Raanjhana

Raanjhana
Takdir Cinta Nisha : 11. Pengantin Baru



Pagi harinya, Nisha dan Hernan bersiap untuk memulai rutinitas mereka. Meski kemarin mereka baru saja menikah, tapi karena pernikahan mereka dirahasiakan, jadi mereka tetap melakukan semua bagai tak


terjadi apapun di hari kemarin. Nisha keluar dari kamar dan menyapa ibu mertuanya.


“Selamat pagi, Tante, Om…” sapa Nisha sopan.


“Lho, jangan memanggil tante dong. Panggil saja ibu, sama


seperti Hernan. Kamu adalah putri kami juga sekarang.” Balas Adelia.


“Eh, iya bu. Maaf…”


Nisha duduk bersebelahan dengan Hernan.


“Kalian akan langsung beraktifitas? Kalian ‘kan pengantin


baru. Kenapa tidak habiskan waktu saja berdua?” Tanya Rio.


“Tidak perlu, Ayah. Lagipula tidak ada yang tahu tentang pernikahan ini. Kami akan melakukan kegiatan kami seperti biasa.” Jawab Hernan.


“Apa kau baik-baik saja, Nisha? Kau nampak bisa berjalan dengan normal.” selidik Adelia.


“Iya, bu. Aku baik-baik saja.” Nisha dengan santai menyantap sarapannya. Kemarin ia tak sempat makan dengan baik karena acara pernikahan yang cukup padat.


“Oooh, berarti Hernan melakukannya dengan sangat baik.” Adelia mendekati putranya itu dan memukul keras lengannya.


“Ibu! Kenapa memukulku?” Hernan mengusap lengannya yang di pukul oleh ibunya.


“Kau anak nakal, kau berhasil mencetak berapa gol, hah?” lagi-lagi Adelia menggoda Hernan.


“Ibu!!”


“Bahkan Nisha masih bisa berjalan dengan baik. Dulu, ayahmu


membuat ibu tidak bisa berjalan setelah menikah.” Goda Adelia pada suaminya.


“Sudahlah, bu. Jangan samakan anak jaman sekarang dengan jaman


kita yang dulu. Mereka pasti lebih ahli dalam hal itu.” Jawab Rio.


“Ayah benar.” Adelia terkekeh sendiri mengingat masa lalunya


bersama Rio.


Nisha yang tidak paham dengan pembicaraan mereka, hanya bisa


terdiam dan melanjutkan sarapannya.


“Aku sudah selesai sarapan. Aku akan berangkat ke kampus.”


Pamit Nisha.


“Hernan akan mengantarmu.” Ucap Rio.


Nisha mengangguk. Hernan pun menyelesaikan sarapannya dan


menuju ke depan rumah. Mobil untuknya sudah disiapkan oleh asisten rumah tangganya.


“Terima kasih, Pak Udin.” Ucap Hernan.


"Terima kasih kembali, tuan muda. Silahkan mobilnya sudah siap.


Silahkan nona muda.” Balas Udin.


Nisha masuk ke dalam mobil begitu juga dengan Hernan. Masih belum ada percakapan yang terjadi diantara mereka berdua. Nisha hanya sesekali


melirik kearah Hernan yang sibuk menyetir.


“Sebenarnya apa tadi yang dibicarakan oleh ayah dan ibumu?”


Tanya Nisha untuk memecah keheningan.


PLETAK! Hernan menyentil kepala Nisha.


“Auww! Sakit tahu!” ucap Nisha sambil mengusap kepalanya.


“Berapa usiamu, hah? Urusan begitu saja kau tidak paham? Dasar payah!”


“Ya mana aku tahu. Mereka juga tidak jelas membicarakan apa.”


“Kau pikir hal semacam itu pantas untuk di bahas? Dasar kau!


Oh ya, hari ini kau pulang kuliah jam berapa? Jika tidak sibuk aku akan


menjemputmu.”


“Tidak perlu. Aku bisa pulang sendiri naik taksi. Aku tidak mau


merepotkanmu.”


“Apa yang akan dikatakan orang tuaku jika aku tidak menjemputmu?


Jangan bertindak bodoh.”


“Kenapa? Lagipula semua ini juga hanya pura-pura.”


“Bertahanlah hingga kita pindah dari rumah orang tuaku.”


“Pindah? Apa kita akan pindah rumah? Maksudmu kita akan


hidup berdua saja?” Nisha menggeleng pelan.


“Itu akan membuat kita lebih mudah dalam menjalani hidup kita. Kita tidak perlu berpura-pura di depan orang lain. Apa kau mengerti?”


“Hmm, terserahlah. Yang penting aku tetap bisa menikmati kehidupan masa mudaku.”


“Cih, dasar anak manja!”


.


.


.


.


.


“Kak Hernan! Jangan bilang kakak ingin menjemput Nisha. Oooh


so sweet amat sih pengantin baru ini…” goda Dewi.


“Apaan sih, Wi.” Nisha mencubit lengan Dewi.


“Oh ya, kak. Ulang tahun kakak jadi ‘kan dirayakan di Royale


Hotel?” Tanya Dewi.


“Jadi, dong. Jangan lupa datang ya! Kamu juga boleh datang. Hari sabtu besok.” ucap Hernan pada Lala.


“Umm, sepertinya tidak bisa, kak. Kalau weekend aku biasa berkunjung ke rumah nenekku. Maaf. Tapi kudoakan semoga acaranya lancar ya. Dan, selamat ulang tahun, kak.” Balas Lala.


.


.


“Apa benar kau akan berulang tahun sabtu besok?” Tanya Nisha di perjalanan menuju pulang ke rumah.


“Iya.”


“Maaf, aku tidak tahu.”


“Tidak apa. Pastikan saja kau datang ke acaranya.”


“Eh? Bukankah ayah dan ibu juga akan ada disana?”


“Tidak. Ini adalah pesta khusus aku dan teman-temanku saja.”


Nisha hanya bisa mengangguk paham. Dan setelahnya tidak ada


percakapan lagi diantara mereka. Hanya kesunyian yang menyelimuti mereka hingga tiba di rumah.


.


.


.


.


Keesokannya, Nisha sudah pergi pagi-pagi sekali karena ingin ke rumah orang tuanya. Ia sengaja mengendap-endap dan hanya menghubungi Delina untuk membawakan beberapa piyamanya yang tidak dibawakan oleh Antonia.


“Terima kasih banyak, bibi. Kalau begitu Nisha permisi ya. Nisha


harus segera kembali sebelum Hernan menyadari kepergianku.”


“Apa nona baik-baik saja disana?”


“Iya, bi. Aku baik-baik saja. Bibi tenang saja.”


Nisha pun kembali ke rumah Hernan. Masih pukul enam pagi, biasanya Hernan belum terbangun dari tidurnya. Nisha masuk ke kamarnya dengan sangat hati-hati.


“Dari mana saja kau sepagi ini?”


“Astaga! Kau mengagetkanku saja!” Nisha makin kaget karena Hernan baru saja keluar dari kamar mandi dan hanya memakai handuk di pinggangnya.


“Ya ampun, pakailah bajumu. Kau sudah menodai mataku!” Nisha


menutup kedua matanya dengan tangan.


“Cih, apa maksudmu? Kau bahkan sudah lebih dulu menodai mataku saat kau memakai pakaian kurang bahan kemarin.” Hernan tak mau kalah.


“Wah, kau sembarangan sekali! Kau sendiri yang sudah lebih dulu menodai bibir suciku. Kau bahkan merebut ciuman pertamaku! Dan kemarin kau juga merebutnya lagi. Kau bahkan menggigit bibirku. Apa maksudnya itu?!” Suara Nisha mulai bergetar. Ia memeluk tas yang dibawanya dari rumahnya.


Hernan merasa tidak tega dan mendekati Nisha. “Hei, jangan


menangis.”


“Pergilah mengganti bajumu!” sungut Nisha yang membuat Hernan segera menuju walk-in-closet miliknya.


Hernan keluar dengan sudah rapi dan melihat Nisha sedang menata baju-bajunya dilemari pakaian.


“Kau sedang apa?”


“Apa kau tidak lihat aku sedang menata bajuku.” Nisha masih


terdengar kesal.


“Itu baju siapa?”


“Aku baru saja mengambilnya ke rumah orang tuaku. Kau bilang tidak suka ‘kan jika aku memakai baju yang kurang bahan. Jadi, aku meminta Bibi


Delina menyiapkan piyamaku dan aku mengambilnya pagi tadi.”


“Jadi, tadi kau baru saja pergi ke rumah orang tuamu? Kenapa tidak


menunggu suamimu? Aku bisa mengantarmu kesana.”


“Tidak perlu. Aku bisa melakukannya sendiri.”


“Kau masih marah padaku?”


“Tidak. Aku hanya… merasa aneh saja dengan semua ini. Statusku berubah menjadi seorang istri dengan cepat. Aku tidak bisa membayangkannya. Sudahlah, ayo turun untuk sarapan. Ayah dan ibumu pasti sudah menunggu.”


Nisha menutup lemarinya dan keluar dari kamar. Hernan segera menyusul dan merangkul bahu Nisha.


“Tunggu! Kita adalah pasangan pengantin baru, bukan? Kita harus


selalu bersama.” Ucap Hernan.


Nisha hanya memutar bola matanya malas. “Terserah kau saja, tuan muda.”


#bersambung…