
"Om..."
Debaran hati Diya makin tak karuan dengan posisinya yang begitu dekat dengan Dirga.
CUP!
Satu kecupan membuat Diya membulatkan mata.
Bukan sebuah kecupan di bibir. Hanya saja begitu dengan bibir tipis milik Diya. Tentu saja Diya mematung merasakan gelenyar aneh dalam dirinya.
Dirga meninggalkan Diya yang masih mematung di dalam kamarnya.
Diya memegangi dadanya. "Apa ini? Kenapa Om Dirga hampir mencium bibirku?" gumam Diya dalam hati.
Diya menutup wajahnya dengan kedua tangan. Ia begitu malu.
Setelah tersadar, kemudian Diya keluar dari kamar Dirga dan menyusulnya ke meja makan. Diya melihat Dirga sedang asyik menyantap sarapannya.
"Kenapa Om Dirga bersikap seolah tidak terjadi apapun dengan kami? Padahal kan dia baru saja..." ucap Diya dalam hati.
"Makanlah! Bukankah kau ada kuliah pagi?" Ucap Dirga membuyarkan lamunan Diya.
"Ah, iya, Om." Diya segera menyuapkan nasi goreng kedalam mulutnya.
Usai sarapan, Dirga mengantarkan Diya ke kampus seperti biasa. Tak ada percakapan diantara mereka. Diya sesekali melirik kearah Dirga.
"Om..." Diya memberanikan diri bicara lebih dulu.
"Hmm, ada apa?"
"Apa Om masih marah padaku?" tanya Diya dengan ragu.
Dirga tidak menyahuti. Ia tetap fokus menyetir. Diya menghela nafasnya karena tak mendapat jawaban dari Dirga.
Tidak butuh waktu lama, mereka tiba di kampus. Diya akan segera keluar dari dalam mobil. Namun dicegah oleh Dirga.
"Om sudah tidak marah denganmu. Tapi kau harus ingat, kau harus menuruti perintah Om."
Diya mengangguk.
"Nanti Om tidak bisa menjemputmu. Kau ingat 'kan ini hari apa?"
"Hah?!"
"Ya sudah. Kau turunlah. Jangan sampai terlambat."
"Iya, Om."
Diyapun turun dari mobil. Ia masih memikirkan hari apa ini sebenarnya? Diya segera membuka ponselnya dna melihat catatan kalender.
"Astaga!!" Diya menepuk keningnya.
Haaahhhh
Diya menghembuskan nafas kasar lalu kembali berjalan menuju kelasnya.
Sesampainya di kelas, Diya mencari keberadaan Echa. Diya celingukan mencari sosok sahabatnya itu.
"Aneh? Tidak biasanya Echa terlambat. Ada apa dengannya?" gumam Diya.
Diya meraih ponselnya dan menghubungi nomor Echa, namun tidak tersambung.
"Ada apa ya?" Diya menggaruk kepalanya. "Sebaiknya aku ke rumahnya setelah kuliah selesai. Lagipula aku tidak perlu membeli kado hari ini." gumam Diya lagi.
Selepas kuliah, Diya memanggil taksi dan berniat menyambangi rumah Echa. Tidak butuh waktu lama, Diya akhirnya tiba di rumah Echa.
Diya melihat sebuah mobil terparkir di halaman rumah. Itu adalah mobil kekasih Echa.
Diya mengetuk pintu beberapa kali. Echa memang tinggal sendiri di rumah itu. Orang tuanya sibuk mengurus bisnis di luar kota. Dan sepertinya jam segini para asisten di rumah Echa sudah pulang.
Echa tidak suka jika para ART nya menginap di rumahnya. Jadi ketika pekerjaan selesai, ia meminta mereka untuk pulang ke rumah.
"Echa!!!" panggil Diya.
Tak ada sahutan darinya. Diya semakin memperdalam indera pendengarannya kala mendengar suara dari arah lantai atas.
Diyapun naik ke lantai atas. Ia masih mendengar sayup-sayup suara Echa.
"Echa!!!" Diya kembali memanggil nama sahabatnya.
Diya melihat ada satu pintu yang tidak tertutup rapat. Diya segera menghampiri pintu itu.
"Echa..." Diya kembali memanggil nama Echa.
"Hah?!" Diya menutup mulutnya melihat adegan yang tak sepantasnya ia lihat.
"Echa?!" Diya menggeleng pelan melihat sahabatnya di tindih oleh kekasihnya yang bergerak cepat diatasnya.
Suara Echa yang seakan meminta lebih mulai memekakkan telinga Diya. Diya segera pergi dari rumah Echa.
"Jadi benar apa yang dikatakan Om Dirga. Aku tidak seharusnya berteman dengan Echa. Bagaimana bisa ia jadi seliar itu. Bahkan mereka belum menikah." batin Diya meronta ingin menepis semua hal yang dilihatnya tadi.
Diya kembali memanggil taksi dan segera pergi dari sana. Ponsel Diya berdering. Sebuah panggilan dari Esih.
"Iya, Bi. Aku akan kesana sekarang." jawab Diya.
...***...
#bersambung...