Raanjhana

Raanjhana
Takdir Cinta Nisha : 08. Ada Hati yang Tersakiti



... Halo readers kesayangan mamak👋👋👋 Raanjhana(Lover/Kekasih) is back! Dont forget to leave Like 👍 and comments 😘...


...*happy reading*...


...🍂🍂🍂...


Usai makan malam bersama Nisha, Hernan pulang dengan membawa kertas perjanjian milik Nisha, dan sebaliknya. Mereka akan bertemu lagi beberapa hari lagi untuk menetapkan perjanjian pra-nikah mereka agar sah di mata hukum tanpa sepengetahuan kedua keluarga.


Hernan melewati taman dekat rumahnya dan melihat Asha duduk sendirian di taman itu. Hernan menghentikan mobilnya lalu turun menghampiri Asha.


"Ini sudah malam, apa yang kau lakukan disini?" tanya Hernan.


"Sedang menatap langit malam. Bagaimana makan malammu?"


"Kau yakin ingin tahu?"


"Aku turut bahagia atas perjodohanmu."


Hernan tertawa miris mendengar ucapan selamat dari Asha.


"Asha, dengar..." Hernan meraih kedua tangan Asha dan menggenggamnya. "Aku dan dia..."


"Tidak perlu menjelaskannya." Asha menarik tangannya.


"Asha... Aku..." Ada raut penyesalan di wajah Hernan.


"Pulanglah, kau pasti lelah..." Asha memalingkan wajahnya.


Hernan tak ingin memaksa Asha. Asha butuh waktu untuk menerima keputusan Hernan.


"Baiklah, aku pergi. Setelah ini kau juga pulang. Angin malam tak baik untuk kesehatanmu."


Hernan meninggalkan Asha yang masih ingin sendiri. Begitu sampai di rumahnya, ia bertemu dengan Dirga di halaman depan rumahnya.


"Kau sudah pulang? Bagaimana makan malamnya?"


Hernan berdecih. Lagi-lagi ia harus memdapatkan pertanyaan yang sama.


"Apa kau benar ingin tahu?"


"Hernan, aku pikir kau akan kukuh pada pendirianmu. Tapi ternyata..."


Hernan tak suka dengan kalimat yang diucapkan Dirga yang seolah mengejek dirinya.


Hernan menarik kerah baju Dirga.


"Jika kau tidak tahu apapun, maka tak perlu bicara." Hernan tersulut emosi.


"Apa yang kau inginkan? Kau ingin mendapatkan keduanya? Baik gadis yang dijodohkan denganmu, dan juga Asha. Begitu?"


"Tutup mulutmu, Dirga! Kau tidak tahu apapun!"


"Hentikan! Apa yang sedang kalian lakukan?" Asha datang menghampiri dua sahabat yang sedang berseteru.


Hernan segera melepaskan cengkeraman tangannya dari leher Dirga.


"Dirga, ayo kita masuk!" ajak Asha tanpa mempedulikan Hernan yang masih mematung.


Asha sudah benar-benar kecewa padanya. Meski mereka tak memiliki hubungan yang jelas, namun perasaan mereka tak bisa dibohongi. Ada rasa yang dirasa Hernan pada Asha, dan juga sebaliknya.


*


*


*


*


Nisha memandangi kertas yang berisi tulisan tangan Hernan. Ia mulai membaca poin-poin apa saja yang Hernan inginkan ketika mereka sudah menikah.


Nisha hanya berdecih. Sudah bisa ia tebak jika Hernan akan menulis poin-poin itu. Nisha memegangi buku dongeng kesukaannya. Ia tak bosan membaca kisah tentang cinta sejati yang tertulis di dalam buku itu.


Ia ingin memiliki kisah cinta seperti itu juga. Namun kini rasanya sudah tak mungkin. Kisah cintanya sudah di tentukan oleh kakek dan ayahnya.


Karena lelah, Nisha pun akhirnya tertidur dengan memeluk buku dongeng kesayangannya.


Keesokan harinya,


"Selamat pagi, sayang..." sapa Antonia sambil menata meja makan.


"Selamat pagi, Bu." sapa Nisha malas dan langsung memposisikan diri duduk di meja makan.


"Kakek dan ayah juga tidak menyapaku." jawab Nisha asal.


"Kau ini! Sangat tidak sopan menjawab kakekmu." Lerai Antonia.


Nisha memutar bola matanya malas.


"Sudah, sudah. Tidak apa, Nia. Bagaimana makan malammu dengan Hernan semalam?" lanjut Haidar.


"Biasa saja. Tidak ada yang istimewa."


Ayah, ibu dan kakek Nisha mengerutkan dahi bingung.


"Apa maksudmu, nak?" Raihan ikut bicara.


"Ya begitu, ayah. Dia mengajakku makan di restonya Royale Hotel. Ayah kan tahu aku tidak begitu suka suasana mewah seperti itu. Aku lebih suka makan di tempat biasa."


"Lalu apa saja yang kalian bicarakan?" Haidar mulai menyelidik.


"Tidak ada. Hanya membicarakan hal biasa." jawab Nisha dengan nada datar.


"Sudahlah, Ayah, jangan mencecar cucu ayah seperti itu. Yang penting mereka sudah mau membuka diri." ujar Antonia.


Nisha kembali diam dan menatap sarapannya. Delina merasa ada sesuatu yang aneh dengan anak asuhnya itu. Ia sangat mengerti perasaan Nisha karena dia yang merawatnya sedari Nisha kecil.


*


*


*


Satu Minggu kemudian,


"Sayang, nanti malam keluarga Hernan akan datang ke rumah kita." ucap Antonia.


"Lagi, bu? Untuk apa?"


"Dia akan melamarmu. Dan sekalian menentukan tanggal pernikahan kalian."


Ada raut kesedihan di wajah Nisha. Delina yang sedang berada di kamar Nisha juga bisa merasakan apa yang dirasakan nona mudanya itu.


"Kalau begitu, bersiaplah! Ibu pergi dulu mau mengawasi persiapan di dapur."


Sepeninggal Antonia, Delina mendekati Nisha yang sedang duduk di depan meja riasnya.


"Bibi... Apa aku benar-benar akan menikah?"


"Nona..."


"Tapi aku belum mau menikah, Bi."


"Bibi tahu nona perasaan nona. Tapi menuruti perkataan orang tua adalah hal baik. Bibi yakin nona pasti bisa mendapat kebahagiaan."


"Bagaimana bisa bahagia, aku saja tidak mencintainya."


Nisha menghela nafas panjang.


"Cinta akan hadir seiring berjalannya waktu. Percayalah pada Bibi..." Sungguh Delina tidak ingin melihat kesedihan di wajah putri asuhnya. Namun ia juga tahu siapa dirinya di keluarga itu. Delina berpamitan dari kamar Nisha setelah menyiapkan segala keperluan Nisha untuk acara malam nanti.


Pukul tujuh malam, keluarga Hernan datang dengan raut wajah yang sumringah terkecuali Hernan yang merasa terpaksa melakukan semua ini. Para orang tua merasa sangat bahagia malam ini. Penyatuan dua keluarga akhirnya bisa terlaksana.


Tanpa banyak berbasa-basi, Rio menyatakan keinginannya datang di malam ini, yaitu untuk mengikat Nisha dalam ikatan pertunangan dengan putranya. Nisha dan Hernan hanya tersenyum getir menerima pertunangan mereka.


Dua hari setelah keluarga Hernan melamar Nisha secara resmi, diadakan acara pesta pertunangan sederhana yang hanya di hadiri keluarga dekat saja.


Di pesta itu, Rio mengenalkan calon menantunya pada seluruh keluarganya dan sahabat dekatnya. Dirga dan Asha sangat terkejut melihat siapa calon istri Hernan.


Ya, dia adalah Nisha, gadis yang dicium Hernan di Bali beberapa waktu lalu. Dewi pun tidak menyangka jika sahabatnya akan menikah Hernan yang adalah sahabat baik kakaknya.


Kedua calon pengantin saling bertukar cincin di saksikan oleh kedua keluarga besar. Tepuk tangan meriah memenuhi taman belakang rumah keluarga Hernandez.


Nisha dan Hernan menebar senyuman palsu pada anggota keluarga yang hadir. Ketika mata mereka tertuju pada satu sosok, yaitu Asha. Nisha merasa bersalah pada Asha. Begitu pula dengan Hernan. Asha terlihat meninggalkan acara setelah melihat Hernan dan Nisha saling bertukar cincin.


Malam ini memang terasa membahagiakan bagi sebagian orang dirumah itu. Tapi juga ada hati yang tersakiti karena kebahagiaan yang dipaksakan itu.


...🍂🍂🍂...


#bersambung...