Raanjhana

Raanjhana
Part 1 : Om Dirga, I Love You




TAP


TAP


TAP


Langkah kaki beberapa pria memasuki rumah kecil yang yang masih beralaskan tanah. Orang-orang itu mengambil beberapa barang yang bisa mereka jual untuk menebus hutang si pemilik rumah yang telah meninggal dunia seminggu yang lalu.


Di pojok ruangan seorang gadis kecil menangis tersedu sambil memeluk seorang wanita paruh baya yang berusaha menghalau orang-orang itu agar segera pergi.


"Ambillah semua barang yang kau butuhkan, Tuan." ucap wanita paruh baya itu.


Seorang ketua dari para pria itu menghampiri wanita dan gadis kecil yang terus menangis.


"Hei, ayah si gadis ini berhutang banyak kepada bos kami. Barang-barang rongsokan seperti ini tidaklah cukup untuk melunasi hutang-hutangnya." ucap si ketua.


Mereka adalah anak buah dari rentenir terkenal di desa itu yang bernama Juragan Sugih. Mereka dengan mudah meminjamkan uang kepada penduduk desa. Namun saat hari penagihan tiba, mereka akan berbuat kasar dan bahkan brutal.


Si ketua terus memandang kearah gadis kecil yang terus terisak sambil menempelkan ditubuhnya pada wanita paruh baya yang adalah tetangganya. Gadis kecil itu tidak memiliki keluarga lagi.


Ibunya meninggal saat melahirkannya ke dunia. Ayahnya merawatnya seorang diri dan sakit-sakitan. Hingga akhirnya gadis kecil itu kini hidup sebatang kara dan hanya mengharap belas kasihan dari para tetangganya.


"Anda mau apa, Tuan?" tanya wanita paruh baya yang melihat senyum seringai dari wajah si ketua.


"Kemari gadis cantik. Jangan takut!"


Si ketua ternyata memiliki penglihatan yang jeli. Meski baru berusia 5 tahun, gadis kecil itu sudah terlihat berwajah cantik dengan kulit putih bersih persis seperti ibunya.


"Kemarilah, sayang..." Si ketua masih membujuk gadis kecil itu dengan suara yang dilembutkan.


Wanita paruh baya itu tidak mengijinkan si ketua untuk mendekar. Ia sudah menganggap gadis itu seperti putrinya sendiri.


"Jangan sakiti dia! Anak ini tidak bersalah!" teriak wanita yang bernama Esih itu.


"Hei wanita tua! Kau tidak berhak untuk menghalangi kami. Lagipula kau tidak ada hubungannya dengan keluarga ini bukan? Jadi jangan ikut campur jika kau tidak ingin nyawamu dalam bahaya."


Dengan kasar, si ketua menarik lengan gadis kecil dari dekapan Esih. Gadis kecil itu makin menjerit histeris karena tangan besar si ketua menariknya dengan kasar.


"Jangan, Tuan! Jangan bawa dia!!"


Si ketua menyeret tubuh gadis kecil itu dengan paksa keluar dari rumah. Esih mengikuti langkah si ketua dengan tetap memohon untuk melepaskan gadis kecil itu.


Gadis kecil itu meronta saat tubuhnya dipaksa masuk kedalam mobil. Ia terus berteriak memanggil nama Esih.


Hingga akhirnya, sebuah suara berat dan keras menginterupsi semua kegiatan para anak buah rentenir itu.


"Ada apa ini?"


Seorang pria muda yang tampan dengan setelan jas mewahnya menatap dengan tatapan dingin pada si ketua yang membawa tubuh gadis kecil itu.


"Lepaskan anak itu!" ucap si pria muda.


"Tentu saja ini menjadi urusanku. Tanah di desa ini sudah menjadi milikku!" ucap si pria muda dengan lantang.


Si ketua dan anggotanya tertawa terbahak tidak percaya dengan apa yang dikatakan si pria muda.


Dengan menjetikkan jarinya, si Pria muda memamggil anak buahnya yang berjumlah puluhan untuk memberi pelajaran pada si ketua dan gengnya.


"Hah?!" si ketua tertegun melihat betapa banyak orang-orang dari si pria muda didepannya ini.


Karena kalah telak, akhirnya si ketua melepaskan gadis kecil itu yang segera berlari memeluk Esih.


"Berapa hutang ayah anak ini?"


"50 juta." jawab si ketua.


"Cih, hanya segitu saja." ucap si pria berdecih.


Ia segera memerintahkan asistennya untuk memberikan cek sebanyak yang si ketua ucapkan.


"Ini cek 50 juta. Silahkan kau ambil dan jangan pernah muncul lagi didepan orang-orang desa ini. Rentenir macam kalian hanya menjadi sampah masyarakat. Katakan pada bosmu untuk jangan main-main denganku atau dia akan tahu akibatnya." ucap si pria muda dengan nada dingin.


Si ketua dan gengnya segera lari kocar kacir meninggalkan rumah reot dan tua milik si gadis kecil.


Si pria muda itu menghampiri si gadis kecil yang masih terus memeluk Esih.


"Anak manis, siapa namamu?" tanya si pria muda dengan suara lembutnya. Sangat berbeda dengan saat tadi bicara dengan si ketua.


"Jangan takut, Om akan menolongmu." pria muda itu mengulurkan tangannya.


Si gadis kecil menatap ke arah Esih meminta persetujuan. Esih mengangguk.


Gadis kecil itu menerima uluran tangan si pria muda yang tampan dan berkarisma itu.


"Siapa namamu?" pria muda itu mengulangi pertanyaannya.


"Na-namaku, Diya." jawab si gadis kecil gugup.


"Baiklah, Diya. Maukah kau ikut dengan Om? Tinggal bersama dengan Om. Kenalkan, Dirga. Kamu bisa panggil Om dengan panggilan Om Dirga."


Wajah gadis kecil itu berseri dan tersenyum bahagia.


"Om Dirga..." ucap gadis kecil itu mengulangi perkataan si pria muda.


...***...


...***...


#bersambung...


genks, Raanjhana is back dengan cerita yang berbeda dari sebelumnya ya. Jangan lupa berikan dukungan kalian untuk karya halu mamak yg ini 💟💟💟


terima kasih 😘😘