Raanjhana

Raanjhana
Takdir Cinta Nisha : 19. Fix! Aku Cemburu!



Pagi ini Nisha sengaja bangun lebih pagi seperti hari


kemarin agar tidak bertemu dengan Hernan. Ia masih kesal dengan sikap Hernan


yang seakan sesuka hatinya.


Biarlah Hernan menyadari kesalahannya dan meminta maaf. Iya,


Nisha sangat ingin Hernan bisa sedikit menurunkan sedikit egonya dan meminta


maaf atas tuduhannya yang tidak beralasan padanya dan Grey.


Nisha mengikuti perkuliahan dengan tidak bersemangat.


Ternyata moodnya makin memburuk setelah ia tidak bertemu dengan Hernan. Entah


kenapa Nisha merasa bersalah karena telah mengabaikan Hernan.


Usai kuliah, seperti biasa Grey menemui Nisha. Ia menawarkan


untuk mengantar Nisha seperti biasa. Nisha mengiyakan. Lagipula Grey pria yang


menyenangkan. Ia selalu bisa membuat Nisha tertawa.


“Lho? Kita ke parkiran mobil?” Tanya Nisha.


“He’em.” Jawab Grey santai dengan memasukkan tangannya ke


saku celana.


Dan penampilan Grey hari ini sangatlah berbeda dari


biasanya. Kali ini ia memakai kemeja lengan pendek dan celana jeans tanpa di


padukan dengan jaket. Ia tampak lebih dewasa dari usianya yang baru menginjak


21 tahun.


“Kenapa kau tidak membawa motor?” Tanya Nisha lagi.


“Hmm, karena kulihat hari ini sepertinya langit terlihat


mendung. Aku takut akan hujan.”


Seketika Nisha menatap kearah langit. “Tidak kok. Langitnya cerah.”


Ujar Nisha dengan mengernyitkan keningnya.


“Tapi benar kok, langitnya sebentar lagi akan mendung. Karena


ada gadis cantik yang tidak menunjukkan senyum indahnya.”


Nisha mendelik kearah Grey. Ia mencoba mencerna apa yang


dikatakan oleh Grey. Beberapa detik kemudian Nisha tersenyum. Kini ia paham


dengan apa yang dimaksud oleh Grey.


“Apaan sih? Tidak lucu!” cibir Nisha.


“Tidak lucu tapi kenapa kau tersenyum?”


“Tidak, aku tidak tersenyum…” Nisha memalingkan wajahnya. Dan


membuat Grey makin menggodanya.


Nisha tertawa terbahak karena Grey terus mengerjainya. Nisha


tertawa lepas seakan tak memiliki beban, tanpa menyadari ada sepasang mata yang


menahan amarah ketika melihat senyum Nisha kian lebar.


“Kau ingin pergi ke suatu tempat?” Tanya Grey.


“Hmm, boleh.” Jawab Nisha.


Grey membukakan pintu mobil untuk Nisha. Lagi-lagi Nisha


menyunggingkan senyumnya sebelum memasuki mobil.


GREB!!!


Seseorang menarik lengan Nisha yang akan masuk kedalam mobil


Grey.


“Hernan?!” ucap Nisha terkejut.


Hernan segera membawa Nisha ke belakang tubuhnya, lalu


bicara dengan Grey.


“Ini peringatan terakhir untukmu. Jika kau berani membawa


istriku lagi, maka kau akan tahu akibatnya! Camkan itu!” ucap Hernan dengan


menunjukkan jari telunjuknya kea rah Grey.


Hernan menarik tangan Nisha dan membawanya masuk ke dalam


mobilnya.


Sepanjang perjalanan tidak ada percakapan yang terjadi


diantara kedua insan itu. Nisha lebih memilih melihat kearah luar kaca mobil


daripada harus menengok ke samping kanannya dimana seorang pria tengah tersulut


emosinya.


Karena merasa tidak dianggap, Hernan pun menginjak pedal


gasnya dalam dan membuat mobil melaju dengan kecepatan cukup kencang. Seketika Nisha


berteriak karena kaget.


“Hernan!!! Apa yang kau lakukan? Kau ingin mencelakai kita


berdua, huh?”


Hernan tidak menggubris Nisha dan tetap melajukan mobilnya


dengan kencang. Nisha makin mengeratkan pegangannya pada sabuk pengaman dan


juga pegangan mobil.


“Apa kau sudah tidak waras? Pelankan mobilnya!!!” teriak


Nisha lagi.


Namun secara tiba-tiba Hernan menginjak pedal rem dengan


keras. Membuat tubuh Nisha terpelanting ke depan dan…


JEDUG!!!


Kening Nisha terbentur dashboard mobil.


“Auww!!!” pekik Nisha.


Nisha memegangi keningnya yang terasa sakit karena benturan


tadi. Ia melirik tajam kearah Hernan. Ia hampir saja menangis karena rasanya


benar-benar sakit. Hernan sama sekali tidak menatap kearah Nisha yang sedang


kesakitan.


Nisha kembali memalingkan wajahnya dan tetap memegangi


dahinya hingga mobil Hernan tiba di halaman rumah. Nisha langsung berlari masuk


ke dalam rumah tanpa mempedulikan Hernan.


Hatinya begitu sakit mendapat perlakuan kasar seperti ini


dari Hernan. Ia menggebrak pintu kamarnya dan menangis di tempat tidur. Rasanya


bukan hanya keningnya saja yang sakit. Namun hatinya juga amat sakit karena


Hernan sama sekali tidak peduli padanya.


Hernan menatap pintu kamar Nisha yang tertutup rapat. Terdengar


suara isak tangis dari dalam kamar. Nisha menangis. Dan Hernan mendengarnya.


Hernan menghela nafasnya kasar. “Sebenarnya apa yang terjadi


dadanya.


Waktu makan malam akhirnya tiba, namun Nisha masih bergeming


di kamarnya. Hernan memesan makanan secara online dan makan sendiri. Ia memang


sudah membelikan makanan juga untuk Nisha. namun dirinya enggan menurunkan


egonya untuk mengajak Nisha makan bersama.


Hingga setengah jam berlalu, Nisha belum juga keluar dari


kamarnya. “Ah, gadis itu merepotkan saja.” Kesal Hernan.


Hernan mendatangi kamar Nisha yang ternyata tidak dikunci. Mungkin


Nisha lupa karena saking kesalnya tadi. Hernan memanggil Nisha beberapa kali


sebelum masuk namun tidak ada sahutan dari dalam. Hernan pun memutuskan untuk


masuk.


Dilihatnya Nisha telah meringkuk di atas tempat tidur. Ia tertidur.


Hernan menghampirinya. Ia membalikkan tubuh Nisha agar terlentang. Sebuah memar


biru terbekas jelas di kening Nisha.


Hernan berdecak kesal. Itu adalah ulahnya yang mengerem


mendadak tadi. Ia mengambil kotak obat dan mengobati luka memar Nisha. Ditiupnya


pelan kening Nisha yang terluka. Dibelainya lembut puncak kepala Nisha.


“Maafkan aku. Aku pasti selalu menyakitimu.” Lirih Hernan.


Dihapusnya juga sisa-sisa air mata Nisha yang membekas di


sudut matanya juga pipinya. “Aku akan membersihkan diriku dulu. Setelah itu aku


akan kembali lagi.” Ucap Hernan lalu mengecup puncak kepala Nisha.


Hernan kembali ke kamar Nisha dan melihat Nisha masih


terlelap. Ia tersenyum, lalu menuju tempat tidur Nisha. ia merebahkan tubuhnya


disamping Nisha. Hernan membawa tubuh Nisha dalam dekapannya. Berkali-kali ia


mengecupi puncak kepala Nisha. Nisha tidak sedikitpun terganggu dengan


aktifitas Hernan yang mengecupi wajahnya. Kemudian Hernan menatap bibir mungil


Nisha.


Hernan tersenyum. Ia pun menggeleng. Ia tidak akan mencuri


ciuman itu lagi. Ia ingin Nisha merasakannya saat ia sadar. Hernan makin


mengeratkan pelukannya. Begitupun Nisha yang secara tidak sadar memeluk Hernan


seakan ia adalah guling bagi Nisha.


“Fix! Aku cemburu! Aku cemburu saat kau bersama dengan bocah


itu. Aku tidak suka melihatmu tersenyum pada pria lain. Aku ingin kau selalu bersamaku


dan bukan bocah itu. Aku cemburu, Nisha. Apakah kau tidak bisa merasakannya?”


gumam Hernan dalam hati kemudian memejamkan matanya dan menuju alam mimpi.


Keesokan harinya, Nisha terbangun karena merasa ada deru


nafas didekatnya. Nisha membulatkan matanya ketika melihat Hernan tidur


seranjang dengannya. Hernan juga memeluknya erat.


“Hah? Apa ini? Bagaimana


bisa dia tidur dikamarku? Lalu, apa aku tidak mengunci pintu kamarku? Apa saja


yang sudah dia lakukan padaku?”


Nisha menggeleng-gelengkan kepalanya. Nisha buru-buru bangun


dan menuju kamar mandi. Ia menatap dirinya di cermin.


“Pakaianku masih utuh. Bahkan aku masih memakai baju yang


kemarin kupakai ke kampus.”


Nisha melihat luka memar dikeningnya yang sedikit memudar. Sekelebat


tadi ia melihat ada kotak P3K di atas nakas.


“Apa Hernan yang


mengobati aku? Rasanya  kok tidak mungkin


ya. Tapi… kalau bukan dia siapa lagi?”


Berbagai pertanyaan masih saja mengusik batin Nisha. ia pun


membersihkan diri dengan mengguyur tubuhnya di bawah shower. Beberapa menit


kemudian, Nisha keluar dari kamar mandi dan tidak melihat Hernan ada di tempat


tidurnya.


“Hmm? Mungkin dia sudah bangun dan kembali ke kamarnya. Baguslah!


Aku sangat malas bertemu dengannya.” Gumam Nisha.


Setelah mengganti baju dengan kemeja dan celana jeans untuk


berangkat ke kampus, tak lupa ia memoles wajahnya dengan make-up natural. Selesai


berdandan, Nisha keluar dari kamarnya dan bersiap untuk berangkat ke kampus. Ia


akan sarapan di kantin kampusnya saja.


Namun ketika akan melewati ruang tamu, Nisha melihat Hernan


sedang berbincang dengan Theo. Theo adalah asisten kakek Nisha. Hernan yang


sudah siap dengan setelan kantornya menoleh kearah Nisha dan memintanya untuk


bergabung.


“Pak Theo? Ada apa pagi-pagi datang kesini? Apa terjadi


sesuatu dengan dirumah?” Tanya Nisha yang terlihat cemas.


“Tidak, nona. Semuanya baik-baik saja. Kedatangan saya pagi


ini, karena menyampaikan pesan dari Tuan Haidar.” Ucap Theo.


“Pesan dari kakek? Apa itu?” Tanya Nisha penasaran.


Theo menyerahkan sebuh amplop pada Nisha. Nisha membuka


amplop itu dan membaca isinya.


“Hah? Bulan madu?” Nisha terperanjat kaget.


“Benar, nona. Tuan Haidar dan Tuan Rio sudah menyiapkan


sebuah perjalanan bulan madu untuk tuan dan nona.” Jelas Theo.


Hernan dan Nisha saling pandang. Mereka tidak percaya jika


keluarga mereka akan menyiapkan hal seperti ini.


“Lalu, kapan kami akan berangkat?”Tanya Hernan.


“Hari ini, Tuan. Silahkan tuan dan nona bersiap-siap. Saya akan


mengantar tuan dan nona ke bandara, dan kalian akan menaiki jet pribadi milik


Tuan Haidar menuju Raja Ampat.”


“Apa?! Raja Ampat?” Nisha berteriak girang.


#bersambung…


*asyiiiik go honeymoon go go go go!!!