukses. Aku mempelajari itu semua, meski rasanya sangat sulit. Uang pensiun Ayahku, tak cukup untuk memenuhi semua kebutuhan keluargaku, apalagi Nisa harus kuliah.


Ya, meski aku tak bisa melanjutkan ke perguruan tinggi, aku bertekad agar adikku bisa menggenggam ijazah S1, agar kami tak lagi dilecehkan. Dan dianggap rendah. Meski teman-temanku tak pernah menganggap begitu. Tapi bagi masyarakat kita, pendidikan tinggi adalah syarat utama agar bisa mendapat kehidupan yang layak.


Hari itu, Nisa bilang dia ada kerja kelompok bersama teman-temannya. Aku menunggunya di taman kampusnya, karena hari itu aku tak ada panggilan untuk memijat. Aku melihat pria itu sedang berjalan memasuki kelas. Sepertinya dia dosen di kampus Nisa. Dia masih muda, pasti dosen baru, pikirku.


Tak sengaja saat aku sedang menunggu Nisa keluar kelas, pria itu menghampiriku. Dia bertanya sedang apa aku disini? Dia sering melihatku berkeliaran dikampus namun aku bukanlah mahasiswi disitu.


Lambat laun, kami mulai berkenalan dan jadi dekat. Saat itu, aku sudah mulai merintis usaha salonku sendiri bersama Razona. Secara kebetulan juga, aku bertemu Razona di sebuat pusat perbelanjaan. Dan ia mengutarakan niatnya ingin membuka salon, akupun tertarik. Aku bicara pada Ibu, dan dengan sisa-sisa uang peninggalan Ayah, aku memberanikan diri untuk membuka salonku sendiri bersama Razona.


Kembali ke kisahku bersama pria berkacamata, yang kuketahui bernama Aditya. Keluarganya termasuk orang kaya, namun ia tak mau bekerja di perusahaan milik keluarganya. Ia lebih suka berusaha sendiri untuk membangun karirnya. Aku makin kagum padanya. Perjuangannya sama seperti diriku, yang merintis semuanya dari nol.


Kami pun memutuskan untuk berpacaran, namun secara sembunyi-sembunyi alias backstreet. Bahkan Nisapun tak tahu kalau aku menjalin hubungan dengan salah satu dosen di kampusnya.


Aku bahagia bersamanya. Aku pikir hubungan kami akan sampai pada tahap pernikahan. Meski usiaku saat itu masih 21 tahun. Dia pria yang hangat. Mungkin itu yang membuatku nyaman dengannya.


Kami hanya sebentar saling mengenal, karena dia tiba-tiba memutuskan hubungan, dan mengatakan kalau keluarganya sudah menjodohkannya dengan wanita pilihan orang tuanya. Aku sadar diri siapa diriku. Maka akupun mundur dari hubungan ini.


...***...


"Vi... bangun!!! Tumben kamu telat bangun." suara Ibu membangunkan Sivia dari tidur panjangnya.


Sivia membuka matanya. Ia terlambat bangun hari ini, pasti karena semalam ia tak bisa memejamkan matanya. "Maaf, Bu. Aku kesiangan ya? Nisa mana?"


"Dia sudah berangkat ke kampus. Dia bilang kamu tertidur lelap sekali, makanya dia gak berani bangunin kamu. Sana, cepat mandi lalu sarapan."


"Iya, Bu."


.


.


.


Sivia memanggil taksi dan menuju salon. Sudah pukul 8 lewat, ia menelepon Razona, mengatakan padanya kalau hari ini ia datang terlambat. Sepuluh menit kemudian, Sivia sampai di salon dan langsung bertemu Razona.


"Gak kayak biasanya, Vi. Apa ada sesuatu yang terjadi?" Razona seperti mengetahui isi hati Sivia.


"Gak ada apa-apa kok. Semalam gak bisa tidur gitu."


"Nisa bilang, lo mau tunangan sama Iyan. Apa gara-gara itu lo gak bisa tidur?"


"Eh? Nisa cerita ke lo? Kapan?"


"Tadi dia barusan kesini. Beli produk shampoo titipan temannya. Kayaknya dia cocok jadi marketing nantinya. Jadi, beneran lo mau tunangan?"


"Iya, Raz. Dua minggu lagi."


Razona memandang wajah sahabatnya itu dengan bahagia. "Selamat ya! Iyan adalah cowok yang baik. Lo pasti bahagia sama dia."


"Thanks ya, Raz." Sivia memeluk Razona. Ia tersenyum. Namun dibalik senyumnya, ada ketakutan dihatinya.


Apa benar aku bisa bahagia, Raz? Aku masih belum tahu.


Sivia menghela nafas.


...***...


*Aditya PoV*


Aku tak bisa konsen mengajar hari ini. Bayangan akan sosok di masa lalu, tiba-tiba menghantui pikiranku. Dia hadir kembali. Dan itu sangat nyata.


Sivia ... wanita yang pernah kukenal tiga tahun lalu, dia datang bersama adikku. Bagaimana bisa ini terjadi? Aku sangat marah. Bukan karena ia sekarang bersama dengan adikku, tapi dengan Papa, kenapa Papa menyetujui hubungan mereka? Sedangkan dulu ... Aku terpaksa meninggalkannya karena harus menuruti keinginan Papa.


KENAPA???!!!


"AAARRRRGGGHHH!!!" Batinku menjerit. Aku marah pada diriku. Marah pada keadaan yang tak pernah memihakku.


Kuputuskan untuk ijin mengajar hari ini. Aku harus kesuatu tempat.


Lalu disinilah aku, menatap sebuah bangunan berlantai dua bertuliskan VeeZone Salon and Day Spa. Aku menatap bangunan itu. Kulihat ada seseorang di lantai dua.


Sivia!!! Itu Sivia!!!


Dia melihat kearahku. Mata kami bertemu. Dia menatapku dengan aneh. Kemudian menghilang.


"Mas Adit? Apa yang kamu lakukan disini?" Tanyanya.


"Aku ... Aku tidak sengaja sedang di daerah sini. Hehe." Jawabku kikuk. Dia tahu aku berbohong.


"Mari bicara!" Ajaknya.


Kami menuju sebuah cafe di dekat salon Sivia.


"Aku tahu ini ... sebuah kebetulan yang aneh. Tapi ... Sebaiknya Mas jangan datang kesini lagi."


"Maaf, Vi..." hanya itu yang bisa kuucapkan.


"Aku benar-benar tidak tahu kalau ... Mas Iyan adalah adikmu. Aku juga minta maaf."


"Tidak apa. Kalian pasangan yang serasi. Dan Papa menyukaimu."


Aku merasa miris mengatakan hal ini padanya. Padahal ia adalah orang yang sama dengan tiga tahun lalu. Kenapa? Kenapa aku tidak bisa mendapatkan apa yang kuinginkan?


"Mas... Kamu gak apa-apa?" Tanyanya.


"Ah, iya, Vi..."


"Kita mungkin pernah punya hubungan di masa lalu, tapi ... sekarang semuanya sudah berubah, jadi ... Aku minta kamu tidak perlu bersikap begini denganku. Aku tahu ini sangat aneh, tapi, kita akan jadi keluarga. Jadi sebaiknya Mas juga bersikap sebagai keluarga. Aku juga tidak mau kalau Mbak Ninna sampai tahu kalau kita pernah punya hubungan. Jadi...." Sivia menjelaskan panjang lebar padaku.


"Aku tahu. Kamu gak perlu memperjelasnya." Langsung kupotong semua argumennya.


"Kalau sudah tidak ada lagi yang mau dibicarakan. Aku permisi. Dan aku mohon jangan datang kemari lagi."


Sivia beranjak pergi. Dia meninggalkanku. Aku merasa hatiku makin sesak.


...***...


Sivia kembali ke salon dengan memegangi dadanya. Ada rasa sesak di dadanya. Ia memukul-mukul pelan dadanya. Matanya terpejam.


"Vi..." Razona menghampiri Sivia yang terdiam didepan salon.


Sivia terkejut melihat Razona yang memandangnya penuh tanya.


"Lo ngapain disini?" Tanya Zona.


"Aahh enggak. Gak ngapa-ngapain kok. Ayo masuk!" Ajak Sivia dengan memaksakan senyumnya.


.


.


.


Pukul 9 malam Adniyan menjemput Sivia. Sivia sudah bersiap didepan salon. Melihat mobil Adniyan kian mendekat, Sivia mulai mengembangkan senyumnya.


"Hai sayang, maaf ya nunggu lama." sapa Adniyan.


"Gak kok. Aku baru saja menutup salon."


"Kamu sudah makan malam?"


"Hu'um sudah. Kamu?"


"Tadi ada acara makan malam bersama klien."


Mobil Adniyan melaju membelah jalanan Kota Baru yang masih ramai meski malam mulai akan larut. Tak ada perbincangan diantara mereka selama dalam perjalanan. Mereka sama-sama lelah.


"Mas...." Sivia mulai angkat bicara.


"Ada apa?" Jawab Adniyan dengan tetap menatap ke jalan.


"Kalau kamu lelah, besok gak perlu repot menjemputku lagi."


"Eh? Apa maksudmu? Kamu gak mau aku menjemputmu lagi?"


"Bukan begitu. Hanya kalau kamu merasa lelah saja. Aku bisa naik taksi. Atau meminta Nisa menjemputku. Aku gak mau menjadi beban untukmu, Mas."


"Beban? Aku gak merasa terbebani. Tenang saja!"


"Mas... aku sedih kalau melihatmu datang dengan keadaan lelah kayak gini. Aku merasa bersalah."


"Huuffft, baiklah. Kalau itu maumu. Aku akan menelepon lebih dulu kalau ingin menjemputmu."


Sivia tersenyum. Lalu menatap Adniyan yang berada disampingnya.


Sebenarnya, aku lah yang merasa terbebani, Mas. Setelah mengetahui kalau kamu adalah adik Mas Aditya, aku tidak bisa bersikap seperti dulu lagi. Semua ini, hanya tinggal menunggu waktu saja sampai semua orang mengetahui kebenaran masa lalu kami.


Apa yang harus aku lakukan? Apa aku harus mengatakan kebenarannya di depanmu, Mas? Tidak! Masih terlalu berat untuk mengakuinya sekarang. Sebaiknya aku menunggu waktu yang tepat.


......


"Kisah cinta segitiga kakak adek ini adalah pengalaman pribadi mak thor ya, hihihihihi."


"sampai sini kurasa alurnya lumayan bagus. wkwkwkwk,


semoga kalian juga suka yaa..."