
Pagi yang cerah disambut oleh Dirga dan Diya. Pasangan pengantin baru ini bersiap untuk menjalani aktifitas mereka dengan senyum merekah. Belum ada kata bulan madu untuk mereka. Karena kesibukan yang telah menanti usai pernikahan dadakan mereka.
"Hari ini Om tidak bisa mengantarmu. Kamu tidak apa kan berangkat kuliah dengan Pak Munir?" ucap Dirga saat akan berangkat ke kantor.
"Tidak apa. Om tenang saja." balas Diya dengan bergelayut manja di lengan suaminya.
"Setelah selesai kuliah, kamu harus langsung pulang ke rumah. Mengerti?"
"Iya, Om." jawab Diya lagi-lagi dengan ekspresi menggemaskan.
Dirga dan Diya kini berada di halaman rumah. Diya mengantar suaminya yang akan berangkat ke kantor.
Dirga mengecup kening Diya lama. "Om berangkat dulu ya." pamit Dirga.
"Iya, Om hati-hati ya." Diya melambaikan tangan. Rasanya masih ingin bersama namun apalah daya, pekerjaan Dirga tak bisa ditunda. Lagipula Diya juga harus kuliah.
Setelah mobil Dirga menjauh, kini giliran Diya yang harus pergi ke kampus. Sesampainya di kampus, Diya disambut oleh Echa dengan wajah cemasnya.
"Echa, ada apa?"
"Apa kau baik-baik saja? Aku sangat mengkhawatirkanmu karena kemarin Om Dirga membawamu dengan paksa dari klab."
Diya malah tertawa. "Aku tidak apa-apa, Cha. Om Dirga tidak sejahat itu padaku."
"Hah, syukurlah. Aku pikir dia menghukummu. Dan aku tidak akan bisa bertemu denganmu lagi."
"Hmm, sebenarnya... Dia menghukumku. Tapi dengan cara yang lain."
"Hah? Cara lain bagaimana?"
Diya membisikkan ke telinga Echa. Echa pun terkejut. Diya segera menutup mulut Echa.
"Kau serius? Kau sudah menikah dengannya?"
Diya mengangguk senang.
"Lalu, apakah kalian sudah..."
"Ish, jangan ngaco! Tentu saja belum!"
"Kekhawatiranku sama sekali tidak ada gunanya. Kau bahkan mendapat hukuman yang indah."
"Kau ini. Maaf ya, aku sudah membuatmu khawatir."
"Jadi, apa persiapanmu untuk malam bahagia kalian? Kau harus mempersiapkan semuanya dengan sempurna."
"Kau seakan sudah hapal dengan hal seperti itu, huh?"
"Tentu saja..." Echa menutup mulutnya.
"Sudahlah, aku sudah tahu semuanya."
"Hah?! Benarkah?"
"Iya. Kau dan pacarmu itu..."
"Kau tidak marah padaku?"
Echa menepuk bahu Diya. "Kau tenang saja. Kami selalu memakai pengaman kok."
"Ish, kau ini. Aku hanya bilang siapa tahu saja terjadi sesuatu denganmu."
Echa memeluk Diya. "Terima kasih sudah mengkhawatirkanku. Dan selamat atas pernikahanmu."
Diya mengangguk. "Kita ke kelas yuk!"
.
.
.
Sepulang kuliah, Diya tiba dirumah dan langsung merebahkan diri di tempat tidur. Ia masuk ke kamar Dirga dan mencium aroma maskulin milik Dirga disana. Diya berteriak girang karena cintanya bersambut.
Namun tiba-tiba netranya tertuju pada sebuah kotak diatas nakas. Diya mengambilnya dan bertanya pada Esih.
"Bi, ini kotak milik siapa?"
"Itu pemberian Tuan Dirga untuk Nona. Tadi siang orang suruhannya datang kemari memberikan itu."
"Oh, begitu. Ya sudah. Terima kasih, Bi."
Diya kembali ke kamar dan meletakkan kotak itu di atas ranjang. Tubuhnya terasa lengket dan ingin segera mandi.
Diya masuk kedalam kamar mandi milik Dirga yang kini menjadi miliknya. Ia berendam di bathup selama beberapa menit. Ia mengingat kata-kata yang diucapkan Echa. Beberapa saran untuk menyenangkan pria.
Diya menutup matanya dengan tangan kala mengingat semua kata-kata Echa.
"Astaga! Apa aku harus benar-benae melakukan apa yang Echa katakan?" Diya menggeleng pelan.
"Apa Om Dirga akan menyukainya? Jangan-jangan dia akan menganggapku sebagai perempuan nakal." Diya menggeleng cepat.
"Bagaimana ini?" Diya kembali bimbang.
Usai membersihkan diri, Diya memakai bathrobe dan akan memakai piyama andalannya. Setelah berganti baju Diya duduk ditepi ranjang dan melihat kotak yang tadi dikirim Dirga.
Perlahan Diya membukanya. Mata Diya membulat sempurna.
"HAH?! Apa ini?" Diya memicingkan matanya melihat pakaian minim yang dikirimkan Dirga.
Ada sebuah kartu ucapan disana.
Aku ingin kau memakainya malam ini spesial hanya untukku.
Diya menelan salivanya. "Ish, kenapa Om Dirga mengirimkan pakaian kurang bahan begini? Bahkan sebagian tubuhku akan terlihat jika memakainya. Dasar Om mesum!!" Sungut Diya dengan mengerucutkan bibirnya.
.
.
#bersambung