Raanjhana

Raanjhana
Part 10 : Om Dirga, I Love You



Ketika Diya ingin meminta satu gelas lagi jus jeruk pada Chiko, lengannya dicengkeram erat oleh seseorang.


"Om?" Diya mengerutkan keningnya.


"Ayo pulang!" ucap Dirga dengan penuh penekanan.


Diya ingin menolak, namun tatapan dingin Dirga membuatnya tak kuasa untuk menolak.


"Dirga, ada apa?" ternyata Alexa mengikuti langkah Dirga yang menghampiri Diya.


Diya mengernyitkan dahi melihat wanita cantik dan seksi mengusap lengan Dirga. Diya menuruti keinginan Dirga untuk kembali pulang namun dengan keterpaksaan dan tatapan tak suka pada Alexa.


"Maaf, Lexa. Aku harus pergi. Sampaikan salamku pada teman-teman." tutup Dirga dengan membawa Diya keluar dari klab. Alexa hanya terdiam dan bertanya-tanya siapa gadis muda yang dibawa Dirga.


Dirga menarik lengan Diya dan mendorongnya masuk kedalam mobil. Diya tetap diam dan tak menolak.


Dirga mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan cukup kencang. Kali ini Diya hanya diam. Hatinya juag bergemuruh marah dan kesal pada Dirga. Namun tak bisa ia ungkapkan.


Sesampainya di rumah, Diya langsung turun dari mobil tanpa bicara apapun pada Dirga. Dirga menggeram kesal dengan sikap Diya.


"Diya!! Tunggu! Kamu harus jelaskan semuanya pada Om!" teriak Dirga ketika memasuki rumah.


"Diya!!! Berhenti!!!"


Diya menghentikan langkahnya. Membalikkan badan dan menatap sinis Dirga. Tanpa bicara sepatah katapun, Diya naik lantai atas dan menuju kamarnya.


Dirga ingin menyusul Diya namun dihentikan oleh Esih.


"Tuan, biarkan saja dulu!" Nasihat Esih.


"Tapi, Bi..."


"Saya tahu perasaan Tuan. Tapi anak remaja seusia Nona Diya akan semakin memberontak jika Tuan melakukan kekerasan."


Yang dikatakan Esih ada benarnya. Dirga juga merasa begitu.


"Sebaiknya Tuan menenangkan diri dulu. Biarkan Nona Diya merenungi kesalahannya."


"Baiklah." Dirga menuju meja makan dan duduk disana.


"Apa Tuan ingin dibuatkan teh jahe?"


"Hmm, boleh. Otakku sedang tak bisa berpikir karena pengaruh alkohol."


Esih tersenyum kemudian langsung membuatkan teh jahe untuk Dirga. Tak lama tehpun tersaji di depan Dirga.


Dirga menyesapnya perlahan. Dan tubuhnya pun kembali bugar.


"Tuan, apa boleh saya bertanya?"


"Soal apa?"


"Ini tentang Nona Diya dan juga Tuan."


"Kenapa dengan saya dan Diya?"


"Apa... Tuan hanya menganggap Nona Diya sebagai putri Tuan saja?"


"Apa maksud pertanyaan Bibi?"


"Pertanyaan saya jelas, Tuan. Saya sudah mengenal Nona Diya sejak kecil. Saya tahu mungkin ini tabu untuk dikatakan, tapi sepertinya Nona Diya menyukai Tuan. Seperti... perasaan seorang wanita terhadap pria."


Dirga hanya diam dan mendengarkan.


"Apakah Tuan juga merasakan hal yang sama? Maaf jika saya lancang, tapi saya melihat jika Tuan tidak menganggap Nona Diya sebagai putri Tuan lagi. Tidak seperti dulu. Kalau saya boleh memberi saran, sebaiknya Tuan katakan perasaan Tuan yang sebenarnya pada Nona Diya. Menurut saya, perbedaan usia bukanlah masalah. Asalkan Tuan dan Nona bahagia, saya juga ikut bahagia." papar Esih panjang lebar.


Sekali lagi Dirga hanya diam mencerna setiap kata demi kata yang Esih ucapkan.


"Jujurlah, Tuan. Sebelum semuanya terlambat." tutup Esih sebelum akhirnya berpamitan untuk pergi ke kamarnya karena malam mulai larut.


Dirga masuk ke dalam kamarnya. Membersihkan diri dan mencoba memikirkan apa yang dikatakan Esih. Perasaannya terhadap Diya memang semakin nyata dan dalam. Bukan hanya karena gadis itu mirip dengan mendiang istrinya, tapi karena kehangatan dan senyumnya membuat hati Dirga tenang.


Usai membersihkan diri, entah kenapa Dirga ingin menemui Diya. Tak seharusnya Dirga marah pada Diya. Diya melakukan hal itu pasti ada alasannya. Gadis seusianya sedang senang mengeksplor dunianya dan ingin cepat menjadi dewasa.


Dirga memasuki kamar Diya dengan kunci cadangan yang dipegangnya. Dirga melihat Diya telah meringkuk di tempat tidur. Sudah pukul sebelas malam, tentu saja Diya sudah terlelap.


Dirga mendekati Diya, naik ke atas ranjang dan membelai rambut Diya.


"Maafkan, Om." lirih Dirga.


"Om...?"


Diya menatap Dirga yang berada sangat dekat dengannya. Diya memposisikan dirinya duduk dan berhadapan dengan Dirga.


"Maafkan Diya, Om. Diya tidak bermaksud menjadi gadis nakal. Diya hanya ingin Om bisa melihat Diya sebagai seorang wanita dan bukan sebagai putri Om."


Kejujuran Diya membuat hati Dirga tersentak. Sungguh selama ini Dirga telah menyakiti gadis ini.


"Apa Diya tidak bisa menjadi seorang wanita untuk Om?"


Dirga menatap manik hitam yang kini berembun. Tersirat cinta untuknya. Dirga tahu itu. Entah sejak kapan semua itu terjadi.


"Tentu saja kau bisa menjadi seorang wanita." Dirga mengusap wajah Diya, membelai pipinya yang kini mulai meneteskan air mata.


"Jangan menangis. Om yang harusnya minta maaf karena sudah membohongi diri Om sendiri. Dan Om sudah menyakitimu."


Dirga merebahkan kembali tubuh Diya. Menatap mata teduh Diya yang dipenuhi oleh cinta.


"Om menyayangimu. Sangat menyayangimu. Bukan sebagai putri Om, tapi sebagai seorang wanita."


Diya sedikit terkejut dengan pengakuan Dirga. "Benarkah?"


"Iya, Om sayang sama Diya."


"Diya juga sayang sama Om." Diya mengusap rahang kokoh Dirga.


Mata mereka beradu dan saling mengungkap rasa. Ketika semua rasa melebur menjadi satu, Dirga memberanikan diri untuk mencicipi bibir mungil milik Diya. Menyesapnya pelan dan sedikit me-lu-matnya.


Diya tidak menolak, karena inilah yang ia inginkan. Ini adalah ciuman pertamanya. Dan tentu saja ia masih kaku untuk membalas sapuan bibir Dirga.


"Om..." wajah Diya memerah.


Dirga membiarkan Diya untuk mengambil nafas terlebih dahulu. Kemudian ia melanjutkan aksinya untuk me-ma-gut bibir manis itu. Sungguh kini Dirga tak ingin berhenti.


Dirga mengarahkan tangan Diya agar melingkar dilehernya. Diya sedikit me-re-mas rambut belakang Dirga dan menarik Dirga lebih dalam menciumnya. Tangan Dirga mulai menjelajah mencari sesuatu yang ia anggap indah dibalik piyama yang dipakai Diya.


"Om..." Diya mendorong tubuh Dirga karena tangan Dirga yang me-re-mas benda kenyal milik Diya.


"Kenapa? Apa tidak boleh?"


Diya bingung harus menjawab apa. Ia memang menikmati sentuhan Dirga. Tapi mereka baru memulai hubungan, haruskah sudah sejauh itu?


"Om tahu, kita akan melakukan lebih setelah Om menikahimu." ucap Dirga untuk menghilangkan kekhawatiran Diya.


"Hah?! Menikah?"


"Tentu saja."


"Tapi kita baru saja..."


Diya kembali bungkam karena Dirga kembali mendaratkan ciumannya di bibir Diya. Mulai menjelajah ke leher dan rahang Diya. Suara lirih Diya yang merasakan gelenyar aneh dalam tubuhnya membuat Dirga bersemangat memberikan jejak jejak disana.


"Om! Sakit!"


Dirga terkekeh. "Sebaiknya kamu kembali tidur. Jika tidak..."


"Iya, aku akan tidur. Tapi, Om temani aku disini." pinta Diya manja.


"Tentu saja. Om tidak akan meninggalkanmu."


Dirga ikut merebahkan tubuhnya di samping Diya. Mereka saling berpelukan.


"I love you, Om..." Ucap Diya mengecup sekilas bibir Dirga.


"I love you too, baby..." Dirga menghujani banyak kecupan di kening Diya hingga gadis itu terlelap.


...***...


#bersambung...


sorry kemarin gak UP karena mamak lagi PMS, hiks hiks, dan rasanya seperti menjadi hulk, pengennya marah2 terus 😆😆


semoga masih menyukai kisah ini ya!


jangan lupa tinggalkan jejak untuk Diya dan Dirga 😊😊