
Pagi ini Nisha sengaja bangun lebih pagi seperti hari
kemarin agar tidak bertemu dengan Hernan. Ia masih kesal dengan sikap Hernan
yang seakan sesuka hatinya.
Biarlah Hernan menyadari kesalahannya dan meminta maaf. Iya,
Nisha sangat ingin Hernan bisa sedikit menurunkan sedikit egonya dan meminta
maaf atas tuduhannya yang tidak beralasan padanya dan Grey.
Nisha mengikuti perkuliahan dengan tidak bersemangat.
Ternyata moodnya makin memburuk setelah ia tidak bertemu dengan Hernan. Entah
kenapa Nisha merasa bersalah karena telah mengabaikan Hernan.
Usai kuliah, seperti biasa Grey menemui Nisha. Ia menawarkan
untuk mengantar Nisha seperti biasa. Nisha mengiyakan. Lagipula Grey pria yang
menyenangkan. Ia selalu bisa membuat Nisha tertawa.
“Lho? Kita ke parkiran mobil?” Tanya Nisha.
“He’em.” Jawab Grey santai dengan memasukkan tangannya ke
saku celana.
Dan penampilan Grey hari ini sangatlah berbeda dari
biasanya. Kali ini ia memakai kemeja lengan pendek dan celana jeans tanpa di
padukan dengan jaket. Ia tampak lebih dewasa dari usianya yang baru menginjak
21 tahun.
“Kenapa kau tidak membawa motor?” Tanya Nisha lagi.
“Hmm, karena kulihat hari ini sepertinya langit terlihat
mendung. Aku takut akan hujan.”
Seketika Nisha menatap kearah langit. “Tidak kok. Langitnya cerah.”
Ujar Nisha dengan mengernyitkan keningnya.
“Tapi benar kok, langitnya sebentar lagi akan mendung. Karena
ada gadis cantik yang tidak menunjukkan senyum indahnya.”
Nisha mendelik kearah Grey. Ia mencoba mencerna apa yang
dikatakan oleh Grey. Beberapa detik kemudian Nisha tersenyum. Kini ia paham
dengan apa yang dimaksud oleh Grey.
“Apaan sih? Tidak lucu!” cibir Nisha.
“Tidak lucu tapi kenapa kau tersenyum?”
“Tidak, aku tidak tersenyum…” Nisha memalingkan wajahnya. Dan
membuat Grey makin menggodanya.
Nisha tertawa terbahak karena Grey terus mengerjainya. Nisha
tertawa lepas seakan tak memiliki beban, tanpa menyadari ada sepasang mata yang
menahan amarah ketika melihat senyum Nisha kian lebar.
“Kau ingin pergi ke suatu tempat?” Tanya Grey.
“Hmm, boleh.” Jawab Nisha.
Grey membukakan pintu mobil untuk Nisha. Lagi-lagi Nisha
menyunggingkan senyumnya sebelum memasuki mobil.
GREB!!!
Seseorang menarik lengan Nisha yang akan masuk kedalam mobil
Grey.
“Hernan?!” ucap Nisha terkejut.
Hernan segera membawa Nisha ke belakang tubuhnya, lalu
bicara dengan Grey.
“Ini peringatan terakhir untukmu. Jika kau berani membawa
istriku lagi, maka kau akan tahu akibatnya! Camkan itu!” ucap Hernan dengan
menunjukkan jari telunjuknya kea rah Grey.
Hernan menarik tangan Nisha dan membawanya masuk ke dalam
mobilnya.
Sepanjang perjalanan tidak ada percakapan yang terjadi
diantara kedua insan itu. Nisha lebih memilih melihat kearah luar kaca mobil
daripada harus menengok ke samping kanannya dimana seorang pria tengah tersulut
emosinya.
Karena merasa tidak dianggap, Hernan pun menginjak pedal
gasnya dalam dan membuat mobil melaju dengan kecepatan cukup kencang. Seketika Nisha
berteriak karena kaget.
“Hernan!!! Apa yang kau lakukan? Kau ingin mencelakai kita
berdua, huh?”
Hernan tidak menggubris Nisha dan tetap melajukan mobilnya
dengan kencang. Nisha makin mengeratkan pegangannya pada sabuk pengaman dan
juga pegangan mobil.
“Apa kau sudah tidak waras? Pelankan mobilnya!!!” teriak
Nisha lagi.
Namun secara tiba-tiba Hernan menginjak pedal rem dengan
keras. Membuat tubuh Nisha terpelanting ke depan dan…
JEDUG!!!
Kening Nisha terbentur dashboard mobil.
“Auww!!!” pekik Nisha.
Nisha memegangi keningnya yang terasa sakit karena benturan
tadi. Ia melirik tajam kearah Hernan. Ia hampir saja menangis karena rasanya
benar-benar sakit. Hernan sama sekali tidak menatap kearah Nisha yang sedang
kesakitan.
Nisha kembali memalingkan wajahnya dan tetap memegangi
dahinya hingga mobil Hernan tiba di halaman rumah. Nisha langsung berlari masuk
ke dalam rumah tanpa mempedulikan Hernan.
Hatinya begitu sakit mendapat perlakuan kasar seperti ini
dari Hernan. Ia menggebrak pintu kamarnya dan menangis di tempat tidur. Rasanya
bukan hanya keningnya saja yang sakit. Namun hatinya juga amat sakit karena
Hernan sama sekali tidak peduli padanya.
Hernan menatap pintu kamar Nisha yang tertutup rapat. Terdengar
suara isak tangis dari dalam kamar. Nisha menangis. Dan Hernan mendengarnya.
Hernan menghela nafasnya kasar. “Sebenarnya apa yang terjadi
dadanya.
Waktu makan malam akhirnya tiba, namun Nisha masih bergeming
di kamarnya. Hernan memesan makanan secara online dan makan sendiri. Ia memang
sudah membelikan makanan juga untuk Nisha. namun dirinya enggan menurunkan
egonya untuk mengajak Nisha makan bersama.
Hingga setengah jam berlalu, Nisha belum juga keluar dari
kamarnya. “Ah, gadis itu merepotkan saja.” Kesal Hernan.
Hernan mendatangi kamar Nisha yang ternyata tidak dikunci. Mungkin
Nisha lupa karena saking kesalnya tadi. Hernan memanggil Nisha beberapa kali
sebelum masuk namun tidak ada sahutan dari dalam. Hernan pun memutuskan untuk
masuk.
Dilihatnya Nisha telah meringkuk di atas tempat tidur. Ia tertidur.
Hernan menghampirinya. Ia membalikkan tubuh Nisha agar terlentang. Sebuah memar
biru terbekas jelas di kening Nisha.
Hernan berdecak kesal. Itu adalah ulahnya yang mengerem
mendadak tadi. Ia mengambil kotak obat dan mengobati luka memar Nisha. Ditiupnya
pelan kening Nisha yang terluka. Dibelainya lembut puncak kepala Nisha.
“Maafkan aku. Aku pasti selalu menyakitimu.” Lirih Hernan.
Dihapusnya juga sisa-sisa air mata Nisha yang membekas di
sudut matanya juga pipinya. “Aku akan membersihkan diriku dulu. Setelah itu aku
akan kembali lagi.” Ucap Hernan lalu mengecup puncak kepala Nisha.
Hernan kembali ke kamar Nisha dan melihat Nisha masih
terlelap. Ia tersenyum, lalu menuju tempat tidur Nisha. ia merebahkan tubuhnya
disamping Nisha. Hernan membawa tubuh Nisha dalam dekapannya. Berkali-kali ia
mengecupi puncak kepala Nisha. Nisha tidak sedikitpun terganggu dengan
aktifitas Hernan yang mengecupi wajahnya. Kemudian Hernan menatap bibir mungil
Nisha.
Hernan tersenyum. Ia pun menggeleng. Ia tidak akan mencuri
ciuman itu lagi. Ia ingin Nisha merasakannya saat ia sadar. Hernan makin
mengeratkan pelukannya. Begitupun Nisha yang secara tidak sadar memeluk Hernan
seakan ia adalah guling bagi Nisha.
“Fix! Aku cemburu! Aku cemburu saat kau bersama dengan bocah
itu. Aku tidak suka melihatmu tersenyum pada pria lain. Aku ingin kau selalu bersamaku
dan bukan bocah itu. Aku cemburu, Nisha. Apakah kau tidak bisa merasakannya?”
gumam Hernan dalam hati kemudian memejamkan matanya dan menuju alam mimpi.
Keesokan harinya, Nisha terbangun karena merasa ada deru
nafas didekatnya. Nisha membulatkan matanya ketika melihat Hernan tidur
seranjang dengannya. Hernan juga memeluknya erat.
“Hah? Apa ini? Bagaimana
bisa dia tidur dikamarku? Lalu, apa aku tidak mengunci pintu kamarku? Apa saja
yang sudah dia lakukan padaku?”
Nisha menggeleng-gelengkan kepalanya. Nisha buru-buru bangun
dan menuju kamar mandi. Ia menatap dirinya di cermin.
“Pakaianku masih utuh. Bahkan aku masih memakai baju yang
kemarin kupakai ke kampus.”
Nisha melihat luka memar dikeningnya yang sedikit memudar. Sekelebat
tadi ia melihat ada kotak P3K di atas nakas.
“Apa Hernan yang
mengobati aku? Rasanya kok tidak mungkin
ya. Tapi… kalau bukan dia siapa lagi?”
Berbagai pertanyaan masih saja mengusik batin Nisha. ia pun
membersihkan diri dengan mengguyur tubuhnya di bawah shower. Beberapa menit
kemudian, Nisha keluar dari kamar mandi dan tidak melihat Hernan ada di tempat
tidurnya.
“Hmm? Mungkin dia sudah bangun dan kembali ke kamarnya. Baguslah!
Aku sangat malas bertemu dengannya.” Gumam Nisha.
Setelah mengganti baju dengan kemeja dan celana jeans untuk
berangkat ke kampus, tak lupa ia memoles wajahnya dengan make-up natural. Selesai
berdandan, Nisha keluar dari kamarnya dan bersiap untuk berangkat ke kampus. Ia
akan sarapan di kantin kampusnya saja.
Namun ketika akan melewati ruang tamu, Nisha melihat Hernan
sedang berbincang dengan Theo. Theo adalah asisten kakek Nisha. Hernan yang
sudah siap dengan setelan kantornya menoleh kearah Nisha dan memintanya untuk
bergabung.
“Pak Theo? Ada apa pagi-pagi datang kesini? Apa terjadi
sesuatu dengan dirumah?” Tanya Nisha yang terlihat cemas.
“Tidak, nona. Semuanya baik-baik saja. Kedatangan saya pagi
ini, karena menyampaikan pesan dari Tuan Haidar.” Ucap Theo.
“Pesan dari kakek? Apa itu?” Tanya Nisha penasaran.
Theo menyerahkan sebuh amplop pada Nisha. Nisha membuka
amplop itu dan membaca isinya.
“Hah? Bulan madu?” Nisha terperanjat kaget.
“Benar, nona. Tuan Haidar dan Tuan Rio sudah menyiapkan
sebuah perjalanan bulan madu untuk tuan dan nona.” Jelas Theo.
Hernan dan Nisha saling pandang. Mereka tidak percaya jika
keluarga mereka akan menyiapkan hal seperti ini.
“Lalu, kapan kami akan berangkat?”Tanya Hernan.
“Hari ini, Tuan. Silahkan tuan dan nona bersiap-siap. Saya akan
mengantar tuan dan nona ke bandara, dan kalian akan menaiki jet pribadi milik
Tuan Haidar menuju Raja Ampat.”
“Apa?! Raja Ampat?” Nisha berteriak girang.
#bersambung…
*asyiiiik go honeymoon go go go go!!!