
Nisha dan Grey tiba di rumah. Nisha segera turun dari mobil
Grey dan melihat ada mobil yang tidak asing di matanya.
“Bukankah ini mobil ibu?” batin Nisha.
Dan benar saja, Antonia dan Delina sedang duduk di kursi
teras depan rumahnya.
“Ibu!!!” seru Nisha girang dan langsung memeluk kedua ibunya
secara bergantian.
“Sayang… Kamu dari mana? Ibu dan Bibi Delina sudah
menunggumu dari tadi.” Ucap Antonia.
“Maaf, bu. Aku baru pulang berbelanja.”
“Nisha, ini barang-barangnya…” panggil Grey dengan membawa
beberapa kantong plastik besar.
Antonia dan Delina menatap aneh kearah Grey. “Sayang, ini
siapa?” Tanya Antonia.
“Eh? Ini Grey, Bu. Dia teman kampus Nisha.” jelas Nisha.
“Malam, Tante. Saya Grey, teman Nisha.” sapa Grey ramah.
“Oh, begitu. ya sudah, sayang cepat buka pintunya. Kasihan
teman kamu membawa banyak barang.” Lanjut Antonia.
Nisha segera membuka pintu rumahnya dan mempersilahkan
tamunya masuk. Nisha menuju dapur bersama Grey untuk menata barang
belanjaannya. Lalu menemui Antonia dan Delina di ruang tamu.
“Ibu datang kesini kenapa tidak mengabariku dulu?” Tanya
Nisha.
“Ibu sudah menghubungimu berulang kali tapi tidak
tersambung.” Balas Antonia.
Nisha segera mengambil ponselnya didalam tas. “Maaf,
ponselku mati. Baterainya habis.”
“Oh ya, kamu tadi belanja ya? Apa kamu akan memasak, Nak?”
Tanya Delina.
“Iya, bu. Rencananya begitu. Oh ya, Grey. Ini adalah ibu
asuhku, Bibi Delina. Dan ini ibu kandungku, Ibu Antonia.” Nisha merasa perlu
memperkenalkan kedua ibunya.
Grey mengangguk sopan. “Saya sering dengar tentang Ibu
berdua dari Nisha. katanya kalian sangat pandai memasak. Mungkin bakat kalian
menurun pada Nisha.”
Antonia dan Delina tersenyum gembira. “Ah, Nak Grey bisa
saja…”
“Kapan aku bercerita
tentang kedua ibuku? Dasar! Dia sangat pandai mengambil hati wanita.” Batin
Nisha dengan memutar bola matanya malas.
“Oh ya, bagaimana kalau kita masak bersama. Sekalian kamu
memasak untuk suami kamu. Sebentar lagi dia pasti pulang bekerja ‘kan?” ucap
Antonia.
Nisha mengangguk. Ia segera menuju ke dapur. Grey merasa
tercubit hatinya ketika ibunya Nisha mengucapkan kata ‘suami’. Ia mulai tahu
diri jika gadis yang disukainya sudah menikah dan bersuami.
“Umm, Nisha, kalau begitu aku permisi pulang ya.” Pamit Grey.
“Lho, jangan pulang dulu nak Grey. Ikut makan malam bersama
saja disini.” Ajak Antonia.
Tanpa bisa menolak, Grey akhirnya menyetujui ajakan Antonia.
.
.
.
Beberapa menu makanan telah tersaji diatas meja makan. Mereka
berempat berkumpul di meja makan. Tak lama Hernan pulang ke rumahnya dan
melihat ada dua mobil di halaman rumahnya. Satu mobil yang ia kenali sebagai
mobil ibu mertuanya, namun yang satunya, ia tidak tahu milik siapa.
Hernan masuk kedalam rumah dan mendengar suara tawa seorang
pria dari arah meja makan. Hernan mengepalkan tangan melihat siapa orang yang
duduk bersama dengan istri dan ibu mertuanya.
“Eh, Nak Hernan sudah pulang. Nisha, sambutlah suamimu.” Pinta
Antonia.
Nisha segera beranjak dari duduknya dan menghampiri Hernan. “Sebaiknya
kau bersihkan diri dulu, lalu bergabung bersama kami.” Bisik Nisha dan membawa
Hernan masuk kedalam kamarnya.
Nisha ikut masuk kedalam kamar Hernan dan menutup pintunya.
“Apa yang bocah itu lakukan dirumahku? Kau mengundangnya
untuk makan malam?” Tanya Hernan dengan nada tidak suka.
“Sudahlah. Jangan berdebat sekarang. Ada ibuku. Sebaiknya kau
mandi dan ikut bergabung dengan kami.” Nisha pun meninggalkan Hernan.
Hernan makin kesal namun ia tidak memiliki pilihan. Ia tidak
mau ibu mertuanya curiga. Beberapa menit kemudian, Hernan keluar dari kamarnya
dan menuju meja makan. Hernan makin melirik tidak suka pada Grey karena ia
tampak akrab dengan kedua ibu Nisha.
Usai makan malam, Antonia dan Adelia berpamitan. Mereka tidak
enak hati bila terlalu lama meninggalkan rumah. Hernan, Nisha dan Grey
mengantarkan Antonia dan Delina ke depan rumah. Nisha melambaikan tangan ketika
“Bisa kau jelaskan untuk apa bocah ini datang ke rumahku?” Tanya
Hernan tanpa basa-basi ketika mobil Antonia sudah tidak terlihat.
“Nisha, sebaiknya aku pulang. Terima kasih atas makan malamnya.
Sangat enak. Jika kau butuh bantuanku, kau bisa mengandalkan aku.” Ucap Grey
tanpa mempedulikan Hernan yang tampak kesal.
Nisha mengangguk dan melambaikan tangan ketika mobil Grey
mulai melaju. Nisha akan masuk kedalam rumah namun lengannya di cekal oleh
Hernan.
“Apa kau akan mengabaikan suamimu seperti ini? kenapa kau
mengundang bocah itu ke rumahku? Berani sekali kau mengundang lelaki lain
kerumahku, hah?!”
Nisha menepis tangan Hernan. “Dia hanya membantuku mengantar
barang belanjaanku. Dan yang mengundangnya makan malam adalah ibuku, bukan aku!
Sudah puas?” Nisha kembali berjalan masuk kedalam rumah. Hernan mengikutinya
dari belakang.
“Aku belum selesai bicara! Jadi kau pergi berbelanja
dengannya? Wah, kau makin berani ya! Bagaimana jika ada anggota keluarga yang
melihatmu pergi dengan pria lain? Apa kau sengaja melakukannya? Kau memang
meminta tolong padanya untuk menemaninya berbelanja, padahal kau bisa memintaku
untuk menemanimu. Apa susahnya menghubungi suamimu sendiri?”
“Apa maksudmu? Bukankah kita sudah sepakat jika kita tidak
akan saling mencampuri urusan pribadi masing-masing? Lalu kenapa kau harus
mempermasalahkan hubunganku dengan Grey? Kau sendiri malah diam-diam menemui
Asha dan aku tidak keberatan. Kau bahkan menemuinya malam-malam. Sudahlah, aku
tidak ma uterus berdebat denganmu. Aku lelah, aku ingin istirahat.” Nisha
meninggalkan Hernan dan masuk kedalam kamarnya.
Hernan masih mematung mendengar kalimat Nisha. “Bagaimana
dia tahu jika aku menemui Asha? Apa dia…?” Hernan menatap pintu kamar Nisha
yang tertutup. Hernan meninjukan tangannya ke udara. Ia merasa sikapnya
akhir-akhir ini sudah tidak masuk akal.
“Kenapa aku marah saat
Nisha berdekatan dengan bocah itu? apa yang terjadi denganku? Apa aku cemburu? Tidak
mungkin! Lalu soal Asha… malam itu aku menemuinya hanya untuk mengucap kata
perpisahan. Apa yang sebenarnya kurasakan dengan hatiku?” batin Hernan
dengan memegangi dadanya.
.
.
.
.
.
Keesokan harinya di rumah keluarga Nisha, Antonia menata
makanan di meja makan untuk sarapan keluarga. Haidar dan Raihan berjalan menuju
meja makan dan segera duduk.
“Hmm, menu sarapannya sepertinya sangat menggugah selera,
Ant…” ucap Haidar.
“Terima kasih, Ayah. Sayang… kau ingin makan apa?” Tanya Antonia
pada Raihan.
“Hmm, aku ingin nasi goreng saja. Dan telor ceplok.” Jawab Raihan.
Mereka pun mulai menyantap makanannya.
“Rumah terasa sepi setelah cucuku menikah. Kemarin kau
menjenguknya, bagaimana keadaan Nisha, Ant?” ucap Haidar.
“Nisha baik-baik saja, Ayah. Hernan menjaganya dengan baik. Rumah
mereka berdua juga cukup besar dan nyaman. Kurasa Nisha kerasan tinggal disana.
Tapi, Ayah…”
“Ada apa?” Tanya Haidar dengan menatap Antonia. Begitu juga
dengan Raihan.
“Sepertinya kita perlu merencanakan bulan madu untuk mereka.
Kemarin, Nisha datang diantar seorang pria, katanya sih teman kampusnya. Tapi… kulihat
pria itu terlihat menyukai Nisha. aku khawatir jika… pernikahan akan bermasalah
jika ada orang ketiga masuk.” Jelas Antonia.
Haidar tampak berpikir. “Mereka pasti belumbisa saling
mencintai. Terlebih lagi Hernan juga sepertinya menjalin hubungan dengan gadis
bernama Asha. Baiklah, aku akan bicara dengan Rio. Kudengar dia memiliki pulau
pribadi di Raja Ampat. Kita akan kirim mereka kesana agar mereka mengingat
masa-masa kecil mereka. Tampaknya mereka berdua belum saling menyadari jika
mereka sudah pernah bertemu sepuluh tahun lalu.”
“Benar, Ayah. Kita harus mendekatkan mereka agar mereka
menyadari perasaan mereka masing-masing.” Balas Raihan.
“Padahal dulu putrimu itu sangat ingin menikah dengan
pangerannya. Sekarang impiannya sudah terwujud, tapi sepertinya ia belum
menyadarinya.” Timpal Antonia.
“Semoga setelah berbulan madu, mereka akan menyadari memori
mereka di masa lalu.” Tambah Haidar.
#bersambung
halo readers, jangan lupa tinggalkan jejak ya. terima kasih...