Raanjhana

Raanjhana
Trapped by Cold CEO : 24. Satu Hari Bersamamu



Matahari musim panas terasa hangat menyinari bumi. Sinarnya melesak masuk kedalam kamar dua insan yang masih terlelap setelah memadu kasih semalam tadi. Dua insan saling mencinta itu bergelung dengan selimut dan seakan tak ingin terpisahkan. Mereka saling memeluk satu sama lain. Siapa lagi kalau bukan Ana dan Grey. Dua orang manusia yang telah saling mengungkap rasa.


Merasakan hangatnya mentari pagi, Ana mulai terusik dan ingin segera bangun. Ia mengerjapkan matanya lalu membukanya perlahan. Sungguh ia sangat bersyukur bisa melihat pemandangan pagi yang begitu indah. Sosok dingin dan arogan namun rapuh secara bersamaan, itulah gambaran Ana mengenai pria yang bersamanya kini.


Ana tidak pernah merasakan jatuh cinta hingga sebahagia ini meski hanya melihatnya tertidur.


"Apa ada sesuatu di wajahku?"


"Hah?!"


Grey memergoki Ana yang sedang menatapnya lekat. Mata pria itu mulai terbuka menampakkan manik hitam keabuan yang membuat Ana terpikat.


"Apa yang kau lihat?" tanya Grey parau.


"Tidak ada. Hanya sebuah pahatan yang indah."


"Apa kau sedang menggodaku?"


"Of course not! Kenapa kau selalu menganggapku menggo..."


Aah, bibir itu tak dapat melanjutkan kalimatnya karena sudah lebih dulu dibungkam dengan cara yang manis.


Ana mendorong tubuh Grey menjauh.


"Kau ini! Selalu saja mengambil kesempatan dalam kesempitan!"


"Tentu saja. Aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan."


"Ish, kau ini!!!"


"Sayang, aku ingin memakan pangsit daging kambing untuk sarapan."



"Pangsit?" Ana mengernyitkan dahinya. Ia tak yakin bisa membuat pangsit untuk Grey.


"Kau bisa membuatnya?"


"Umm, akan kupikirkan nanti!" Ana segera melompat dari tempat tidur dan keluar kamar Grey untuk membersihkan diri.


......***......


Ana menghubungi Alvin melalui panggilan video untuk menanyakan resep membuat dumpling/pangsit. Ia melirik kearah tangga kalau kalau Grey ikut turun menuju dapur. Ia tak mau terlihat buruk didepan Grey.


"Kakak ingin membuat pangsit? Apa bahan-bahannya sudah ada?"


"Aku tidak yakin." Ana mengedikkan bahu.


"Sebenarnya kakak bekerja sebagai apa?"


"Sudahlah. Kau tidak perlu tahu. Tapi yang jelas, majikanku adalah orang yang baik."


"Hmm, benarkah?"


"Iya, benar. Lihatlah! Aku tinggal di mansion yang sangat bagus dan fasilitas yang lengkap."


"Dari pada kakak bingung memasaknya, ajak saja dia ke pasar. Disana banyak dijual pangsit yang dimasak langsung oleh orang Tiongkok."


"Eh? Benarkah? Baiklah. Aku akan membujuknya."


Panggilan berakhir.


"Kau ingin membujukku apa?"


"Astaga! Tuan Grey! Kau mengagetkanku!"


"Apa kau memujiku didepan adikmu?"


"Eh? Itu..."


"Aku senang kau menganggapku sebagai orang baik. Padahal aku sudah berbuat kasar padamu."


Ana merangkum wajah Grey. Ini seperti menjadi hobinya sekarang.


"Kau tidak jahat. Kau hanya belum memahami situasinya."


Grey meraih tangan Ana dan menciumnya. "Kau jadi memasak pangsit?"


"Mmm, sebenarnya ... aku tidak bisa membuatnya. Bagaimana kalau kita membelinya saja? Kita pergi ke pasar dan kau bisa makan pangsit sepuasnya."


Grey berpikir sejenak. Ia melirik jam tangannya.


"Bisakah hari ini kau bolos bekerja?" pinta Ana.


Grey tersenyum dan mengusap dagunya.


"Apa aku mendapat kompensasi yang bagus jika aku bolos bekerja hari ini?"


Ana membalas dengan senyuman mautnya. "Sure." jawab Ana.


......***......


Ana membawa Grey bertandang ke pasar tradisional di pinggiran kota London. Mereka mendatangi restoran khas makanan China yang menjual pangsit terbaik sesuai arahan Alvin.


Akhirnya untuk pertama kalinya Grey bolos kerja karena permintaan Ana. Mereka berjalan sambil bergandengan tangan menyusuri pasar yang ramai itu. Untuk pertama kalinya Grey merasakan pengalaman menjadi orang biasa yang tidak perlu pengawalan dan asisten.


Ana membuat dunia Grey menjadi berbeda dan berwarna.


"Bagaimana? Apalagi yang ingin kau makan selain pangsit daging kambing?" tanya Ana saat menyusuri jalanan pasar.


"Aku ingin memakanmu!" canda Grey.


Ana memukul bahu Grey. "Tidak lucu!"


"Hmm, aku ingin membeli ikan tuna lalu salmon."


"Baiklah. Kita kesana. Disana berkumpul penjual ikan segar." Ana menarik tangan Grey.


Grey tersenyum melihat Ana yang tampak bersemangat. Ana memilah dan memilih bahan makanan hanya yang terbaik.


"Kau bilang kau tidak pandai memasak. Tapi kau sangat pandai memilih bahan makanan yang bagus." Grey bersedekap memperhatikan Ana.


"Benar, aku tidak begitu pandai memasak. Tapi aku sering ikut Bibi Matilda saat ke pasar. Bagaimanapun juga seorang wanita harus bisa memasak meski hanya masakan simpel. Itu menurutku."


CUP!


Grey mencuri satu ciuman di pipi Ana.


"Kau! Ini tempat umum! Jangan macam-macam!"


"Kenapa? Tidak ada salahnya mencium calon istri sendiri."


"Calon istri? Percaya diri sekali!" Ana mengerucutkan bibirnya.


"Jadi kau tidak ingin menikah denganku?"


Ana menatap Grey usai membayar ikan yang dibelinya. "Menikah bukanlah hal main-main, Tuan! Mungkin kau menganggap ini mudah. Tapi tidak bagiku." Ana melenggang pergi meninggalkan Grey.


Grey menyusul langkah Ana.


"Aku tidak ingin membuatmu terlihat buruk. Tapi untuk saat ini aku tidak ingin memikirkan apapun selain ayah dan keluargaku. Aku juga ingin menemukan Jessline dan Uncle Alonso. Aku ingin bertanya kenapa mereka tega melakukan ini padaku dan ayah?"


Grey tak tega melihat Ana yang mulai bersedih. Grey membawa Ana dalam dekapannya. "Maafkan aku. Baiklah, aku tidak akan membahas tentang hal ini lagi. Aku hanya ingin melihatmu bahagia. Apa kau ingin menjenguk ayahmu? Aku akan mengantarmu. Aku juga ingin bertemu dengan ayahmu."


Secercah senyum terbit di wajah Ana.


"Iya, kita ke rumah sakit untuk menjenguk ayahku." Ana menggamit lengan Grey dan bersandar disana.


......***......


Ana dan Grey tiba di rumah sakit dengan berjalan beriringan. Beberapa mata perawat tertuju pada Grey dan membuat Ana mencebik kesal. Wajah tampan dan dingin Grey memang tidak seperti kebanyakan orang Inggris karena ada darah Asia didalamnya.


"Ish, kenapa mereka melihatmu dengan tatapan lapar begitu? Menyebalkan sekali!" gerutu Ana.


Grey menggeleng. "Kenapa? Kau tidak suka jika ada yang menatapku? Bahkan semua pengunjung klab malam sangat menyukaiku terutama..."


Belum sempat Grey melanjutkan kalimatnya, Ana sudah lebih dulu berjalan cepat menuju ruang intensif.


Ana mematung melihat ayahnya dari luar ruangan. Grey melihat gadis yang dicintainya tampak bersedih. Ia berdiri disamping Ana.


"Hai, Uncle. Namaku Grey. Aku adalah putra dari Alfred Ardana, sahabat Uncle. Kuharap Uncle cepat membuka mata. Uncle harus tahu jika putri Uncle adalah gadis terhebat yang pernah kukenal. Uncle, ada satu hal yang ingin kukatakan, aku ... mencintai putri Uncle. Kuharap Uncle merestui hubungan kami. Kumohon, bangunlah Uncle." ucap Grey yang membuat mata Ana berkaca-kaca.


"Kenapa kau suka sekali menangis?" Grey menyeka air mata Ana yang akhirnya lolos.


"Kau akan terlihat buruk jika kau menangis." Grey mengecup singkat kening Ana. "Kita pulang ya! Kita akan memasak bersama hari ini."


Ana tersenyum kemudian mengangguk.


Setibanya di mansion, Ana mengganti dresscode nya dengan dress selutut dan berlengan agar lebih nyaman saat memasak. Sedangkan Grey memeriksa pekerjaannya melalui Black yang menggantikannya memimpin meeting bersama kliennya.


Ana menyiapkan bahan-bahan di dapur. Ana ingin memasak steak ikan tuna. Grey menghampiri Ana dan menawarkan bantuan.


"Kau kupaslah kentang lalu wortel." ucap Ana.


"Siap, Nona."


"Oh ya, sejak pagi aku tidak melihat Simon. Kemana dia?" Tanya Ana.


"Aku memintanya untuk membantu Black di kantor."


"Ish, bilang saja jika kau tidak mau diganggu." Ana menjulurkan lidahnya.


Grey tertawa. "Bukankah hari ini adalah hari membolosku? Aku hanya ingin berdua saja denganmu tanpa ada yang mengganggu." Grey memberikan kecupan-kecupan kecil di tengkuk Ana.


"Tuan Grey!" Pekik Ana karena ia merasakan gelenyar aneh saat bibir Grey menyentuh kulitnya.


"Hmmm, kenapa kau berteriak? Bukankah kau menyukainya?" Grey membalik tubuh Ana agar berhadapan dengannya.


"Dengar, aku harus memasak, jika tidak kita..."


Grey selalu terbius saat bibir Ana bergerak dengan menggemaskan. Grey melahap habis bibir candunya itu.


"Stop it!!!" Ana mendorong tubuh Grey. Ia menunjukkan wajah marahnya pada Grey.


"Tidak! Aku tidak akan berhenti!" Grey mendorong Ana agar tubuhnya menyentuh dinding dan membuatnya lebih leluasa mengeksplor benda kenyal itu.


Tanpa penolakan Ana juga sangat menikmati sentuhan Grey. Ia melingkarkan tangannya dan menjambak pelan rambut belakang Grey. Siang yang hangat menjadi bertambah hangat dengan kegiatan mereka di dapur.


Grey menyingkap dress Ana dan menampakkan kemolekan tubuh Ana yang berbalut pelindung atas dan bawah.


"Kita ke kolam renang!" Grey membawa tubuh Ana ala bridal menuju kolam renang. Grey melepas kausnya dan masuk kedalam kolam renang bersama Ana.


"Bagaimana dengan makan siang kita?" tanya Ana yang terpaksa meninggalkan dapur karena ulah Grey.


"Aku sedang ingin makan yang lain." Grey meraih lembaran kenyal yang kini basah karena air.


Mereka berenang bersama dan saling bertukar rasa. Wajah basah Grey sangatlah tampan di mata Ana. Tanpa sepengetahuan Ana, Grey berhasil melepas pengait benda merah menyala berenda milik Ana.


Ana ingin marah, namun rasa yang diberikan Grey membuatnya melayang ke angkasa. Grey menyentuh bukit kembar Ana dan mengusapnya pelan.


"Tidak, Tuan!" Ana memejamkan mata saat Grey bermain nakal disana.


"Bolehkah?" Grey meminta ijin untuk melakukan lebih.


Dengan malu Ana mengangguk. Perlahan tapi pasti Grey bermain didada Ana dan menyesap rasanya benda kembar itu.


"Aahhh," Ana mendekap kepala Grey yang sedang memainkan ujung yang mencuat miliknya.


Didalam air kolam yang hangat membuat semua rasa terbawa arus hangat. Ana meminta Grey berhenti. Sungguh ia ingin melakukan hal lebih bersama Grey, namun belumlah saatnya.


"Kau memang gadis suciku, Ana. Hanya aku yang boleh menyentuhmu." Grey menutup permainnya dengan mencium singkat bibir Ana kemudian mengambil jubah handuk untuk Ana.


Hari pun berganti petang saat Ana menyiapkan makanan di meja makan. Grey makan dengan lahap semua makanan yang Ana masak.


"Kau suka?" tanya Ana.


"Yes, of course." Grey tersenyum.


"Terima kasih karena sudah menemaniku seharian ini," ucap Ana.


"Yeah, aku juga sangat berterima kasih karena kau menerimaku."


Tak lama ponsel Grey bergetar, sebuah panggilan dari Black.


"Iya, ada apa?"


"Tuan, malam ini Tuan harus datang ke klab."


"Hmm, baiklah."


"Tuan harus melakukan seleksi setelah kemarin ada beberapa pekerja yang mengundurkan diri."


Grey menatap Ana. "Hmm, baiklah. Aku akan segera kesana." Grey mengakhiri panggilannya.


"Ada apa?" tanya Ana.


"Ada urusan mendesak. Aku harus pergi."


Ana mengangguk. "Pergilah! Selesaikan dulu pekerjaanmu."


Grey beranjak dari duduknya dan menghampiri Ana. Grey mencium bibir Ana untuk mengucap perpisahan sementara mereka.


Ana tersenyum melepas kepergian Grey. Ana memegangi dadanya yang terasa sesak.


"Kenapa perasaanku tak tenang begini?" gumam Ana. "Semoga semua baik-baik saja."


......***......


#bersambung


*😍😍😍Babang Grey, aku padamuuuuuhhh πŸ’ŸπŸ’ŸπŸ’Ÿ


*Duh babang Grey jadi bad boy lagi gak yaaa 😡😡😡


*jangan lupa tinggalkan jejak ya kesayangan 😚😚😚⭐⭐⭐⭐⭐