Raanjhana

Raanjhana
Trapped by Cold CEO : 16. Kesepakatan Baru




......***......


"ANA!!!"


"Ikut denganku sekarang juga!" titah Grey yang membuat Ana menelan salivanya.


Tanpa berkata apapun Ana segera mengikuti langkah Grey. Ternyata Grey menuju ke ruang kerjanya.


Ana menutup pintu begitu dirinya telah masuk kedalam ruang kerja Grey yang baru kali ini ia datangi. Pasalnya, Grey tidak mengijinkan siapapun memasuki ruang kerjanya tanpa ijin darinya.


"Apa yang kau lakukan sedari tadi? Kenapa kau baru pulang?" tanya Grey.


"Eh? Jadi Tuan memanggilku kemari hanya untuk menanyakan ini? Aku pergi ke rumah sakit dan melihat kondisi ayahku. Aku juga harus mengurus administrasi rumah sakit. Lalu setelahnya aku meminta Simon untuk mampir ke resto cepat saji Wac'D. Tapi ternyata antriannya sangat panjang. Jadi kami menunggu sebentar. Rencananya aku akan menyajikan itu untuk makan malam." jelas Ana panjang lebar.


Grey mengepalkan tangan mendengar cerita Ana. Rasanya ia tak tahan mendengar suara lembut Ana di telinganya.


"Jadi kau ingin memberiku junk-food untuk makan malam?" Grey menggeram dihadapan Ana.


Sontak Ana mundur ke belakang karena jarak Grey terlalu dekat dengannya.


"Me-memangnya kenapa jika makan junk-food? Sekali kali tidak apa, Tuan. Lagipula siapa yang menolak ayam goreng Wac'D?"


Grey berbalik badan dan membelakangi Ana.


"Baiklah. Karena kita sekarang ada di ruang kerja Tuan, maka ada hal yang ingin kusampaikan. Kurasa kita harus memperbaharui kesepakatan kita." ucap Ana.


Grey kembali membalikkan badan. "Kesepakatan?"


"Iya. Kesepakatan di malam itu. Aku ingin membatalkannya." Ana memberanikan diri berkata tegas.


"Kenapa? Apa kau sudah tidak butuh uang?" Seringai licik Grey kembali muncul.


"Aku memang butuh uang. Tapi tidak dengan menjual mahkotaku. Lagipula sekarang aku sudah bekerja disini sebagai pelayan. Kita hanya perlu membuat kesepakatan yang baru."


Grey mengusap dagunya. "Hmm, kau benar juga. Aku akan mempertimbangkannya."


"Eh?" Ana hendak protes.


"Kenapa? Aku perlu menghitungnya lebih dulu, bukan?"


Ana mendesah kasar. "Baiklah. Aku tunggu keputusan Tuan besok. Kuharap kesepakatan baru kita tidak merugikan diriku. Aku permisi." Ana segera undur diri setelah mengatakan hal yang ingin ia sampaikan.


Ana bertemu Black saat keluar dari ruang kerja Grey.


"Bagaimana, Nona?" tanya Black.


Ana menggeleng pelan. "Kurasa aku akan terjebak lama disini, Tuan Black."


"Jangan khawatir. Aku akan mencoba bicara dengan Tuan Grey."


"Memangnya dia akan mendengarkanmu?"


"Hmm, terkadang." Black mengedikkan bahunya.


Ana terkekeh. Entah kenapa saat bersama Black Ana merasa nyaman. Sangat berbeda dengan saat bersama Grey.


"Tidak perlu repot-repot membantuku, Tuan Black. Aku akan menyelesaikan masalahku sendiri." Ana menepuk pelan bahu Black kemudian berjalan menuju kamarnya.


......***......


BRUK!!


Grey melemparkan sebuah amplop pada Ana yang sedang menata makanan di meja makan.


"Kau bacalah dan patuhi semua kesepakatan kita!" ucap Grey. Tak butuh waktu hingga menunggu besok, Grey sudah membuat kesepakatan yang baru.


Ana mendengus kesal. "Tunggu dulu, Tuan! Jika ini adalah kesepakatan, maka aku juga harus menyetujuinya lebih dulu. Jangan bertindak sesuka hatimu!" geram Ana.


Grey menghampiri Ana dan mencengkeram lengan Ana.



"Dengar! Kau pikir karena kau wanita aku tidak akan berbuat kasar padamu?! Kau benar-benar sudah menguji kesabaranku! Kau harus ingat jika keluargamu sudah membuatku rugi ratusan juta Pounds."


"Meskipun keluargaku berhutang padamu, tidak seharusnya kau berbuat sejauh ini, Tuan Grey. Kau memang manusia tak punya hati!"


"Kau!!!" Grey telah dikuasai amarah.


"Tuan!!!" suara Black menginterupsi. "Ada apa ini?" Black melihat pemandangan yang tak biasa. Wajah Ana sudah memerah dan matanya berkaca-kaca.


Grey segera melepaskan cengkeramannya. Ia meminta Black segera pergi bersama dengannya dan juga Simon. Grey meninggalkan Ana sendirian di mansion miliknya.


Ana terduduk lemas di kursi meja makan. Ia meratapi nasibnya yang begitu malang.


"Daddy... Maafkan aku. Kubilang aku tidak akan menangis lagi. Tapi ternyata sekarang aku menangis lagi, hiks hiks." Ana bergumam sendiri.


"Sebenarnya apa sih yang dia inginkan? Kenapa dia sangat marah hanya karena aku membeli ayam goreng Wac'D? Lihatlah! Ayam itu menggodaku untuk memakannya, hiks hiks."


Ana mengambil satu potong ayam goreng. "Lihat, Daddy. Ini enak sekali. Siapa yang bisa menolak aroma ayam goreng Wac'D? Bahkan Chef profesional seperti Alvin belum tentu bisa memasak ayam goreng seenak ini, hiks hiks. Dasar menyebalkan! Jika tidak ingin memakannya, kau tinggal katakan saja padaku! Aku akan memakan semua ayam goreng ini." Monolog Ana.


Usai menyantap ayam goreng kesukaannya, Ana menatap kembali amplop yang tadi dilemparkan Grey. "Sebenarnya apa yang dia tulis?" Ana membuka amplop tersebut dan membaca isinya.


Ana menggeleng pelan. "Dasar tuan dingin tidak punya hati!!!"


Ana mengambil bolpoin dan mengubah beberapa poin.


"Pihak pertama, Grey Ardana Putra. Pihak kedua: Anastasia Gerardo. Satu, pihak kedua harus bersedia bekerja selama 24 jam penuh untuk melayani kebutuhan pihak pertama. Wah, apa-apaan ini? Enak saja! Memangnya aku budakmu!" Ana segera mencoret poin itu dan menggantinya.


"Pihak kedua bekerja dari pukul 7 pagi, hingga 11 siang. Lalu setelahnya, pihak kedua bebas melakukan apapun hingga waktu makan malam tiba atau ketika pihak pertama datang ke rumah. Nah, begini lebih bagus." Ana terkekeh sendiri.


"Dilarang saling mencampuri urusan pribadi masing-masing. Ini aku sangat setuju."


Ana membulatkan mata setelah membaca poin terakhir. "Apa ini? Seenaknya saja! Tiga tahun? Dia pikir dia siapa?!"


Ana kembali mengganti poin ketiga. "Pihak kedua bekerja pada pihak pertama selama satu tahun. Kurasa itu sudah cukup." Ana tersenyum sumringah kemudian membubuhkan tanda tangannya. Ana kembali terkekeh karena ternyata Grey sudah lebih dulu menandatangani surat kesepakatan itu.


Ana menuju ke ruang TV dan duduk di sofa empuk disana. Ana menonton acara TV favoritnya. Hingga akhirnya Ana terlelap dengan posisi TV masih menyala.


Grey kembali ke mansion pukul dua dini hari. Ia mendengar ada suara TV yang masih menyala. Grey menuju kesana dan melihat Ana tidur meringkuk di sofa.


Grey memandangi wajah damai Ana yang terperjam. "Apa yang terjadi denganku? Kenapa aku sangat marah saat kau tertawa pada Black atau Simon? Kenapa tidak kau tunjukkan senyuman itu kepadaku saja? Kenapa Ana?"


Grey beralih menatap bibir Ana yang sudah ia nikmati rasa manisnya. Grey mengusap bibir tipis itu dengan jarinya. "Sepertinya aku tidak akan bisa melepasmu, Ana! Tidak akan pernah!"


Grey mengangkat tubuh Ana ala bridal menuju lantai atas. Grey membawa Ana ke kamarnya dan bukan kamar milik Ana.


Dengan hati-hati ia merebahkan tubuh Ana di ranjang dan menyelimuti tubuhnya. Karena terlalu lelah, Grey pun ikut merebahkan diri disamping Ana. Grey tersenyum bahagia bisa bersama Ana sedekat ini.


Keesokan harinya, Ana terbangun karena merasakan ada hawa berat yang membelit tubuhnya. Ana membuka mata dan melihat sekeliling.


"Ini bukan kamarku." batin Ana.


Ana melirik kearah perutnya yang terlilit oleh tangan besar seseorang. Ana membalikkan tubuhnya dan melihat Grey ada di hadapannya.


"Tu-tuan Grey!!" pekik Ana yang membuat Grey terbangun.


"Ucapkanlah selamat pagi, Ana! Kenapa kau malah berteriak?" tanya Grey dengan suara khas bangun tidur.


"Ke-kenapa aku bisa ada disini?" tanya Ana dengan rasa yang sudah tak karuan. Ia takut jika Grey sudah berbuat tak senonoh padanya.


"Tenanglah! Aku tidak melakukan apapun kepadamu. Sekarang bangunlah dan siapkan air mandi untukku." titah Grey.


Ana mengangguk dan ingin beranjak dari tempat tidur, namun Grey mencekalnya.


"Give me a morning kiss!" ucap Grey dengan suara beratnya.


......***......


#bersambung...


*eeeaaa eaaaa, dikasih gak ya sama Ana???😳😳😳😨😨😨


*babang Grey tuh cuman gengsi aja deh buat ngakuin perasaannya 😰😰😰


Jangan lupa tinggalkan jejak ya kesayangan 😘😘😘