
Sivia menelepon seseorang dan meminta untuk bertemu di sebuah cafe. Sivia menunggu dengan harap-harap cemas. Ia terus berpikir untuk merangkai kata yang pas agar tak ada yang merasa tersakiti. Yah, meski kenyataannya tetap harus ada yang tersakiti.
"Sivia..." Sebuah suara membuyarkan lamunan Sivia.
"Bapak? Terima kasih karena sudah mau datang..."
"Saya yakin ini adalah sesuatu yang sangat penting. Kamu sampai meninggalkan rumah sebelum pernikahan."
"Saya minta maaf karena harus bicara seperti ini dengan bapak. Saya sangat menghormati bapak. Makanya---" Sivia mulai berkaca-kaca.
"Saya tahu hubungan kamu dan anak-anak saya sangatlah rumit. Tidak mudah memang. Karena mereka kakak beradik. Jadi, kamu sudah membuat keputusan?"
Sivia menatap Haris dengan lekat. "Maafkan saya, Pak. Saya tidak bisa melanjutkan pernikahan ini..."
"Huft! Saya tahu. Saya juga tidak bisa melihat Iyan dan Adit terus berseteru. Apalagi, Ninna tidak akan membiarkanmu hidup tenang bersama Iyan. Belum terlalu terlambat untuk mengambil keputusan sekarang. Terima kasih Sivia..." Haris tersenyum pada Sivia.
Sivia menutup mulutnya seakan tak percaya kalau Haris memahami perasaannya. Siviapun berpamitan pada Haris dan mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya pada beliau.
Sivia langsung menuju apartemen Aryan dengan semangat menggebu dan mata berbinar bahagia. Ia sudah tak sabar untuk memberitahu Bayu tentang perasaannya.
Sivia terus menekan bel di depan pintu apartemen Aryan. Cukup lama tak ada jawaban dari dalam. Sivia menghubungi ponsel Bayu, namun tidak aktif. Lalu menghubungi ponsel Aryan yang juga tidak diangkat.
Sivia mulai cemas. Ia menekan bel untuk kesekian kalinya. Masih tak ada jawaban, hingga akhirnya...
"Vi, lo ngapaen disini?" itu adalah suara Aryan. Ia baru saja tiba.
"Aryan? Dimana Dewa? Aku harus ketemu dia..."
"Eh? Jadi lo gak tahu?"
"Tahu apa?" Sivia mengernyitkan dahi.
"Apa Dina gak cerita?"
Sivia menggeleng.
"Bayu kembali ke Inggris. Hari ini. Gue baru aja antar dia ke bandara."
"APA?"
Seketika itu lutut Sivia terasa lemas. Matanya seakan berkunang-kunang. Ia sangat senang menuju kemari hingga akhirnya hanya kekosongan yang ia dapat.
Terlambat. Kamu sudah terlambat Sivia. Ucap hatinya.
"Vi... Are you okay?" tanya Aryan yang melihat Sivia nampak putus asa.
Sivia mengangguk dengan berurai air mata. "Jam berapa penerbangannya?"
"Pukul sepuluh malam ini."
Sivia melirik jam tangannya. Masih pukul sembilan malam. Pasti masih ada kesempatan. Pikirnya.
"Antarkan aku ke bandara!" Pinta Sivia.
"Hah? Ke bandara?" Aryan nampak mengerutkan keningnya.
"Iya. Ayo cepatlah!!" Bentak Sivia.
"Eh? Ba-baiklah. Ayo!" Aryan tak bisa menolak permintaan Sivia yang saat ini terlihat sangat emosional.
Berkali-kali Sivia berdoa dalam perjalanan menuju bandara. Akankah Sivia memiliki kesempatan?
......***......
-Tiga Bulan Kemudian-
Sivia PoV
Waktu berlalu begitu cepat. Dan semua berlalu begitu saja. Aku melewatkan banyak hal. Semuanya semu. Termasuk tentangmu. Aku telah melewatkan semua kesempatan. Aku tak mau menyebut diriku bodoh, meski itu adalah kenyataan. Mungkin ini memang sudah suratanku. Dan saranku, jika kalian memiliki kesempatan meskipun itu hanya berjumlah satu, sebaiknya kalian gunakan kesempatan itu dengan baik. Soal hasil, serahkan semua pada yang punya Kuasa. Karena kita hanya bisa berusaha.
Masih pukul tujuh pagi saat aku keluar rumah. Kulihat banyak anak sekolah yang memenuhi jalan raya. Finally, I'm driving. Aku memutuskan untuk kursus menyetir mobil, dan sekarang aku mengendarai mobil sendiri. Banyak hal berubah. Maka akupun harus berubah.
Aku buru-buru menginjak pedal rem karena kulihat lampu merah menyala. Beberapa orang menyeberang dan melewatiku. Sambil menunggu lampu menyala hijau, aku kembali teringat pada kenangan tiga bulan lalu. Kenangan di malam itu. Malam dimana aku memutuskan untuk melakukan hal sesuai dengan kata hatiku. Meskipun---semua selalu tak berjalan sesuai keinginanmu.
.
.
Satu hari menjelang hari pernikahan, akhirnya aku mengutarakan apa yang ada dalam hatiku. Aku meninggalkan rumah untuk menemui Pak Haris. Pada akhirnya aku memutuskan semua ini. Terlalu lama memang untuk bisa menyadari sesuatu.
Aku merasa sangat emosional. Begitu tiba di bandara aku seperti kerasukan dengan berlarian kesana kemari didalam bandara sambil meneriakkan nama Dewa. Hingga akhirnya petugas bandara menghampiriku dan menanyakan apa yang terjadi denganku.
Aku menanyakan tentang penerbangan ke Inggris dengan air mata yang deras mengalir di pipiku. Tapi aku mendengar hal yang tak ingin kupercaya.
"Penerbangan ke London, Inggris sudah berangkat setengah jam yang lalu, Nona." jawab si petugas.
"A-apa? Bukankah penerbangannya pukul 10 malam, ini kan masih---"
Kulirik jam tanganku, lalu mengernyitkan dahi. Tidak!! Jam tanganku mati! Aku benar-benar sudah terlambat.
Aku terduduk lemas. Kemudian meraung-raung dan terus menangis. Aku sudah kehilangannya. Aku sudah kehilangan Dewa.
Aryan menghampiriku, dan memapahku berjalan. Aku merasa bagai mayat hidup. Separuh jiwaku sudah pergi entah kemana.
Dan semua hal buruk tak hanya sekali terjadi. Begitu tiba di rumah, aku melihat banyak orang berkerumun. Ada mobil ambulance disana.
Aku memasuki rumah dengan perasaan campur aduk tak menentu. Aku melihat Nisa menangis tersedu-sedu. Ada apa ini?
Dan tak lama kulihat beberapa petugas ambulance membawa tubuh ibuku memasuki mobil.
Aku makin histeris melihat kejadian ini. Berkali-kali aku menyalahkan diriku.
Aku sampai dirumah sakit ditemani Dina. Setelah aku cukup tenang, Dina menceritakan semua padaku. Ibuku mendapat telepon dari Pak Haris, yang membatalkan pernikahanku dan Mas Iyan. Ibu sangat syok mendengar hal itu lalu jatuh pingsan.
Aku kembali meneteskan air mata mendengar cerita Dina. Aku menyalahkan diriku atas apa yang menimpa Ibu. Aku anak yang berdosa.
Kondisi Ibu mulai membaik setelah sekitar dua minggu menjalani perawatan di rumah sakit. Aku sangat lega melihat Ibu kembali sehat. Berulang kali aku berlutut di pangkuannya dan meminta pengampunan darinya.
Aku mendengar hal tak terduga dari Ibuku. Ia bilang ia memahamiku. Dan ia juga tak ingin aku tak bahagia. Meskipun nyatanya, aku memang sudah terlambat untuk bahagia.
Aku sangat berterimakasih karena Ibu tidak membenciku. Dan mana mungkin seorang Ibu membenci anaknya. Aku memeluk Ibu dengan berurai air mata.
.
.
TIINN TIINN
Aku kembali tersadar dari lamunanku saat beberapa kendaraan di belakangku membunyikan klakson mereka. Aku kembali melaju menuju salon. Hari ini aku akan sangat sibuk mengurus salon sendiri, karena pagi tadi Razona telepon kalau rahimnya mengalami kontraksi dan sepertinya ia akan melahirkan hari ini. Aku berharap semoga ibu dan bayinya selamat dan sehat.
Dan benar saja, salon sangat ramai hari ini. Aku bersyukur karena bisa melalui ini dengan kesibukan di tiap harinya. Meski kadang masih merutuki kebodohanku sendiri yang telah membuatku kehilangan Dewa.
Aku meregangkan otot-ototku sejenak, saat Rena tiba-tiba memberitahuku kalau bayi Razona sudah lahir. Seorang bayi perempuan. Aku sangat senang mendengarnya. Dan seketika itu juga aku meminta ijin pada Rena untuk pergi ke rumah sakit menjenguk Razona.
Aku tiba di rumah pukul sembilan malam, seperti biasa. Tak ada aktifitas khusus yang aku lakukan dalam tiga bulan terakhir. Aku sendiri tak pernah lagi mendengar kabar tentang Mas Iyan dan keluarganya. Mungkin seperti yang pernah Pak Haris katakan padaku, kalau semua akan baik-baik saja. Dan orang-orang akan mengerti.
Namun malam ini, Nisa memberitahuku tentang Mas Iyan yang kabarnya akan bertunangan dengan putri dari Grup SJ, Natasha. Ini bukan berita buruk, ini adalah hal baik bukan? Karena keluarga mereka menemukan menantu yang pas untuk putra bungsu mereka. Dari awal, dunia kami memang berbeda. Terlalu jauh untuk menyeimbangkan kehidupan kami. Aku ikut bahagia mendengar kabar ini.
Sudah pukul sebelas malam, namun mataku masih belum mau terpejam. Kuputuskan untuk membuka notebook dan masuk ke akun facebook. Sudah lama juga aku tak mendengar kabar dari dunia maya. Karena merasa dunia nyataku runtuh tak seindah yang maya.
Lumayan banyak notifikasi disana. Kulihat beberapa postingan dari teman-temanku. Dan dengan sengaja aku mencari akun milik Dewa dan mencari aktifitasnya selama ini. Namun aku tak menemukan apapun disana. Selama tiga bulan ini, tak ada postingan darinya.
Apa yang sudah kamu lakukan Sivia? Apa yang kamu harapkan setelah menyakitinya? Aku mengusap wajahku. Tak percaya kalau hubungan kami akan berakhir seperti ini.
Aku melirik ke arah kolom pesan pribadi dan ada sebuah pesan disana. Dari seseorang yang tidak kukenal. Aku tidak berteman dengannya di Facebook.
"Robert? Siapa ini?" aku bergumam lirih. Berpikir sejenak, lalu kuputuskan untuk membacanya.
Pesannya cukup panjang.
Hai Sivia, namaku Robert Hogard. Kamu tidak mengenalku. Tapi aku mengenalmu. Maaf karena mengirim pesan ini padamu. Ada yang harus aku sampaikan padamu mengenai Bayu. Kamu pasti mengenalnya bukan? Aku adalah atasannya di kantor.
Beberapa bulan lalu, aku memberinya cuti agar bisa menemuimu. Bayu memang tidak cerita secara detil tentang kepulangannya ke Indonesia. Tapi aku tahu itu semua berhubungan denganmu.
Begini Sivia, selama tiga bulan ini, aku melihat Bayu tak memiliki passion seperti dulu. Hasil kerjanya pun tak sebagus yang dulu. Maaf harus mengatakan ini, tapi aku rasa ini ada hubungannya denganmu.
Apa yang terjadi diantara kalian, hanya kalian sendiri yang bisa menyelesaikannya. Jadi, aku ingin mengundangmu untuk datang ke London dan selesaikan masalahmu dengan Bayu.
Jika kamu bersedia, tolong balas pesan ini dan aku akan persiapkan semuanya untukmu.
^^^Salam kenal,^^^
^^^Robert Hogard^^^
Mataku berkaca-kaca tak percaya dengan apa yang baru saja kubaca. Apa yang harus kulakukan? Tentu saja aku harus membalas pesan ini. Aku tidak mau kehilangan Dewa lagi. Tidak untuk ketiga kalinya. Dengan mata berbinar kubalas pesan dari Pak Robert.