Raanjhana

Raanjhana
Takdir Cinta Nisha : 23. Memilikimu Seutuhnya



Perhatian: Akan ada adegan dewasa di part ini. Harap pembaca bijak menyikapi ya! Yang tidak suka skip saja dan klik jempolnya saja, hehehe. Terima kasih


.


.


Usai menyantap pasta yang dimasak oleh Hernan, Nisha malah kembali merasakan kantuk. Karena tak tega dengan kondisi Nisha yang masih belum pulih benar, Hernan pun mengantar Nisha ke tempat tidur dan menyelimuti tubuhnya.


Hernan memberi kecupan sebelum tidur di kening Nisha. Nisha membalas dengan tersenyum manis kemudian memejamkan mata.


Keesokan paginya, Nisha terbangun lebih dulu. Dirasakannya sebuah tangan hangat memeluk tubuhnya. Nisha mengerjapkan mata dan melihat suaminya masih terpejam.


Nisha mengingat kebersamaan mereka semalam. Hernan menyatakan perasaannya pada Nisha. Mereka berciuman sangat lama hingga sebuah suara menginterupsi mereka.


Nisha menutup wajahnya karena amat malu. Perutnya kelaparan di saat-saat romantis mereka.


"Ada apa, gadis kecilku?" suara Hernan membuat Nisha membuka tangannya.


"Kakak sudah bangun?"


"Hu'um. Kau sendiri? Apa sudah bangun dari tadi?"


"Tidak. Aku baru saja terbangun."


Nisha nampak masih malu-malu dengan kedekatan mereka saat ini. Hernan makin gemas melihat tingkah gadis kecilnya itu. Hernan segera mendaratkan bibirnya ke bibir Nisha.


Nisha benar-benar tidak siap dengan serangan Hernan. Ia memukul pelan dada Hernan. Namun Hernan masih tetap melanjutkan aksinya. Tangannya bahkan sudah bergerilya masuk kedalam piyama Nisha. Membuka kancingnya satu persatu tanpa Nisha sadari karena dia hanya fokus pada sapuan bibir Hernan pada bibirnya.


Nisha tidak lagi memukuli dada Hernan. Ia sadar jika itu sudah kewajibannya sebagai istri untuk melayani suaminya.


Ketika bibir Hernan berpindah ke leher Nisha, Nisha sedikit terpekik karena Hernan meninggalkan jejak disana. Hernan juga memberi jejak di bagian dada Nisha yang kancing piyamanya sudah terlepas.


Nisha sendiri kaget karena mendapati piyamanya sudah tidak terkancing. Namun ia benar-benar tidak kuasa menolak perlakuan Hernan padanya.


Sebuah rintihan dan desahan malah lolos dari bibir Nisha. Nisha mencengkeram erat tengkuk Hernan yang sudah mulai merambah ke gundukan kenyal miliknya.


Nisha merem melek mencoba menahan suaranya agar tidak mendesah lebih keras. Sungguh ia masih amat malu dengan suaranya sendiri.


Sebuah dering telepon berbunyi nyaring di tengah aksi panas mereka. Itu adalah bunyi ponsel Nisha.


"Biarkan saja! Paling juga bocah itu lagi yang menghubungi." ucap Hernan di sela-sela aktifitasnya.


Nisha tetap meredam hasrat dalam dirinya dan satu tangannya meraih ponselnya diatas nakas.


Ia mendelik kala melihat nama Ibunya tertera di layar ponselnya. Sebuah panggilan video. Nisha mencoba menepuk bahu Hernan yang masih bermain dengan benda kenyal milik Nisha.


"I-ibuku menelepon..." ucap Nisha terbata karena tidak kuat menahan rasa yang timbul akibat ulah Hernan.


Hernan pun terhenti dan melepaskan Nisha.


"Angkatlah!" ucap Hernan sedikit kecewa karena ibu mertuanya menghentikan kegiatan asyiknya.


Nisha merapikan rambut dan piyamanya yang belum terkancing sempurna. Ia takut ibunya marah karena terlalu lama dirinya mengangkat panggilan.


"Halo, ibu..."


"Halo, sayang... Ya ampun sayang, lama sekali mengangkatnya. Kau pasti masih tidur 'kan?"


"Ti-tidak ibu! Aku sudah bangun."


"Oh ya? Kenapa masih di tempat tidur. Dan itu... Apa itu?"


Antonia memicingkan matanya mengamati putrinya.


"Astaga, sayang! Bekas merah apa itu."


"Hah?!" Nisha memperhatikan penampilannya yang memang kacau. Ia melihat jika ada beberapa tanda merah di leher dan dadanya.


"Kau lupa mengancingkan kembali piyamamu, Nak..." Antonia nampak tersenyum geli melihat tingkah anaknya.


"Ibu!!!" wajah Nisha sudah merah padam. Ibunya amat suka mengerjainya. Nisha menatap tajam kearah Hernan.


"Hahaha, ya sudah. Maaf ya jika ibu mengganggu. Kalian bersenang-senanglah. Mana nak Hernan?"


Nisha membalikkan kamera ponselnya ke arah Hernan. Hernan nampak garuk-garuk kepala mendengar kalimat mertuanya.


"Nak Hernan, lakukanlah dengan lembut ya! Nisha itu anak yang manja. Ibu yakin jika dia pasti banyak bicara di sela-sela kegiatan nak Hernan."


"Hehe, iya bu. Dia sangat cerewet, bu."


"Ibu!!! Apa maksudnya bicara begitu?"


"Bungkam saja bibirnya agar dia tidak kebanyakan bicara..."


"Ibu!!!" Sungut Nisha.


"Ya sudah, ibu tutup panggilannya. Daah sayang..."


"Kenapa? Mau lanjut?" goda Hernan.


"Tidak! Aku mau mandi saja!" ucap Nisha merajuk dan langsung turun dari tempat tidur.


Tiga puluh menit kemudian, mereka berdua sedang duduk bersantai sambil menikmati sarapan mereka. Nisha makan dengan lahap. Ia sepertinya masih lapar karena semalam ia hanya makan pasta buatan Hernan.


"Hari ini kau ingin kemana?" tanya Hernan.


"Umm, aku ingin berkeliling pulau dengan speedboat." jawab Nisha.


"Hmm, baiklah. Habiskan dulu makanmu. Aku akan membuatmu senang hari ini."


Nisha tersenyum bahagia mendengar jawaban Hernan.


Seharian mereka mengelilingi pulau dan menatap keindahan alam disini. Sangat jarang Nisha bisa menikmati semua ini. Apalagi jika tinggal di kota besar. Pastilah sangat sulit mendapat pemandangan semacam ini.


Nisha merasakan angin laut menerpa wajahnya dan memainkan rambutnya yang tergerai. Kali ini Nisha tidak menguncir rambutnya. Karena Hernan yang memintanya. Ia suka memainkan rambut Nisha yang diterpa angin.


Menjelang malam, mereka kembali ke resort. Nisha masih nampak bersemangat. Ia kembali bermain air di tepi pantai.


Ia juga mengundang Hernan untuk ikut serta masuk kedalam air. Tubuh Nisha sudah terendam di air laut.


Matahari mulai turun dan hari berganti gelap. Dalam temaram lampu Hernan melihat Nisha begitu sempurna di matanya.


Hernan merutuki kebodohannya yang kemarin-kemarin tidak mempedulikan Nisha dan bahkan menyakitinya.


Hernan ikut menceburkan diri masuk kedalam air. Ia menghampiri Nisha dan memeluknya. Ia menatap Nisha dalam gelapnya malam. Air laut yang dingin tidak mendinginkan tubuh mereka. Justru kehangatanlah yang menyelimuti.


Hernan mengecup bibir Nisha yang sudah basah terkena air. Nisha membalas ciuman itu dengan sama lembutnya.


Hernan membawa tubuh Nisha masuk kedalam kamar. Hernan melucuti pakaian Nisha yang basah. Nisha sempat menolak, tapi Hernan meyakinkannya.


"Bisakah aku menjadikanmu sebagai milikku malam ini?" tanya Hernan dengan menatap dalam mata Nisha.


Meski sempat ragu namun akhirnya Nisha mengangguk. Dengan lembut Hernan kembali mencium bibir Nisha. Menyapunya pelan dan sangat dalam.


Nafas mereka terengah kala Hernan sudah berada di atas tubuh polos Nisha. Ia meminta ijin agar memasuki bagian terdalam tubuh Nisha.


Dengan malu Nisha mengangguk. Ini pertama kali baginya. Begitu juga dengan Hernan. Nisha takut ia menjerit kesakitan seperti dalam video yang pernah ia tonton waktu itu.


Hernan memberikan permulaan yang cukup hangat dan lembut sehingga membuat Nisha tak kuasa menahan desahannya. Suara lenguhan Nisha terdengar merdu di telinga Hernan.


Ketika akhirnya Hernan berhasil menjebol pertahanan Nisha, sedikit teriakan lolos dari bibir Nisha. Air matanya mengalir kala merasakan sakit di bagian bawahnya.


Hernan terdiam sejenak agar miliknya bisa beradaptasi dengan tempat yang baru saja ia masuki. Ia kembali mengecup bibir Nisha agar Nisha melupakan rasa sakitnya.


Ketika Nisha mulai nyaman, Hernan menggerakkan perlahan maju mundur cantik yang membuat nafas mereka makin terengah. Rasa sakit yang dirasa Nisha kini berubah menjadi desahan kenikmatan yang ia sendiri tidak tahu apa sebenarnya itu.


Nisha hanya merasa melayang ketika Hernan memperlakukannya dengan lembut. Namun ketika semua sudah diluar nalar, Hernan mempercepat tempo gerakannya hingga tercipta bunyi kecipak yang nyaring.


Nisha merasakan sesuatu dalam tubuhnya akan keluar ketika temponya semakin cepat.


"Kakak...." pekik Nisha merasakan gejolak dalam tubuhnya yang menggelora akan segera keluar.


Tubuh Nisha mulai melemas. Ia mencengkeram erat punggung Hernan. Kepala Hernan kini berada di ceruk leher Nisha. Dengan tempo yang makin tak beraturan, Hernan sesekali memberi tanda di leher dan dada Nisha.


Satu erangan akhirnya lolos dari bibir Hernan dengan kepuasan yang tiada tara. Hernan merebahkan tubuhnya disamping tubuh Nisha dan menyelimuti tubuh mereka berdua.


Mereka mengatur nafasnya yang masih tersengal seakan melakukan lari marathon. Hernan membawa tubuh Nisha dalam pelukannya.


"Terima kasih, sayang... Gadis kecilku." ucap Hernan lalu mencium kening Nisha.


Nisha merasakan tubuhnya amat lelah setelah kegiatan menggelora mereka tadi. Ia mulai memejamkan mata. Hernan makin memeluk erat gadis kecilnya itu.


"Kini aku sudah benar-benar memilikimu seutuhnya. Aku janji tidak akan ada orang lain dihatiku selain kamu, gadis kecilku..." gumam Hernan sambil kembali mengecup pelan bibir Nisha berkali-kali.


"Tidulah, gadis kecilku... Lebih tepatnya, kau sekarang sudah menjadi wanitaku..."


.


.


#bersambung...


*baperkah? atau masih kurang? 😁😁


.


.


Gaess, mamak punya sekilas info nih. Buat kalian yg mau lihat video2 dari novel2 keren Noveltoon, mampir aja langsung ke ig nya @lucyv146. disana digambarkan visual novel dari karya author2 daebak di NT. Cuss mampir yooks 👋👋


Terima kasih 🙏🙏