Raanjhana

Raanjhana
Trapped by Cold CEO : 18. Ada Apa Denganku? (versi Ana)




......***......


"Tidurlah disini!" ucap Grey memohon.


"Eh?"


"Temani aku disini!"


Ana mengangguk. "Ta-tapi, bisakah Tuan melepaskanku dulu?" Ana bertanya dengan hati-hati karena takut Grey marah.


Grey melepaskan tangannya dari tubuh Ana. Ia menggeser tubuhnya agar Ana bisa tidur bersama dengannya.


"Kemarilah!" Grey menepuk ranjang.


Ana patuh dan memposisikan dirinya untuk tidur. Ana menarik selimut hingga ke lehernya.


"Tidurlah membelakangiku!" titah Grey.


Ana kembali patuh. Ia berusaha menetralkan degup jantungnya.


"Hah?!" Ana terkejut karena merasakan tangat hangat milik Grey melingkar di pinggangnya.


"Tu-Tuan!"


"Diamlah! Aku tidak akan melakukan apapun. Aku hanya ingin memelukmu." Grey mengeratkan pelukannya. Sudut bibirnya sedikit terangkat.


Ana memejamkan mata dan berusaha setenang mungkin.


"Kenapa kau melakukan ini padaku, Tuan? Kadang kau membuatku begitu sedih dan menderita. Tapi sedetik kemudian kau bersikap hangat dan manis padaku. Tolong jangan lakukan ini! Aku takut. Aku takut hatiku merasakan hal lain." batin Ana.


"Ana, apa kau menangis?"


"Tidak, Tuan."


"Kenapa kau suka sekali menangis? Jangan bilang kau berteman dengan air mata! Mulai sekarang kau memiliki aku. Jadi, jangan pernah merasa sendiri lagi."


Ana hanya menjawab dengan sebuah anggukan. Sungguh ia tak mau hatinya berubah. Ia takut merasakan getaran aneh terhadap Grey.


"Terima kasih kau sudah bersedia menemaniku."


"Iya, Tuan. Bukankah aku adalah pelayanmu?"


"Berhenti mengatakan itu, Ana."


"Kenapa? Itulah kenyataan yang sebenarnya."


"Tidurlah! Atau aku akan melakukan hal lain padamu."


Ana tak menyahut dan memilih memejamkan matanya.


......***......


Keesokan harinya Grey terbangun karena mendengar ponselnya berdering dengan nyaring. Ia mengerjapkan mata dan melirik ke arah Ana yang masih terpejam.


Grey segera mengambil ponselnya dan menuju ke balkon untuk mengangkat panggilan agar Ana tak merasa terganggu.


Raut wajah Grey berubah pucat saat berbicara di telepon.


"Baiklah. Pesankan tiket penerbangan untuk hari ini ke Indonesia." Ucap Grey sebelum mengakhiri panggilan dengan Black.


Grey kembali ke tempat tidur dan menatap Ana yang masih terlelap.


"Maafkan aku. Aku harus meninggalkanmu selama beberapa hari." Grey membelai rambut Ana kemudian memberi kecupan di puncak kepala Ana. Grey segera bersiap dan mengepak beberapa pakaian untuk ia bawa ke Indonesia.


Ana terbangun dan merasakan sinar mentari yang masuk kedalam kamar tidur Grey. Ana melihat sekeliling dan tak melihat Grey ada di kamar itu.


Ana mengumpulkan nyawanya terlebih dulu sebelum keluar dari kamar Grey. Ana keluar kemudian menuju ke kamarnya.


Usai membersihkan diri, Ana menuju ke lantai bawah dan tak menemui siapapun disana. Ana memasak sarapan untuk dirinya sendiri.


"Sebenarnya kemana si tuan dingin itu? Kenapa pergi tidak memberitahuku?" sungut Ana.


Ana makan dengan lahap dibarengi dengan rasa kesal dihatinya. "Kenapa aku merasa kehilangan dia? Bukankah bagus dia tidak menunjukkan batang hidungnya di depanku? Dia selalu berbuat sesuka hatinya!"


"Ada apa, Nona? Apa kau terlambat sarapan? Ini sudah pukul 10." Simon datang menuju dapur.


"Simon? Kau disini?"


"Yeah. Tuan Grey memintaku untuk menjagamu."


"Cih, menyebalkan sekali. Aku bukan tahanan, Simon."


Simon hanya menggeleng pelan. "Iya, Nona aku tahu. Aku akan membuat kopi setelah itu aku akan berjaga kembali. Kau tahu, Tuan Grey selalu mengawasimu." Simon menunjuk kearah kamera pengawas yang berada tepat diatas mereka.


Ana mengerucutkan bibirnya. "Terserah saja!"


"Apa Nona ingin pergi ke suatu tempat?"


"Baiklah. Habiskan dulu sarapan Nona. Aku akan menunggu di luar."


Ana mengangguk lalu kembali melahap makanannya.


......***......


Usai menjenguk ayahnya, Ana berbelanja kebutuhan pribadinya dan juga kebutuhan untuk di rumah besar itu. Ana meminta Simon untuk mendorong troli belanjaan miliknya.


Sesekali Ana tertawa karena lelucon yang dibuat Simon. Dari semua orang yang berhubungan dengan Grey, hanya Simon saja yang bisa membuat suasana hidup.


Puas berbelanja, Ana memutuskan untuk kembali ke mansion. Hingga malam tiba, Ana belum mendengar kabar dari Grey. Ana memandangi ponselnya yang tidak memiliki notifikasi satupun.


"Sebenarnya apa yang sedang dia lakukan? Apa dia tidak pulang kemari?"


Raut wajah Ana menjadi sedih. "Aarrgghhh!!! Kenapa aku terus memikirkan tentang dia? Memangnya dia siapa? Wake up, Ana! Dia hanyalah pria dingin yang tak memiliki hati. Jangan harap kau bisa mengisi hatinya!" Ana bicara dengan dirinya sendiri.


Ana menuju kamarnya dan terlelap sendiri tanpa pelukan seorang Grey. Ana bergulang guling karena tak bisa memejamkan mata.


"Jangan gila, Ana!!! Apa kau merindukan pelukan pria dingin itu? Wah, kau sangat tidak waras, Ana!!!" Ana mengacak rambutnya frustasi.


"Besok pasti semua akan baik-baik saja. Benar, Ana. Besok semuanya akan kembali seperti semula!" Ana terus bermonolog hingga akhirnya tubuhnya lelah dan menuju alam mimpi.


.


.


.


Sudah tujuh hari Ana tidak mendapat kabar dari Grey. Kehidupan Ana berjalan seperti biasa dan tetap datar. Ana melakukan tugasnya sebagai pelayan dengan amat baik. Kini setiap hari Ana berkunjung ke rumah sakit.


Seperti hari ini, ia juga akan menuju rumah sakit bersama Simon. Ana banyak terdiam akhir-akhir ini. Mungkinkah ini karena Grey?


Padahal Ana pikir, ketidakhadiran Grey akan membuat dirinya lebih bahagia. Namun ternyata Ana salah. Hidupnya terasa hampa tanpa melihat Grey. Kebersamaan yang tercipta beberapa waktu ini membuat Ana merasakan sesuatu dalam hatinya.


"Nona! Sudah sampai di rumah sakit!" ucap Simon.


"Oh, iya. Terima kasih, Simon." Ana yang sedang melamun segera keluar dari dalam mobil.


Ana menuju ruang intensif dan melihat ayahnya masih terbaring disana.


"Bersabarlah, Daddy. Mungkin akan lebih baik jika Daddy bangun saat keadaan sudah lebih baik. Jika Daddy bangun sekarang, maka hanya akan ada kesedihan dan air mata. Daddy tidak perlu menanggung semua beban ini. Biarkan aku saja yang menanggungnya." gumam Ana dengan raut sedih di wajahnya.


"Ana!" sebuah suara membuat Ana tersadar dsri lamunannya.


"Mike? Apa yang kau lakukan disini?" tanya Ana.


"Aku sengaja mencarimu."


"Eh? Ada apa?"


"Aku mengkhawatirkanmu, Ana. Sejak pertemuan terakhir kita, kau malah pergi bersama Grey. Aku tahu dia memiliki kekuasaan yang besar di bidang bisnis. Tapi bukan berarti dia bisa memperlakukanmu dengan tidak adil."


Ana tersenyum. "Kau tenang saja, Mike. Aku baik-baik saja."


"Nona Ana!" Simon menghampiri Ana dan Mike yang sedang berbincang.


"Kau bahkan mendapat pengawasan dari seorang pengawal, Ana." cicit Mike sambil melirik Simon.


Ana tersenyum kaku. "Dia hanya mengantar aku pergi saja, Mike."


"Tuan pengawal, bisakah aku meminjam Nonamu ini?"


"Maaf, tidak bisa Tuan. Nona Ana, sebaiknya kita segera pergi dari sini." ucap Simon tegas.


"Tidak apa, Mike. Kita bisa bertemu lain kali. Bye!" Ana melambaikan tangan kemudian pergi dari rumah sakit.


Ana kembali menuju mansion.


"Nona, sebaiknya Nona jangan terlalu dekat dengan Tuan Mike." ucap Simon sambil tetap fokus menyetir.


"Memangnya kenapa?"


"Tuan Grey tidak akan membiarkan orang lain menyentuh miliknya."


"Cih, siapa juga yang menjadi miliknya? Aku bukan milik siapapun."


"Apa Nona yakin?" Simon melirik ke bangku belakang melalui kaca spion.


Ana tidak menjawab dan memilih melihat jalanan di luar kaca mobil.


......***......


#bersambung...


*Ini namanya malu-malu meong kali yak Ana 😅😅😅