
Perhatian: Akan ada adegan dewasa di part ini. Harap pembaca bijak menyikapi ya! Yang tidak suka skip saja dan klik jempolnya saja, hehehe. Terima kasih
.
.
Malam yang indah baru saja mereka berdua lewati. Kini mereka masih bergumul di bawah selimut sementara mentari sudah naik ke peraduannya. Nisha menggeliat pelan kala merasakan sakit di pangkal pahanya.
Nisha melirik kearah Hernan yang masih terlelap. Ia masih tidak percaya jika ia sudah memberikan harta berharganya pada Hernan, suaminya.
Ia berusaha untuk bangkit namun tenaganya seakan habis setelah di gempur oleh Hernan. Tengah malam tadi Hernan terbangun dan kembali menerkam dirinya. Ia benar-benar pasrah menerima perlakuan Hernan padanya.
"Kakak..." Nisha menepuk pipi Hernan pelan.
"Hmm..." Hernan sepertinya amat kelelahan karena tenaganya juga habis. Meski begitu, ia makin membawa tubuh Nisha dalam dekapannya.
"Ish, kakak! Bangun! Ini sudah siang!" seru Nisha.
"Aku tidak mau bangun! Aku masih ingin tidur memeluk gadis kecilku."
"Kakak!" Nisha terus menggeliat mencoba meloloskan diri dari pelukan Hernan.
Nisha yang terus menggesek tubuhnya pada tubuh Hernan, membuat Hernan membuka matanya. "Hei, gadis kecil, kau sudah membangunkan singa yang tertidur."
"Eh? Apa maksud kakak?"
Tanpa menjawab Nisha, Hernan kembali meraup bibir manis milik Nisha. Nisha meronta meminta dilepaskan karena ia tidak siap dengan serangan Hernan.
Keadaan mereka yang masih polos dan hanya berselimut gairah, membuat Hernan kembali melesak masuk kedalam pertahanan Nisha yang sudah ia jebol semalam.
Nisha benar-benar kelelahan sekarang. Hernan tidak mau berhenti melepaskan istri cantiknya itu.
"Kakak..." Lirih Nisha setelah pergelutan mereka usai.
Hernan memeluk Nisha erat seakan ia tak mau gadis kecilnya kembali hilang.
"Kak..."
"Ada apa, sayang?"
"Aku lapar..." lirih Nisha.
Hernan segera beranjak dari tempat tidur, memakai kaus dan celana pendeknya lalu bergegas menuju dapur.
Hernan memasak untuk Nisha. Keadaan Nisha yang masih lemah ditambah rasa sakit yang masih terasa di bagian intinya, membuat Nisha hanya ingin berbaring di tempat tidur.
Hernan melayani Nisha dengan baik. "Makanlah! Karena aku yang sudah membuatmu kelelahan, maka aku yang akan bertanggung jawab melayanimu."
Nisha mengerucutkan bibirnya lalu tersenyum. "Terima kasih, suamiku..."
Nisha makan dengan lahap omelet telur ala Hernan. Nisha senang suaminya begitu perhatian padanya. Bahkan mereka melupakan banyak perjanjian yang sudah mereka sepakati bersama sebelum menikah.
Usai menyantap makanan buatan Hernan. Nisha ingin segera membersihkan diri. Hernan membawa tubuh Nisha dalam gendongannya dan masuk ke kamar mandi.
"Kakak, aku bisa mandi sendiri..." ucap Nisha dengan malu.
"Kenapa masih malu? Aku sudah melihat semuanya."
"Tetap saja..."
"Sudah, kita mandi bersama ya!" ucap Hernan menyiapkan air di bathup.
Nisha kembali mendapat perlakuan hangat dari Hernan. Mereka saling membelai bagian tubuh dengan menyapukan sabun mandi. Sesekali Hernan sengaja bermain nakal dengan dua benda kenyal yang sangat ia sukai itu.
"Kakak!" pekik Nisha kala tubuhnya kembali menggelinjang akibat ulah Hernan.
"Aaahh," Nisha mendesah pelan kala Hernan dengan nakal memainkan dan menghisap benda kenyal miliknya.
"Ka...kak..." Nisha menahan tangan Hernan yang akan bermain cantik di area sensitifnya.
Tidak ada yang bisa menolak sensasinya saat sebuah jari masuk kedalam sana. Nisha memejamkan matanya kala merasakan tubuhnya mulai melemas.
Hernan membawa Nisha kembali ke ranjang dan kembali memasuki Nisha. Suara mereka saling bersahutan kala gairah mereka tak bisa terkontrol lagi.
"Aaahhh... aaahhh..." Nisha makin berteriak karena Hernan bergerak amat cepat diatas tubuhnya. Ia mencengkeram erat tubuh Hernan yang membuatnya melayang ke nirwana.
"Kak.... Aahh..."
"Ssshhh, aaarrgghhh!!!" Hernan tak mau kalah. Suara beratnya amat nyaring kala hentakannya makin cepat.
Mereka kembali terkulai lemas. Nisha memukul pelan dada Hernan. Ia benar-benar kewalahan menghadapi Hernan. Entah sudah berapa gol yang ia ciptakan seharian ini.
.
.
"Kak... Bagaimana kalau aku hamil?" ucap Nisha yang sudah membersihkan diri dan menatap dirinya di depan cermin. Ia memegangi perutnya yang masih rata.
"Kenapa kau bertanya begitu?" Hernan memeluk Nisha dari belakang. Mereka baru selesai mandi bersama.
"Aku kan masih kuliah. Aku masih ingin..." Nisha menundukkan wajahnya.
Hernan membalikkan tubuh Nisha agar menghadap padanya.
"Jadi kau menyesal?" tanya Hernan.
"Bu-bukan begitu, Kak. Aku senang menyerahkan semuanya pada kakak. Terutama pada suamiku..."
"Kalau begitu apa yang kau takutkan?"
"Aku mencintai, kakak..." kini Nisha mulai berani mencium bibir Hernan lebih dulu.
Hernan memeluk pinggang Nisha lebih mendekat agar ciuman mereka makin dalam. Nisha melingkarkan tangannya ke leher Hernan dan membelai rambut Hernan. Lama mereka saling memagut dan berbagi rasa. Sesekali mereka terhenti dan mengambil nafas namun kembali beradu bibir.
Seharian ini mereka hanya berada diatas ranjang dan memadu kasih. Saling mengungkap rasa dan gairah. Seakan dunia ini hanya milik mereka berdua saja.
.
.
.
Setelah satu minggu melakukan bulan madu, Hernan dan Nisha kembali ke rumah mereka. Di depan rumah, mereka disambut oleh dua keluarga yang sudah menunggu anak dan menantunya pulang berbulan madu.
Nisha amat senang karena kedua keluarga memberikan kejutan untuk mereka. Mereka memasak bersama dan menyantap makan malam bersama.
Tawa riuh memenuhi ruang makan di rumah Hernan. Kebahagiaan juga jelas terpancar di wajah sang pengantin baru itu. Ya meski sudah berjalan hampir 3 bulan, tapi masih cocok lah disebut sebagai pengantin baru.
Usai makan malam, para orang tua berpamitan pada anak dan menantunya. Hernan dan Nisha melambaikan tangannya saat mobil mulai melaju.
Dan ketika mereka berdua akan kembali masuk, mereka dikejutkan dengan kedatangan seseorang.
"Hernan..."
"Asha?"
Nisha yang berada di situasi aneh ini akhirnya memutuskan untuk masuk lebih dulu kedalam rumah. Hatinya mulai bergemuruh karena Hernan tak kunjung menyusulnya masuk kedalam rumah.
Nisha masuk ke dalam kamarnya. Dan duduk di tepi tempat tidur. Hatinya sesak karena merasa semuanya seakan sia-sia. Dia sudah memberikan semua miliknya pada Hernan. Tapi nyatanya Hernan masih menyimpan Asha dalam hatinya.
Nisha membuka laci nakas dan mengambil lembaran kertas yang ada disana. Itu adalah surat perjanjiannya dengan Hernan sebelum mereka menikah.
Tak terasa air matanya mengalir deras. Apa gunanya perjanjian itu sekarang? Toh Nisha sudah melanggar semua isinya. Nisha memukuli dadanya pelan.
Baru saja ia merasakan kebahagiaan tiada tara, namun kini semuanya hilang.
Hernan mendekati Nisha yang sedang menangis tertunduk. Nisha mendongakkan kepalanya menatap Hernan yang berdiri di depannya.
"Kenapa kau kemari?" Tanya Nisha dengan menghapus air matanya.
"Aku sudah bilang jika aku sudah menghapus Asha dari hatiku. Kau percaya padaku, 'kan?"
"Entahlah. Lagipula kau sudah mendapatkan apa yang kau inginkan dariku... Kau bisa dengan mudah meninggalkanku..."
"Apa yang kau bicarakan? Aku tidak akan pernah meninggalkanmu... Kau istriku!" ucap Hernan dengan penekanan pada kata istri.
Hernan berjongkok agar bisa melihat wajah Nisha. "Apa kau marah karena Asha datang?"
Nisha tidak menjawab.
"Aku sudah bilang jika aku sudah mengucap perpisahan padanya. Dan tadipun aku kembali mengatakannya. Aku hanya mencintaimu..."
Nisha mendongak menatap mata Hernan.
"Lalu bagaimana dengan ini?" Nisha menunjuk perjanjian pernikahan mereka.
"Itu hanya sebuah kertas, sayang. Tidak berarti apapun." Hernan merebut kertas itu lalu merobeknya.
"Heh?!" Nisha terkejut.
Hernan duduk di samping Nisha dan membelai wajahnya. "Dengar, apa kau pernah dengar sebuah pepatah?"
Nisha menatap sendu kearah Hernan. Matanya masih digenangi air mata yang belum menetes.
"Apa yang dipersatukan oleh Tuhan, tidak akan mudah dipisahkan oleh manusia." ucap Hernan sambil menyeka air mata Nisha yang kembali mengalir.
"Kita akan mulai semuanya dari awal. Bagaimana? Kau mau kan, gadis kecilku?"
Nisha mengangguk ragu.
"Percayalah aku hanya mencintaimu. Hanya mencintaimu..."
Hernan merebahkan tubuh Nisha ke atas tempat tidur. Hernan menyapu bibir Nisha dengan lembut. Nisha pun membalasnya tak kalah lembut.
Sapuan bibir mereka beradu dengan lembut dan berirama. Tangan Hernan mulai nakal menelusup masuk ke baju Nisha.
"Kak..."
"Ada apa, sayang?"
"Bisakah kita tidak melakukan apapun malam ini? Kau sudah menggempurku dua malam ini. Aku sangat lelah ingin tidur..." ucap Nisha memohon dengan wajah merona.
Hernan tertawa melihat tingkah gemas istrinya. "Baiklah. Aku akan membiarkanmu tidur nyenyak malam ini. Tapi..."
"Eh?" Nisha mengerutkan dahinya.
"Tapi besok aku akan menerkammu lagi..."
"Kakak!!!" pekik Nisha kala Hernan menggendong tubuh Nisha dan membawanya kedalam kamar Hernan.
.
.
#bersambung...
Jempolnya ya kaka jangan lupa digoyang 👍👍😀😀