
......***......
Jakarta, Indonesia.
Sudah satu minggu Grey berada di Indonesia setelah mendengar kabar jika neneknya sedang dalam kondisi kritis. Hati Grey rasanya tidak tenang memikirkan kondisi neneknya dan juga Ana yang jauh dengan dirinya. Ia selalu memantau gerak gerik Ana bersama Simon. Tidak ada keanehan memang. Namun entah kenapa hati Grey masih tak tenang saat Ana bertemu dengan Mike di rumah sakit.
Grey mendapat firasat jika Mike ingin mendekati Ana. Grey tidak akan pernah membiarkan itu terjadi. Ia lebih mendisiplinkan Simon agar menjaga Ana dengan baik. Tak cukup dengan Simon saja, Grey juga meminta Black untuk memeriksa kondisi Ana. Sungguh terlalu posesif dan obsesif.
Hingga akhirnya dua minggu telah berlalu dan ternyata Grey mendapat hal buruk. Neneknya menghembuskan nafas terakhir setelah berjuang melawan penyakitnya selama bertahun-tahun.
Kesedihan menggelayuti hati Grey dan juga Alfred. Grey amat menyayangi neneknya sebagai pengganti ibunya yang telah tiada.
Grey mengurung diri selama dua hari setelah kepergian neneknya. Alfred tidak tega melihat putranya terpuruk karena kehilangan orang yang disayangi.
"Nak, sebaiknya kau kembali dan mengurus perusahaan. Kau akan terus bersedih jika berada disini." ucap Alfred.
"Tapi, Dad..."
"Tidak apa. Daddy akan tinggal disini untuk mengurus surat-surat penting nenekmu."
Grey mengangguk. "Baiklah. Aku akan meminta Black untuk menyiapkan semuanya."
"Bersemangatlah, Nak! Nenekmu sudah tenang disana. Dia sudah tidak merasakan sakit lagi."
"Iya, Dad."
......***......
London, Inggris.
Ana mematung memandangi bunga-bunga di taman belakang. Setiap hari usai membersihkan rumah, Ana selalu bertandang ke taman untuk menenangkan pikirannya.
Bunga-bunga disana sangat indah di musim panas ini. Ana duduk di sebuah bangku panjang disana.
"Nona Ana!" Simon memanggil Ana.
"Iya, ada apa?"
"Nona bilang ingin menjenguk ayah Nona."
"Ah, iya. Aku sampai lupa karena keasyikan duduk disini. Tunggu sebentar ya!" Ana segara berlari ke kamarnya dan mengganti baju.
Ana tiba di rumah sakit dan melihat kondisi Ayahnya yang masih belum ada perubahan. Sungguh Ana ingin menyerah. Ia tak mau lagi hidup di bawah bayang-bayang hutang yang menumpuk.
Hidup Ana cukup tenang tanpa diganggu oleh Grey, namun bahkan bayangan Grey pun tak bisa ia kelabui. Kemanapun Ana pergi harus selalu didampingi Simon, orang kepercayaan Grey.
Setelah puas memandangi ayahnya dari kejauhan, Ana pun memutuskan untuk kembali ke mansion. Ketika melewati resto cepat saji, Ana meminta Simon untuk mampir kesana. Ana tersenyum meringis karena permintaannya di turuti.
"Nona, kau macam orang hamil saja." Simon menggeleng pelan.
"Biarkan saja." Ana melenggang masuk kedalam resto terkenal itu untuk membeli ayam goreng favoritnya.
Tiba di mansion, Ana cukup terkejut karena melihat seseorang yang sudah lama tak dijumpainya.
Ana tertawa sendiri. "Aku pasti sudah tidak waras. Bahkan aku membayangkan jika dia ada di depanku."
"Ana!"
"Wah, bahkan bayangannya pun bisa bicara. Astaga! Kau memang sudah gila, Ana!"
"Kau tidak gila, Ana. Ini adalah aku!"
"Hah?! Tuan Grey? Yang asli?" Ana membulatkan mata dan bibirnya tak percaya.
"Iya." Tanpa bicara lagi, Grey segera membawa Ana kedalam pelukannya.
"Aku sangat merindukanmu, Ana..." Grey mengeratkan pelukannya.
"Tuan! Aku tidak bisa bernafas." ucap Ana.
Grey merenggangkan pelukannya. "Maaf ya."
"Tuan sudah pulang? Kenapa tidak memberitahuku lebih dulu?"
"Aku ingin memberimu kejutan." Grey kembali memeluk Ana.
Ana tersenyum dalam dekapan Grey. Hatinya merasa tenang setelah melihat Grey di hadapannya.
"Tuan, aku membeli ayam goreng Wac'D. Bagaimana kalau kita makan bersama?" tawar Ana.
"Hmm, baiklah."
Mereka pun tertawa bersama.
......***......
Malam harinya, Ana melihat Grey sedang duduk di bangku taman teras belakang. Wajahnya menyiratkan kesedihan. Ana sudah tahu dari Black jika nenek Grey meninggal dunia.
"Apa yang Tuan pikirkan?"
"Entahlah. Aku merasa satu persatu orang yang kusayangi pergi meninggalkanku."
Ana terdiam mendengar cerita Grey. Baru kali ini tuan dinginnya ini menampakkan wajah sendunya.
"Tuan sangat menyayangi nenek Tuan?"
"Iya, Ana. Nenek adalah segalanya bagiku setelah ibu meninggal."
"Aku mengerti. Kehilangan seseorang yang amat dicintai memang berat. Tapi kehidupan akan terus berjalan, bukan? Tuan harus menata kembali hidup Tuan dan bangkit."
Ana mengembangkan senyumnya untuk Grey.
"Terima kasih, Ana. Apa aku boleh meminta sesuatu padamu?"
"Eh? Apa itu? Jika kau minta uangmu kembali, aku tidak bisa memberinya."
Grey terkekeh. "Apa di otakmu tidak ada hal selain uang?"
"Hubungan ini tercipta karena masalah uang, bukan? Jadi tidak ada salahnya jika aku membahas soal uang."
"Tapi aku ingin hubungan karena uang ini bisa bertahan selamanya."
"Maksud Tuan?"
"Jangan pernah tinggalkan aku, Ana."
"Eh?"
"Berjanjilah kau akan selalu disisiku!"
"Tuan Grey..."
"Kumohon, Ana..."
Ana menatap lekat pria yang duduk disampingnya ini. Begitupun Grey yang menyiratkan kesungguhan dalam tatapan matanya.
Grey makin mendekat dan mengikis jarak diantara mereka. Grey membelai wajah Ana dan meraih tengkuk belakang Ana. Tak ada penolakan dari Ana ketika bibir Grey menyentuh bibir Ana.
Grey bermain lembut kali ini. Ia tak ingin Ana pergi darinya karena keegoisannya. Grey memagut, menyesap, dan merasakan seluruh rasa bibir ranum itu. Sebuah ciuman panjang dan berirama tercipta di bawah sinar rembulan yang menemani malam mereka.
Grey membawa Ana kedalam kamar dan kembali meraih bibir yang kini menjadi candu untuknya. Ana hanya pasrah menerima semua hal yang dilakukan Grey.
Tubuh mereka kini sudah berada diatas ranjang. Ana memejamkan mata saat Grey memainkan lidahnya menyusuri leher jenjangnya hingga turun ke dua bukit yang masih asri itu.
"Tuan...." Ana sadar jika ia juga menginginkan Grey.
Grey menghentikan aksinya dan menatap Ana. Mereka saling mengatur nafas sebelum akhirnya kembali mengecap rasa. Ciuman panas itu kembali tercipta.
Grey menyingkap kaus Ana dan akan melepasnya.
"Tuan, jangan!!" Ana menghentikan tangan Grey. "Kumohon jangan!" Ana menatap Grey dengan mata teduhnya.
"Baiklah. Aku akan menunggu hingga kau siap."
Grey merebahkan tubuhnya di samping tubuh Ana. Mereka kembali mengatur nafas.
"Tidurlah!" Grey membawa tubuh Ana mendekat dan memeluknya.
Ana mengangguk.
"Aku tidak akan melepaskanmu, Ana. Tidak akan," bisik Grey yang membuat Ana merona.
Ana mulai memejamkan matanya. Grey mengusap puncak kepala Ana dan mengecupinya berulang kali. Grey kembali meraih bibir mungil Ana yang seakan memanggilnya mendekat.
Grey kembali memagut bibir itu. Kembali bermain lembut dan tanpa paksaan. Hingga akhirnya Ana membalas dengan sama lembutnya.
"Tuan!" Ana sedikit mendorong tubuh Grey setelah merasa kehabisan nafas.
"Maaf ya. Aku ketagihan dan kecanduan. Aku tidak bisa berhenti, Ana." Grey terkekeh dan Ana berdecak kesal.
Kini Ana benar-benar memejamkan matanya.
"Maafkan aku, Ana. Mungkin aku tak bisa mengungkapkan perasaanku secara langsung padamu. Tapi aku akan membuktikannya melalui tindakan. Kurasa itu lebih baik dari hanya sekedar untaian kata cinta." Grey mencium pucuk kepala Ana kemudian ikut terlelap.
......***......
#bersambung
😍😍😍
aw aw aw...
deg deg ser gak sih? 😬😬😬