
Grey keluar dari klab malam miliknya dan segera masuk kedalam mobil mewah yang sudah disiapkan oleh anak buahnya. Grey menyandarkan kepalanya ke sandaran jok mobil lalu memijat pelipisnya pelan. Banyak hal yang melintas dalam pikirannya. Terutama tentang bagaimana dirinya kini terjun bebas di dunia malam seperti ini.
"Tuan..."
"Hmm."
"Apa Tuan ingin langsung kembali ke mansion utama atau ingin mencari udara segar lebih dulu?" tanya Simon. Ia adalah pengawal pribadi Grey yang juga merangkap menjadi supir untuk Grey jika Black sedang ada urusan.
"Aku ingin kembali ke mansion utama saja."
"Baik, Tuan."
"Kau tahu, Simon. Sebenarnya aku malas bertemu dengan pria tua itu. Dia selalu memaksakan kehendaknya sendiri. Tapi aku benar-benar tidak dalam posisi untuk menolak."
Simon hanya tertawa kecil.
"Oh ya, besok kau sibuk?" tanya Grey.
"Sepertinya tidak, Tuan. Ada apa?"
"Antarkan aku ke makam Mommy. Sudah lama aku tidak kesana."
"Baik, Tuan."
Tiba di mansion utama, Grey langsung bergegas masuk. Ia langsung disambut tepuk tangan meriah dari ayahnya.
Grey memutar bola matanya malas. "Kupikir Daddy sudah tidur. Ini sudah hampir tengah malam, Dad."
"Daddy sengaja menunggumu karena ingin mengucapkan selamat padamu."
"Selamat untuk apa?"
"Mari kita minum!" Alfred merangkul bahu Grey dan membawanya ke mini bar yang ada di mansion miliknya.
"Terima kasih, Nak. Berkat kau usaha kita makin berkembang." Alfred menuangkan segelas wine dan memberikannya pada Grey.
Lagi Grey memutar bola matanya malas.
"Ini semua karena Daddy. Aku jadi harus berinovasi agar klab malam kita tetap menjadi yang nomor satu."
"Yeah. Daddy akui kau memang brilian, Nak. Baiklah. Daddy ke kamar dulu. Kau masih ingin disini?"
"Hmm."
"Son, apa kau tidak memiliki kekasih?"
"Dad!!!" suara Grey meninggi jika ayahnya membahas soal wanita.
"Oke! Daddy tidak akan membahas soal itu lagi padamu. Jangan bilang kau tertarik dengan salah satu ja'lang di klab kita."
"DAD!!!" Suara Grey naik satu oktaf lagi.
"Fine. Daddy pergi. Nikmati malammu, Nak."
Grey meneguk habis wine di tangannya. Ia mengatur nafasnya yang memburu karena kalimat ayahnya. Sungguh Grey tidak berniat melirik gadis manapun setelah patah hati yang dialaminya. Baginya mengumpulkan uang adalah hal terpenting. Dengan kekuasaan dan kekayaan yang dimilikinya, ia bisa mendapatkan gadis manapun. Tapi sepertinya Grey tidak tertarik.
"Apa yang akan dikatakan Nisha jika dia tahu hidupku seperti ini?" Grey menuang kembali wine dalam gelasnya kemudian meneguknya hingga tandas.
Grey mulai kehilangan kesadaran. Tapi ia masih ingat jelas kenapa ia harus mengambil langkah ini. Jika saja Grey tak memutar otaknya, mungkin bisnis klab malam yang dirintis ayahnya sudah gulung tikar. Semua berkat Grey. Seperti kata Alfred. Semua berkat inovasi yang dilakukan Grey.
.
.
.
*Flashback*
Sekitar enam bulan lalu,
"Apa lagi ini?" Grey menggeram kesal karena lagi-lagi ia mendapat laporan dari Black.
"Tuan, pelanggan kita komplain. Ini sudah yang ke puluhan kali."
"Astaga! Sebenarnya apa yang dilakukan Daddy ku hingga dia membuat klab kita hampir hancur. Bukankah dia bilang klab kita adalah yang terbaik di kota ini."
"Maaf, Tuan. Sepertinya ada yang berusaha menyaingi ketenaran klab kita. Pelanggan merasa jika pelayanan yang mereka dapat tak sepadan dengan uang yang mereka keluarkan."
"Sial! Kita harus cari cara lain, Black."
"Baik, Tuan."
.
.
-The Devil Club-
"Bawa kemari gadis yang melamar kerja tadi!"
"Baik, Tuan." Black undur diri dan memanggil gadis muda yang ingin bekerja di klab.
Grey meneliti dari bagian atas hingga ujung kaki gadis belia yang melamar kerja padanya. Grey membisikkan sesuatu ke telinga Black.
"Tunjukkan caramu dalam memuaskan pria!" perintah Grey.
"Eh?" Gadis itu bergeming. Sedetik kemudian dia mulai bergerak lincah dengan menari-nari ero'tis didepan Grey.
"Cukup! Bagaimana performamu diatas ranjang?"
"Jadi, Tuan..."
"Jangan banyak bertanya! Lakukan saja! Bukankah kau melamar kerja disini untuk memuaskan hasrat para pria kaya?"
"Eh? Ah iya, Tuan."
Black membisikkan sesuatu ke telinga Grey.
"Aku tahu ini aneh, Black. Tapi hanya dengan cara ini kita bisa tahu mana kualitas yang bagus dan yang tidak. Wanita-wanita yang bekerja disini harus sudah memiliki keahlian diatas rata-rata. Hanya itu yang bisa membuat klab kita kembali berjaya."
"Baik, Tuan."
"Cepat cari anak buahmu yang bersedia menjadi sukarelawan disini." titah Grey.
"Baik, Tuan." Black segera keluar dan memanggil satu orang anak buahnya.
"Ba-baik, Tuan. Bagaimana cara seleksinya?"
"Cukup mudah, Nona. Tunjukkan jika kau bisa memuaskan pria diatas ranjang."
"Hah?" Mata gadis itu membulat sempurna.
"Tuan, ini Andrew. Dia yang akan menjadi sukarelawan," ucap Black membawa seorang anak buahnya.
"Baiklah, Nona. Mainkan adegan ranjang didepanku bersama Andrew." Perintah Grey.
Tiga puluh menit telah berlalu dan gadis itu bermain cantik bersama Andrew di depan Grey dan Black. Namun ketika adegan semakin panas, Black undur diri karena merasakan sesuatu mengeras di bawah sana. Black segera menuju kamar mandi.
Grey menggeleng pelan. Andrew dan gadis itu terkulai lemas diatas ranjang.
"Baiklah, kau diterima Nona. Mulai besok bekerjalah dengan sangat baik seperti malam ini."
Gadis muda itu mengangguk lalu memunguti pakaiannya. Setelah gadis itu pergi, Black kembali menemui Grey.
"Astaga, Black! Baru melihat begitu saja kau sudah panas, huh?"
"Tuan! Apa tuan tidak terpancing sedikitpun dengan adegan yang mereka pertontonkan tadi? Gadis itu sangat lihat diatas ranjang."
"Cih, kau bisa membayarnya nanti jika kau menginginkan kehangatan darinya."
"Atau jangan-jangan..."
"Jangan berpikir jika aku adalah penyuka sesama jenis. Aku hanya tidak tertarik dengan gadis ja'lang macam tadi."
Black terdiam dan tak menjawab lagi. Memang cukup aneh bagi Black karena tuannya ini seakan tak tertarik pada wanita. Black merasa jika tuannya menutup diri dari jatuh cinta.
"Sebenarnya apa yang terjadi dengan Tuan Grey saat tinggal di Indonesia? Kenapa dia berubah begini?" Black hanya bisa memendam semua pertanyaan itu dalam hatinya.
Beberapa bulan kemudian, pemasukan klab 'The Devil' makin meningkat namun tidak terlalu drastis. Grey kembali memutar otak agar bisa menambah pendapatan klab. Sebenarnya Grey tak mau ambil pusing dengan itu karena dirinya juga memiliki perusahaan sendiri yang terus berkembang pesat seiring berjalannya waktu. Tapi, masalah klab malam juga tak bisa ia kesampingkan.
"Black, bagaimana kalau kita buat sebuah seleksi yang cukup menarik agar para ja'lang profesional melamar pekerjaan di klab kita."
"Bagaimana caranya, Tuan?"
Grey meminta Black mendekatkan telinganya. Grey membisikkan sesuatu.
"Hah?! Tuan yakin? Bukankah itu adalah pembohongan publik?"
"Ssttt!!! Kau tenang saja. Rumor akan segera beredar dan itu akan menguntungkan kita. Bagaimana?"
"Lalu, siapa yang akan menjadi pemeran pengganti untuk Tuan?"
"Kau bisa melakukan undian, Black. Atau kau yang ingin menggantikanku dalam seleksi?" seringai Grey terlihat menyeramkan.
"Hah?! Tuan bisa saja!" Black menggaruk tengkuknya. "Kenapa Tuan bersedia melakukan ini?"
"Aku tidak melakukan semuanya, Black. Hanya sebagian saja. Aku merelakan bibir seksiku ini untuk mereka lu'mat sebelum akhirnya pemeran pengganti menggantikanku."
"Baik, Tuan. Aku akan segera menyebarkan rumor ini. Semoga cara ini bisa berhasil."
"Tentu, Black. Aku sangat yakin. Siapa yang berani menolak pesona seorang Grey Ardana Putra?" Ucap Grey sombong dengan mengusap dagunya.
......***......
Pagi harinya, Grey terbangun dan memegangi kepalanya yang berdengung. Semalam setelah ia minum bersama ayahnya, ia kembali ke kamar dan tak sempat mengganti bajunya. Ia langsung merebahkan dirinya keatas ranjang.
Bayangan senyuman Nisha menari-nari di otaknya. Semalam selagi mabuk, Grey terus meracau menyebut nama Nisha, wanita yang ia cintai yang ternyata adalah istri pria lain.
Grey segera masuk ke dalam kamar mandi dan membersihkan diri. Dua puluh menit sudah cukup untuknya untuk bersiap dan turun ke meja makan menemui ayahnya.
"Grey! Akhirnya kau turun juga. Kemarilah, Nak!" sapa Alfred.
Grey duduk berhadapan dengan Alfred di meja makan. Pelayan menyiapkan sarapan pagi untuk Grey.
"Grey, Daddy harus pergi ke Indonesia," ucap Alfred.
"Apa Indonesia? Kenapa tiba-tiba?" tanya Grey jengah.
"Nenekmu sakit. Daddy harus segera kesana."
"What?! Nenek sakit? Kalau begitu biar aku saja yang kesana."
"No, Grey. Kali ini Nenekmu meminta Daddy yang menemaninya."
"Tapi, Dad... Selama ini Nenek tinggal bersamaku. Pasti dia ingin aku disampingnya."
"Tidak, Nak. Biarkan Daddy berbakti pada nenekmu kali ini."
Grey berdecih. "Kemana saja Daddy selama ini? Saat nenek sakit begini Daddy baru peduli padanya."
"Maafkan Daddy. Selama ini Daddy terlalu fokus pada perusahaan saja dan tidak memperhatikan nenekmu. Maka dari itu, tolong maafkan Daddy. Dan Daddy minta kau urus semua urusan perusahaan bersama Todd dan Black. Daddy yakin kau pasti bisa."
Grey tidak menjawab. Percuma saja membantah. Ia akan tetap kalah.
"Oh ya, dan satu lagi. Tolong kau hadiri undangan pesta pernikahan keponakan rekan bisnis Daddy."
"What?! Apa tidak cukup aku harus mengurus perusahaan? Sekarang harus datang ke pernikahan orang yang tidak kukenal."
"Tolonglah, Nak. Keluarga Gerardo sudah lama menjadi rekan bisnis Daddy. Daddy ingin kau juga berteman dengan keluarga itu."
Grey memutar bola matanya malas. "Terserah Daddy saja."
"Lagipula pernikahan mereka akan diadakan di resort buatan milik keluarga Gerardo yang dekat dengan lokasi klab malam kita. Kau masih bisa memantau bisnismu dari hotel di resort itu. Bagaimana?"
Dengan malas Grey menjawab. "Hmm, baiklah. Daddy jangan khawatir. Aku pasti akan datang ke acara pernikahan itu."
"Berjanjilah, Grey! Daddy akan tahu jika kau mencoba untuk tidak datang ke pernikahan keluarga Gerardo."
"Iya, Dad. Aku benar-benar akan datang kesana! Lalu, berapa lama Daddy tinggal di Indonesia?"
"Entahlah, Nak. Mungkin hingga kondisi nenekmu benar-benar stabil."
"Cobalah untuk membujuk nenek agar mau pindah kemari bersama kita."
"Baiklah, akan Daddy usahakan. Pesawat Daddy sebentar lagi berangkat. Daddy harus pergi sekarang. Good luck, son. Daddy percaya padamu." Ucap Alfred sambil melewati Grey dan menepuk pelan bahunya.
Grey tidak menjawab dan melanjutkan menyantap sarapan paginya.
#bersambung
*jejak dukungan jan lupa yak kesayangan mamak 😘😘