Raanjhana

Raanjhana
Trapped by Cold CEO : 02. Anastasia Gerardo




...***...


Paris, Perancis


Disebuah apartemen yang tidak terlalu mewah, seorang gadis muda dan cantik berusia 22 tahun kini tengah bersiul gembira sambil merapikan barang-barangnya kedalam tas besar. Setelah kurang lebih empat tahun menempuh pendidikan di kota yang khas dengan menara Eiffel nya, Anastasia Gerardo, atau akrab disapa Ana ini kini akan kembali ke negara asalnya, Inggris setelah menyelesaikan studinya sebagai seorang desainer.


Sejak dulu Ana sangat suka dengan fashion meskipun perusahaan ayahnya tidak bergerak di bidang itu. Tekad Ana makin bulat kala ayahnya, Alfonso Gerardo, menyetujui untuk melepasnya jauh dari rumah. Maklum, Ana adalah anak rumahan yang selalu patuh pada kedua orang tuanya. Ibunya sudah meninggal sejak Ana berusia 15 tahun. Kini Ana tinggal bersama ayah dan adiknya, Alvin Gerardo yang berusia 18 tahun.


Ponsel Ana berdering. Sebuah panggilan video dari sepupunya, Jessline. Ana mengembangkan senyumnya sebelum menekan tombol hijau.


"Hai, darla..." sapa Jessline.


"Hai, Jess. Apa kau sudah tidak sabar ingin bertemu denganku, huh?"


"Oh, darla. Aku sangat merindukanmu. Kau benar-benar akan pulang dan tidak akan pergi lagi, 'kan?"


"Iya, Jess. Jangan khawatir. Perjalanannya hanya satu jam mungkin lebih sedikit. Bagaimana persiapan pernikahanmu dengan Mike?"


"Itulah kenapa aku menunggumu. Aku tidak mau menikah tanpa didampingi olehmu."


Ana terkekeh. "Jessline sayang, aku pasti akan datang di pesta pernikahanmu. Kau tenang saja. Sudah dulu ya! Aku harus segera pergi ke bandara. Dan jangan lupa untuk menjemputku. Okay?"


"Siap, Nona. Sampai bertemu nanti."


Sambungan video berakhir. Ana kembali memeriksa apakah ada barang yang belum ia bawa. Ana tersenyum lega karena ternyata semua barang telah ia bawa.


"Daddy, Alvin, aku pulang..." gumam Ana dengan senyum manisnya.


......***......


London, Inggris


Ana turun dari pesawat dan mencari keberadaan sepupunya yang berjanji akan menjemputnya. Ana berlari kecil menuju ruang tunggu disana. Ana tersenyum gembira setelah melihat sosok sang calon pengantin.


"Jessline!!!" seru Ana heboh.


"Ana!!!" Teriak Jessline tak kalah heboh.


Mereka berdua saling berpelukan dan berteriak girang. Bahkan mereka tak memperhatikan jika mereka sedang menjadi pusat perhatian. Jessline meminta sopir untuk membawakan barang-barang milik Ana. Sementara dirinya ingin mengajak Ana berjalan-jalan mengelilingi kota London.


"Jalan-jalannya besok saja, Jess. Aku sudah sangat merindukan ayah dan rumah," ucap Ana.


"Hmm, baiklah, Nona. Marc, kita langsung ke mansion Uncle Alfonso saja," titah Jessline pada sopirnya.


"Baik, Nona."


"Jess, kau punya sopir baru ya? Dia kelihatan lebih muda dari sopirmu yang dulu," bisik Ana ke telinga Jessline.


Jessline terkekeh. "Kau ini bisa saja! Dia seusia kita kok."


Ana hanya manggut-manggut mendengar jawaban Jessline.


Sekitar 30 menit perjalanan menuju mansion Keluarga Gerardo yang mewah dan besar itu. Keluarga Gerardo memang bukan keluarga asli dari negara ini. Alfonso Gerardo merantau ke negara ini dan berhasil membangun kerajaan bisnisnya di beberapa bidang.


"Daddy!!! Alvin!!!" seru Ana ketika mulai memasuki mansion mewah ayahnya.


Ana mengernyit heran karena mansion itu nampak sepi. "Hmm? Kemana semua orang?" gumamnya.


Ana makin melangkahkan kakinya memasuki ruang keluarga.


"Surprise!!!" teriakan Alvin berhasil mengagetkan Ana.


Disana sudah berkumpul ayah dan juga Alonso, adik ayahnya yang adalah ayah Jessline.


"Daddy!!!" Ana menghambur memeluk Alfonso.


"Apa kabarmu, Nak?" tanya Alfonso.


"Aku baik, Dad. Uncle Alonso?" Ana beralih pada pamannya yang juga sudah ia anggap seperti ayah baginya.


Usai saling melepas rindu, mereka berkumpul di ruang makan. Sudah waktunya makan siang. Ana senang sekali bisa merasakan berkumpul bersama keluarganya.


Ayah Ana hanya memiliki satu saudara yaitu Alonso yang tinggal berbeda mansion dengan keluarga Ana. Alonso juga seorang duda sejak istrinya meninggalkannya dan juga Jessline saat masih kecil. Bukan karena meninggal seperti ibu Ana. Namun entah karena apa, sampai sekarang Alonso menyimpannya rapat-rapat. Ia fokus mengurus putri semata wayangnya yang kini telah tumbuh dewasa.


Usai makan siang, Ana dan keluarganya berkumpul di ruang keluarga.


"Setelah menyelesaikan pendidikanmu kau ingin bekerja dimana, Ana?" tanya Alonso.


"Benar, Nak. Apa kau ingin bekerja di perusahaan Daddy atau Unclemu?" sahut Alfonso.


"Ish, Daddy. Aku tidak ingin bekerja di perusahaan Daddy ataupun Uncle Alonso. Aku ingin berusaha sendiri dari nol. Setelah itu aku akan membangun bisnisku sendiri," jawab Ana yakin.


"Hahaha, Kak, putrimu ini memang memiliki tekad yang kuat, tidak seperti Jessline yang maunya bersenang-senang terus."


"Daddy! Aku tidak begitu. Bukankah aku juga membantu di perusahaan Uncle Alfonso?" Jessline membela diri dengan mengerucutkan bibirnya.


Ana dan anggota keluarga lainnya tertawa.


"Sudah ah, aku akan menelepon Mike dulu. Aku sangat merindukannya hari ini." Jessline meninggalkan ruang keluarga.


Ana menggeleng pelan.


"Setelah kau meniti karir, jangan lupa kau juga harus cari jodoh seperti Jessline. Daddy ingin kau juga segera menikah." ujar Alfonso.


"Daddy! Aku tidak ingin menikah muda seperti Jessline." sungut Ana.


"Daddy, bagaimana kakak akan menikah, kekasih saja tidak ada. Hahahah." kini si kecil Alvin yang menimpali.


Ana melempar bantal sofa kearah Alvin. "Kau! Kakak bukannya tidak memiliki kekasih. Tapi kakak memilih tidak berhubungan dengan pria sebelum kakak mencapai kesuksesan."


"Ah, itu hanya pembelaan dari kakak saja!" Alvin kembali tertawa. Ia memang sangat suka menggoda kakaknya yang terpaut 4 tahun dengannya.


"Sudahlah. Kalian semua selalu menggodaku. Aku akan menyusul Jessline saja." Kesal Ana kemudian menyusul Jessline yang sedang saling melepas rindu dengan Mike, calon suaminya.


Ana hanya pulang sekali dalam setahun. Itupun jika ia memang tidak sibuk. Jika tidak ada jam kuliah, Ana memilih bekerja paruh waktu di beberapa desainer ternama di Paris. Tentu saja itu sebagai batu loncatan untuknya.


Disisi lain, seorang pria dan wanita sedang asyik bercumbu di bagian lain di teras belakang. Posisi mereka dekat dengan Ana namun Ana tak bisa melihat mereka karena tertutup dinding. Dua orang itu adalah Jessline dan Marc, supir Jessline.


Mereka saling menyesap dan mengeluarkan suara lenguhan kenikmatan kala bibir mereka beradu.


"Nona, hentikan!" Marc mulai menguasai diri.


"Kenapa, Marc? Bukankah kau menginginkannya?"


"Nona, kau akan menikah. Sebaiknya kita akhiri saja hubungan ini."


Jessline tampak kesal. "Dengar, kau bisa mendapat pekerjaan bagus ini karena diriku. Aku tahu kau juga menginginkanku, bukan?"


"Tapi bukan seperti ini caranya, Nona. Kau akan menikah."


Jessline terkekeh. "Menikah hanyalah caraku untuk berbakti pada Daddyku. Mike tidak berarti apapun."


"Nona yakin?"


"Sudahlah. Sebelum aku menikah, kita masih bisa bersama. Okay?"


Jessline kembali meraih bibir tebal Marc yang selalu menggodanya. Marc hanyalah seorang pria biasa yang entah kenapa membuat Jessline bergetar saat pertama kali melihatnya. Bukan berarti dia tidak mencintai Mike. Tentu dia mencintai pria kaya itu yang dipilihkan oleh ayahnya. Namun ia masih ingin mencoba sesuatu yang lain untuk menambah kecepatan adrenalinnya. Bukankah selingkuh membuat hati berdebar-debar?


Jessline semakin panas dengan cumbuan Marc. Ia mengeluarkan suara khasnya yang merdu ketika sedang bercinta. Entah sejak kapan Marc menyingkap dress milik Jessline dan membuka segitiga pengamannya hingga turun ke bawah.


"Marc, aaaah..."


"Jangan salahkan aku, Nona. Kau yang menginginkan ini, bukan?"


"Aahh, yes. Yes, Marc. I want it. Cepat masukkan!"


Dengan posisi masih berdiri, Marc memasuki tubuh Jessline yang sudah bobol oleh Mike jauh sebelum mereka merencanakan pernikahan. Mereka memang dijodohkan, tapi Jessline tak bisa menolak pesona Mike yang tampan dan kaya itu. Jessline menyerahkan hal berharganya kepada pria yang akan menikahinya tiga hari lagi.


Suara erangan dan desa'han terdengar di telinga Ana. Ia membulatkan mata dan bertanya siapa yang siang-siang begini sedang bercumbu?


Ana menajamkan pendengarannya. Ia mengenali suara sang wanita.


"Itu seperti suara... Jessline?" Ana menutup mulutnya.


Ana menyusuri teras belakang dengan berjalan hati-hati.


"Jess!!!" panggil Ana. "Apa itu kau?"


Ana melangkahkan kakinya perlahan. Teras belakang ini memang sepi dan jarang asisten yang kesini kecuali ingin merapikan bunga-bunga disana.


"Nona Ana!"


"Astaga!"


"Maaf jika mengagetkan Nona. Tuan Alfonso mencari Nona." ucap seorang pelayan di mansion bernama Matilda.


"Ah, baik Bibi Matilda. Aku akan segera kesana." Ana tidak mendengar suara itu lagi dan segera berlalu meninggalkan teras belakang.


Ana tiba kembali di ruang keluarga dan melihat Jessline sudah duduk disamping ayahnya.


"Lho, Jess? Kau sudah disini?" tanya Ana bingung.


"Yeah. Dari tadi aku disini." jawab Jessline santai. Meski dalam hati ia merutuki Ana karena telah menganggu hasratnya dengan Marc yang belum tuntas.


"Oh, begitu." Ana mengangguk dan menganggap jika suara yang ia dengar adalah salah.


"Ana..." panggil Alfonso yang membuat Ana menoleh pada ayahnya.


"Iya, Dad."


"Jika kau ingin bekerja di perusahaan desain, Daddy memiliki kenalan. Anak teman Daddy memiliki perusahaan desain yang cukup terkenal di kota ini. Kalau tidak salah namanya GAP Design. Jika kau mau Daddy akan kenalkan kau dengan teman Daddy lalu kau bisa mulai melamar pekerjaan disana."


Ana menghela nafasnya. "Dad, aku sangat berterimakasih karena Daddy ingin membantuku. Tapi sungguh, aku ingin memulai semuanya dari awal. Bukan dengan bantuan Daddy. Kumohon!" Ana meminta dengan puppy eyes andalannya.


"Kau ini! Sejak kecil tidak pernah ingin memdapat bantuan dari orang lain. Sekali kali 'kan tidak apa, Ana."


"Aku mengerti, Dad. Baiklah. Aku akan melamar pekerjaan disana. Di perusahaan anak teman Daddy. Tapi jangan katakan pada mereka jika aku adalah putri Daddy. Aku ingin mereka menerimaku bekerja bukan karena nama besar keluargaku, tapi karena prestasi dan hasil kerja kerasku sendiri. Apa Daddy paham?"


Alfonso tertawa renyah dengan tekad putrinya itu.


"Baiklah. Kau akan berusaha sendiri tanpa bantuan Daddy. Daddy janji tidak akan membantumu."


Ana tersenyum lebar dan memeluk ayahnya. "Terima kasih, Daddy."


#Bersambung...


Genks, sebenarnya aku agak gimana gitu kalo suruh kasih visual2. Tapi entah kenapa kepengan aja di kisah ini ada visualnya. hihihihi.


aku ambil visual Grey dari model anime2 gitu sih, entah kenapa sukak aja dengan tampilan wajah dinginnya.



...GREY ARDANA PUTRA...


kalo untuk Ana aku kasih visualnya si pemeran Bella Swan yak genks. Tau deh kenapa. kayaknya muka cantiknya menghiasi imajinasiku pas nulis part Ana ini. hehehe



...ANASTASIA GERARDO...


Gimana gimana, kaleyan suka gak? 😅😅😅


jangan lupa jejak dukungannya ya genks 😘😘


Terima kasih