
Grey tiba di klub ‘The Devil’ dengan mendapat
sambutan dari Black dan Simon. Selama perjalanan menuju klub, banyak hal yang
Grey pikirkan. Bisnis klub malam miliknya mendapat peringkat tertinggi karena usahanya dalam menarik para pekerja malam dengan cara yang cukup sensasional.
Grey hanya diam saat Black memintanya masuk ke ruang yang biasa ia pakai untuk melakukan seleksi wanita yang akan bekerja di klub malam miliknya. Grey duduk di sofa empuk ruang VVIP itu seakan sudah lama
dirinya tak duduk disana. Ia mengambil segelas wine yang sudah tersedia disana.
Seorang gadis cantik dengan gaun minim masuk ke ruang itu. Grey meneguk lagi gelas berisi wine itu hingga tandas. Grey menatap
si gadis pelamar dari ujung kaki hingga ujung kepala.
“Kau sudah berpengalaman?” Tanya Grey.
“Tentu, Tuan. Mana ada yang tidak berpengalaman jika ingin melamar kerja disini. Bukankah Tuan hanya mencari yang sudah professional?”
Grey menelan salivanya. Ia merasa sesak. Ia melonggarkan dasi yang melilit lehernya.
“Baiklah. Lakukan tugasmu dengan baik. Jangan sampai mengecewakanku.” Ucap Grey dengan nada datar.
Gadis itu mulai mendekati Grey yang duduk di sofa dan berusaha menarik perhatian Grey. Gadis itu menarik tangan Grey agar berdiri
berhadapan dengannya. Tangan gadis itu mulai melepas kancing jas milik Grey.
Grey memejamkan mata karena tak mau melihat aksi gadis itu.
“Jangan lakukan, Grey!”
Sebuah suara terdengar di telinga Grey.
“Hah?!” Grey tertegun mendengar suara yang tidak asing ditelinganya.
“Kumohon, jangan!!!”
Grey masih memejamkan matanya dan mengingat suara siapa yang terdengar menggema dipikirannya.
“Ana!!!”
Tiba-tiba Grey ingat pemilik suara itu. Ia segera
membuka mata.
“Hentikan!!!” seru Grey yang membuat gadis itu
tersentak.
Tanpa mengeluarkan satu patah kata lagi, Grey keluar dari ruangan itu dengan membanting pintu.
Black yang melihat bosnya keluar dari ruang seleksi segera memeriksa apa yang terjadi dengan gadis itu.
“Apa yang terjadi, Nona?” Tanya Black pada gadis pelamar itu.
“Aku tidak tahu, Tuan. Tiba-tiba saja Tuan Grey
pergi dari sini sebelum aku memulai aksiku.” Jawab gadis itu.
Black tersenyum mendengar penuturan gadis itu.
“Sepertinya Tuan Grey mulai menyadari perasaannya pada Nona Ana. Dia tidak ingin mengkhianati Nona Ana. Baguslah!”
“Tuan, apa yang sekarang harus kulakukan?” Tanya gadis itu yang membuyarkan pikiran Black.
“Kau pergi saja dulu. Besok akan kuberi kabar jika kau diterima.”
“Baik. Terima kasih, Tuan.”
...…***…...
Grey masuk ke dalam ruang kerjanya dan merebahkan tubuhnya di kursi kebesarannya. Ia memijat pelipisnya pelan. Bayangan Ana kini
menghiasi pikirannya.
Terdengar suara ketukan di pintu ruang kerja Grey. Tanpa menunggu ijin dari tuannya, Black segera masuk kedalam ruang itu.
“Tuan…” panggil Black.
“Hmm, ada apa?”
“Sebenarnya apa yang terjadi?”
“Aku tidak bisa melakukannya lagi, Black. Sungguh tidak bisa.”
“Sebaiknya Tuan istirahat saja dulu. Jangan terlalu memikirkannya. Kalau begitu, aku permisi!” Black memberi hormat kemudian keluar dari ruang kerja Grey.
Grey kembali terdiam dan memegangi kepalanya dengan kedua tangan. Grey melirik ke sebelah kiri meja kerjanya yang terpasang foto dirinya dan juga Nisha. itu adalah foto satu-satunya yang ia punya bersama
Nisha.
“Nisha, apa yang harus kulakukan? Aku masih terus mengingatmu tapi aku juga mengingat Ana. Kau adalah cinta pertamaku, Nisha.” Grey mengusap bingkai foto itu.
Grey memilih untuk kembali ke mansionnya sebelum resah dihatinya semakin dalam. Ia ingin menemui Ana dan memastikan perasaannya.
Sementara itu, Ana berjalan mondar mandir di
kamarnya. Ia mengingat kembali raut wajah Grey yang nampak tidak biasa setelah mendapat panggilan dari Black. Ana yakin jika Grey pasti menuju klub malam miliknya.
Hati Ana dipenuhi keresahan apabila Grey benar melakukan apa yang selama ini dibicarakan oleh banyak orang.
“Apakah benar Grey melakukan itu untuk menyeleksi pekerja wanita di klubnya? Lalu, apa arti diriku untuknya? Apa dia memang hanya
Grey yang Ana kenal sudah banyak berubah dan berbeda dengan Grey yang pertama kali ia jumpai.
“Apakah aku harus bertanya padanya?” Ana menggeleng cepat. “Tidak! Aku harus percaya padanya. Bukankah awal sebuah hubungan adalah rasa saling percaya?”
Hati Ana makin gundah kala menatap jam dinding yang menunjukkan malam makin larut. Tanpa memiliki jawaban yang pasti, Ana akhirnya merebahkan diri di tempat tidurnya dan berharap mendapat mimpi yang indah.
...…***…...
Grey tiba di mansionnya pada dini hari dan langsung menuju kamar Ana. Grey melihat tubuh gadis cantik itu telah terlelap menuju
alam bawah sadar. Grey melepas jasnya dan ikut merebahkan diri disamping Ana dan ikut berkelana di alam mimpi berharap bertemu dengan Ana.
Di sela mimpi indahnya, Ana mendengar sayup-sayup seseorang mengigau dalam tidurnya. Ana segera membuka mata dan melihat Grey
tengah terlelap dengan menggumamkan nama seseorang dalam tidurnya.
“Mom … jangan pergi! Nisha! jangan pergi!”
Berulang kali Ana mendengar kalimat itu yang
membuatnya hanya tertegun tanpa ingin membangunkan Grey agar menuju alam
sadarnya.
Masih terlalu pagi untuk bangun dan beraktifitas, namun Ana memilih untuk menuju kamar mandi dan membersihkan dirinya. Ia
berusaha menetralkan hatinya yang terasa sakit karena Grey ternyata masih mengingat
tentang Nisha.
“Sejak awal aku memang tidak pernah ada dihatinya. Aku hanya dijadikan pengganti dari seseorang yang ada dihati Tuan Grey.” Gumam Ana dengan hati yang mulai hancur.
Ana memulai aktifitasnya seperti biasa. Ia membersihkan rumah, memasak dan merawat kebun bunga taman belakang. Ana sudah menyiapkan sarapan di meja makan untuk Grey.
Grey berjalan menuruni tangga dan menuju ruang makan. Ia menyapa Ana dengan memberi kecupan singkat di pipi Ana.
Tanpa ada kecurigaan sedikitpun, Grey menyantap sarapannya kemudian pergi bersama Black yang sudah menjemputnya.
Ana menemui Simon untuk bertanya sesuatu yang meresahkan hatinya.
“Simon…”
“Iya, Nona.”
“Apa kau mengenal Nisha?” Tanya Ana ragu.
“Nisha? Tidak, Nona. Aku tidak pernah mendengar namanya. Ada apa?”
“Oh, tidak ada. Hari ini aku hanya ingin berada di mansion. Kau boleh pergi jika kau ada urusan.”
“Baik, Nona.”
Seharian ini Ana hanya berdiam diri di kamar dan tak berminat pergi kemanapun.
“Kenapa hatiku begitu sakit? Apakah aku benar
mencintainya?” lirih Ana dengan memegangi dadanya.
“Siapa Nisha?” Ana memejamkan matanya mengingat tentang lirihan Grey yang memanggil nama Nisha.
Malam harinya ketika Grey kembali ke mansion, ia dibuat terkejut dengan kehadiran Ana yang berdiri menyambutnya didalam kamar.
“Ana?” Grey merasa lelahnya hilang karena melihat Ana berada di kamarnya.
“Tuan… Apa yang sebenarnya Tuan inginkan dariku?” Tanya Ana dengan mata berkaca-kaca.
“Apa maksudmu, Ana?”
“Aku tahu aku bukanlah gadis yang Tuan inginkan. Aku hanya menjadi pengganti Nisha.”
Grey terkejut dengan penuturan Ana. “Ana, aku tidak bermaksud untuk …”
“Ini ‘kan yang Tuan inginkan?” Ana membuka tali dress tidur berbahan satin yang menempel pada tubuhnya.
Ana melepas dress itu hingga menampakkan tubuh polos Ana tanpa sehelai benangpun.
“Jika Tuan menginginkan ini, maka lakukanlah. Aku tidak mau Tuan terus menjeratku agar berada di sisi Tuan tapi hati Tuan tidak
tertambat padaku…”
Air mata Ana lolos menyusuri wajahnya yang cantik.
“Ana…”
“Lakukanlah, Tuan! Aku siap memberikan mahkotaku untukmu…”
Grey menghampiri Ana dan menatap lekat wajah penuh air mata itu.
#bersambung…
*wah wah, apakah Grey akan melakukan itu pada Ana?
*Baru aja sweet moment sekarang udah ada aja masalah… sabar ya genks, ini ujian cinta, heheheh
Jangan lupa tinggalkan jejak berupa Like, Comments, Gift, and Vote.
Mumpung besok hari senin, silahkan yang mau kasih VOTE untuk Grey dan Ana.
...Terima kasih...