
Reza Rahadian, pria matang berusia 31 tahun yang sudah menduda selama dua tahun terakhir. Ia memang dikenal sebagai pemain hati wanita, karena saat kuliah dulu, tidak ada wanita yang berani menolaknya.
Saat ini Reza bekerja sebagai asisten sekaligus sekretaris untuk seorang CEO Adiguna Grup. Sudah cukup lama sejak ia merasakan jatuh cinta untuk yang terakhir kali yaitu untuk mantan istrinya.
Hubungan yang diawali dengan perselingkuhan itu nyatanya tak bisa berlangsung lama. Reza menjadi duda karena istrinya bermain belakang bersama pria lain. Mungkin ini adalah balasan untuknya karena pernah menyakiti hati wanita.
Sekarang pun rasanya imej itu terus melekat padanya. Bahkan ketika ia mengenal seorang gadis yang notabene sekretaris sahabat bosnya, tapi hal lain justru terjadi padanya. Seumur hidup Reza hanya pernah ditolak oleh dua wanita, yang pertama adalah Navisha, mantan kekasihnya, dan yang kedua adalah Nirmala, atau akrab dipanggil Lala.
Saat hatinya tak bisa lagi meraih Navisha, Reza memilih Lala untuk ia taklukkan. Sikap Lala yang judes padanya, nyatanya tak menyurutkan niat Reza untuk mengejarnya. Hmm, meski sudah menjadi duda, ternyata Reza memang tetap pemain hati.
Setelah kejadian tak menyenangkan antara Reza dan Lala beberapa waktu lalu, kini Lala makin menjaga jarak. Ditambah, kini Reza makin sering berkeliaran di kantor Lala akibat adanya kerjasama bisnis yang dilakukan kedua bos mereka. Itu membuat Lala makin illfeel jika harus berdekatan dengan Reza meski hanya sekedar profesionalitas kerja.
"La, tunggu, La!" Reza mencoba bicara dengan Lala setelah kejadian dirinya yang menyakiti Lala secara tak sengaja.
"Apaan sih? Aku lagi kerja! Jangan ganggu-ganggu deh!"
"La, aku minta maaf. Please, maafin aku!" Reza mengeluarkan jurus puppy-eyesnya.
"Ah, sudahlah. Aku tidak ingin membahasnya! Pergilah sana! Bukankah tadi Pak Bian mencarimu?"
"Pak Bian? Mencariku? Serius kamu, La?"
Lala memutar bola matanya malas. "Terserah saja kalau tidak percaya!"
Lala segera pergi. Sungguh ia tak ingin berlama-lama dengan Reza.
......***......
Reza berkutat kembali dengan pekerjaannya. Menjadi asisten Bian tak bisa serta merta dianggap remeh. Reza bahkan sudah seperti istri kedua untuk bosnya.
Karena ia dan Bian adalah tamu untuk Zayn Buliding, maka pihak Zayn memberi ruangan khusus untuk Bian dan Reza.
Suatu ketika, Reza bertemu dengan Navisha dan meminta tolong padanya.
"Nav, tolong bantu aku!" pinta Reza.
"Bantu? Bantu apa?"
"Comblangkan aku dengan Lala!"
"Apa!! Apa kau sudah tidak waras?"
"Tentu saja aku waras, Nav. Ayolah! Kamu 'kan paling dekat dengan Lala."
Nav menggeleng pelan. "Tidak, Rez. Aku tahu kau hanya ingin mempermainkan Lala. Kau selalu begitu. Saat mengejar seseorang yang membuatmu terobsesi, kau begitu bersemangat. Lalu setelah mendapatkannya, kau mencampakkannya begitu saja."
Reza menggeleng. "Aku tidak seperti itu, Nav. Aku sedang berusaha menjadi lebih baik. Kumohon, Nav! Ayolah! Aku tak seburuk yang kau pikir!"
"Tidak! Lala sudah seperti adik untukku. Lagipula sebentar lagi Lala akan menikah. Jadi sebaiknya kau cari wanita lain saja." Nav tidak peduli lagi pada Reza dan memilih pergi.
Sepeninggal Nav, Reza mematung mendengar kalimat terakhir Navisha.
"Menikah? Apakah benar Lala akan menikah? Dia memang sudah bertunangan, tapi... Kenapa secepat ini? Tidak! Aku tidak bisa membiarkannya."
Reza segera mencari keberadaan Lala. Ia menuju ke ruangan Lala namun siempunya tempat tidak ada disana.
"Hmm, kemana dia? Tak biasanya dia tidak ditempat." gumam Reza.
Reza berjalan keluar dari ruang Lala dan sekelebat melihat bayangan Lala yang sedang berjalan menuju pantry. Reza segera mengendap-endap di belakang Lala.
Lala ternyata tidak sadar jika dirinya tengah diikuti. Dengan santainya ia menuju pantry dan membuat kopi disana.
"Hooaamm! Padahal ini belum terlalu siang, kenapa rasanya mengantuk sekali?" gumam Lala.
"Mungkin karena kau terlalu banyak begadang untuk memikirkanku!" sebuah suara berbisik tepat di telinga Lala dan membuatnya meremang. Ia tahu siapa pemilik suara itu.
"Kau! Apa yang kau lakukan disini?!" tanya Lala ketus.
"Sstt!! Jangan berisik! Aku harus bicara denganmu!"
"Tidak mau! Untuk apa aku bicara denganmu? Memangnya apa yang harus dibicarakan? Kita tidak sedekat itu untuk saling bicara! Minggir!!"
Reza menghalangi jalan Lala.
"La, ayolah! Aku hanya ingin bicara sebentar saja!"
Reza mulai hilang kesabaran. Ia merebut cangkir kopi ditangan Lala dan meletakkannya di meja. Ia menarik tangan Lala ke belakang lemari yang ada di pantry.
Lagi-lagi Reza memaksa dan menghimpit tubuh Lala di belakang lemari.
"Dasar pemaksa! Lepaskan aku!"
"Tidak! Sebelum aku bicara! Apa benar kau akan menikah?"
"Kalau iya kenapa? Tidak ada hubungannya denganmu 'kan?"
Saat mereka berdebat di dalam pantry, sebuah suara memanggil nama Lala. Itu adalah suara Navisha.
"La! Lala! Kemana sih dia?" Navisha memasuki pantry dan tak melihat sosok Lala. Ia hanya melihat secangkir kopi di meja.
"Kemana dia? Lha ini ada kopi disini tapi orangnya tidak ada. La! Lala!"
Navisha menyusuri ruang kecil itu untuk mencari keberadaan Lala. Sementara Lala mulutnya di bekap oleh Reza yang memintanya diam.
"Diamlah! Atau Nav akan menemukan kita sedang dalam posisi intim ini."
Lagi-lagi Reza berbisik dan membuat bulu roma Lala meremang saat merasakan hembusan nafas Reza.
"Ya Tuhan! Bagaimana bisa aku terjebak disini dengan pria pemaksa ini?" batin Lala.
Tak lama setelahnya, Nav keluar dari ruang pantry karena tak menemukan Lala.
Reza mulai memundurkan tubuhnya yang menghimpit Lala. Ia melihat mata Lala terpejam. Ia pun tersenyum.
"Ternyata dia lucu juga saat terpejam begitu. Tapi, apa maksudnya memejamkan mata? Apa dia berharap aku menciumnya?" batin Reza sambil terkekeh geli.
PLETAK!
Reza menyentil kening Lala, dan seketika membuat Lala membuka mata lalu memekik kesakitan.
"Apa yang kau lakukan? Kenapa memukulku?"
"Kau yang kenapa! Kenapa sampai menutup matamu? Apa kau berharap aku menciummu, hah?!"
"A-apa katamu?!" wajah Lala bersemu merah. "Tentu saja tidak!" jawab Lala yakin.
"Ish ish ish! Aku baru tahu ternyata kau mesum juga ya!"
"Apa!!! Berani sekali kau!!!" Lala amat marah karena dirinya disebut mesum.
"Ah, sudahlah, La. Bilang saja jika kau memang berharap aku menciummu. Iya 'kan? Iya dong!" Reza menaik turunkan alisnya dan itu makin membuat Lala murka.
Lala mendorong tubuh Reza agar menjauh darinya. Wajahnya sudah merah padam karena malu dan marah.
Dengan kesalnya, Lala keluar dari pantry dan meninggalkan kopinya. Sedangkan Reza, dia malah tertawa karena melihat tingkah lucu Lala.
"Lala, Lala. Belum dicium saja sudah semarah itu. Bagaimana kalau tadi aku benar-benar menciumnya? Dia pasti akan mencincangku." Reza menggeleng pelan kemudian mengambil cangkir kopi yang ada di meja. Ia menyeruput kopi buatan Lala.
"Hmm, enak juga. Kau memang pantas dijadikan istri, La. Sayang aku tak punya kesempatan itu." gumam Reza lalu menghabiskan seluruh kopi yang ada di cangkir.
......***......
#bersambung
Jangan lupa tinggalkan jejak ya kesayangan 😘😘
👍LIKE
💋COMMENTS
🌹GIFTS
💯VOTE
...THANK YOU...
Reza versi mak thor 😬😬