Raanjhana

Raanjhana
Meet Me on Facebook : 12. Keraguan



*Sivia PoV*


Pesta kejutan malam ini benar-benar sebuah kejutan besar untukku. Bagaimana bisa Mas Iyan dan Dewa bertemu secepat ini. Memang sudah seharusnya mereka bertemu sih. Tapi, kenapa hatiku jadi cemas setelah mereka bertemu?


Kedua pria di depanku ini masih saling menatap sambil berjabat tangan. Apa sih yang mereka pikirkan? Membuatku tak tenang saja.


"Senang bertemu denganmu. Kudengar kamu adalah teman masa kecil Sivia." Mas Iyan melepas jabat tangannya.


"Iya, benar. Aku sudah mengenal Sivia sejak kami masih balita."


Entah kenapa Dewa menjawab begitu pada Mas Iyan. Membuatku gugup. Mas Iyan meraih pundakku dan memelukku. Sepertinya ia ingin menunjukkan pada Dewa kalau aku adalah miliknya. Aku merasa canggung.


"Hei kalian! Apa kalian akan berdiri saja disana? Ayo kemari!" panggil Raga.


"Iya, kami akan kesana. Ayo, Vi." jawab Mas Iyan.


Suasana makan malam bersama kami terasa ramai. Ternyata benar kalau mereka menyewa cafe ini untuk merayakan pesta hari ini.


"Thanks ya, udah siapin pesta buat kita." Ucapku menatap Raga, Aryan dan Dina.


"Sama-sama, Vi. Jangan sungkan." Jawab Aryan.


Usai makan malam, kami bermain bilyard dan kartu. Banyak tawa yang menggema di dalam cafe. Akupun ikut larut dalam tawa bersama teman-temanku.


Tak terasa sudah pukul sepuluh malam. Acarapun kami akhiri. Kami berpisah di luar cafe dan masuk ke kendaraan masing-masing.


Mas Iyan membukakan pintu mobil untukku. Ia mengantarku ke rumah. Lima belas menit perjalanan menuju rumahku. Aku turun dari mobil. Mas Iyan ikut mengantarku turun.


"Sudah malam. Kamu pasti capek, Mas. Sebaiknya kamu pulang."


"Hu'um. Kamu juga ya!" Mas Iyan mencium keningku. So deep. Serasa ia tak mau melepasku.


Aku melambaikan tangan saat mobilnya mulai melaju meninggalkan rumahku. Aku berbalik dan membuka pintu rumah.


"Vi..." Sebuah suara mengagetkanku. Aku berbalik mencari sumber suara yang kukenal.


"Dewa?! Apa yang kamu lakukan disini?" tanyaku dengan sedikit kesal. Ini sudah hampir larut malam dan dia tiba-tiba datang kerumahku.


"Sepertinya dia sangat mencintaimu."


Dia tak menjawab pertanyaanku.


"Ini sudah malam. Sebaiknya kamu pulang."


Dewa masih terdiam. Apa sih yang ada dipikirannya?


Dewa melangkah menghampiriku. Matanya terlihat sayu. Apa yang akan dia lakukan?


Aku terperanjat. Tiba-tiba Dewa memelukku. Cukup erat. Aku berusaha melepaskan diri.


Oke! Kami memang berteman sejak kecil, pastinya banyak hal sudah pernah kami lakukan bersama. Saling berpelukan misalnya. Tapi-- itu dulu. Saat kami masih anak-anak. Menginjak remaja kami tak lagi melakukannya. Sudah semakin canggung rasanya. Lalu ini? Kami sudah dewasa sekarang. Sangat aneh saat kami berpelukan. Apalagi sudah tak bertemu selama enam tahun. Rasanya aneh sekali.


"Dewa-- tolong lepaskan!" pintaku.


"Sebentar saja, Vi. Kumohon--"


Aku tak bisa menolaknya. Dewa memelukku erat. Membelai rambutku. Dia suka melakukannya. Sejak dulu.


Entah kenapa diperlakukan seperti ini setelah sekian lama tak bertemu, rasanya aku merasakan sesuatu dihatiku.


Degup jantungku mulai tak beraturan. Kami bukan lagi anak kecil. Dan perasaan ini bukan seperti saat kami masih anak-anak dulu.


"Lepaskan, Dewa!"


Kali ini Dewa melepaskan pelukannya.


"Selamat ya! Atas pertunanganmu. Aku ikut bahagia--"


"Terima kasih..."


"Masuklah. Aku akan pergi." pamitnya.


"Hu'um. Hati-hati ya."


Aku memasuki rumah lebih dulu dan tak melihat Dewa pergi. Aku mengatur nafasku yang memburu. Perlakuan Dewa padaku membuatku bingung. Ada apa dengannya? Dan, ada apa denganku? Aku tak boleh begini. Aku akan menikahi Mas Iyan. Aku tak bisa ragu sekarang.


...***...


"Mbak, sudah bicara pada Mas Iyan?" tanya Nisa sebelum berangkat kuliah.


"Eh?" Nisa benar. Aku melupakan sesuatu. Aku sudah berjanji akan mengatakan semua pada Mas Iyan tentang hubunganku dan kakaknya di masa lalu.


"Mbak-- kok bengong?"


Suara Nisa membuyarkan lamunanku.


"Belum, Nis. Belum menemukan waktu yang tepat."


"Akan sulit jika terus mencari waktu yang tepat. Sebaiknya segerakan saja. Dari pada terjadi hal yang gak Mbak inginkan."


Nisa menaiki sepeda motornya dan meninggalkanku yang masih menunggu taksi.


Apa maksud perkataan Nisa barusan? Hal yang tidak kuinginkan?


TIIINNN


TIIINNN


Suara klakson mobil mengagetkanku.


"Vi... Ayo ikut!!" Sebuah suara yang tak asing ditelingaku.


"Dewa?"


Entah kenapa beberapa hari ini pria ini selalu beredar di depanku. Aku ingin menolak, tapi-- rasanya tak etis untuk menolak.


Aku berjalan menghampiri mobilnya di seberang jalan. Baiklah, untuk kali ini saja aku menumpang padanya.


...***...


"Siapa itu, Vi?" tanya Razona saat aku tiba di salon.


"Eh? Dia? Dewa, teman kecilku."


"Ah, yang sering lo ceritain ya. Jadi dia sudah kembali?"


"Mmm, begitulah."


"Gue gak masuk beberapa hari aja kayaknya banyak kabar baru nih."


Entah mengapa aku merasa ucapan Razona bak menyindirku.


...***...


^^^Aditya Nugraha^^^


^^^Sivia, ini Aditya. Bisa kita bertemu?^^^


Aku mengernyitkan dahi. Mas Adit? Dari mana dia tahu nomor teleponku?


Sivia Dewi


Dari mana Mas tahu nomorku?


^^^Aditya Nugraha^^^


^^^Itu gak penting. Apa kita bisa bertemu? Tolonglah! Ada yang harus kita bicarakan.^^^


Aku menghela nafas. Apa lagi yang ingin dia bicarakan?


Sivia Dewi


Baiklah. Mau ketemu dimana?


Saat jam makan siang, aku pamit pergi pada Razona. Aku bilang ada urusan mendadak sebentar. Maaf Raz, aku berbohong padamu. Meski aku tahu, kamu merasa ada yang aneh dengan diriku. Nanti pasti akan kuceritakan.


Mas Adit memintaku datang ke sebuah cafe. Tempatnya agak jauh dari salon. Dan terlihat sepi. Mungkin dia tidak ingin ada yang tahu tentang pertemuan kami.


Ya Tuhan! Aku makin merasa bersalah pada Mas Iyan dan Mbak Ninna.


"Ada apa Mas mengundangku kemari?" tanyaku tanpa berbasa-basi.


"Maaf aku meminta nomormu pada Nisa. Jadi dia sudah tahu soal masa lalu kita?"


Aku mengangguk pelan.


"Dia cerita kalau kamu berencana akan memberitahu Iyan soal kita. Apa itu benar?"


"Iya, benar."


"Tapi kamu bilang kalau sebaiknya tak ada yang tahu soal kita."


"Awalnya aku berpikir begitu. Tapi, akan lebih baik kalau Mas Iyan mengetahuinya. Dan kita sendiri yang harus memberitahunya."


"Kamu yakin? Apa Iyan bisa menerimanya?"


"Aku sudah bersiap untuk kemungkinan terburuk."


"Vi, pernikahan kalian sudah didepan mata. Bagaimana bisa kamu mempertaruhkan itu?"


"Aku tidak mau dalam pernikahanku ada sebuah kebohongan. Apalagi sebuah kisah di masa lalu. Itu tidak adil untuknya."


Mas Adit terdiam. Ia tampak berpikir.


"Dari pada dia tahu dari orang lain. Lebih baik kita yang memberitahunya." imbuhku.


"Jadi, kapan kamu akan memberitahu Iyan?"


"I dont know. Aku masih bingung bagaimana cara mengatakannya."


"Kalau begitu, serahkan saja padaku. Biar aku saja yang memberitahunya."


"Eh? Apa yang kamu bicarakan?"


"Aku yang akan mengatakan pada Iyan. Soal hubungan kita di masa lalu."


Pertemuan kami berakhir begitu saja. Aku masih tak mengerti apa yang Mas Adit pikirkan. Aku melangkah pergi meninggalkan cafe.


Kususuri jalanan di sekitar cafe. Aku ingin berjalan kaki sebentar. Membiarkan pikiranku melayang ke angkasa.


Memikirkan bagaimana semua akan terjadi setelah Mas Iyan tahu kebenarannya. Kakiku melangkah entah sudah seberapa jauh. Terik matahari tak lagi kuhiraukan.


"Vi!! Sivia!!"


Aku mendengar ada seseorang yang memanggil namaku. Kulihat sekeliling.


Ada seseorang yang melambaikan tangan padaku. Kupicingkan mata agar bisa melihatnya dengan jelas.


"Dewa?"


Dia lagi. Kenapa kami selalu bertemu?


Dewa berjalan menghampiriku.


"Kamu ngapain disini? Tempat ini lumayan jauh dari salonmu."


"Aku ada urusan disini. Kamu sendiri? Kenapa ada disini?"


"Aku mengikuti saran Aryan. Agar menghapal jalanan Kota Baru sebelum bepergian. Entah kenapa bisa sampai disini dan bertemu denganmu. Takdir memang aneh bukan? Hahaha."


Aku menatap Dewa. Dia benar. Takdir memang terasa aneh. Seolah kakiku  selalu mengantarkanku kepadamu.


"Ada apa, Vi? Kamu ada masalah?"


Dewa ... andai saja aku bisa menceritakan semuanya padamu. Bagaimana ini? Aku merasa ragu. Aku takut mengambil keputusan yang salah. Apa yang harus kulakukan?


......


*sekitar tahun 2020 lalu, aku coba save cerita ini kan, lalu kucari2 beberapa visual yang menurutku cucok utk karakter disini,


Untuk versi aslinya sebenarnya naskahnya sampai 30 episod, tapi ku buat ulang dan kuringkas agar gak terlalu panjang. So, semoga kalian tetap menyukainya 😘😘


*Cast character versi mak thor


Sivia Dewi Anggraini




Bayu Dewa Hapsoro




Adniyan Nugraha