Raanjhana

Raanjhana
Om Dirga, I Love You : 26. Rencana Dirga




Dirga mengetukkan jari tangannya ke meja kerjanya. Perusahaan yang seharusnya sudah berganti kepemilikan kini tetap menjadi miliknya karena pengorbanan Diya, istrinya. Alman sedari tadi hanya memperhatikan tuannya sedang berpikir keras. Ia juga tak tega melihat Dirga kehilangan istrinya dalam semalam. Ingin menggunakan cara kekerasan, tapi rasanya tak mungkin mengingat Diya sudah berada di tangan Fendi. Akan sangat berbahaya jika Alman mengambil langkah gegabah.


Dirga kembali memfokuskan diri pada layar datar di depannya. Ia memainkan jari-jarinya diatas keyboard kemudian tersenyum senang.


"Al, jika Fendi menggunakan cara licik. Maka, kita juga bisa menggunakan cara yang lebih licik," ucap Dirga dengan seringai mengerikan.


"Tapi, Tuan. Bagaimana dengan Nyonya Diya? Jika kita gegabah, saya takut kondisi Nyonya terancam," balas Alman.


"Kau tenang saja. Kita akan memainkan cara ini dengan halus tapi juga bergerak cepat. Kau bisa kerahkan anak buahmu, 'kan?"


"Eh? Tentu, Tuan. Saya siap dengan beberapa anak buah saya."


"Bagus. Aku tidak ingin membuang waktu lagi. Aku sudah muak dengan permainan anak ingusan itu! Aku akan menghubungi Hernan."


"Tuan Hernan? Sahabat Tuan?"


"Hu'um. Entah kenapa dari kemarin aku baru terpikir tentangnya. Aku tidak begitu mengenal keluarga Leonardo, tapi Hernan, dia tahu lebih banyak dariku. Lihat ini!"


Alman melangkah maju mendekati Dirga dan menelisik apa yang Dirga ingin tunjukkan di layar datarnya.


"Hah?! Jadi, Tuan Hernan..."


"Benar, Al. Hernan memiliki kerjasama yang cukup banyak dengan ayah Fendi di beberapa bisnisnya. Kurasa aku bisa masuk melalui celah itu."


Alman ikut tersenyum lega melihat tuannya yang mulai bangkit dan akan menunjukkan kekuatannya.


"Maafkan Om, Diya. Om terlambat menyadari ini. Tapi, Om janji secepatnya Om akan membebaskanmu dari jeratan si pria licik itu," batin Dirga dengan senyum getir di wajahnya.


......***......


Malam itu Diya ditemani Lily menyiapkan makan malam untuk mereka berdua dan juga Fendi yang sedang menuju kesana. Meski hatinya terasa terpenjara, tapi Diya memiliki seorang teman seperti Lily. Lily masih berusia 18 tahun tapi pemikirannya sangatlah dewasa. Mungkin karena diusia muda dia sudah terbiasa hidup dalam kesusahan.


"Aku senang bisa mengenalmu, Lily. Kau gadis yang sangat kuat. Bahkan kau bisa menghadapi Fendi yang kasar itu," ucap Diya sambil menata makanan diatas meja makan.


"Kak, menurutku hati yang sekeras batu pun pasti bisa luluh jika memperlakukannya dengan lembut. Kita juga harus memiliki banyak kesabaran. Aku yakin hati itu bisa melunak."


"Jadi, apa yang harus kulakukan sekarang?"


"Bersabarlah, Kak. Aku yakin Kak Diya bisa meluluhkan hati Kak Fendi."


"Tapi, aku sudah memiliki suami. Bagaimana bisa aku meluluhkannya?"


"Kak, meluluhkan itu bukan berarti kakak jatuh kedalam pelukannya. Tapi, kakak bisa mendekatinya sebagai teman. Bukankah kalian teman sedari kecil?"


"Kau benar, Lily. Terima kasih, ya. Kau sangat dewasa." Diya memeluk Lily sebagai ungkapan terima kasihnya.


"Ada apa ini? Kenapa kalian saling berpelukan?" suara berat dan lantang Fendi membuat kedua gadis itu segera melepaskan pelukannya.


"Kak, kakak sudah pulang?" Diya menghampiri Fendi dan bersikap manis di depannya.


"Kau tidak ingin memelukku juga? Oh ya, kau sudah boleh pulang. Ahdan akan mengantarmu."


Lily mengangguk dan segera berpamitan pada Diya. Setelah kepergian Lily bersama Ahdan, Fendi menanyakan hal yang sama kembali.


"Sayang, kau tidak ingin memelukku?"


"Hmm, kakak sebaiknya mandi dulu saja, ya. Aku akan siapkan air hangat untuk kakak."


Fendi tersenyum gembira. "Nah, begitu dong! Aku senang karena kau mulai menerimaku." Fendi mengusap lembut rambut panjang Diya.


......***......


Dirga dan Alman sedang menunggu kedatangan seseorang di area tunggu bandara. Menurut Hernan, Frans Leonardo, ayah Fendi kini sedang menuju kembali ke Indonesia. Rencana Dirga kali ini tak boleh meleset. Dirga sudah meminta bantuan Hernan dan pastinya semua akan berjalan sesuai dengan rencananya. Tak lupa Dirga juga menyiapkan beberapa anak buah Alman untuk membentengi dirinya kalau-kalau Fendi juga menggunakan kekerasan.


Setelah menunggu beberapa saat, orang yang ditunggu akhirnya tiba. Dirga mengulas senyum saat menyapa Leon.


"Tuan Leon!" sapa Dirga dengan mengulurkan tangan.


"Ah, Anda pasti Tuan Dirgantara Agung, bukan?" balas Leon.


"Benar, Tuan. Mari silahkan." Dirga memberi jalan untuk Leon.


"Bagaimana perjalanan Anda, Tuan?" tanya Dirga berbasa-basi.


"Lancar, Tuan Dirga. Saya sudah terbiasa dengan penerbangan panjang seperti ini."


Dirga mengangguk paham. Mereka memasuki mobil yang berbeda namun menuju ke tempat yang sama. Dirga akan membicarakan kerjasama yang kemarin sempat ia sepakati dengan Fendi, namun batal karena Fendi berbuat licik padanya.


Dirga mengetahui dari Hernan jika kelemahan Fendi ada pada ayahnya. Siapa lagi yang memberikan kekuasaan yang begitu besar selain ayahnya? Meski Fendi berhasil membangun perusahaannya sendiri, tetap saja itu ada campur tangan ayahnya. Dirga memberikan bukti-bukti pada Leon tentang kelicikan Fendi. Leon menggeleng tidak percaya dengan apa yang dilakukan oleh putranya.


"Maafkan saya, Tuan Dirga. Anak saya memang banyak berubah sejak saya menikah lagi. Tapi saya tidak mengira jika dia akan berbuat nekat begini. Tuan tenang saja. Saya akan pastikan istri Tuan kembali pada Tuan secepat mungkin. Anak itu benar-benar sudah melemparkan kotoran pada wajah ayahnya." geram Leon.


"Terima kasih, Tuan Leon. Saya hanya berharap pada Anda."


"Jangan sungkan, Tuan Dirga. Oh ya, omong-omong, saya dengar Tuan adalah sahabat Tuan Hernan. Apa itu benar?"


"Iya, Tuan. Kami berteman sejak kecil."


"Ah, begitu. Sampaikan salam saya untuk beliau. Dia adalah pebisnis yang hebat."


"Iya, Tuan. Pasti saya sampaikan." Dirga melebarkan senyumnya.


......***......


PLAAAKKK!!!!


"Anak kurang ajar! Berani sekali kamu berbuat hal menjijikkan seperti ini! Mau ditaruh dimana muka papamu ini, huh? Kau benar-benar membuat Papa malu!" suara Leon menggelegar di seisi rumah setelah ia mendaratkan tamparan di pipi putra tunggalnya.


"Pa, sudah hentikan! Kita dengarkan dulu penjelasan Fendi." seorang wanita paruh baya melerai perdebatan ayah dan anak ini. Dia adalah Lusiana, ibu tiri Fendi yang juga ibu kandung Lily.


Fendi mengepalkan tangan setelah mendapat tamparan dari Ayahnya. Hatinya bergemuruh ingin membalas, tapi apalah daya Fendi jika ayahnya sudah marah. Ia tak akan bisa berkutik.


"Jangan ikut campur, Ma. Anak tidak tahu diri ini sudah membuat Papa malu. Mulai besok, kemasi barang-barangmu dan kembali ke Amerika. Papa tidak mau kamu berbuat onar lagi disini."


"Papa!!!" Fendi menyela.


"Jangan membantah! Atau kau akan mendapat hukuman yang lebih berat dari ini. Hari ini juga Papa akan memulangkan Diya kembali pada suaminya. Papa sangat merasa menyesal padanya." Leon meninggalkan ruang keluarga setelah mengatakan semuanya. Tiga orang yang ada disana hanya bisa tertegun dan tak bisa membantah keinginan Leon.


Wajah Fendi merah padam menahan kekesalan dalam hatinya. Ia melirik tajam kearah Lily yang seakan menjadi tersangka atas terbongkarnya kejahatan Fendi. Lily menundukkan wajahnya tak berani menatap Fendi.


#bersambung...


*Huft! 😥😥 akhirnya selesai juga dramanya 😅😅 jangan lupa tinggalkan jejak ya kesayangan 😘😘


*Coming UP story 👇👇👇