Raanjhana

Raanjhana
Trapped by Cold CEO : 35. Permintaan Maaf Alfred



Hari ini Ana mendatangi kantor Alfred Ardana untuk meminta tolong pada ayah mertuanya itu. Ia tak bisa membiarkan masalah antara dirinya dan ayahnya semakin berlarut-larut.


Ana sudah membuat janji dengan Todd sebelum datang ke kantor Julies Corp. Begitu tiba disana, Todd menyambut Ana dengan hangat. Ia tahu jika Ana adalah menantu dari tuannya.


Todd mempersilahkan Ana untuk masuk ke ruang kerja Alfred. Pria paruh baya itu menyambut dengan senyuman lebar menantunya yang datang.


"Ana..." Sapa Alfred.


"Daddy..." Ana memberikan pelukan pada ayah mertuanya itu.


"Duduklah!" Alfred menunjuk sofa yang ada di ruangannya.


Ana mendaratkan tubuhnya di sofa empuk itu. Raut kecemasan jelas tergambar di wajah cantiknya.


"Ada apa, Nak? Kau ingin bertemu Daddy tanpa sepengetahuan Grey. Apa kalian sedang ada masalah?" tanya Alfred penuh selidik.


Ana menggeleng.


"Daddy sebenarnya..."


Ana menceritakan semua kejadian yang terjadi antara dirinya dan Alfonso, ayahnya. Alfred mengangguk paham. Kekhawatiran yang dirasa Alfonso adalah hal yang biasa. Smeua orang tua menginginkan yang terbaik untuk anaknya. Begitu pula Alfonso.


"Daddy mengerti dengan sikap ayahmu. Daddy sendiri tahu seperti apa sikap Grey selama ini. Gaya hidup yang ditampilkannya tidak membuat para orang tua ingin menjadikannya sebagai menantu pria. Mungkin jika gadis itu gila dengan harta, dia pasti akan tetap memilih Grey."


Ana terdiam.


"Kau tenang saja. Daddy akan bicara dengan ayahmu. Semua yang terjadi dengan Grey, sedikit banyak adalah karena perbuatan Daddy di masa lalu."


Ana masih terdiam mendengar kejujuran ayah mertuanya.


"Sekarang kau pulanglah! Serahkan semuanya pada Daddy."


"Terima kasih, Dad."


Ana berpamitan dan keluar dari ruang kerja Alfred.


......***......


Alfred meminta Todd mengurangi jadwalnya hari ini karena ia ingin menjenguk Alfonso di rumah sakit sekaligus menyelesaikan apa yang terjadi antara putranya dan putri Alfonso. Melihat kebahagiaan Grey saat bersama Ana, membuat Alfred yakin jika putranya memang sudah berubah. Grey adalah pria yang baik dan akan selalu begitu.


Alfred tiba di rumah sakit setelah sebelumnya bernegosiasi dengan ara perawat yang menjaga Alfonso. Setelah kejadian tak mengenakkan bersama Ana, Alfonso memang tidak ingin dijenguk oleh siapapun. Hatinya masih sakit kala mengingat apa yang Ana katakan padanya.


Alfred mengetuk pintu terlebih dahulu kemudian masuk ke kamar rawat milik Alfonso. Ia menyapa kawan lamanya itu dengan senyum mengembang.


"Alfred? Ada urusan apa kau datang kemari?" tanya Alfonso ketus.


"Jangan berlebihan, Alfonso. Aku datang kemari tentu saja karena ingin menjengukmu. Bagaimana kabarmu, kawan?"


"Seperti yang kau lihat, aku terbaring disini dan juga cacat."


"Jangan bicara begitu. Kami akan membantumu hingga kau bisa kembali pulih."


Alfonso berdecih. "Aku menghargai niat baikmu, Alfred. Tapi aku tidak bisa terima putramu diam-diam menikahi Ana, putriku."


Alfred mencoba tak mendebat Alfonso.


"Kau dan putramu sangatlah berbeda. Kehidupan putramu selalu di isi dengan wanita ja'lang setiap malammya."


Alfred tertawa. "Itu hanya rumor, Alf. Grey tidak seperti yang diberitakan."


"Rumor atau tidak itu sama saja. Nama putramu sudah kepalang buruk, Fred."


Alfred menghela nafasnya sejenak. Pria di depannya ini cukup keras kepala.


"Maafkan aku, Alfonso." Alfred berucap sambil menangkupkan kedua tangannya di depan dada.


"Jika harus menyalahkan apa yang terjadi dengan Grey, itu adalah aku. Aku adalah yang buruk, Alf."


"Aku tidak pernah ada untuknya disaat dia sedang membutuhkanku. Makanya dia mencari pelarian. Dia banyak berubah setelah kembali dari Indonesia. Aku bahkan tidak ingin. tahu apa yang terjadi dengannya. Aku benar-benar ayah yang buruk. Tolong maafkan aku, Alf." mohon Alfred dengan kesungguhan hatinya.


Alfondso hanya terdiam mendengar permintaan maaf Alfred, sahabatnya.


"Aku tahu kau pasti berat melepas putrimu karena masa lalu Grey. Tapi percayalah, mereka saling mencintai dan menguatkan. Kau akan lihat itu nanti."


Setelah mengatakan apa yang perlu ia katakan, Alfred pamit undur diri dari kamar rawat Alfonso.


Di luar kamar rumah sakit tepatnya di lobi, Ana ternyata sudah menuggu kehadiran Alfred setelah menjenguk ayahnya. Ana menatap dengan penuh harap jika ayah mertuanya bisa membantunya.


"Bersabarlah dulu, Nak. Daddy yakin ayahmu pasti bisa menerima pernikahan kalian." ucap Alfred.


"Daddy menangis? Kenapa mata Daddy merah?"


Alfred tersenyum. "Tidak, Nak. Daddy hanya ingin menumpahkan segala rasa yang Daddy tahu di depan Alfonso."


"Terima kasih, Dad. Aku tidak tahu harus berbuat apa jika Daddy tidak ada."


"Jangan bicara begitu. Bukankah kau adalah putri Daddy juga?" Alfred membelai wajah Ana.


Ana tersenyum lega.


......***......


Sepeninggal Alfred, Alfonso lebih banyak terdiam dan berpikir. Ia tidak menyangka orang besar seperti Alfred Ardana akan memohon pada dirinya.


"Aku benar-benar tidak tahu lagi harus berbuat apa dengan putriku. Dia bahkan benar-benar tidak datang menjengukku." gumam Alfonso.


"Aku hanya menggertak saja saat aku bilang aku tidak ingin dijenguk oleh siapapun."


"Ana... Daddy merindukanmu... Apakah Daddy harus percaya semua kata-kata Alfred? Apa kau benar-benar bahagia hidup bersama dengan pria itu?"


"Maafkan Daddy, Ana..." Alfonso mulai menurunkan egonya.


Di sisi lain, Ana kembali dari rumah sakit kemudian pulang ke apartemen dengan menggunakan taksi. Ana membeli sedikit bahana makanan untuk ia masak malam ini.


Tiba di lobi apartemen, Ana bertemu dengan Mike. Lagi-lagi entah kenapa takdir selalu mempertemukan mereka. Ana berbincang sebentar dengan Mike.


Ana berpamitan setelah merasa jam makan malam hampir tiba. Mike melepas kepergian Ana dengan seringai menakutkan.


Dari kejauhan, ada dua pasang mata yang memperhatikan gerak gerik Ana sejak ia masih di rumah sakit. Dua orang pemilik mata tersebut adalah Jessline dan Marc. Ia mengikuti kemana Ana pergi untuk mengetahui dimana Ana tinggal bersama Grey.


Jessline merasa mendapat jackpot setelah tahu jika Ana juga tinggal di apartemen yang sama dengan Mike, mantan suaminya. Ia tersenyum seringai sambil memikirkan cara yang bagus untuk memisahkan Ana dan Grey.


"Jadi, si brengsek Mike juga tinggal disini? Ini akan semakin menarik. Ana, kau tunggu saja kejutan dariku." batin Jessline.


Marc menatap Jessline dengan tatapan aneh. Ia merasa cemburu saat Jessline menatap Mike dari kejauhan. Bagaimana pun juga Mike adalah masa lalu Jessline yang bisa dikatakan masa lalu terindah.


"Kenapa?" tanya Jessline saat melihat tatapan aneh Marc padanya.


"Sebaiknya kau jangan bermain api, Jess jika tidak ingin terbakar."


"Kau tenang saja, Marc. Aku tidak suka bermain api. Tapi aku suka bermain air." jawab Jessline dengan tawa aneh menghiasi wajahnya.


......***......


#bersambung...


*Jangan lupa tinggalkan jejak ya kesayangan 😘😘😘


...terima kasih...