
......***......
Ana terbangun di pagi hari dengan perasaan bahagia. Entah bahagia karena Grey kembali atau karena kedekatan mereka yang sudah lebih dari kesepakatan yang mereka buat. Ana berbalik badan dan menatap wajah Grey yang masih terlelap.
"Ternyata wajah dinginnya sangat tenang saat tertidur. Coba saja kau terus seperti ini. Andai aku bisa melihat ini setiap hari. Tapi..."
Ada kecemasan dihati Ana. Ingatan Ana kembali saat pertama kali dirinya bertemu dengan Grey. Grey salah mengenali Ana sebagai Nisha.
"Sebenarnya siapa Nisha? Apa dia gadis masa lalu Tuan Grey? Apa yang terjadi dengan mereka berdua?"
Pikiran Ana diisi dengan berbagai kemungkinan-kemungkinan yang membuat hatinya cemas. Ia sadar jika kedekatannya dengan Grey pasti karena ada sesuatu terkait Nisha.
"Morning, babe..." Suara Grey membuat Ana kembali ke alam nyata.
"Tuan? Sudah bangun?"
"Hmmm,"
"Kalau begitu aku akan segera menyiapkan air mandi untuk Tuan, lalu aku juga harus membuat sarapan." Ana menarik diri dari tempat tidur.
"Tetaplah disini!" Grey menarik tangan Ana.
"Tapi ini sudah siang, Tuan. Bagaimana jika Tuan Black datang? Bukankah Tuan harus pergi ke kantor?"
"Ck, kau ini cerewet sekali! Aku masih ingin tidur disini." Grey membawa Ana dalam pelukannya.
"Tuan..."
"Sudah, jangan menolak!" Grey merapatkan tubuh Ana pada tubuhnya. Tanpa aba-aba Grey meraih candunya yang selalu membuatnya mabuk kepayang. Permainan dimulai dengan pelan dan teratur.
Ana mengikuti gerakan Grey yang memagutnya dengan sangat hati-hati. Suasana kamar Grey berubah hangat hingga tercipta suara desa'han dari bibir Ana.
"Tuan, jangan..." Ana merasakan gelenyar aneh saat Grey menjelajah ke leher jenjangnya. Ana mere'mas rambut Grey sehingga membuat Grey makin bersemangat.
Grey membuka satu persatu kancing piyama milik Ana.
"Tidak, Tuan..." Ana masih berusaha berontak namun tubuhnya berkata lain. Ana merasakan rasa yang berbeda saat Grey menyentuhnya.
"Aaakkhh!!!" Ana memekik saat Grey memberikan tanda di bagian dada dan lehernya.
"Kau milikku, Ana." Grey menambah lagi jejak kepemilikannya. "Hanya milikku!" Grey kembali mengecap manis dua lembaran tipis namun kenyal milik Ana. Ia memperdalam ciumannya hingga ada sesuatu yang mulai menegang di bawah sana.
Tok
Tok
Tok
Bunyi ketukan di pintu kamar Grey membuat Ana terkejut dan mendorong tubuh Grey.
"Tuan! Apa Tuan sudah bangun?" Itu adalah suara Black dari balik pintu.
"Ck, mengganggu saja. Dengar Ana, kau tunggu disini dan jangan pergi kemanapun." Grey membelai wajah Ana kemudian turun dari tempat tidur.
Grey membuka pintu dengan wajah kesal. "Kenapa kau datang sepagi ini?" tanya Grey dingin.
"Maaf, Tuan. Tapi, ada yang harus kusampaikan pada Tuan."
"Tentang apa?"
"Tuan Alfred akan kembali hari ini."
"APA?! Bukankah ayah bilang dia akan mengurus dokumen nenek lebih dulu?"
"Aku tidak tahu cerita detilnya. Tapi yang jelas, Tuan Alfred sudah tahu jika kita rugi ratusan juta Pounds karena ulah Alonso Gerardo."
"Apa?! Ini gawat! Siapa yang memberitahu Daddy jika kita ditipu?"
"Aku tidak tahu. Yang jelas Todd tidak akan melakukan hal seperti ini."
Grey memijat pelipisnya pelan. Ia melirik kedalam kamarnya yang masih ada Ana disana.
"Baiklah. Aku akan bersiap dan kita akan pergi mengurus ini."
"Baik, Tuan. Omong-omong dimana Nona Ana?Biasanya dia sedang membuat sarapan jam segini."
"Eh? Bu-bukan urusanmu dia ada dimana. Kau tunggu saja dibawah!" Grey segera menutup pintu.
Black merasa ada yang aneh dengan bosnya. "Ada apa dengan Tuan Grey? Wajahnya terlihat gugup saat aku bertanya tentang Nona Ana. Jangan-jangan... Nona Ana ada di kamar Tuan Grey?" Black menggeleng pelan. "Bukankah sudah kubilang, Tuan akan terbakar jika bermain api." Black tersenyum kemudian turun ke lantai bawah.
......***......
Grey berpamitan pada Ana sebelum pergi dengan mendatangi kamar Ana. Ana baru saja selesai mandi.
Grey memeluk Ana dan mencium aroma harum dari tubuh Ana.
Ana mengangguk. "Aku tahu Tuan sibuk."
"Jika kau butuh sesuatu, katakan saja pada Simon."
"Iya, aku tahu."
Grey menatap Ana lama. Sungguh ia masih ingin menikmati waktu bersama dengan Ana.
"Ada apa, Tuan?"
"Tidak ada. Aku hanya ... ingin melakukan ini."
Seperti biasa Grey meraih benda kenyal milik Ana yang kini menjadi candu untuknya. Menyesapnya pelan dan meresapi semua rasa manis didalamnya.
"Mmmmppphhh," Ana membalas dengan irama yang sama. Ana melingkarkan tangannya ke leher Grey dan mere'mas pelan rambut Grey.
Pertautan itu makin dalam dan panas. Grey menempelkan tubuh Ana ke dinding dan masih mengeskplor manisnya rasa ranum itu.
"Tuan..." suara Ana terasa berat kala Grey berhenti untuk mengambil asupan oksigen.
"Jangan menggodaku, Ana. Atau aku tidak bisa pergi." Lagi dan lagi Grey melakukan pertautan panas meski kini dirinya sudah rapi dengan setelan jasnya.
"Tuan, berhenti!" Ana mendorong dada Grey pelan. "Kau harus pergi. Aku tidak mau kau terlambat."
Grey mendesah kasar. "Baiklah. Berjanjilah kau akan menungguku pulang."
Ana terkekeh. "Tentu saja aku akan menunggumu." Ana merangkum wajah Grey.
Pertama kalinya bagi Ana merasakan rasa berdebar tak beraturan adalah saat bersama Grey.
"Pergilah!" Ana mengecup singkat bibir tebal Grey.
"Oke!" Grey membalas dengan mengecup Ana berkali-kali. Kemudian mereka berdua tertawa.
Sepeninggal Grey, Ana membereskan rumah seperti biasa. Ana memegangi dadanya kala mengingat apa yang terjadi dengannya dan Grey.
"Astaga! Kenapa aku begitu agresif? Aku sangat malu!" Ana menutup wajahnya.
"Tapi, apa yang sebenarnya Tuan Grey rasakan padaku. Aku merasa dia memiliki cinta untukku, tapi dia juga tak pernah mengatakan apapun. Semuanya terjadi begitu cepat. Lalu bagaimana dengan hutang ayahku? Apa dia akan tetap menagihnya?"
Ana mulai merasakan kekhawatiran dengan hubungan barunya bersama Grey.
"Nona!" Suara Simon membuat Ana menoleh.
"Simon?"
"Apa Nona ingin pergi ke rumah sakit?"
"Hmm, iya. Mungkin nanti siang. Aku akan mengurus kebun belakang dulu."
"Baiklah, Nona."
......***......
Grey menuju Julies Corp dengan perasaan cemas. Ia tahu jika ayahnya pasti akan sangat marah karena kerugian yang diderita oleh perusahaannya. Selama ini Grey berhasil menutupi masalah ini dari ayahnya, namun kini semua telah terbongkar dan Grey harus menghadapinya.
Grey tiba di ruang kerja ayahnya bersama Black. Ayahnya nampak sedang duduk dan membaca berkas-berkas yang di serahkan oleh Todd.
Grey bertanya melalui isyarat pada Todd, namun Todd hanya mengedikkan bahunya.
"Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa kau menyembunyikan masalah ini dari Daddy?" Tanya Alfred yang rasanya ingin marah pada putra semata wayangnya itu.
"Maaf karena aku tidak mengatakannya pada Daddy. Aku hanya tidak ingin Daddy cemas. Aku sudah mengurus semuanya."
"Daddy tidak pernah mengira jika Alonso akan mengkhianati kakaknya sendiri. Lalu bagaimana dengan Alfonso dan anak-anaknya? Dimana mereka sekarang? Kenapa kau mengambil alih GD Group?"
"Dad, hanya itu aset mereka yang bisa kita sita. Bahkan resortnya tidak bisa kita dapatkan." jelas Grey.
"Keluarga Alfonso masih bisa melanjutkan perusahaannya. Bukankah Alfonso memiliki seorang putri bernama Ana? Dimana dia sekarang?"
"Eh?" Grey tertegun. Ia menatap Todd dan Black agar tidak mengatakan apapun tentang Ana pada ayahnya.
"Todd, cari keberadaan gadis itu!" perintah Alfred.
"Hah?!" Grey terkejut dengan perintah ayahnya.
......***......
#bersambung...
*kurang pagi ya UP nya, harusnya pagi tadi jadinya hot morning beneran 😅😅😅
jangan lupa tinggalkan jejak ya genks 😘😘😘