
Jessline memutar otaknya untuk bisa memisahkan Grey dan Ana. Ia mendengar rumor jika Ana dan Grey telah menikah. Tentu saja itu membuatnya meradang. Ia tak bisa mengandalkan Marc lagi karena sepertinya pria itu takkan mampu melakukan tugas ini. Jessline tersenyum seringai kala mengingat satu nama.
Jessline segera menemui orang yang ia pikirkan.
"Halo, Mike!" sapa Jessline.
"Kau! Dasar wanita ja'lang! Bagaimana bisa kau ada disini, huh?!" sungut Mike. Ingin rasanya ia menghabisi wanita yang ada didepannya ini.
"Tenang dulu, Mike. Aku minta maaf karena sudah menipumu. Tapi, kerugian yang kau alami tidak begitu besar, bukan? Buktinya keluargamu segera bangkit dan kembali berjaya."
"Cih, apa yang kau lakukan di kota ini? Kupikir kau sudah melarikan diri dari kota ini."
"Memang benar. Aku baru saja kembali karena ada hal menarik yang membuatku kembali."
"Oh ya? Apa kau akan menipu pria kaya yang lainnya? Kau bahkan lebih memilih pria miskin itu dibandingkan diriku. Kau bahkan mengkhianati pernikahan kita, Jessline." kesal Mike.
"Maaf, Mike. Tapi kurasa kau tidak terlalu menyesal tentang pembatalan pernikahan kita. Benar 'kan?"
"Eh? Apa maksudmu?"
"Aku tahu sejak awal kau tertarik pada Ana. Kau hanya menjadikanku sebagai cadangan saja."
"Apa katamu?!"
"Berhenti berpura-pura, Mike. Aku menemuimu karena ingin mengajakmu bekerja sama. Aku yakin kau akan sangat tertarik."
Mike berpikir sejenak. "Kau sudah pernah menipuku. Apa kau pikir aku sebodoh itu akan tertipu lagi olehmu?"
"Ini bukan tentang uang, Mike."
"Lalu?"
"Ana. Kau menginginkan dia, bukan?"
Mike terdiam.
"Aku menginginkan Grey. So, apa salahnya jika kita bekerja sama untuk mendapatkan apa yang kita inginkan. Bagaimana?"
Mike tertawa.
"Jadi sekarang kau menginginkan pria sombong itu? Apa kau merasa kalah dengan Ana? Kau tidak berubah, Jessline. Kau selalu menganggap Ana sebagai musuhmu. Padahal dia sangat baik padamu. Dan dia menganggapmu sebagai sahabat sejatinya. Kau memang buruk, Jess."
"Oh, shut up! Kau mau tidak menerima kerjasama ini? Aku tahu kau terobsesi untuk memiliki Ana. Inilah saatnya, Mike. Bagaimana?" Jessline tersenyum menyeringai.
Mike menghela nafas.
"Kau yakin tidak akan mengkhianatiku lagi?"
"Tentu saja. Kau bisa membunuhku jika aku mengkhianatimu lagi." Jessline terlihat amat meyakinkan.
"Baiklah. Apa rencananya?"
Jessline memberi kode pada Mike untuk memberikan telinganya. Jessline membisikkan sesuatu ke telinga Mike.
"Okay. Aku bisa melakukannya." ucap Mike.
Jessline tersenyum penuh kemenangan.
......***......
"Sayang, maaf ya malam ini aku harus pergi ke klub. Ada hal yang harus kuurus." ucap Grey dengan penuh sesal. Tidak biasanya Grey pergi mendadak seperti ini.
Meski sempat khawatir, Ana akhirnya mengijinkan suaminya untuk pergi. Ana memberikan kecupan perpisahan sementara untuk Grey.
Alfonso melihat kesedihan di wajah putrinya.
"Apa kau sangat mencintainya, Nak? Kau terlihat sedih meski hanya ditinggal sebentar olehnya."
"Daddy! Jangan menggodaku."
"Daddy tidak menggodamu. Daddy hanya bertanya. Apa kau cemas jika dia bermain di belakangmu?"
"Hah?! Tidak! Tentu saja tidak! Aku percaya padanya, Dad." balas Ana dengan raut wajah cemas.
Alfonso tahu kegelisahan Ana.
"Nak, pernikahan itu bukan hanya menyangkut saling mencintai saja, tapi juga saling percaya. Apa kau percaya pada suamimu?"
Ana terdiam. Sungguh ia percaya pada Grey. Tapi firasatnya juga tak bisa ia tepis begitu saja.
"Nak? Apa kau percaya pada suamimu?" Alfonso mengulang pertanyaannya.
"Iya, Dad. Aku percaya." Ana tersenyum.
"Kalau begitu jangan khawatir. Dia pasti akan menjaga kepercayaanmu."
"Daddy percaya padanya?"
"Iya. Daddy tahu jika semua rumor yang beredar itu tidak benar. Grey adalah pria yang baik dan bertanggung jawab."
Ana terharu dengan penuturan ayahnya.
"Daddy..." Ana menghambur memeluk ayahnya.
......***......
Tiba di klubnya, Grey disambut oleh Black dan Simon juga Todd. Kehadiran Todd membuat suasana berbeda. Grey tahu pasti ada sesuatu yang ingin ia katakan.
Grey membawa Todd ke ruang kerjanya. Mereka bicara empat mata. Grey mengepalkan tangan mendengar kabar dari Todd.
"Bagus. Kau seret dia ke kota ini dan kurung dia terlebih dahulu. Kita tidak akan menyerahkannya pada pihak berwajib sebelum Ana menghukum mereka."
"Baik, Tuan. Tapi, apa Nona Ana bisa menghukum mereka? Nona Ana sangatlah lembut dan berhati baik."
"Maaf, Tuan. Kalau begitu saya permisi."
"Iya, pergilah! Dan ingat! Gerak gerikmu jangan sampai diketahui oleh mereka."
"Baik, Tuan." Todd memberi hormat kemudian pamit dari ruangan Grey.
Sepeninggal Todd, Grey kembali didatangi oleh Simon dan Black yang ingin mengabarkan sesuatu.
"Bagaimana? Apa kalian sudah menyiapkan semuanya?" tanya Grey.
"Tentu saja, Tuan." sahut Black.
"Tuan jangan khawatir." sahut Simon.
"Okay. Mari kita beraksi." ucap Grey dengan meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku.
.
.
.
Seorang gadis cantik memasuki klub malam 'The Devil' dengan mengedarkan pandangannya mencari seseorang yang akan menjadi targetnya. Ketika sosok itu telah tertangkap netranya, gadis itu segera berjalan dengan melenggak lenggokkan tubuh seksinya dan membuat mata pria yang ada di klub memandang dengan penuh hasrat.
Tanpa permisi gadis itu duduk disamping pria incarannya. Pria itu terkejut dengan kedatangan tiba-tiba sang gadis.
"Kau?!" pekik pria yang tak lain adalah Grey.
"Iya, ini aku. Kenapa? Apa kau terkejut, tampan?" Gadis yang tak lain adalah Jessline sengaja mengelus dada bidang Grey yang tertutup jas dan kemeja.
"Singkirkan tangan kotormu itu, ja'lang!!!"
"Ouch! Kau sangat galak! Apa kau juga galak saat di ranjang?" bisik Jessline di telinga Grey.
Grey tersenyum menyeringai. "Apa kau ingin mencobanya?"
Jessline amat senang mendengar penawaran Grey.
"Apa itu artinya aku di terima bekerja disini?" tanya Jessline dengan mengerlingkan matanya.
"Oh? Kau ingin bekerja disini?"
Jessline mengangguk pura-pura malu.
"Baiklah. Ikut denganku!" Grey menarik tangan Jessline kasar.
"Auw!!! Sakit, Tuan!" rintih Jessline manja.
Grey kembali tersenyum mengerikan.
"Dasar ja'lang! Kau pikir kau bisa menipuku, huh!" batin Grey.
Grey membawa Jessline ke sebuah kamar yang berbeda dari biasanya.
"Wah, Tuan. Kamarnya sangat bagus. Apa yang akan kita lakukan disini?" tanya Jessline manja.
"Tentu saja melakukan seleksi apakah kau layak atau tidak bekerja disini." balas Grey.
Jessline tersenyum penuh arti. "Jadi, apa yang harus kulakukan, Tuan?" Jessline mengelus rahang kokoh Grey.
"Layani aku, ja'lang! Buat diriku puas!" ucap Grey.
Jessline mulai membuka jas yang dikenakan Grey. Kemudian membuka kancing kemeja Grey satu persatu.
BRAK!!!
Terdengar suara pintu dibuka dan dibanting. Grey amat terkejut dengan sosok yang ada di depannya ini.
"Ana?!" Grey membulatkan matanya.
Mata Ana berkaca-kaca melihat suaminya bersama dengan sepupunya.
"A-apa ini, Grey?" ucap Ana terbata.
"Ana, aku bisa jelaskan semuanya!" Grey mengancing kembali kemejanya yang sudah terlepas.
Ana menepis tangan Grey.
"Aku kecewa padamu, Grey!" Ana segera pergi dari kamar itu dan berlari sekencangnya.
Grey amat geram dengan jebakan yang dibuat Jessline. Rencananya untuk menjebak Jessline malah jadi berantakan dan entah dimana semua anak buahnya saat ini.
Grey mendorong tubuh Jessline dan menguncinya di kamar itu. Grey segera mencari keberadaan Black dan Simon.
Grey meraih ponselnya dan menghubungi Black.
"Dimana kau, huh?!" Amarah tengah menyelimuti darah Grey.
"Maaf, Tuan. Terjadi masalah disini! Kita di serang!"
"APA?!"
......***......
#bersambung...
"Terima kasih atas dukungan kalian atas karya receh yg satu iniπππ"
Yuk ramaikan lapak mamak yg laen πππ