
Hernan membuka matanya di pagi hari dengan hati yang gembira. Ia melihat wajah istri cantiknya yang masih terlelap. Ia makin mendekap erat istrinya itu.
Nisha yang merasakan tubuhnya makin terbelit, akhirnya membuka mata. Ia melihat Hernan sedang mendekapnya erat.
"Kakak..."
"Hmm?"
"Kakak sudah bangun?"
"Iya. Tapi aku masih ingin memelukmu."
"Aku harus membantu Ibu menyiapkan sarapan."
"Tidak perlu."
"Kenapa?"
"Karena mereka pasti akan mengerti."
"Kakak..." Nisha memukul pelan dada Hernan.
"Kau tahu, aku sangat kacau saat kau tidak ada disisiku. Sebulan tidak melihatmu bagaikan setahun."
"Gombal!" Nisha tersipu malu.
"Sungguh!"
Nisha mendongak menatap suaminya. Hernan kembali memberikan berjuta kecupan di bibir Nisha.
"Kakak..." Nisha tersipu malu mendapat kecupan berkali-kali dari suaminya.
"Bagaimana kalau kita berbulan madu lagi?"
"Hah? Lagi? Untuk apa?"
"Untuk mengenang masa lalu."
"Masa lalu?" Nisha mengernyit bingung.
"Kita ke Miami. Bagaimana?"
Nisha berbinar dan segera memeluk Hernan. "Mau! Aku mau!"
Hernan terkekeh melihat reaksi istrinya. Tatapan mata mereka beradu. Nisha membelai wajah suaminya yang amat dirindukannya.
"Aku sangat merindukan kakak..."
"Aku lebih merindukanmu..." balas Hernan.
"Aku mencintai kakak..."
"Aku lebih mencintaimu..."
Nisha tertawa geli mendengar jawaban suaminya. "Ya sudah, sebaiknya kita mandi lalu turun ke bawah menyapa kakek, ayah, dan Ibu."
"Hu'um. Kita mandi bersama ya?"
"Iya." Nisha menjawab dengan malu-malu.
.
.
.
Satu sehari sebelum berangkat ke Miami. Nisha kedatangan tamu yang tidak pernah ia duga.
"Kak Asha?" Nisha mengerutkan dahi.
"Terima kasih karena kau bersedia menemuiku."
"Tidak masalah. Ada apa kak Asha datang ke rumahku?"
"Nisha... Aku ingin minta maaf padamu dan juga Hernan. Aku bersalah karena sudah berbuat jahat padamu."
"Itu sudah berlalu, Kak. Aku sudah melupakannya. Lagipula, aku dan Kak Hernan sudah baik-baik saja."
"Terima kasih karena sudah memaafkanku."
"Aku tidak tahu seperti apa hubungan kalian di masa lalu, aku berharap kak Asha bisa mendapat kebahagiaan."
"Terima kasih, Nisha. Kau sangat baik. Dan... aku juga ingin berpamitan denganmu. Aku akan kembali ke desa orang tuaku."
"Eh?"
"Kurasa kota tidak cocok untukku. Aku akan tinggal di desa saja."
Nisha tersenyum. "Semoga kakak menemukan kebahagiaan disana."
.
.
.
Nisha meminta ijin untuk memakai bikininya. Ini sedang musim panas dan kebanyakan orang mengenakan bikini saat berjemur di pantai.
Hernan tidak mengijinkan Nisha. Dia beralasan jika hanya dirinya saja yang boleh melihat seluruh bagian tubuh Nisha.
Nisha mengerucutkan bibirnya. Tapi ia senang karena Hernan ternyata cukup cemburu padanya.
Mereka menghabiskan waktu seharian di pantai. Malam harinya Hernan menyiapkan pesta barbeque untuknya dan Nisha.
Sungguh sebuah bulan madu yang sangat indah. Nisha tak berhenti mengembangkan senyumnya. Hernan pun begitu.
Malam harinya, Hernan menatap bintang bersama Nisha di tepi pantai. Suasana sudah sepi karena sudah hampir tengah malam.
"Apa kakak tahu. Menatap langit ditemani suara seburan ombak adalah hal yang menenangkan bagiku. Aku merasa sangat bahagia." ucap Nisha menengadahkan kepala.
"Jauh sebelum kita bertemu. Aku selalu berharap jika suatu saat aku bisa bertemu denganmu lagi."
"Dan semesta menakdirkan kita untuk bersama." ucap Nisha menatap Hernan.
"Kuarasa takdir kita memang sudah diatur sejak awal."
"Maksud kakak?"
"Pertemuan kita di Bali. Kamu yang salah masuk kamar. Itu semua sudah diatur. Aku baru menyadarinya setelah kita bertemu lagi di rumahmu saat makan malam."
"Jadi, maksud kakak... Keluarga kita menyiapkan semua ini untuk kita? Takdir cintaku sudah ditentukan oleh mereka?"
"Tentu saja oleh Tuhan, sayang... Mereka hanya perantara." Hernan mencubit pipi Nisha gemas.
"Kakak!!!" seru Nisha memanyunkan bibirnya.
"Apa kau tahu? Aku paling suka saat kau marah dan manyun seperti ini. Aku makin jatuh cinta denganmu."
"Kakak..." Nisha tersipu malu.
"Aku serius!"
Hernan menghadapkan tubuh Nisha agar berhadapan dengannya. Ia menatap dalam manik Nisha yang berbinar indah.
"Takdir sudah membawaku kepadamu. Dan aku berjanji akan menepati semua ikrar yang kuucapkan saat dulu menikah denganmu." ucap Hernan.
"Aku juga berjanji akan selalu bersamamu, dalam suka, duka, sakit maupun sehat, hingga maut memisahkan kita..." balas Nisha.
Hernan dan Nisha saling mendekatkan wajah hingga tidak ada jarak diantara mereka. Saling tersenyum sebelum akhirnya bibir mereka saling menyentuh dan saling bertautan.
Dibawah sinar bulan dan suara debur ombak yang menjadi saksi, pasangan ini mengikat janji cinta untuk bersama selamanya hingga maut memisahkan.
...- S E L E S A I -...
terimakasih banyak utk para readers yg berkenan membaca kisah ini. Untuk season 1 berakhir disini yak. akan dilanjut dengan judul berbeda dan beda kisah. Tapi sementara masih dipending dulu.
Tetap jaga kesehatan kalian, jangan kendor prokesnya 💪💪
sampai jumpa di proyek mamak yg lain, mampir yok, ada:
Goodbye Mr.Playboy / End
99 cinta untukmu / End
Rakhania / ongoing
My Posessive Boy / ongoing
kunjungi juga audio book pengisi suara by mamak 😁
ada Dosen cantikku, Si cantik istri CEO, dan yg baru rada thriller Laki-laki culun psychopath.
jangan lupa tinggalkan jejak setelah berkunjung 😘
terima kasih