Raanjhana

Raanjhana
Takdir Cinta Nisha : 14. Jadikan Aku yang Ke Dua



Halo readers kesayangan mamak, Raanjhana (Lover/Kekasih) is


back! Don’t forget to leave Like and Comments


*Happy Reading*


Sore itu, Nisha pulang ke rumah Hernan dengan dibonceng oleh


Grey. Nisha meminta Grey agar mengantarnya hanya sampai gerbang komplek


rumahnya saja. Namun Grey tak menuruti perintah Nisha dan tetap masuk ke


komplek perumahan mewah itu dan menanyakan dimana rumah Nisha.


Nisha yang ingin marah nyatanya tak bisa karena sikap Grey


yang hangat dan kocak selalu membuatnya nyaman. Ia menunjukkan rumahnya yang


adalah rumah suaminya.


Nisha turun dari motor Grey dan amat terkejut karena kedua


orang tua Hernan sedang ada di depan rumah. Tanpa malu, Grey memperkenalkan


diri di depan Adelia dan Rio.


“Selamat sore, Om, Tante, saya Grey, temannya Nisha.” sapa


Grey ramah dan mencium punggung tangan Adelia dan Rio bergantian.


“Ayah, ibu, dia adalah teman kampus Nisha.” jawab Nisha


sedikit canggung. Adelia dan Rio hanya mengangguk pelan.


“Kalau begitu saya permisi dulu, Om, Tante.” Grey segera


naik kembali ke sepeda motornya dan melajukan motornya dengan pelan. Sebelum


akhirnya menancap gas setelah agak jauh dari rumah Nisha.


Nisha masuk kedalam rumah bersamaan dengan kedua mertuanya.


“Kenapa bukan Hernan yang mengantarmu pulang?” Tanya Rio.


“Umm, Hernan sepertinya sangat sibuk, Ayah. Aku tidak enak


jika harus mengganggunya.” Jawab Nisha.


“Tapi kau adalah istrinya. Dan keluarga adalah prioritas


utama bagi seorang pebisnis sekalipun. Ayah akan bicara dengan Hernan agar


lebih memperhatikanmu.”


Nisha hanya terdiam dan tidak menjawab lagi. Ia lalu menuju


kamarnya di lantai atas. Ia juga tak mau jika mertuanya bertanya-tanya soal


hubungannya dan Grey. Pria itu belum lama ini dikenalnya dan sudah berani


mengantarnya kerumah. Nisha sendiri juga bingung harus bagaimana menghadapi


Grey. Tapi pembawaan Grey sangatlah menyenangkan. Nisha bahkan sellau tertawa


jika bersama Grey.


Malam harinya, Hernan pulang dari kantor dan disambut oleh


ayah dan ibunya yang sedang duduk di ruang keluarga. Adelia bercerita jika tadi


Nisha diantar oleh seorang pria yang diakuinya sebagai teman kampusnya.


“Kau harus lebih perhatikan istrimu, Hernan. Anak itu


kelihatannya menyukai Nisha. ini pasti karena kalian menyembunyikan pernikahan


kalian. Jadi, teman-teman Nisha juga tidak tahu jika dia sudah menikah.” Ujar


Rio menasehati Hernan.


Hernan melangkah menaiki tangga menuju kamarnya. Didalam


kamar, dilihatnya Nisha sedang sibuk didepan laptop sedang mengerjakan tugas


kuliahnya.


“Kau sudah pulang?” ucap Nisha tanpa memandang kearah


Hernan.


“Hmm,” Hernan menjawab hanya dengan dehaman.


“Kau sudah makan?” Tanya Nisha lagi.


“Sudah, bersama Dirga.”


“Ooh,” Nisha hanya bisa ber ‘oh’ ria. Dalam hatinya ia


berkata, jika suaminya itu pasti makan malam dengan Asha juga.


“Ibuku bilang kau tadi bilang diantar seorang pria, siapa?” tanya Hernan.


“Dia teman kampusku.”


“Kenapa tidak pulang dengan Dewi saja?”


“Dewi sudah pulang lebih dulu. Kami mengambil kelas yang


berbeda.”


Tanpa banyak bertanya lagi, Hernan menuju kamar mandi dan


ingin membersihkan diri. Usai mandi, Hernan melirik kearah Nisha di sofa.


Setelah menikah, sofa itu sudah berganti fungsi menjadi tempat tidur Hernan.


Hernan mendekati Nisha yang ternyata sudah tertidur dengan


laptop yang masih menyala. Hernan duduk di sebelah Nisha yang kepalanya


kebelakang menyender pada punggungan sofa. Mulutnya sedikit terbuka membuat


Hernan sedikit mengulas senyumnya.


“Kau sangat lucu saat tidur begini.” Gumam Hernan.


Ia memperhatikan wajah Nisha yang sebenarnya cantik, karena


memang dia juga campuran seperti Hernan. Kulitnya putih seperti ibunya,


rambutnya kecoklatan, dan matanya berwarna coklat kehitaman khas orang


Indonesia.


berwarna pink alami itu membuatnya menelan saliva. Ia ingat bagaimana bisa ia


merasakan bibir itu secara paksa, dan kemarin ia juga dengan berani


menggigitnya.


“Apa kau tahu, itu juga adalah ciuman pertamaku. Dan entah


kenapa harus kau yang mendapatkannya. Apa memang takdir membawaku kepadamu?”


lirih Hernan sambil merapikan rambut Nisha yang berantakan.


Tanpa disadari Hernan mendekatkan dirinya agar lebih dekat


dengan posisi Nisha. ia ingin meraih bibir manis itu tanpa sepengetahuan si


empunya. Nisha pasti marah jika Hernan merebut ciumannya secara paksa. Jika


begini, namanya kan bukan pemaksaan, tapi pencurian, hihi.


“Maafkan aku, Nisha. Aku tidak tahu apa yang terjadi


denganku. Aku tidak ingin orang lain mencicipi bibir manis milikmu. Hanya aku


saja yang boleh mengecap rasanya. Hanya aku…” batin Hernan.


Dan ketika jarak mereka hanya tinggal sejari, Nisha


merasakan ada hembusan nafas kuat yang menerpa wajahnya. Dengan cepat ia


membuka mata, ia melihat wajah Hernan yang begitu dekat dengannya.


“Hernan? Apa yang sedang kau lakukan?” Tanya Nisha dengan


mengerjapkan matanya.


“A-aku…? Aku ingin membangunkanmu…” jawab Hernan dengan


masih posisi yang sedekat itu.


“Ka-kalau begitu… kenapa harus sedekat ini? A-apa kau bisa


mundur sedikit?”


“Ah, iya. Maaf.” Hernan segera memundurkan dirinya.


Nisha berpindah tidur ke ranjang. Ia menarik selimut dan


melihat Hernan sedang merapikan sofa untuknya tidur.


“Umm, Hernan.” Panggil Nisha.


“Iya, ada apa?”


“K-kau bisa tidur disini. Bersamaku…”


“Heh? Benarkah?”


“I-iya. Tapi hanya tidur saja.” ucap Nisha canggung.


“Tentu saja. Kau pikir aku akan melakukan apa?” gumam


Hernan, lalu menuju ke tempat tidur.


Keesokan harinya, Nisha terbangun dan merasakan ada rasa


hangat yang menyelimuti tubuhnya. Nisha membulatkan mata karena mendapati


dirinya berada dalam pelukan Hernan. Ia sangat malu bagaimana bisa dirinya


berada di pelukan Hernan.


Hernan nampak masih terlelap dan mendekap tubuh Nisha makin


erat. Nisha juga merasakan kenyamanan dalam pelukan Hernan. Nisha tersenyum


kecil mendapati kedekatan mereka.


Jika kau memang tidak bisa menjadikan aku yang pertama bagi hatimu, maka aku bersedia jadi yang ke


dua. Aku tahu aku tidak akan bisa menghapus Asha dari hatimu. Paling tidak,


jadikan aku yang ke dua. Aku tidak keberatan.


Nisha membatin sambil makin menenggelamkan kepalanya di dada


bidang Hernan. Tanpa Nisha ketahui, Hernan juga tersenyum merasakan tubuh Nisha


yang makin mendekat padanya.


Karena merasa hari mulai siang namun anak dan menantunya


tidak juga turun untuk sarapan, Adelia berinisiatif untuk mendatangi kamar


anaknya. Dan tanpa disengaja kamar Hernan tidak terkunci. Adelia masuk tanpa mengetuk


pintu.


“Kalian ini, hari sudah siang kenapa belum turun juga?”


Adelia terperangah mendapati anak dan menantunya masih


terlelap sambil berpelukan. “Ouw, kalian menggemaskan sekali sih. Aku yakin


semalam kalian pasti…. Aaah, sudahlah. Aku biarkan saja mereka. Tidak peduli


mereka akan terlambat ke kantor dan ke kampus, hihihi.” Adelia kembali menutup


pintu dan turun menemui suaminya.


“Lho, kenapa kau turun sendiri, bu? Mana menantu dan anak


kita?”


“Sssttt!!! Mereka masih tertidur. Ayah tahu, mereka


sangat mesra, bahkan tidurpun sambil berpelukan. Ah, ibu jadi iri. Dulu kita


rasanya tidak seperti mereka ya.”


“Ibu ini ada-ada saja. Seharusnya bangunkan mereka. Nanti kalau


mereka terlambat ke kantor dan kampus bagaimana?”


“Biarkan saja. Sekali-kali mereka terlambat ‘kan tidak apa.”


Adelia tersenyum bahagia karena akhirnya putranya itu bisa melupakan Asha dan


menerima Nisha sebagai istrinya. Sejak dulu ia memang kurang suka dengan Asha yang seakan memanfaatkan putranya dan Dirga hanya untuk kepentingannya sendiri.


#bersambung…