Raanjhana

Raanjhana
Part 6 : Om Dirga, I Love You



"Iya, Bi. Aku akan kesana sekarang." jawab Diya.


Diya meminta supir taksi untuk segera menuju ke sebuah tempat pemakaman umum. Ini sudah tahun ke 14 Diya menemani Dirga saat berulang tahun, dan hanya berdiam diri di samping makam istrinya.


Dirga tidak menginginkan sebuah kado di hari ulang tahunnya. Baginya hari ulang tahunnya adalah hari terburuk di sepanjang tahun.


Dirga tidak mau merayakan seperti kebanyakan orang yang menyambut suka cita hari kelahirannya.


Diya mendengar dari Tini jika Dirga kehilangan istrinya saat mereka melakukan perjalanan untuk merayakan ulang tahun Dirga sekaligus berbulan madu. Namun nahas, mobil yang mereka tumpangi mengalami kecelakaan dan terguling.


Dirga tidak mengalami luka yang parah, namun istrinya meninggal di tempat kejadian. Dirga bersedih selama berhari-hari bahkan berbulan-bulan.


Hingga akhirnya Dirga dipertemukan dengan seorang gadis kecil yang mengingatkan pada sosok mendiang istrinya. Hanindiya, gadis kecil yatim piatu yang akhirnya diangkat menjadi putri oleh Dirga.


Meski bukan putri kandung, namun kasih sayang yang diberikan Dirga bukanlah main-main. Diya bak seorang putri raja yang tak pernah kekurangan suatu apapun.


Namun Diya sadar diri, jika dirinya bukanlah siapa-siapa tanpa bantuan Dirga.


Sore ini, seperti sore di tahun-tahun sebelumnya, Diya melihat Dirga bersimpuh di depan makam istrinya. Diya berjalan mendekat dan berdiri di Belakang Dirga.


Diya membawa seikat bunga mawar putih kesukaan mendiang istri Dirga. Diya melihat Dirga mengusap batu nisan milik istrinya dengan lembut.


Tersirat sebuah cinta yang amat dalam dari Dirga kepada istrinya. Entah kenapa Diya merasa sesak melihat cinta yang besar dari Dirga untuk seseorang yang sudah tidak ada lagi di dunia ini.


Kedekatan Diya dengan Dirga yang terjadi pagi ini, membuat Diya berharap lebih jika Dirga bisa membuka hatinya untuk orang lain.


Namun rasanya dinding yang Dirga bangun terlalu kokoh dan tinggi. Gadis biasa seperti Diya tidak akan bisa mampu memanjat dinding itu. Bahkan menyentuhnya saja tidak akan bisa.


Usai berdiam diri di makam istrinya, Dirga kembali ke rumah dengan masih terdiam. Kali ini mereka membawa supir.


Diya duduk bersebelahan dengan Dirga di kursi belakang. Sedangkan Esih duduk di depan mendampingi Munir, si supir.


Diya melirik kearah Dirga yang terus terdiam. Diya pun ikut terdiam. Bayangan Echa dan kekasihnya kini kembali menggelayuti pikirannya.


Bagaimana bisa sahabatnya itu berbuat sejauh itu dengan seorang lelaki. Diya tahu jika dirinya juga bukan orang suci. Tapi untuk urusan yang satu itu, Diya hanya ingin menyerahkan semuanya untuk orang yang ia cintai dan tentunya sudah sah menjadi suaminya.


Meski Diya berharap jika Dirga bisa sedikit saja membuka hati untuknya. Diya menghela nafasnya.


Tiba di rumah, Diya merebahkan tubuhnya ke atas ranjang. Entah sejak kapan perasaan itu tumbuh di hatinya.


Diam-diam dia menyukai Dirga. Orang yang sudah merawat dan menjadikannya putri. Padahal sudah susah payah Diya menepis semua rasa itu.


Tapi setelah kejadian tadi pagi, Diya mulai kembali merasakan debaran itu makin nyata.


"Bagaimana ini? Aku tidak bisa begini. Om Dirga adalah ayahku. Meski dia memang bukan ayahku. Tapi..."


Diya bergulang guling diatas tempat tidurnya. Perasaannya kacau ditambah lagi urusan Echa.


Dan pada akhirnya, Diya terlelap sendiri karena merasakan lelah ditubuh dan pikirannya.


.


.


.


Keesokan harinya, Diya terbangun dan segera membersihkan diri di kamar mandi. Diya keluar dengan semangat yang patah mengingat kejadian di hari kemarin.


Hari ini ia tak ada kelas kuliah. Ia akan seharian di dalam kamar saja dan menonton drama. Bahkan pagi ini tak ada sapaan dari Dirga kepada Diya.


Hanya Esih yang mengingatkan Diya untuk sarapan. Diya menolak. Ia ingin makan di dalam kamarnya saja.


"Tuan Dirga sudah berangkat pagi-pagi sekali." ujar Esih.


"Hmm, baiklah. Om memang begitu jika ingin melupakan masalahnya. Terima kasih, Bi. Aku akan langsung memakannya." balas Diya menerima nampan dari Esih.


Seharian ini Diya hanya berguling ditempat tidur dengan sesekali menyeka air matanya karena menonton drama romansa yang cukup menguras hati. Kisah Cinta yang berakhir tragis seolah menggambarkan kisah cintanya yang bahkan belum ia mulai.


Diya tidak akan berharap lagi pada Dirga. Karena kelelahan menangis, Diya akhirnya memejamkan mata dan tertidur.


Dirga pulang dari kantor dan menanyakan keberadaan Diya. Esih menjawab jika seharian ini Diya mengurung diri di kamar.


Dirga menuju ke kamar Diya dan dilihatnya gadis itu tengah terlelap. Dirga menghampiri Diya dan mengelus lembut rambutnya.


"Maafkan, Om... Om belum bisa menjadi ayah yang baik untukmu..."


Dirga menerawang jauh. Diya merasakan ada sesuatu yang menyentuh kepalanya.


Diya terbangun dan melihat Dirga ada disampingnya. Diya tersenyum karena ternyata Dirga tidak melupakannya.


"Om..." suara serak Diya membuyarkan lamunan Dirga.


"Ah, maaf, Om sudah mengganggu tidurmu."


"Tidak, Om. Apa Om baru pulang?"


"Iya."


"Kenapa tidak ke kamar Om?"


"Om ingin melihat putri Om. Maaf ya, Om belum bisa menjadi ayah yang baik untukmu."


DEG


"Ayah?"


Diya merasa miris ketika mendengar kata 'ayah' dari mulut Dirga.


"Apa Om menganggap Diya sebagai putri Om?"


"Tentu saja. Kau adalah putri Om yang berharga."


"Tapi, Om..."


Diya menatap kedalam manik Dirga mencari sesuatu yang lain dari tatapan Dirga.


"Tidak ada seorang ayah yang hampir mencium bibir putrinya. Apa Om yakin Om menganggap Diya sebagai putri Om?"


"Hah?!"


Dirga membulatkan matanya. Dirga tidak menyangka jika Diya akan mempertanyakan soal hal itu.


...***...


#bersambung...


Jangan lupa dukungannya untuk karya receh mamak yg satu ini. Kuharap kalian tetap setia menemani sampai cerita ini selesai yaak 😊😊


Give me Like, Vote, Comments, and Gifts, Becoz U are my everything 💟💟💟


...TERIMA KASIH...