Raanjhana

Raanjhana
Meet Me on Facebook : 20. Desa Selimut



-Bayu PoV-


Aku berkendara menyusuri jalanan berpuluh kilometer hanya untuk menemukan Sivia. Kenapa baru terpikir sekarang kalau dia pasti akan menuju kesana?


Aku sangat yakin kalau dia ada disana. Disana adalah tempat yang cocok untuk melarikan diri, dan menutup diri dari dunia luar.


Desa Selimut. Entah kenapa dinamakan begitu. Mungkin karena disana berudara sangat dingin, sehingga penduduk disana harus memakai selimut tiap hari. Atau juga karena desa itu selalu berselimut kabut tebal yang menutupinya dari jangkauan dunia luar. Disana, juga tak ditemukan sinyal telepon. Tak ada internet juga. Hanya ada listrik yang mengaliri ketika malam tiba. Sungguh desa yang masih mengandalkan alam dan sederhana. Tapi masyarakat disana sangatlah ramah pada orang asing. Aku pernah kesana. Lebih tepatnya kami. Kami pernah menghabiskan liburan bersama disana.


Setelah lama berkendara, akhirnya aku tiba juga di Desa Selimut. Udara dingin sudah mulai menyelimuti sebelum aku keluar dari mobil. Kupakai dahulu jaket tebal dan syal, juga mengganti sepatuku dengan boots. Tak lupa kupakai topi kupluk rajut khas musim dingin.


Aku berjalan menuju ke sebuah penginapan. Hanya itu satu-satunya penginapan di desa ini yang dikelola oleh Pak Kepala Desa. Pasti Sivia menginap disana.


Saat sedang berjalan menuju kesana, aku dikejutkan oleh beberapa orang yang berteriak.


"Tolong!!! Ada yang tenggelam!!"


Seketika itu juga aku langsung berlari mengikuti mereka. Jantungku berdegup sangat kencang. Aku merasa ada hal buruk yang sedang terjadi. Tidak mungkin itu Sivia, bukan? Yang aku tahu Sivia bisa berenang. Bahkan sangat mahir, tidak mungkin dia tenggelam.


Beberapa orang berkumpul di tepi bukit, dan ada yang menemukan sebuah kain di tepi bukit. Itu sebuah jaket, sepatu boots, dan jam tangan. Aku menghampiri orang itu dan ingin melihat barang milik siapa itu.


Aku sangat syok melihat semua barang itu adalah milik Sivia. Aku yakin itu adalah jam tangan miliknya.


"TIDAK!!! Ini tidak mungkin!!!" teriakku.


Orang-orang menoleh kearahku dan berusaha menenangkanku. Seorang pria paruh baya membantuku untuk menuruni bukit. Kami berjalan menelusuri jalanan setapak menuju bawah bukit. Aku melepas jaketku dan hendak berenang menolong Sivia. Tapi, pria itu mencegahku.


"Jangan, Nak. Biarkan mereka yang melakukannya." ucap pria itu.


Lalu muncullah lima anak muda yang bertelanjang dada dan langsung melompat ke air. Aku tercengang melihat keberanian mereka.


"Tenang saja, Nak. Mereka akan menolong Nona Sivia." tambah si pria paruh baya.


Aku tak mengerti apa maksud semua ini. Desa ini cukup misterius. Begitupun masyarakatnya. Aku hanya orang asing, jadi aku harus mengikuti kebiasaan disini.


Setelah menunggu sejenak, akhirnya mereka muncul dari dalam air. Satu orang membawa Sivia, lalu meletakkan tubuhnya di atas tanah. Dan ke empat anak muda lainnya seperti membaca sesuatu. Mereka mengelilingi tubuh Sivia. Apa mereka membaca mantra? Aku heran dengan yang dilakukan mereka. Bukannya memberikan pertolongan pertama kenapa malah membacakan mantra-mantra? Namun sekali lagi, pria paruh baya meyakinkanku kalau semua akan baik-baik saja.


Setelah mereka selesai membacakan mantra, Sivia tiba-tiba tersadar dan batuk, disertai memuntahkan air yang tertelan olehnya. Tubuhnya masih terkulai lemas.


"Sebaiknya cepat bawa dia ke klinik. Dia mengalami kram di kakinya. Makanya dia tenggelam. Tapi tenanglah, dia akan baik-baik saja." ucap si pemuda yang tadi menggendong Sivia.


Dengan diantar sang pria paruh baya, aku menuju klinik Desa Selimut. Selama menunggu, aku banyak berbincang dengan Pak Kosih, dialah pria paruh baya yang juga kepala desa disini.


"Kalian pernah datang kesini sekitar tujuh tahun lalu, benar kan?"


"Eh? Iya Pak. Bapak masih ingat dengan kami?"


"Tentu saja. Pengunjung di desa ini tidaklah banyak tiap tahunnya. Tapi, kenapa kali ini kalian hanya berdua?"


"Eh? Aku hanya tidak sengaja mengetahui kalau Sivia datang kemari. Jadi benar, kalau Sivia sudah ada disini sejak lima hari lalu?"


"Iya. Tapi selama disini, baru kali ini dia keluar dari kamarnya. Sepertinya, dia sedang mengalami hal berat. Syukurlah kamu datang tepat waktu." Pak Kosih menepuk bahuku seakan ingin menguatkanku.


Pak Kosih berpamitan denganku setelah Sivia dipindahkan ke ruang perawatan. Dia masih belum sadarkan diri. Kupandangi wajahnya dari samping tempat tidur. Kugenggam erat tangannya.


"Apa yang sebenarnya terjadi, Vi? Kenapa kamu tidak mengatakan apapun padaku? Aku tetaplah Dewa, sahabatmu. Berceritalah padaku seperti dulu. Jangan sembunyikan apapun. Itu akan membuatmu lebih baik. Jangan melarikan diri begini."


Air mataku rasanya tak lagi bisa kubendung. Aku merasa sangat cengeng. Aku takut kehilanganmu, Vi... Apa kamu tahu itu?


Tangan Sivia mulai bergerak. Dia mulai sadarkan diri. Aku mengusap pelan puncak kepalanya. Menyapanya dengan tersenyum padanya.


"Hai... Kamu sudah sadar?"


"De-wa---" ucapnya pelan.


"Iya, aku disini."


Sivia menggeliat dan ingin bangun dari tempat tidurnya, tapi kutahan. Dia bilang dia sudah baik-baik saja.


"Aku gak apa-apa. Kakiku hanya kram saat berenang." Sivia berusaha untuk duduk.


Dia menatapku dengan tatapan aneh. Aku merasa kikuk dia melihatku seperti itu.


"Kamu---tidak pergi setelah pesta kelulusan SMA, bukan? Kamu--pergi jauh sebelum itu..."


"Eh?" Aku terkejut sekaligus bingung. Kenapa Sivia tiba-tiba membicarakan hal ini?


"Aku ... sudah ingat semuanya."


Aku membelalakkan mataku. "A-apa maksudmu?"


Sivia hanya membalas dengan senyuman hangatnya.


Yah, begitulah maksudnya. Dia sudah ingat semuanya. Kejadian enam tahun lalu, dia sudah mengingatnya. Rasa sakit itu sudah dia ingat.


...***...


Aku bicara empat mata dengan dokter yang menangani Sivia. Dia bilang keadaan Sivia baik, dan semuanya normal. Lalu dokter memberitahuku kalau ada seseorang yang ingin bicara denganku. Aku sedikit terkejut karena yang ingin menemuiku adalah pria muda yang telah menyelamatkan Sivia. Dia salah satu dari lima anak muda yang turun ke air membawa tubuh Sivia.


Kuperhatikan dengan seksama, pria muda ini memiliki tato di lengan kanannya. Entah seperti simbol atau apa. Lalu di dahinya, memakai Bindi seperti yang biasa dipakai oleh masyarakat India, sebuah titik hitam yang dipasang di antara alis mereka.


"Hai, perkenalkan, namaku Alam." Dia menyapaku dan mengulurkan tangannya.


"Aku Bayu. Terima kasih sudah menolong Sivia." ucapku sembari menjabat tangannya. Kuakui tangannya cukup hangat meski udara disini sangat dingin.


Aku memposisikan diri bersiap mendengar semua penjelasan darinya. Aku tahu kalau ada sesuatu yang istimewa dari ke lima pemuda ini. Desa ini penuh dengan misteri. Seperti yang dikatakan Pak Kosih tadi, kalau kelima pemuda ini adalah regu penyelamat di desa ini. Mereka anak-anak terpilih yang ditakdirkan menjaga desa. Cukup aneh memang. Tapi setelah bertemu langsung dengan salah satu anak terpilih itu, aku jadi yakin kalau semua cerita itu bukanlah hisapan jempol belaka.


"Saat dia jatuh ke air, dia ... dengan sangat tak terduga bisa mengingat masa lalunya. Mata air dari air terjun di desa ini, memang memiliki kekuatan tersendiri. Entah kamu percaya atau tidak, tapi air itulah yang membuatnya ingat tentang hal yang terjadi enam tahun lalu. Hal tentang dirimu---"


Aku menghela nafas. Aku sangat gugup mendengar kelanjutannya.


"Dia---menyalahkan keluarganya. Karena sudah membuatnya melupakan tentangmu."


"Tidak! Dia tidak boleh menyalahkan keluarganya. Akulah yang harusnya disalahkan. Aku yang sudah meninggalkannya..." Mataku mulai terasa panas.


"Tapi itulah kenyataannya. Dia sangat bersyukur bisa bertemu denganmu lagi. Dia sangat bahagia bisa bersama denganmu kembali..."


Mataku benar-benar panas sekarang.


"Entah kenapa, ikatan kalian sangatlah kuat. Itu yang kurasakan saat ini. Kalian ditakdirkan bersama..."


"Tidak! Dia sudah memilih orang lain..."


"Benarkah? Kalau begitu itu semua tergantung padamu."


"Maksudmu?"


"Biarkan dia mengakui perasaannya padamu. Dia hanya menahannya saja."


Aku memandang pemuda ini dengan takjub. Dia sangatlah bijaksana.


"Terima kasih..."


"Sama-sama. Pergilah! Dia pasti menunggumu." Dia menunjuk ke arah Sivia yang sedang duduk sendiri di taman klinik.


Aku berjalan menghampiri Sivia, yang terdiam seakan tatapan matanya kosong.


"Vi..." Sapaku kemudian.


"Harusnya mereka tak menolongku. Andai saja mereka tidak menolongku. Kematian---akan lebih tenang untukku."


"Vi..." Aku menatapnya nanar. Lalu aku duduk di sampingnya. "Kamu lebih memilih mati?"


"Hmmm. Kehidupan akan selalu berjalan dengan keras..."


Aku tertawa kecil. Membuatnya melirik ke arahku.


"Kenapa tertawa?"


"Tenang kalau kamu masuk surga. Bagaimana kalau masuk neraka? Kematianmu tidak akan pernah tenang..." jawabku asal.


"Cih... Dasar kamu!!!"


Lalu aku melihat senyumnya. Senyum yang beberapa hari ini tak kulihat. Berkali-kali aku mengucap maaf dalam hatiku.


"Maaf Vi, karena sudah meninggalkanmu."


Sekali lagi dia melirik ke arahku. Kemudian memelukku.


"Yang penting sekarang kamu sudah disini." ucapnya sambil tersenyum.


"Tapi---aku akan meninggalkanmu lagi. Aku harus kembali bekerja."


"Tidak apa! Asalkan---"


"Asalkan apa?"


"Asalkan kamu janji, kamu akan menemuiku lewat Facebook--"


Aku tertawa. Agak sedikit aneh dengan permintaan Sivia.


"Kenapa?"


"Gak apa. Hanya saja--- agak aneh karena kamu memintaku menemuimu lewat sosial media."


"Itu yang dilakukan orang-orang saat berjauhan. Come on! Jangan terus-terusan jadi orang kuno."


"Aku gak kuno ya. Aku hanya tidak terlalu suka dengan sosial media."


"Kenapa?"


"Semua orang akan tahu tentang kita jika kita terus bercerita di sosial media. Maksudku, tidak ada privasi lagi disini."


"No! Bukan seperti itu. Sebagai pengguna sosial media, kita tahu mana yang perlu kita bagi kepada orang-orang, mana yang tidak."


"Hmm, andai saja semua orang berpikiran sepertimu."


"Aku yakin mereka begitu."


Entah kenapa kami jadi membahas tentang sosial media. Meski aku selalu kalah dengan argumennya, aku senang dia baik-baik saja sekarang.


Dokter sudah memperbolehkannya pulang. Dan malam ini, kami kembali ke penginapan.


...***...