Raanjhana

Raanjhana
Lala Love Song : 08. Dua Hati yang Berseberangan



Lala PoV


Pagi ini aku terbangun dengan perasaan hati yang tidak tenang. Sejak semalam Mas Reza mengetahui kebenaran tentang diriku, aku merasa tak memiliki arti lagi dalam hidupnya.


Mas Reza masih bungkam, hingga pagi ini pun, kami belum bertegur sapa. Ia langsung menuju kamar mandi begitu bangun dari tidurnya.


Mungkin sebenarnya Mas Reza merencanakan bulan madu untuk kami. Tapi aku sudah merusaknya. Tak akan ada lagi senyum hangat yang terukir di wajahnya.


Ya Tuhan, aku memang bersalah. Aku yang sudah mengkhianati pernikahan kami. Seharusnya aku bisa jujur. Tapi bagaimana bisa? Bahkan aku menikahinya karena terpaksa. Sekarang aku harus bagaimana?


Mas Reza keluar dari kamar mandi. Seperti biasa aku sudah menyiapkan baju ganti untuknya. Dia tetap menerimanya.


Usai mengganti baju, Mas Reza kembali menemuiku.


"Bereskan barang-barangmu. Kita kembali ke Jakarta sekarang!"


Hanya kalimat itu yang kudengar dari bibirnya. Hingga dua minggu telah berlalu. Dan hubungan kami masih jalan di tempat.


Mas Reza yang masih mendiamkanku. Dan aku yang tak ingin menjelaskan apapun padanya. Percuma saja. Apanya yang mau dijelaskan? Jelas-jelas aku melakukannya karena aku dan Andreas saling mencintai.


Cinta? Apa benar Andre mencintaiku? Atau dia hanya ingin tubuhku saja? Kini semua rasa bersalahku makin besar pada Mas Reza.


Hari ini ayah menghubungiku. Dia bilang dia ingin mengunjungiku dan Mas Reza. Tentu saja aku harus meminta ijin padanya terlebih dulu karena apartemen ini adalah miliknya.


"Mas, hari ini ayah dan ibu akan datang untuk berkunjung. Apa boleh?"


Aku bertanya dengan ragu.


"Iya, silahkan saja. Kalau begitu aku akan menjemputnya di bandara. Kamu siapkan saja jamuan makan siang untuk orang tuamu."


Dia hanya menjawab datar. Dan aku hanya menganggukkan kepala.


Tak lama ayah dan ibu pun datang. Aku sedang menata makanan di meja makan. Aku sudah memasak beberapa menu.


"Eh, Nduk. Kamu sekarang jadi rajin ya setelah menikah. Syukurlah kalau kamu banyak berubah." puji ibu padaku.


Mas Reza berbincang hangat dengan ayah. Sejak awal ayah memang menyukai Mas Reza karena memiliki sifat dewasa dan bertanggung jawab. Saat inipun Mas Reza tidak menunjukkan jika kami sedang bersitegang. Dia malah bersikap manis padaku.


"Lala tidak merepotkan Nak Reza 'kan disini?" tanya Ibu. Ibu selalu khawatir jika aku masih mengingat tentang Andreas. Padahal sudah lama aku melupakannya.


"Tidak kok, Bu. Lala adalah istri yang baik. Iya 'kan sayang?"


Mas Reza memeluk bahuku. Ada rasa bahagia dalam hatiku saat dia memperlakukan aku seperti ini. Andai saja semua ini tidak cepat berlalu.


Ayah dan Ibu berpamitan pulang. Ternyata mereka kemari membawakan barang-barangku yang belum sempat kubawa. Tas, sepatu dan beberapa gaun malam.


Meski Mas Reza hanya seorang asisten CEO, tapi dia sering mengajakku ke jamuan makan malam para kliennya. Tentu saja aku harus berpenampilan bagus agar tidak terlihat kampungan di mata kliennya.


Sepeninggal ayah dan ibu, aku bingung harus menata barang-barangku dimana.


"Mas, barang-barang aku taruh dimana ya?"


"Taruh saja di walk-in-closet milikku. Masih ada beberapa lemari yang kosong 'kan?"


Aku mengangguk dan menuju kesana. Aku terdiam ketika sedang merapikan koleksi sepatu milikku.


"Untuk apa aku menatanya disini? Toh sepertinya aku juga tidak akan tinggal disini lebih lama lagi."


Entah kenapa aku merasa sangat sedih jika harus berpisah dengan Mas Reza. Sepertinya aku ... Sudah mulai mencintainya.


Aku meratapi nasibku yang sepertinya kembali buruk. Aku menangis. Aku tak kuasa lagi menahan beban ini.


"Jika kau ingin mengakhirinya, maka akhiri saja Mas. Jangan menyiksaku seperti ini..." tangisku pecah. Aku tak tahu lagi harus mengadu pada siapa. Dan di tempat inilah akhirnya aku menumpahkan segala kesedihanku.


......***......


Reza PoV


Aku tidak tahu apa yang kurasakan padamu, La. Sakit? Iya. Kecewa? Iya. Sedih? Tentu saja aku sangat sedih mengetahui wanita yang kukagumi ternyata begitu mudah menyerahkan mahkotanya pada pria yang dia kira menyimpan cinta untuknya.


Aku sudah pernah jatuh di lubang itu, La. Dan itu bukanlah cinta. Itu hanya hasrat untuk menikmati tubuh.


Aku juga bukan pria bersegal. Aku juga bukan pria baik. Tapi sebisa mungkin aku menjagamu karena aku tak mau kamu terus merasa tertekan dengan pernikahan ini.


Pulang kembali ke Jakarta, aku lebih memilih menghabiskan waktuku untuk bekerja. Sebenarnya masih ada dua hari yang Pak Rocky berikan untukku berbulan madu. Namun rasanya semua tidak mungkin terjadi. Kami berada di jalan yang berbeda saat ini.


Berhari-hari aku bersikap dingin padamu. Tapi kau tetap melayaniku dengan baik. Mungkin kau ingin menebus kesalahanmu. Mungkin juga harusnya aku bertanya padamu tentang apa yang terjadi antara kamu dan mantan kekasihmu itu. Tapi tidak! Aku tak mau mendengar apapun. Kamu sendiri tidak mengatakan apapun padaku dan malah memilih diam karena aku juga mendiamkanmu.


Egoku terlalu tinggi untuk mengakui jika aku sudah jatuh dalam pesonamu. Gadis ceria yang selalu mengembangkan senyumnya. Iya, aku menyukai senyummu, La. Pertama kalinya dalam hidupku aku ingin memiliki seorang wanita sepertimu. Kamu berbeda dengan Navisha. Kamu berbeda dengan Diva. Kamu adalah kamu, Nirmala.


Kini senyum itu hilang. Akulah yang sudah menghilangkannya. Maafkan aku, La. Aku hanya ingin kamu sadar jika aku sangat mencintaimu.


Tidak bisakah kamu membuka hatimu sedikit saja untukku?


Ketika ayah dan ibu mertuaku datang. Kuusahakan bersikap baik padamu didepan mereka. Aku membawamu dari rumah orang tuamu dengan cara baik-baik. Dan aku ingin mereka tahu jika aku memperlakukanmu dengan baik pula.


Orang tua tidak perlu tahu masalah rumah tangga anak-anaknya. Biarlah mereka hanya tahu tentang kebahagiaan kami saja. Meski untuk saat ini akulah yang membuatnya seolah-olah kami bahagia.


Setelah ayah dan ibu mertuaku kembali pulang, aku mencari keberadaan Lala. Biasanya dia sudah menyiapkan pakaian ganti untukku usai aku membersihkan diri.


Aku ingat jika Lala bertanya tentang meletakkan barang-barangnya.


"Apa dia masih ada disana?" Aku mengira jika Lala pasti masih berada di walk-in-closet milikku.


Saat aku akan memasuki ruangan itu, aku mendengar suara isak tangis Lala.


Dia menumpahkan segala kegundahan hatinya. Ya Tuhan! Aku tidak tega mendengar tangisnya yang pilu.


Sungguh selama ini dia sudah menderita karenaku. Maafkan aku, Lala.


Aku menyandarkan tubuhku ke dinding. Aku ingin mendekapnya dan menghapus air matanya. Namun sekali lagi, ego itu masih terlalu besar untuk kutepis.


Dan kini dua hati yang berseberangan, sedang mencoba untuk mencari satu tujuan. Yaitu kebahagiaan.


......***......


#bersambung


"Hiks hiks hiks, semoga kalian cepat menyadari perasaan masing-masing ya 😥😥😥"


#bagi yg masih mau ikutan GA masih ditunggu hingga 17oktober nanti. caranya bisa liat di chapter trakhir "TRAPPED BY COLD CEO"


#Untuk visual Lala, aku bingung nyarinya. kalo jadi anime aja cocok gak ya?😋



Sekretaris Lala in action 😬😬😬