
Setiap hubungan pasti pernah merasakan pasang surut. Terlebih pada pernikahan. Seperti yang sedang di alami oleh Ana dan Grey. Berbeda pendapat adalah hal biasa, bukan dalam sebuah pernikahan?
Meski semalam mereka sudah menyelesaikan dengan cara damai, namun tetap saja setelah terbangun, mereka kembali dengan ego masing-masing. Mereka masih terlalu muda untuk bisa memahami apa arti pernikahan.
Ana memilih tetap diam dan melakukan rutinitasnya seperti biasa.
Sementara Grey berangkat ke kantor bersama dengan Black.
Ana merasa dirinya tak tenang setelah berdebat dengan Grey. Alfonso yang merasa jika ada yang aneh dengan putrinya, segera menegurnya.
"Ada apa, Nak? Apa ada yang sedang kau pikirkan?"
"Umm, tidak ada Dad. Jangan khawatir." Ana memaksakan senyumnya.
"Ana, jangan berbohong pada ayahmu. Apa ini mengenai kepindahan Daddy ke Belanda?"
"Eh? Tidak, Dad. Bukan karena itu." Ana melambaikan tangannya di depan ayahnya.
"Dengar, Nak. Jangan memaksakan diri menggunakan egomu. Bagaimanapun juga Grey adalah suamimu. Kau harus menuruti setiap keinginan suamimu."
"Kami belum mendaftarkan pernikahan kami, Dad."
"Lalu kapan kalian akan meresmikan pernikahan kalian?"
"Dad! Aku tahu ini aneh, tapi ... aku merasa semuanya terlalu cepat. Aku dan Grey ... kami belum terlalu saling mengenal." ucap Ana lirih.
"Tapi kalian sudah menikah, Nak. Pernikahan bukanlah hal yang main-main. Kau jangan bicara sembarangan!" Alfonso terlihat marah bicara dengan putrinya itu.
"Maafkan aku, Dad. Harusnya aku tidak mengambil keputusan secara sepihak di saat Daddy masih terbaring koma."
Alfonso mendesah pelan. "Lalu apa yang ingin kau lakukan?"
"Aku ... aku akan memikirkan lebih dulu tentang hubunganku dengan Grey. Aku juga ingin menggapai cita-citaku, Dad. Aku ingin menjadi seorang desainer." ucap Ana.
"Apa kau pikir saat menjadi istri kau tidak bisa menggapai mimpimu?"
"Dad, bukan begitu..."
"Kau benar, Nak!" suara pria paruh baya lain menginterupsi perdebatan antara ayah dan anak tersebut.
"Ana masih terlalu muda untuk bisa mengambil keputusan yang besar seperti ini. Biarkan saja mereka, Alfonso. Biarkan mereka menentukan masa depan mereka. Ana juga berhak untuk menggapai impiannya." Alfred membela keputusan Ana.
Ana tersenyum pada ayah mertuanya itu.
"Waktulah yang akan menentukan apakah cinta mereka memang layak bertahan atau tidak." imbuh Alfred.
......***......
Ana mengurus keperluan untuk kepindahannya ke Belanda bersama dengan ayahnya. Ia juga memastikan rumah yang akan mereka tempati sudah siap untuk dihuni. Tekad Ana sudah bulat untuk mendampingi ayahnya tinggal di Belanda, negara yang sama sekali belum pernah ia kunjungi.
Mungkin disana Ana akan mendapat suasana baru yang lebih membuatnya bersemangat. Banyaknya masalah yang terus mendera secara bertubi-tubi, membuat Ana ingin membuka lembaran baru di tempat yang baru. Ia berharap ada sosok Grey di kehidupannya yang baru. Namun rasanya semua itu masih sulit untuk dicapai.
Grey sendiri lebih memilih menyibukkan diri dengan pekerjaan dan tak menanggapi persiapan pindahan Ana ke Belanda.
Ego dalam hatinya terlalu besar untuk bisa saling mengungkap rasa. Beberapa kali Alfred bicara dengannya namun rasanya tak ada arti. Alfred memilih pasrah dengan kisah anaknya kelak.
"Daddy pikir kau sangat mencintai Ana, Nak. Kenapa kau tiba-tiba..."
"Dad! Untuk apa mempertahankan orang yang tak ingin mempertahankan kita? Aku sudah cukup mengerti dengan semuanya. Aku tidak ingin berdebat lagi dengan Daddy atau siapapun mengenai masalah ini."
Grey selalu menghindar jika ayahnya membahas soal Ana. Alfred tidak bisa lagi memaksakan kehendaknya pada putranya itu.
"Huft! Semoga suatu saat kalian akan menyadari perasaan masing-masing. Dan saat itu terjadi, kalian akan saling menyesal." gumam Alfred.
.
.
.
Hari ini adalah hari keberangkatan Ana ke Belanda bersama Alfonso. Kondisi Alfonso sudah makin membaik meski ia belum sepenuhnya bisa menggerakkan otot-otot kakinya.
Alfred mengantar kepergian Ana ke bandara. Sungguh ia amat bahagia memiliki menantu seperti Ana. Namun apa mau dikata, mereka memutuskan untuk berpisah secara baik-baik dan memilih jalan masing-masing.
"Kurasa sebaiknya kita berpisah, Ana. Kau ingin menggapai mimpimu yang tidak ada aku didalamnya." tutur Grey.
"Kau bisa masuk kesana, Grey. Asal kau punya niat dan tekad." balas Ana.
"Untuk apa semua itu jika hasilnya tetap sama? Kau tidak bisa mengerti aku, Ana."
"Kau juga tidak pernah mengerti, Grey. Selama ini aku salah menilaimu."
"Dan aku juga salah menilaimu, Ana."
"Oh, shut up, Ana!!! Kau tidak tahu apapun soal itu! Kau terlalu jauh berpikir, Ana. Kita berpisah saja."
Ana menghela nafasnya.
"Baik. Kita berpisah saja. Aku akan menjalani hari-hariku di Belanda. Dan kau lakukan saja apa yang menurutmu benar."
Rasanya sulit sekali menemukan titik terang jika kedua hati memaksakan ego masing-masing. Hanya ada kesedihan dan rasa kecewa disana.
"Terima kasih, Dad." Ana memeluk Alfred sebagai tanda perpisahan.
"Jangan sungkan, Nak. Selamanya kau akan tetap menjadi putriku."
Kata-kata Alfred membuat Ana terharu. Andai saja Grey bisa mengerti dirinya seperti Alfred, mungkin saat ini mereka sedang bersama.
Ah, sudahlah. Ana tidak ingin memikirkan tentang perasaannya lagi. Sudah saatnya ia bangkit dan menata masa depan yang di impikannya.
......***......
Giethoorn, Belanda.
Disebuah kota kecil yang jauh dari hiruk pikuk kendaraan bermotor, disinilah kini Ana dan Alfonso tinggal. Ternyata bukanlah hal buruk memutuskan untuk pindah ke kota kecil ini.
Ana tinggal di sebuah rumah yang jauh dari kata mewah namun amat nyaman untuk ditinggali. Dengan suasana mirip pedesaan yang amat kental, membuat Ana betah tinggal disana.
Impiannya untuk menjadi desainer, sedikit demi sedikit mulai ia wujudkan. Alfonso terus melakukan terapi hingga kini ia hampir sembuh total. Ana terus menyemangati ayahnya agar bisa kembali pulih seperti dulu.
"Kupikir Daddy memilih tinggal di tempat yang masih dipenuhi dengan hiruk pikuk suasana gemerlap kota." ujar Ana sambil menggambar beberapa pola di kertas gambarnya.
"Tidak, Nak. Daddy sudah jatuh cinta dengan kota ini saat Daddy kemari bersama dengan mendiang ibumu."
"Benarkah? Daddy pernah kemari sebelumnya?"
"Tentu saja."
Ana mengangguk paham.
"Jika sudah selesai, sebaiknya kau beristirahat. Sejak datang kemari kau terlihat kurang tidur."
Ana tersenyum getir. "Iya, Dad. Sebentar lagi aku ke kamar. Daddy istirahat saja dulu."
Ana menutup buku gambarnya dan berjalan keluar rumah. Ia menatap langit malam bertabur bintang.
Hatinya bergemuruh memikirkan sesuatu. Sesuatu yang telah ia tinggalkan.
Hanya demi sebuah ego.
Ego di hati yang tak bisa ia kalahkan.
Kini hatinya merasa miris.
Hanya ada Satu kata.
Rindu.
"Apa kau baik-baik saja disana? Apa yang sedang kau lakukan sekarang? Semoga kau selalu bahagia meski tak ada aku di hidupmu." gumam Ana kemudian masuk kedalam rumah.
......***......
#bersambung
"Tidak selalu kisah cinta itu berakhir dengan indah.
namun sesuatu akan terasa lebih hidup, ketika berakhir dengan indah..."
...-Author-...
Jangan lupa tinggalkan jejak ya kesayangan 😘😘
👍LIKE
💋COMMENTS
🌹GIFTS
💯VOTE
...THANK YOU...