
Sudah tiga bulan pernikahan Lala dan Reza berjalan. Namun belum banyak perubahan yang berarti dengan hubungan mereka. Bukankah pengantin baru biasanya sedang hangat-hangatnya dan romantis-romantisnya di usia pernikahan yang menginjak bulan ke 3? Tapi rasanya itu masih belum terjadi pada Lala dan Reza.
Lala masih tetap melakukan tugasnya sebagai seorang istri. Setiap hari ia membereskan rumah, memasak, mencuci baju dan menyetrika semua pakaian Reza hingga menatanya dengan rapi di walk-in-closet milik Reza.
Lala merebahkan diri sejenak setelah berbenah rumah. Ia meraih ponselnya dan melihat galeri fotonya. Foto-foto kebersamaannya dengan Reza tersimpan rapi disana.
Bahkan foto liburan saat di Pulau Ayer kemarin masih ia simpan dan tak pernah bosan untuk berulang kali menatapnya. Ia bahkan mengambil foto Reza secara sembunyi-sembunyi saat sedang memakai kemeja pantai dengan kancing terbuka yang memperlihatkan dada bidang kekarnya yang membuat Lala menelan salivanya.
Lala memposting foto-foto liburan mereka ke laman media sosial pribadinya dan menambah caption kata-kata mesra untuk menyemangati dirinya. Kini ia menyadari jika hatinya telah tertambat pada seorang duda tampan bernama Reza.
Sementara itu dikantornya, Reza amat sibuk karena sedari pagi Rocky selalu memberinya banyak pekerjaan. Lalu ketika mereka sedang berbincang berdua sambil menunggu klien, Rocky bertanya tentang hubungan Reza dan Lala.
"Bagaimana hubunganmu dengan Lala? Apa Lala sudah...?" Rocky memberi isyarat dengan tangan yang di gelembungkan di depan perut.
"Heh? Maksud bapak hamil?"
"Hu'um. Kulihat hubungan kalian bertambah mesra setelah bulan madu kemarin. Cuti yang kuberikan sepertinya berhasil ya."
"Bagaimana Lala bisa hamil? Kami saja belum melakukan apapun." batin Reza.
"Ah iya, Pak. Terima kasih banyak."
"Visha bercerita jika Lala mengupload foto-foto kalian saat liburan kemarin."
"Eh? Foto?" Reza Mengernyit bingung.
"Kamu ini bagaimana sih? Apa sosial media istrimu tidak kamu ikuti?"
"Maaf, Pak. Sedari tadi saya sibuk mengerjakan pekerjaan dari bapak. Saya belum mengecek apapun." Reza menggaruk tengkuknya.
"Astaga! Aku lupa. Kau pasti belum istirahat siang ya. Ya sudah, sebaiknya kamu istirahat saja dulu. Kebetulan klien kita ternyata membatalkan pertemuan hari ini. Kita akan mengatur jadwalnya lagi besok."
"Baik, Pak."
Reza segera memberi hormat dan segera pergi untuk merebahkan tubuhnya sejenak di ruang pribadinya. Netranya tertuju pada kotak makan yang tergeletak diatas meja. Pagi tadi Lala membawakan bekal makan siang untuk Reza.
Reza bangkit dari rebahannya dan memandangi kotak makan berwarna biru itu. Ada sebuah catatan disana ketika Reza membuka kotaknya.
..."Selamat makan Mas Reza, suamiku. Semoga dengan bekal ini kamu akan bertambah semangat dalam bekerja....
...salam sayang, istrimu."...
Reza tersenyum kecil sebelum memakan bekal makanan yang Lala buatkan.
"Apa aku terlalu keras padanya? Apa aku harus memaafkannya dan memulai semuanya dari awal?" gumam Reza dalam hati.
Reza ingat apa yang dikatakan Rocky tadi tentang postingan Lala di media sosialnya. Reza ikut penasaran apa yang sebenarnya di unggah oleh istrinya itu.
Reza makin tersenyum lebar kala melihat foto-foto liburan mereka di Pulau Ayer sebelum insiden di malam itu yang merenggangkan hubungan mereka.
Mata Reza tertuju pada satu foto dirinya yang ia sendiri tak tahu kapan Lala mengambilnya. Reza kembali menarik sudut bibirnya karena membaca caption yang Lala tulis di unggahan foto dirinya.
...πMilikkuπ...
Satu kata yang membuat Reza sedikit melunak.
"Apa Lala mulai membuka hatinya untukku? Atau dia hanya ingin menyenangkanku saja karena dia merasa bersalah?" Hati Reza kembali berkecamuk mengingat apa yang sudah Lala lakukan dimasa lalu bersama mantan kekasihnya. Bayangan pria lain yang sedang berada di ranjang bersama istrinya membuat Reza tak ingin percaya dengan apa yang ditulis Lala di media sosialnya.
......***......
Lala menyiapkan bahan-bahan yang akan ia masak untuk makan malam. Tak lupa ia sudah merapikan seisi apartemen Reza agar suaminya puas dengan hasil kerjanya sebagai seorang istri.
Pukul enam sore, Reza tiba di apartemennya. Ia disambut oleh senyum manis istrinya. Namun ia melenggang pergi tak membalas senyum manis Lala. Tiba di kamar, Lala langsung menyiapkan air mandi untuk suaminya.
Reza hanya mengangguk kemudian masuk kedalam kamar mandi. Seperti biasa Lala menyiapkan baju ganti untuk Reza. Setelahnya Lala kembali ke dapur untuk menyiapkan makan malam.
Reza mengguyur tubuhnya dibawah shower. Bayangan senyum Lala menari-nari di otaknya. Sungguh ia tak ingin melanjutkan perang dingin ini. Tapi kenapa hatinya terasa sakit saat membayangkan kesalahan Lala.
Kemudian sesuatu seakan berbisik di telinganya.
..."Bukankah dia juga menerima masa lalumu? Kenapa kamu tidak menerima masa lalu istrimu? Apa kamu ingin istrimu itu pergi dari kehidupanmu?"...
Reza menggeleng merasakan suara itu begitu nyata.
..."Tetap saja! Itu artinya dia tidak jujur denganmu sejak awal. Harusnya jika dia berkata jujur, mungkin kamu tidak akan sesakit ini. Iya 'kan?"...
Suara lain tiba-tiba muncul. Reza berteriak kesal.
"Sudah cukup! Aku tidak mau mendengar apapun lagi dari kalian!" Reza menutup kedua telinganya dengan tangan kemudian keluar dari kamar mandi dengan memakai handuk yang melilit pinggangnya.
Reza melirik sekilas kearah baju ganti yang disiapkan Lala. Reza menyambarnya kemudian menuju ke walk-in-closetnya.
Reza tertegun karena melihat ruang itu begitu rapih karena sentuhan tangan Lala. Bahkan semua bagian ruang itupun sangat bersih dan wangi.
Reza melihat kesungguhan hati Lala yang menyesali semua perbuatannya di masa lalu. Reza melunak. Ia akan mengakhiri semua perang dingin ini.
Tok
Tok
Pintu kamar diketuk oleh Lala. Sejak kesunyian melanda hubungan mereka, Lala sangat berhati-hati terlebih jika menyangkut hal yang bersifat pribadi.
"Mas, makan malamnya sudah siap," ucap Lala dari balik pintu.
Tiba-tiba saja Reza membuka pintu hingga membuat Lala terkejut bukan kepalang.
"Umm, Mas. Makan malamnya sudah siap." ulang Lala untuk mengusir kekagetannya.
Tanpa aba-aba Reza menarik tangan Lala dan membawa Lala masuk ke dalam kamar. Tubuh Lala ia rapatkan ke dinding.
"Mas Reza..." Lala yang merasa bingung dengan perbuatan Reza hanya pasrah ketika tubuh mereka begitu dekat hingga bisa saling mendengar deru nafas dan juga debaran jantung masing-masing.
Lala menatap manik hitam milik Reza yang juga sedang menatapnya. Tatapan mereka beradu menyelami satu sama lain.
Tanpa persiapan, tiba-tiba saja sebuah benda kenyal dan lembut sudah menyatu dengan bibir Lala. Lala mengerjapkan matanya saat bibir suaminya menyapu bibirnya dengan lembut dan berirama.
"Kenapa Mas Reza tiba-tiba menciumku? Apa dia ... sudah memaafkan aku? Lalu aku harus bagaimana? Apa aku harus membalas ciumannya?" Batin Lala bertanya-tanya tentang apa yang harus ia lakukan.
Reza melepaskan tautannya karena sepertinya istrinya itu sedang bingung.
"Aku pasti akan keluar untuk makan malam, tapi bolehkah aku meminta makanan pembukanya?" ucap Reza.
"Makanan pembuka?" Lala mengernyit bingung. Jantungnya berdegup kencang dan merasa malu dengan apa yang baru saja terjadi.
Reza mengangguk kemudian merangkum wajah Lala dengan tangan kekarnya.
"Ini adalah makanan pembukanya." Reza kembali menyantap makanan pembukanya yang ternyata sangat manis dan mulai menjadi bagian favoritnya.
Kali ini Lala mulai mengerti dan mulai membalas apa yang dilakukan suaminya. Lala memegangi tangan suaminya yang masih setia merangkum wajah mungilnya.
......***......
#bersambung
"Ooouuuwwww, aku padamu babang Reza πππ meleleh deh eke π³π³"