
Halo readers kesayangan mamak, Raanjhana (Lover/Kekasih) is
back! Don’t forget to leave Like and Comments
*Happy Reading*
Sore itu, Nisha pulang ke rumah Hernan dengan dibonceng oleh
Grey. Nisha meminta Grey agar mengantarnya hanya sampai gerbang komplek
rumahnya saja. Namun Grey tak menuruti perintah Nisha dan tetap masuk ke
komplek perumahan mewah itu dan menanyakan dimana rumah Nisha.
Nisha yang ingin marah nyatanya tak bisa karena sikap Grey
yang hangat dan kocak selalu membuatnya nyaman. Ia menunjukkan rumahnya yang
adalah rumah suaminya.
Nisha turun dari motor Grey dan amat terkejut karena kedua
orang tua Hernan sedang ada di depan rumah. Tanpa malu, Grey memperkenalkan
diri di depan Adelia dan Rio.
“Selamat sore, Om, Tante, saya Grey, temannya Nisha.” sapa
Grey ramah dan mencium punggung tangan Adelia dan Rio bergantian.
“Ayah, ibu, dia adalah teman kampus Nisha.” jawab Nisha
sedikit canggung. Adelia dan Rio hanya mengangguk pelan.
“Kalau begitu saya permisi dulu, Om, Tante.” Grey segera
naik kembali ke sepeda motornya dan melajukan motornya dengan pelan. Sebelum
akhirnya menancap gas setelah agak jauh dari rumah Nisha.
Nisha masuk kedalam rumah bersamaan dengan kedua mertuanya.
“Kenapa bukan Hernan yang mengantarmu pulang?” Tanya Rio.
“Umm, Hernan sepertinya sangat sibuk, Ayah. Aku tidak enak
jika harus mengganggunya.” Jawab Nisha.
“Tapi kau adalah istrinya. Dan keluarga adalah prioritas
utama bagi seorang pebisnis sekalipun. Ayah akan bicara dengan Hernan agar
lebih memperhatikanmu.”
Nisha hanya terdiam dan tidak menjawab lagi. Ia lalu menuju
kamarnya di lantai atas. Ia juga tak mau jika mertuanya bertanya-tanya soal
hubungannya dan Grey. Pria itu belum lama ini dikenalnya dan sudah berani
mengantarnya kerumah. Nisha sendiri juga bingung harus bagaimana menghadapi
Grey. Tapi pembawaan Grey sangatlah menyenangkan. Nisha bahkan sellau tertawa
jika bersama Grey.
Malam harinya, Hernan pulang dari kantor dan disambut oleh
ayah dan ibunya yang sedang duduk di ruang keluarga. Adelia bercerita jika tadi
Nisha diantar oleh seorang pria yang diakuinya sebagai teman kampusnya.
“Kau harus lebih perhatikan istrimu, Hernan. Anak itu
kelihatannya menyukai Nisha. ini pasti karena kalian menyembunyikan pernikahan
kalian. Jadi, teman-teman Nisha juga tidak tahu jika dia sudah menikah.” Ujar
Rio menasehati Hernan.
Hernan melangkah menaiki tangga menuju kamarnya. Didalam
kamar, dilihatnya Nisha sedang sibuk didepan laptop sedang mengerjakan tugas
kuliahnya.
“Kau sudah pulang?” ucap Nisha tanpa memandang kearah
Hernan.
“Hmm,” Hernan menjawab hanya dengan dehaman.
“Kau sudah makan?” Tanya Nisha lagi.
“Sudah, bersama Dirga.”
“Ooh,” Nisha hanya bisa ber ‘oh’ ria. Dalam hatinya ia
berkata, jika suaminya itu pasti makan malam dengan Asha juga.
“Ibuku bilang kau tadi bilang diantar seorang pria, siapa?” tanya Hernan.
“Dia teman kampusku.”
“Kenapa tidak pulang dengan Dewi saja?”
“Dewi sudah pulang lebih dulu. Kami mengambil kelas yang
berbeda.”
Tanpa banyak bertanya lagi, Hernan menuju kamar mandi dan
ingin membersihkan diri. Usai mandi, Hernan melirik kearah Nisha di sofa.
Setelah menikah, sofa itu sudah berganti fungsi menjadi tempat tidur Hernan.
Hernan mendekati Nisha yang ternyata sudah tertidur dengan
laptop yang masih menyala. Hernan duduk di sebelah Nisha yang kepalanya
kebelakang menyender pada punggungan sofa. Mulutnya sedikit terbuka membuat
Hernan sedikit mengulas senyumnya.
“Kau sangat lucu saat tidur begini.” Gumam Hernan.
Ia memperhatikan wajah Nisha yang sebenarnya cantik, karena
memang dia juga campuran seperti Hernan. Kulitnya putih seperti ibunya,
rambutnya kecoklatan, dan matanya berwarna coklat kehitaman khas orang
Indonesia.
berwarna pink alami itu membuatnya menelan saliva. Ia ingat bagaimana bisa ia
merasakan bibir itu secara paksa, dan kemarin ia juga dengan berani
menggigitnya.
“Apa kau tahu, itu juga adalah ciuman pertamaku. Dan entah
kenapa harus kau yang mendapatkannya. Apa memang takdir membawaku kepadamu?”
lirih Hernan sambil merapikan rambut Nisha yang berantakan.
Tanpa disadari Hernan mendekatkan dirinya agar lebih dekat
dengan posisi Nisha. ia ingin meraih bibir manis itu tanpa sepengetahuan si
empunya. Nisha pasti marah jika Hernan merebut ciumannya secara paksa. Jika
begini, namanya kan bukan pemaksaan, tapi pencurian, hihi.
“Maafkan aku, Nisha. Aku tidak tahu apa yang terjadi
denganku. Aku tidak ingin orang lain mencicipi bibir manis milikmu. Hanya aku
saja yang boleh mengecap rasanya. Hanya aku…” batin Hernan.
Dan ketika jarak mereka hanya tinggal sejari, Nisha
merasakan ada hembusan nafas kuat yang menerpa wajahnya. Dengan cepat ia
membuka mata, ia melihat wajah Hernan yang begitu dekat dengannya.
“Hernan? Apa yang sedang kau lakukan?” Tanya Nisha dengan
mengerjapkan matanya.
“A-aku…? Aku ingin membangunkanmu…” jawab Hernan dengan
masih posisi yang sedekat itu.
“Ka-kalau begitu… kenapa harus sedekat ini? A-apa kau bisa
mundur sedikit?”
“Ah, iya. Maaf.” Hernan segera memundurkan dirinya.
Nisha berpindah tidur ke ranjang. Ia menarik selimut dan
melihat Hernan sedang merapikan sofa untuknya tidur.
“Umm, Hernan.” Panggil Nisha.
“Iya, ada apa?”
“K-kau bisa tidur disini. Bersamaku…”
“Heh? Benarkah?”
“I-iya. Tapi hanya tidur saja.” ucap Nisha canggung.
“Tentu saja. Kau pikir aku akan melakukan apa?” gumam
Hernan, lalu menuju ke tempat tidur.
Keesokan harinya, Nisha terbangun dan merasakan ada rasa
hangat yang menyelimuti tubuhnya. Nisha membulatkan mata karena mendapati
dirinya berada dalam pelukan Hernan. Ia sangat malu bagaimana bisa dirinya
berada di pelukan Hernan.
Hernan nampak masih terlelap dan mendekap tubuh Nisha makin
erat. Nisha juga merasakan kenyamanan dalam pelukan Hernan. Nisha tersenyum
kecil mendapati kedekatan mereka.
Jika kau memang tidak bisa menjadikan aku yang pertama bagi hatimu, maka aku bersedia jadi yang ke
dua. Aku tahu aku tidak akan bisa menghapus Asha dari hatimu. Paling tidak,
jadikan aku yang ke dua. Aku tidak keberatan.
Nisha membatin sambil makin menenggelamkan kepalanya di dada
bidang Hernan. Tanpa Nisha ketahui, Hernan juga tersenyum merasakan tubuh Nisha
yang makin mendekat padanya.
Karena merasa hari mulai siang namun anak dan menantunya
tidak juga turun untuk sarapan, Adelia berinisiatif untuk mendatangi kamar
anaknya. Dan tanpa disengaja kamar Hernan tidak terkunci. Adelia masuk tanpa mengetuk
pintu.
“Kalian ini, hari sudah siang kenapa belum turun juga?”
Adelia terperangah mendapati anak dan menantunya masih
terlelap sambil berpelukan. “Ouw, kalian menggemaskan sekali sih. Aku yakin
semalam kalian pasti…. Aaah, sudahlah. Aku biarkan saja mereka. Tidak peduli
mereka akan terlambat ke kantor dan ke kampus, hihihi.” Adelia kembali menutup
pintu dan turun menemui suaminya.
“Lho, kenapa kau turun sendiri, bu? Mana menantu dan anak
kita?”
“Sssttt!!! Mereka masih tertidur. Ayah tahu, mereka
sangat mesra, bahkan tidurpun sambil berpelukan. Ah, ibu jadi iri. Dulu kita
rasanya tidak seperti mereka ya.”
“Ibu ini ada-ada saja. Seharusnya bangunkan mereka. Nanti kalau
mereka terlambat ke kantor dan kampus bagaimana?”
“Biarkan saja. Sekali-kali mereka terlambat ‘kan tidak apa.”
Adelia tersenyum bahagia karena akhirnya putranya itu bisa melupakan Asha dan
menerima Nisha sebagai istrinya. Sejak dulu ia memang kurang suka dengan Asha yang seakan memanfaatkan putranya dan Dirga hanya untuk kepentingannya sendiri.
#bersambung…