Raanjhana

Raanjhana
Meet Me on Facebook : 22. Fight For Love




"Mas Iyan...?!"


Mata Sivia membulat sempurna mendapati sosok yang tiba-tiba datang dihadapannya.


"Syukurlah kamu baik-baik saja." imbuh Adniyan dengan tersenyum.


Sivia melirik ke arah Bayu yang berdiri mematung di sebelahnya.


"Ayo kita pulang, Vi! Semua orang sangat mengkhawatirkanmu..."


Dan tanpa perlawanan apapun, Sivia masuk ke kamar dan membereskan barang-barangnya.


Setelah berkemas ia kembali bertemu Bayu yang masih berdiri mematung.


"Terima kasih sudah menjaga Sivia." ucap Adniyan sambil menepuk bahu Bayu.


Adniyan merangkul tubuh Sivia dipelukannya dan membawanya pergi. Bayu hanya memandangi Sivia tanpa berkata apapun. Seperti yang pernah dia ucapkan sendiri pada Sivia, bahwa Sivia bukanlah siapa-siapa untuknya, dan mereka tak memiliki hubungan apapun.


Setelah Sivia berlalu, munculah Raga ke hadapan Bayu.


"Lo?!" Bayu mengernyitkan dahi.


"Iya. Ini gue, Bay."


"Jadi lo yang kasih tahu soal tempat ini ke bos lo?"


"Iya. Dia lebih berhak atas Sivia."


"Tapi dia belum menjadi suami Sivia."


"Tapi dia calon suami Sivia. Dan lo harusnya langsung kabarin kita begitu lo menemukan Sivia. Bukannya malah menyembunyikannya disini."


"Lo tahu sendiri kalo disini tidak ada jaringan telepon."


"Harusnya lo usaha untuk mengabari kami."


"Lo gak tahu apa yang sedang dihadapi Sivia. Dia butuh ketenangan, makanya dia kemari."


"Masalah bukan untuk dihindari, tapi diselesaikan."


"Lo bilang begitu karena lo gak tahu permasalahannya."


"Apapun alasannya, melarikan diri tidak akan menyelesaikan masalah. Tapi akan lebih membuatnya rumit. Dan lo, sebagai sahabat Sivia, harusnya bisa menasehati dia agar tak melarikan diri seperti ini." Raga menepuk bahu Bayu kemudian pergi meninggalkannya.


...***...


Sepanjang perjalanan Sivia dan Adniyan hanya terdiam. Meski Adniyan senang bisa bertemu lagi dengan Sivia, namun dihatinya ada yang terasa aneh. Melihat kedekatan Sivia dan Bayu membuatnya merasa kecewa. Melihat senyum Sivia yang lebar ketika bersama Bayu, membuatnya seakan sudah kalah dalam sebuah peperangan.


"Maaf..." sebuah kata tiba-tiba terucap dari bibir Sivia.


"Tidak apa. Aku tahu ini semua berat untukmu." Jawab Adniyan sambil tersenyum.


"Terima kasih..." Hanya itu yang bisa dikatakan Sivia untuk kekasihnya itu.


Perjalanan yang cukup jauh mereka tempuh sampai akhirnya mereka tiba di kediaman Sivia. Keluarga Sivia langsung menyambutnya dengan tangis bahagia. Nila memeluknya dengan erat. Dilanjut dengan Nisa yang tak mau kalah, memeluk erat kakak semata wayangnya.


Tak ada sepatah katapun yang Sivia ucapkan meski ibu dan adiknya terus mengucap syukur atas kepulangannya.


Sivia masih tidak percaya kalau dirinya sekarang berada di rumah. Baru beberapa jam lalu ia merasa sangat bahagia dan bebas, bisa menjelajahi alam liar dan bersahabat dengannya. Namun saat ini, keadaan telah berubah. Ia harus kembali ke rutinitas lamanya. Tak ada lagi kedamaian yang pernah ia rasa seperti saat tinggal di Desa Selimut. Terlebih lagi, Sivia sudah ingat semuanya. Semua hal yang terjadi enam tahun lalu. Kepergian Bayu yang membuatnya sangat sedih, dan tindakan yang Ibunya ambil agar Sivia melupakan masa kelam itu.


"Kenapa kamu tak mengatakan apapun, Nak? Apa kamu tidak senang kembali ke rumah? Apa kamu tahu betapa cemasnya Ibu? Ibu sangat takut terjadi sesuatu padamu." Ucap Nila dengan berkaca-kaca.


"Maaf..."


Nila menghela nafas. Dan mengelus dadanya. Nisa pun ikut menenangkan Ibunya.


"Aku sudah ingat semuanya, Bu. Semua hal yang coba kalian tutupi dariku enam tahun lalu..."


"Apa maksudmu, Mbak?" tanya Nisa.


"Dewa---dia tidak pergi setelah pesta kelulusan SMA. Dia pergi jauh sebelum itu. Bagaimana bisa Ibu melakukan ini padaku? Ibu membuatku melupakan tentangnya." Sivia mulai meneteskan air matanya.


"Kenapa kamu membahasnya sekarang? Itu sudah lama berlalu. Dan kenangan burukmu tentang dia, memang lebih baik kamu lupakan kan? Dia pergi meninggalkan luka untukmu, jadi---"


"Tapi tetap saja Ibu tidak berhak menghapusnya dari ingatanku! Dewa adalah sahabatku. Dia sangat berharga untukku!"


"Sudahlah, Mbak. Jangan menyalahkan Ibu. Apa yang Ibu lakukan adalah untuk kebaikanmu. Kamu tidak tahu betapa menderitanya kami melihat kondisi Mbak saat itu. Itu sudah berlalu, jadi Mbak gak perlu membahasnya sekarang."


...***...


Keesokan harinya, Sivia kembali datang ke salon. Ia cukup gugup bertemu dengan Razona. Perdebatan dengan Ibunya kemarin, sudah dilaluinya dan Siviapun meminta maaf kepada keluarganya. Sekarang, ia yakin akan menghadapi perdebatan yang lain.


"Iyan cerita kalo lo disana bareng sama sahabat lo, si Bayu. Apa itu benar?"


"Jadi---Mas Iyan cerita ke lo?"


"Ya, begitulah. Kenapa dia bisa tiba-tiba ada disana?"


"Gue juga gak tahu, Raz." Sivia mulai agak takut dengan reaksi yang diberikan Razona.


"Berapa lama kalian berdua disana? Apa saja yang sudah kalian lakukan disana?"


"Raz, bukankah lo agak---"


"Melakukan apa?"


"Cuman lo yang bisa jawab pertanyaan itu, Vi. Apa yang lo lakuin sama si Bayu?" Razona menyilangkan tangannya.


"Raz, Please---"


"Kissing? Did you kiss him? Or he kissed you?"


Sivia tak percaya dengan apa yang dikatakan Razona. Razona berhasil membuat Sivia tak berkutik. Dia tak bisa menjawabnya.


"It's true? You two were kissing?? Oh My God, gue gak percaya lo bisa mengkhianati Iyan kayak gini."


"Raz, please!!! Gue gak mengkhianati Mas Iyan. It's just a kiss. Gak berarti apapun."


"When you kissed him, you treated him as a man? Or a friend?"


"Raz---" Sivia memohon agar Razona menghentikan percakapan ini.


"Seorang teman gak akan saling berciuman, Vi. Gue tahu kedatangan dia kesini hanya untuk mengacaukan hidup lo, sama kayak yang dia lakukan enam tahun lalu..."


"Raz, jangan menilainya seperti itu kalo lo gak kenal siapa dia."


"Enough. Did you love him?"


"No. Gak begitu, Raz---"


"Apa saat kalian berciuman tidakkah kalian sedikit saja mengingat tentang Iyan? Apa lo mikir gimana perasaan Iyan kalo dia tahu tunangannya berciuman dengan pria lain?"


Sivia mulai kehabisan kata-kata. Dia tahu dia sangat bersalah dalam hal ini.


"Gue kecewa sama lo, Vi..." Razona memilih pergi meninggalkan salon. Dan sampai waktu tutup salon, Razona tidak kembali.


...***...


Sore itu, Bayu datang ke kantor Adniyan. Ia ingin bicara dengan Adniyan. Sudah 15 menit Bayu menunggu, namun Adniyan belum muncul juga. Resepsionis bilang kalau Adniyan sedang meeting diluar kantor. Jadi, Bayu memutuskan untuk menunggu di lobby sambil membaca koran.


Setelah 20 menit menunggu, akhirnya Bayu melihat Adniyan memasuki gedung bersama dengan Raga.


Bayu segera bergegas menghadang mereka. Adniyan cukup terkejut melihat Bayu tiba-tiba berdiri di depannya.


"Maaf, mengganggu. Bisa kita bicara?"


"Bay, apaan sih?" Raga menghadang Bayu.


"Gak apa Raga. Baiklah, mari bicara." jawab Adniyan.


Adniyan berjalan di depan diikuti Bayu. Raga hanya bisa bergeleng kepala tak percaya.


Bayu pasti sudah gak waras. Batin Raga.


.


.


.


Adniyan dan Bayu bicara di sebuah lorong yang sepi dekat lobby. Adniyan sudah bisa menebak apa yang ingin dibicarakan Bayu dengannya.


"Ada apa?" tanya Adniyan.


"Batalkan pernikahanmu dengan Sivia."


Adniyan tersenyum smirk. "Batalkan? Apa maksudmu?"


"Aku tahu tentang kisah kalian. Dan aku tahu kalau Sivia gak akan bisa menghadapi kerumitan ini."


"Sivia pasti sudah menceritakannya padamu. Tapi, bukan wilayahmu bicara seperti ini padaku. Ini adalah keputusan kami. Dan keputusan Sivia. Jadi, jangan ikut campur masalah kami."


"Kamu tahu Sivia hampir kehilangan nyawanya karena memikirkan masalah kalian? Dia tak sekuat kelihatannya."


"Kamu mencintainya? Cih, sangat jelas kalau kamu mencintainya. Tapi, kisah kalian sudah berakhir. Dan Sivia memilihku sekarang."


"Iya. Aku memang mencintainya. Dan aku sudah mengungkapkan perasaanku padanya. Aku juga yakin kalau dia juga mencintaiku."


"Haha, benarkah? Tapi dia tidak memilihmu. Mungkin dulu dia iya, tapi sekarang---dia akan menikahiku."


"Kamu hanya akan membawa air mata untuk Sivia..."


"Bayu!!! Apaan sih lo? Pak bos, jangan hiraukan dia. Ayo kita pergi!" Raga mendengar pembicaraan Bayu dan Adniyan, lalu segera menyela perbincangan mereka.


"Lo gak usah ikut campur, Ga."


"Lo yang harusnya jangan ikut campur. Ini urusan mereka berdua. Lo udah melewati batas, Bay. Ayo pak bos, jangan dengarkan dia!"


Raga dan Adniyan pun meninggalkan Bayu yang mengepalkan tangannya. Ia tahu kalau Raga akan lebih membela bosnya daripada dirinya.


...***...



Detik detik menuju akhir ya genks...