
Fendi berdiri menatap gedung-gedung tinggi yang sejajar dengan tempat berdirinya sekarang. Pikirannya masih tak lepas dari gadis masa lalunya yang selalu menggelayuti hatinya. Gadis kecil dari masa lalunya yang bernama Hanindiya. Fendi merasa bersalah selama bertahun-tahun karena tak menepati janjinya.
Hingga belasan tahun berlalu, rasa bersalah itu semakin besar karena tak tahu keberadaan gadis yang ia cintai itu. Cinta? Terlalu dini saat dulu Fendi mengucap kata cinta. Dulu di ibaratkan sebuah kata sayang seorang kakak kepada adiknya.
Kini gadis itu sudah tumbuh dewasa, mungkin. Fendi tidak tahu seperti apa rupa gadisnya itu. Tapi melihat masa kecil si gadis yang berwajah cantik. Pasti kini gadis itu makin cantik dan matang.
"Tuan!" panggil Ahdan.
"Ah, kau! Ada apa?"
"Saya sudah mendapat informasi tentang yang Tuan cari."
"Apa itu?"
"Silahkan Tuan baca sendiri berkasnya."
"Semoga pekerjaanmu kali ini tidak mengecewakan, Ahdan."
"Tentu, Tuan Muda."
Fendi segera membuka sebuah amplop besar yang diberikan Ahdan. Fendi tersenyum puas dengan kerja anak buahnya.
"Jadi, kau sudah menemukannya?" senyum seringai Fendi menandakan kepuasan.
"Hanindiya Agung? Sejak kapan namanya berganti menjadi Hanindiya Agung?" Kini Fendi menunjukkan amarahnya. Pemuda ini memang paling tidak bisa untuk mengontrol emosinya.
"Maaf, Tuan. Tapi itulah kenyataannya. Gadis yang Tuan cari selama ini diasuh oleh pria bernama Dirgantara Agung."
"Brengsek!!!" Fendi menggebrak meja.
"Jadi selama ini dialah yang sudah menyembunyikan Diya-ku!! Tidak akan kubiarkan dia hidup! Kau tahu, aku mencari kesana kemari dan selalu mendapat jawaban buntu. Dan ternyata semua ini karena ada campur tangan seorang Dirgantara Agung! Berani sekali dia melakukan ini padaku! Duda tua itu!!!" Fendi mengepalkan tangannya.
"Tuan! Mohon maaf, tapi..."
"Tapi apa?!" bentak Fendi.
"Nona Hanindiya yang Tuan cari kini sudah menikah."
"Apa katamu?! Jangan bicara omong kosong! Diya sudah berjanji akan menungguku dan Diya hanyalah milikku! Apa kau tahu itu?!"
"Maaf, Tuan. Saya hanya memberitahu yang sebenarnya. Sebaiknya Tuan tidak perlu mencarinya lagi."
"Apa kau bilang? Enak saja kau bicara! Jika Diya tidak bisa kumiliki, maka siapapun juga tidak bisa memilikinya. Ingat itu, Ahdan!!!"
Ahdan hanya menggeleng pelan.
"Siapa suaminya?"
Ahdan menghela nafas. "Tuan sebaiknya baca baik-baik semua berkas yang saya berikan."
Fendi berdecak kesal dan kembali membaca lanjutan berkasnya.
"Sialan!!! Apa ini? Jadi pria itu yang sudah berani menikahi Diya-ku! Kita lihat saja sejauh mana kemampuannya akan bertahan." Fendi menatap tajam ke arah Ahdan.
Ahdan tidak bisa mengelak jika tuannya sudah menetapkan keputusan.
Sepertinya akan terjadi hal buruk pada Nona Diya. Bagaimana ini? Aku juga tidak bisa menghentikan Tuan Muda. Dia selalu menggunakan kekerasan untuk menyelesaikan masalah.
Ahdan menghembuskan nafas kasar.
...***...
"Jadi, pemuda yang selama ini mencari Nyonya adalah Tuan Fendi?" tanya Alman, asisten Dirga.
"Iya, Al. Selama ini aku menutupi keberadaan Diya dari pemuda itu. Tapi kini pemuda itu memiliki kekuasaan yang cukup kuat. Aku tidak tahu harus bagaimana mengikat Diya agar tidak pergi dari sisiku." ucap Dirga dengan memijat pelipisnya.
"Seharusnya sejak awal Tuan mengatakan kebenarannya pada Nyonya Diya."
"Kau benar. Saat itu aku hanya takut jika Diya akan meninggalkanku. Aku takut kembali ditinggalkan, Al."
Alman merasa kasihan pada bosnya itu. "Jika masih ada waktu, sebaiknya Tuan katakan yang sebenarnya. Sebelum semuanya terlambat."
"Dengan senang hati, Tuan."
...***...
Diya baru saja keluar dari kelas kuliahnya. Ia berjalan bersama Echa menuju tempat parkir.
"Mau kemana kita, Ya?"
"Entah. Terserah kau saja. Aku masih ada waktu sebelum Om Dirga pulang."
"Oke! Kita ke kafe saja. Aku sedang ingin minum cappuchino."
"Kau ini! Macam orang nyidam saja!" Diya terkekeh geli.
"Diya..." Sebuah suara membuat Diya mengurungkan niatnya membuka pintu mobil Echa.
"Siapa ya?" Diya merasa tak mengenal pria yang ada didepannya ini.
"Ini aku, Fendi."
"Hah?! Fendi?" Diya nampak berpikir.
"Iya, aku Fendi Leonardo. Teman masa kecilmu."
"Kak Fendi?" Diya mulai mengenali Fendi.
"Akhirnya aku menemukanmu, Diya." Tanpa aba-aba Fendi langsung memeluk Diya.
"Eh?!" Diya sangat terkejut dengan sikap Fendi.
"Kak... Tolong lepaskan! Ini tempat umum!" pinta Diya.
"Maaf ya. Aku terlalu senang karena bertemu denganmu."
Diya tersenyum gugup. Diya melirik kearah Echa yang seakan bertanya, siapa pria ini?
"Diya, bisakah aku bicara denganmu? Sudah lama sekali kita tidak bertemu." ucap Fendi meminta dengan tulus.
"Umm...?" Diya nampak bingung. Diya berpikir sejenak.
"Baiklah. Aku akan ikut dengan kakak. Echa, aku akan pulang dengan Kak Fendi. Kau tenang saja. Aku mengenalnya kok."
Tanpa bisa mencegah, Echa hanya bisa mengangguk. Ia melihat Diya mulai masuk kedalam mobil mewah milik Fendi.
"Lama tidak berjumpa denganmu, Diya..." Fendi berusaha mencairkan suasana.
"I-iya. Dari mana kakak tahu jika aku kuliah disana?"
"Tentu saja kakak tahu. Bahkan kakak juga tahu tentang masalah pribadimu."
"Hah?! Maksud kakak?"
"Kau sudah menikah. Benar 'kan?"
Diya menatap Fendi yang sedang fokus menyetir.
"Tenanglah. Kakak hanya ingin bicara denganmu."
Diya kembali menatap jalanan padat yang ada di depannya.
#bersambung...
*Kira-kira Diya mau dibawa kemana yak sama Fendi?
*Genks, rekomendasi novel dari othor buat kalian utk ngilangin kegabutan di masa PPKM yg terus diperpanjang,
Judul nya Takdir Gintani. karya kak Restviani.
Ceritanya ringan tapi kadang agak ngeselin karena tokoh cowoknya yg arogan. yuks kepoin, dijamin bikin nagih, mamak juga baca loh 😉😉