
Adniyan memandang satu persatu anggota keluarganya yang masih mematung.
"Aku lelah. Aku mau istirahat." ucapnya.
Bahkan setelah Adniyan menuju ke kamarnya, semua masih mematung. Tidak percaya kalau Adniyan akan setenang ini menanggapi semua kenyataan masa lalu antara kakak dan tunangannya.
Aditya masih bingung dengan sikap Adniyan yang menyatakan kalau dia sudah tahu tentang semuanya. Ia yakin kalau Adniyan bisa saja sedang berbohong.
"Gak mungkin!!! Iyan pasti berbohong!!! Gak mungkin dia sudah tahu semuanya dan masih tetap mempertahankan hubungannya dengan perempuan itu!!" Ninna naik pitam.
"Hentikan, Ninna!! Iyan akan menyelesaikan masalahnya sendiri. Jadi kita jangan ikut campur lagi. Benar kan, Pa?" Martha menjawab Ninna.
"Hmmm, kalau memang itu yang diinginkan Iyan, kita biarkan dia yang mengurus masalahnya dengan Sivia. Dan kamu Aditya, kamu yakin kamu tidak tahu sebelumnya tentang kedekatan Iyan dan Sivia? Semua yang dituduhkan istri kamu pada Sivia, adalah tidak benar. Benar begitu?" Ujar Haris.
"Iya, Pa. Itu memang gak benar."
"Gak!!! Papa tidak bisa membelanya!! Perempuan itu gak seharusnya masuk ke kehidupan Iyan." Ninna masih tak mau mengalah.
"Cukup, Ninna!! Sebaiknya kalian pulang. Kalian perbaiki hubungan kalian sendiri sebelum mengurusi hubungan orang lain." tegas Haris.
"Baik, Pa. Kalau begitu kami permisi. Maaf sudah mengganggu waktu kalian semua." Aditya mengajak Ninna keluar dari rumahnya.
Ada langkah berat dalam diri Ninna. Ia tidak terima kalau dirinya kalah. Ia melepas genggaman tangan Aditya, dan melangkah menuju ke mobilnya. Merekapun meninggalkan kediaman Nugraha secara terpisah.
...***...
Satu hari yang lalu,
Setelah perdebatan dengan Ninna, Aditya memutuskan untuk tidur di perpustakaan. Ada sebuah sofa disana, ia pasti bisa istirahat dengan tenang disana. Pikirannya melayang tak menentu. Ternyata ia tak bisa memejamkan mata.
"Sial!!! Aku masih kepikiran dengan apa yang akan dilakukan Ninna setelah mengetahui semuanya. Apa yang harus aku lakukan?"
Aditya mengacak rambutnya. Ia benar-benar di ujung tanduk sekarang.
"Bagaimana nasib Sivia kalau Ninna--- tidak, tidak. Aku tidak bisa berpikiran buruk sekarang."
Aditya menggelengkan kepala. Ia harus melakukan sesuatu.
"Tunggu!!! Aku harus menyingkirkan semua bukti-bukti itu. Iya, benar. Aku harus memusnahkannya."
Aditya bergegas keluar dari perpustakaan dan menuju gudang.
"Tadi Ninna membuang foto-foto itu di depan gudang. Pasti masih ada disana."
Aditya mencari di depan gudang dan juga didalam gudang. Hasilnya nihil. Ninna sudah menyingkirkan semua barang-barang Aditya yang ada di gudang.
Aditya berpikir keras lagi. "Jangan-jangan Ninna menyimpannya di suatu tempat." Gumamnya.
Aditya mengendap-endap di depan kamar Ninna. Ia membuka pintu sedikit. Ia yakin kalau Ninna sudah terlelap. Dan dugaannya benar. Aditya memasuki kamar dengan sangat hati-hati.
Pasti ada dilemari. Batinnya.
Aditya menuju lemari Ninna. Mencari dengan seksama dimana foto-foto lama miliknya dan Sivia tersimpan.
Aditya tersenyum girang. Dia menemukannya. Segera ia ambil dan membawanya keluar dari kamar. Ia akan menyimpannya di suatu tempat untuk sementara waktu. Atau juga membuangnya.
Keesokan harinya, Ninna uring-uringan karena bukti satu-satunya tentang hubungan lama suaminya sudah menghilang. Ia berteriak memanggil nama Aditya berkali-kali. Karena tak ada jawaban, ia mendatangi Aditya yang bermalam di perpustakaan.
"Mas-- cepat bangun!! Kita harus bicara."
Aditya membuka matanya perlahan dan memakai kacamatanya.
"Ada apa? Pagi-pagi kamu sudah ribut." Aditya membenahi posisi duduknya.
"Ini pasti perbuatan kamu kan? Kamu sudah mencuri bukti kisah cinta lamamu dengan Sivia."
Aditya tersenyum penuh kemenangan. "Jadi kamu mau bicara soal itu. Ninna, aku adalah suamimu. Bisakah kamu mempercayaiku sekali ini saja? Aku dan Sivia sudah tak ada hubungan apapun lagi. Dan tolong, jangan membahas hal ini dengan keluargaku. Apalagi Iyan. Mereka akan segera menikah. Kamu jangan menghancurkan hati Iyan, atau aku---"
"Atau apa? Apa yang akan kamu lakukan padaku?"
"Aku tidak akan membiarkan bila ada orang yang ingin menghancurkan kebahagiaan adikku." Dan Adityapun meninggalkan Ninna yang masih berkacak pinggang.
Ninna berdecih. "Apa yang dia katakan? Menghancurkan kebahagiaan adiknya? Cih, padahal dia sendiri yang sudah menghancurkannya. Kenapa malah menyalahkanku. Awas saja kau!!" Ninna mengepalkan tangannya.
*
*
*
Beberapa jam sebelumnya,
"Halo, Mas. Kamu tahu sekarang aku ada dimana? Kamu pasti gak akan menyangka kalau aku mampu melakukannya. Dan jangan kamu kira aku ini bodoh, aku masih punya satu foto kalian yang akan kutunjukkan pada keluargamu sekarang juga. Satu hal yang perlu kamu tahu. Yang merusak kebahagiaan adikmu adalah kamu sendiri." Tutup Ninna di sambungan telepon dengan Aditya.
"Halo!!! Ninna!!! Jangan gila kamu!!! Halo!!!"
Sial!!! Aku harus segera menghentikan Ninna. Dia pasti sudah kehilangan akal.
Aditya dengan cepat berlari keluar dari ruang dosen dan menuju tempat mobilnya terparkir. Ia harus segera menuju rumah orang tuanya. Ia tak akan membiarkan Ninna membongkar masa lalunya dan Sivia dengan cara seperti ini.
.
.
.
Saat Aditya datang, seluruh anggota keluarganya sudah berkumpul. Hanya kurang dirinya dan Adniyan saja. Dari jauh ia bisa melihat kalau Papanya sedang memegang sebuah foto. Dan itu adalah foto dirinya dan Sivia tiga tahun lalu.
*Aditya mendekati Papanya.
"Pa-- aku bisa jelaskan semuanya. Ini-- gak seperti yang Ninna katakan." Aditya berusaha menjelaskan*.
"Memangnya apa yang aku katakan, Mas? Aku hanya mengungkap kebenaran." Jawab Ninna.
"Hentikan semuanya! Mama masih tidak percaya dengan apa yang Ninna katakan. Adit, tolong katakan sesuatu. Semua foto itu tidak benar bukan?" Rita memegang lengan Aditya.
"Mama apaan sih? Foto itu jelas bukan editan. Untuk apa Ninna berbohong pada kita. Yang berbohong adalah gadis itu, dan--- kamu Aditya." Yulia membela Ninna.
"Jelaskan semuanya, Dit. Jangan membuat semuanya tambah rumit. Apa benar kamu pernah punya hubungan khusus dengan Sivia?" Martha tak mau memakan mentah-mentah apa yang dikatakan Ninna.
"Aku ingin kamu jujur sekarang. Ini tentang masa depan adik kita, Iyan."
"Maaf semuanya. Aku-- memang pernah berhubungan dengan Sivia, tiga tahun lalu--- Maaf kalau sudah menyembunyikan ini dari kalian. Tapi, aku benar-benar tidak tahu kalau Sivia menjalin hubungan dengan Iyan. Tolong jangan hancurkan hati Iyan..."
Dan semua hanya bisa menghela nafas mendengar pernyataan jujur dari Aditya.
...***...
Ninna kembali ke rumah dengan amarah yang masih membara di hatinya. Ia tidak akan membiarkan Sivia lepas begitu saja dari hal ini.
Aditya menyusul langkah Ninna dengan cepat, lalu mencegatnya sebelum masuk ke kamar.
"Apa yang kamu lakukan? Kenapa kamu tega melakukan ini pada Iyan?" tanya Aditya dengan mata memerah.
"Apa yang aku lakukan? Aku hanya membeberkan sebuah kebenaran yang selama ini kau tutupi. Apa kau tidak malu? Sudah membohongi keluargamu?"
"Semua orang memiliki masa lalu. Dan itu hanyalah masa lalu. Bisakah kamu memahami itu?"
"Musuhku--- adalah dia. Si-vi-a!!"
Ninna mendorong tubuh Aditya yang menghalanginya masuk ke kamar.
"Apa maksudmu dengan musuh? Sivia bukan musuhmu."
Ninna tak menghiraukan Aditya dan masuk ke dalam kamar. Aditya memijat keningnya pelan. Hari ini sangat mendebarkan untuknya.
Tak berapa lama ada sebuah pesan masuk di ponsel Aditya. Dari Adniyan.
*
*
*
Aditya dan Adniyan bertemu di sebuah cafe. Suasana canggung mulai terasa. Kakak beradik ini selalu nampak kompak meski mereka menggeluti bidang yang berbeda.
Adniyan menyesap kopinya perlahan.
"Jadi ... gadis yang dulu pernah kakak ceritakan adalah Sivia?"
"Iya." jawab Aditya singkat.
Suasana kembali hening. Adniyan memegang cangkir kopinya. Memandanginya lama, tapi belum diminumnya lagi.
"Kenapa kamu berbohong?" Tanya Aditya kemudian.
"Aku tidak berbohong. Aku memang tidak tahu pasti tentang hubungan kalian. Tapi, melihat kalian secara sembunyi-sembunyi bertemu ... membuatku memikirkan sesuatu. Apa itu memang sudah berakhir?"
"Iyan, maaf kalau aku menemui Sivia secara diam-diam. Aku tak punya maksud apapun. Sungguh!"
"Baiklah. Karena sekarang aku sudah tahu, aku hanya ingin mengatakan ini pada kakak. Aku ... akan tetap menikahi Sivia. Apapun yang akan kalian katakan, aku akan tetap menikahinya. Ini hidupku, kalian tidak berhak mengaturnya. Mungkin dulu kakak gak berhasil mempertahankan Sivia, tapi aku akan memperjuangkan cinta kami sampai kapanpun."
Setelah mengungkapkan isi hatinya, Adniyan pun berpamitan pada kakaknya.
Aditya masih bergeming dari tempatnya duduk. Ia menghela nafas panjang. Dalam hatinya ia berterimakasih pada adiknya itu.
Terimakasih Iyan, terimakasih karena mau mempertahankan cinta kalian...
Dan tak terasa buliran bening mengalir dari pucuk mata Aditya.
...***...
Beberapa hari kemudian, Adniyan meminta seluruh anggota keluarganya untuk berkumpul di rumah orang tuanya. Ia meminta Martha untuk menyiapkan makan malam sederhana untuk keluarga.
"Terima kasih karena sudah hadir malam ini. Aku minta maaf untuk insiden beberapa hari lalu."
"Lalu apa keputusanmu, Dik?" Tanya Yulia tak sabar.
Setelah kedatangan Ninna hari itu, Adniyan terlihat lebih murung dari biasanya. Dan tak ada satupun yang berani menegurnya. Karena itu perintah dari Haris.
"Ini adalah hidupku, jadi aku mohon kalian menghargai keputusanku. Pa, Ma, aku harap kalian juga bisa menerima keinginanku. Aku ... akan tetap menikah dengan Sivia. Tidak peduli dengan masa lalunya bersama Kak Adit. Karena itu hanyalah masa lalu."
"Iyan!!! Apa kamu sudah gak waras? Perempuan itu hanya memanfaatkanmu!!!" Ninna tak terima dengan keputusan Adniyan.
"Cukup, Ninna! Jangan berteriak lagi." Haris mulai angkat bicara.
"Kamu yakin dengan keputusanmu? Apa Sivia bisa menerima keputusanmu juga?"
"Aku akan bicara dengannya. Papa jangan khawatir."
"Astaga!!! Mama tidak percaya kamu akan melakukan ini, Nak. Tapi ini adalah hidupmu. Jadi lakukanlah apa yang kamu mau. Yang penting, jangan pernah menyesalinya. Mengerti?"
"Iya, Ma. Terima kasih."
"Gak mungkin!! Perempuan itu gak bisa jadi keluarga kita! Baik dulu ataupun sekarang!!" Ninna terus menentang.
"Tolong hargai keputusan Iyan. Kita tidak bisa mengatur hidupnya." Martha tak mau tinggal diam.
"Maaf Kak Ninna. Aku mencintai Sivia. Kuharap kakak menghargai keputusanku."
"Sudah hentikan! Kita jangan berdebat lagi, dan persiapkan diri untuk membantu pernikahan adik bungsu kalian. Apa kalian mengerti?" Haris mengakhiri pembicaraan.
...***...
Ponsel Bayu bergetar. Ada sebuah panggilan masuk. Namun Bayu tak menyadarinya. Ia sedang di balkon bersama Aryan. Dan ponselnya berada di depan ruang TV.
"Tumben lo gak keluar Ar? Biasanya lo---"
"No! Lagi malas. Lagian kan ada lo disini." Jawab Aryan sambil meneguk kaleng birnya.
"Udah jangan minum terus. Banyakin minum air putih biar sehat. Alkohol gak bagus buat tubuh lo."
"Ini non alkohol, Bay. Gak bakal bikin mabuk."
Bayu menggelengkan kepala. "Mau kemana lo?"
"Birnya abis, gue mau ambil lagi di lemari es. Lo mau?"
"Gak, thanks. Ambilin gue air putih aja."
Aryan melihat ponsel Bayu bergetar.
"Bay!!! Ada telepon masuk di ponsel lo!" teriak Aryan
Bayu segera menghambur menuju ponselnya.
"Siapa yang telepon jam segini?" gumam Bayu sambil melihat ke arah jam dinding yang menunjukkan pukul 11 malam.
"Nisa?" Bayu mengernyitkan dahi.
"Halo, Nis. Ada apa telepon malam-malam?"
"Mas Bayu... Cepat kemari, mas. Mbak Vi..." suara Nisa terdengar panik.
"Ada apa dengan Sivia?"
"Dia barusan keluar rumah setelah dapat telepon yang aku gak tahu dari siapa. Dia gak bilang apapun. Aku takut terjadi sesuatu sama Mbak Vi. Tolong cari dia, Mas! Dan ini juga sudah malam, siapa yang meneleponnya jam segini?"
"Kamu tenang dulu, Nis. Jangan panik. Aku akan mencari Sivia. Jangan khawatir. Aku pasti menemukannya." Bayu menutup telepon.
Tanpa berpamitan dengan Aryan, Bayu berlari cepat keluar dari apartemen dan menuju basement untuk mengambil mobil.
Sebelum pergi, ia melacak keberadaan Sivia melalui ponselnya. Ia ahli dalam hal ini, karena pekerjaannya berhubungan dengan melacak orang.
Bayu sudah mendapat titik koordinat keberadaan Sivia. Ia langsung menginjak gas menuju kesana. Dalam kecemasannya, ia selalu berharap semoga tak terjadi apapun dengan Sivia.
Siapa yang menghubunginya jam segini dan meminta bertemu? Ini sangat aneh. Sivia, kamu harus baik-baik saja.
Bayu berusaha secepat mungkin menuju ke tempat Sivia.
...***...
......