Raanjhana

Raanjhana
Takdir Cinta Nisha : 18. Cemburu Tanda Cinta



Nisha dan Grey tiba di rumah. Nisha segera turun dari mobil


Grey dan melihat ada mobil yang tidak asing di matanya.


“Bukankah ini mobil ibu?” batin Nisha.


Dan benar saja, Antonia dan Delina sedang duduk di kursi


teras depan rumahnya.


“Ibu!!!” seru Nisha girang dan langsung memeluk kedua ibunya


secara bergantian.


“Sayang… Kamu dari mana? Ibu dan Bibi Delina sudah


menunggumu dari tadi.” Ucap Antonia.


“Maaf, bu. Aku baru pulang berbelanja.”


“Nisha, ini barang-barangnya…” panggil Grey dengan membawa


beberapa kantong plastik besar.


Antonia dan Delina menatap aneh kearah Grey. “Sayang, ini


siapa?” Tanya Antonia.


“Eh? Ini Grey, Bu. Dia teman kampus Nisha.” jelas Nisha.


“Malam, Tante. Saya Grey, teman Nisha.” sapa Grey ramah.


“Oh, begitu. ya sudah, sayang cepat buka pintunya. Kasihan


teman kamu membawa banyak barang.” Lanjut Antonia.


Nisha segera membuka pintu rumahnya dan mempersilahkan


tamunya masuk. Nisha menuju dapur bersama Grey untuk menata barang


belanjaannya. Lalu menemui Antonia dan Delina di ruang tamu.


“Ibu datang kesini kenapa tidak mengabariku dulu?” Tanya


Nisha.


“Ibu sudah menghubungimu berulang kali tapi tidak


tersambung.” Balas Antonia.


Nisha segera mengambil ponselnya didalam tas. “Maaf,


ponselku mati. Baterainya habis.”


“Oh ya, kamu tadi belanja ya? Apa kamu akan memasak, Nak?”


Tanya Delina.


“Iya, bu. Rencananya begitu. Oh ya, Grey. Ini adalah ibu


asuhku, Bibi Delina. Dan ini ibu kandungku, Ibu Antonia.” Nisha merasa perlu


memperkenalkan kedua ibunya.


Grey mengangguk sopan. “Saya sering dengar tentang Ibu


berdua dari Nisha. katanya kalian sangat pandai memasak. Mungkin bakat kalian


menurun pada Nisha.”


Antonia dan Delina tersenyum gembira. “Ah, Nak Grey bisa


saja…”


“Kapan aku bercerita


tentang kedua ibuku? Dasar! Dia sangat pandai mengambil hati wanita.” Batin


Nisha dengan memutar bola matanya malas.


“Oh ya, bagaimana kalau kita masak bersama. Sekalian kamu


memasak untuk suami kamu. Sebentar lagi dia pasti pulang bekerja ‘kan?” ucap


Antonia.


Nisha mengangguk. Ia segera menuju ke dapur. Grey merasa


tercubit hatinya ketika ibunya Nisha mengucapkan kata ‘suami’. Ia mulai tahu


diri jika gadis yang disukainya sudah menikah dan bersuami.


“Umm, Nisha, kalau begitu aku permisi pulang ya.” Pamit Grey.


“Lho, jangan pulang dulu nak Grey. Ikut makan malam bersama


saja disini.” Ajak Antonia.


Tanpa bisa menolak, Grey akhirnya menyetujui ajakan Antonia.


.


.


.


Beberapa menu makanan telah tersaji diatas meja makan. Mereka


berempat berkumpul di meja makan. Tak lama Hernan pulang ke rumahnya dan


melihat ada dua mobil di halaman rumahnya. Satu mobil yang ia kenali sebagai


mobil ibu mertuanya, namun yang satunya, ia tidak tahu milik siapa.


Hernan masuk kedalam rumah dan mendengar suara tawa seorang


pria dari arah meja makan. Hernan mengepalkan tangan melihat siapa orang yang


duduk bersama dengan istri dan ibu mertuanya.


“Eh, Nak Hernan sudah pulang. Nisha, sambutlah suamimu.” Pinta


Antonia.


Nisha segera beranjak dari duduknya dan menghampiri Hernan. “Sebaiknya


kau bersihkan diri dulu, lalu bergabung bersama kami.” Bisik Nisha dan membawa


Hernan masuk kedalam kamarnya.


Nisha ikut masuk kedalam kamar Hernan dan menutup pintunya.


“Apa yang bocah itu lakukan dirumahku? Kau mengundangnya


untuk makan malam?” Tanya Hernan dengan nada tidak suka.


“Sudahlah. Jangan berdebat sekarang. Ada ibuku. Sebaiknya kau


mandi dan ikut bergabung dengan kami.” Nisha pun meninggalkan Hernan.


Hernan makin kesal namun ia tidak memiliki pilihan. Ia tidak


mau ibu mertuanya curiga. Beberapa menit kemudian, Hernan keluar dari kamarnya


dan menuju meja makan. Hernan makin melirik tidak suka pada Grey karena ia


tampak akrab dengan kedua ibu Nisha.


Usai makan malam, Antonia dan Adelia berpamitan. Mereka tidak


enak hati bila terlalu lama meninggalkan rumah. Hernan, Nisha dan Grey


mengantarkan Antonia dan Delina ke depan rumah. Nisha melambaikan tangan ketika


“Bisa kau jelaskan untuk apa bocah ini datang ke rumahku?” Tanya


Hernan tanpa basa-basi ketika mobil Antonia sudah tidak terlihat.


“Nisha, sebaiknya aku pulang. Terima kasih atas makan malamnya.


Sangat enak. Jika kau butuh bantuanku, kau bisa mengandalkan aku.” Ucap Grey


tanpa mempedulikan Hernan yang tampak kesal.


Nisha mengangguk dan melambaikan tangan ketika mobil Grey


mulai melaju. Nisha akan masuk kedalam rumah namun lengannya di cekal oleh


Hernan.


“Apa kau akan mengabaikan suamimu seperti ini? kenapa kau


mengundang bocah itu ke rumahku? Berani sekali kau mengundang lelaki lain


kerumahku, hah?!”


Nisha menepis tangan Hernan. “Dia hanya membantuku mengantar


barang belanjaanku. Dan yang mengundangnya makan malam adalah ibuku, bukan aku!


Sudah puas?” Nisha kembali berjalan masuk kedalam rumah. Hernan mengikutinya


dari belakang.


“Aku belum selesai bicara! Jadi kau pergi berbelanja


dengannya? Wah, kau makin berani ya! Bagaimana jika ada anggota keluarga yang


melihatmu pergi dengan pria lain? Apa kau sengaja melakukannya? Kau memang


meminta tolong padanya untuk menemaninya berbelanja, padahal kau bisa memintaku


untuk menemanimu. Apa susahnya menghubungi suamimu sendiri?”


“Apa maksudmu? Bukankah kita sudah sepakat jika kita tidak


akan saling mencampuri urusan pribadi masing-masing? Lalu kenapa kau harus


mempermasalahkan hubunganku dengan Grey? Kau sendiri malah diam-diam menemui


Asha dan aku tidak keberatan. Kau bahkan menemuinya malam-malam. Sudahlah, aku


tidak ma uterus berdebat denganmu. Aku lelah, aku ingin istirahat.” Nisha


meninggalkan Hernan dan masuk kedalam kamarnya.


Hernan masih mematung mendengar kalimat Nisha. “Bagaimana


dia tahu jika aku menemui Asha? Apa dia…?” Hernan menatap pintu kamar Nisha


yang tertutup. Hernan meninjukan tangannya ke udara. Ia merasa sikapnya


akhir-akhir ini sudah tidak masuk akal.


“Kenapa aku marah saat


Nisha berdekatan dengan bocah itu? apa yang terjadi denganku? Apa aku cemburu? Tidak


mungkin! Lalu soal Asha… malam itu aku menemuinya hanya untuk mengucap kata


perpisahan. Apa yang sebenarnya kurasakan dengan hatiku?” batin Hernan


dengan memegangi dadanya.


.


.


.


.


.


Keesokan harinya di rumah keluarga Nisha, Antonia menata


makanan di meja makan untuk sarapan keluarga. Haidar dan Raihan berjalan menuju


meja makan dan segera duduk.


“Hmm, menu sarapannya sepertinya sangat menggugah selera,


Ant…” ucap Haidar.


“Terima kasih, Ayah. Sayang… kau ingin makan apa?” Tanya Antonia


pada Raihan.


“Hmm, aku ingin nasi goreng saja. Dan telor ceplok.” Jawab Raihan.


Mereka pun mulai menyantap makanannya.


“Rumah terasa sepi setelah cucuku menikah. Kemarin kau


menjenguknya, bagaimana keadaan Nisha, Ant?” ucap Haidar.


“Nisha baik-baik saja, Ayah. Hernan menjaganya dengan baik. Rumah


mereka berdua juga cukup besar dan nyaman. Kurasa Nisha kerasan tinggal disana.


Tapi, Ayah…”


“Ada apa?” Tanya Haidar dengan menatap Antonia. Begitu juga


dengan Raihan.


“Sepertinya kita perlu merencanakan bulan madu untuk mereka.


Kemarin, Nisha datang diantar seorang pria, katanya sih teman kampusnya. Tapi… kulihat


pria itu terlihat menyukai Nisha. aku khawatir jika… pernikahan akan bermasalah


jika ada orang ketiga masuk.” Jelas Antonia.


Haidar tampak berpikir. “Mereka pasti belumbisa saling


mencintai. Terlebih lagi Hernan juga sepertinya menjalin hubungan dengan gadis


bernama Asha. Baiklah, aku akan bicara dengan Rio. Kudengar dia memiliki pulau


pribadi di Raja Ampat. Kita akan kirim mereka kesana agar mereka mengingat


masa-masa kecil mereka. Tampaknya mereka berdua belum saling menyadari jika


mereka sudah pernah bertemu sepuluh tahun lalu.”


“Benar, Ayah. Kita harus mendekatkan mereka agar mereka


menyadari perasaan mereka masing-masing.” Balas Raihan.


“Padahal dulu putrimu itu sangat ingin menikah dengan


pangerannya. Sekarang impiannya sudah terwujud, tapi sepertinya ia belum


menyadarinya.” Timpal Antonia.


“Semoga setelah berbulan madu, mereka akan menyadari memori


mereka di masa lalu.” Tambah Haidar.


#bersambung


halo readers, jangan lupa tinggalkan jejak ya. terima kasih...