Raanjhana

Raanjhana
Trapped by Cold CEO : 04. Bachelor Party



...



Perhatian: Kisah ini bergenre Adult-Romance. Harap pembaca bijak menyikapi πŸ™...


...Terima kasih...


......***......


Ana sedang bersiap merapikan beberapa helai pakaian yang akan ia bawa ke hotel tempatnya menginap nanti untuk menghadiri pesta pernikahan sepupunya, Jessline. Ana tampak bingung dan mengurut apakah ada barang yang tertinggal atau tidak.


"Kak!" suara Alvin membuat Ana menoleh kearahnya.


"Iya." jawab Ana.


"Kakak sudah siap?"


"Hmm, sebentar lagi."


"Daddy sudah menunggu di bawah."


"Baiklah, kakak akan segera menyusul."


Tak lama kemudian Ana turun dengan menenteng tas besarnya. Ana tersenyum pada Daddynya.


"Kau sudah siap, Nak?"


"Iya, Dad."


"Mari kita berangkat. Pamanmu dan Jessline sudah menunggu di resort."


Ana mengangguk kemudian naik kedalam mobil. Setelah melalui perjalanan selama kurang lebih satu jam, akhirnya Ana dan keluarganya tiba di sebuah resort milik keluarga Gerardo yang baru saja di resmikan.


Resort itu berbentuk seperti kubah dan terbuat dari kaca tebal seperti rumah tokoh Sandy dalam serial kartun Spongebob.



Didalam resort terdiri dari pantai buatan yang sengaja dibuat agar orang-orang perkotaan bisa merasakan sejuknya angin laut pantai. Ditambah dengan terbentang luas hamparan pasir putih yang sengaja dibawa dari pasir pantai di Miami. Lalu berjejer kamar-kamar hotel yang bisa dijadikan tempat menginap untuk para wisatawan.


Ana berdecak kagum dengan hasil karya ayahnya itu. Ayahnya sengaja membuat resort itu karena Ana sangat menyukai serial kartun tersebut.


"Terima kasih, Dad. Ini sangat indah." Ana memeluk Alfonso ketika tiba di depan resort.


"Daddy hanya ingin mewujudkan mimpimu, Nak. Ayo masuk! Kau akan makin tercengang dengan pemandangan di dalam sana."


Ana mengangguk dan melangkahkan kakinya sambil memeluk lengan Alfonso.


"Selamat datang, Ana." sapa Jessline gembira. Ia dan ayahnya telah lebih dulu tiba di resort.


"Hai, Jess." Ana memeluk Jessline. "Uncle Alonso." Ana beralih memeluk adik ayahnya itu.


"Oh ya, Ana. Kenalkan, ini Mike. Kau sudah pernah bertemu beberapa kali dengannya." Jessline mengenalkan calon suaminya pada Ana.


"Halo," sapa Mike mengulurkan tangannya.


"Halo, juga. Aku Ana." Ana menerima uluran tangan Mike.


Ada desiran aneh ketika Mike menjabat tangan Ana. Sepupu calon istrinya ini sangatlah cantik seperti yang dibicarakan oleh banyak orang.


Jessline segera menarik tangan Mike. Ia sedikit cemburu karena Mike mengagumi kecantikan Ana.


"Mari kita masuk!" ucap Alonso melangkah memasuki resort diikuti seluruh anggota Gerardo yang lain.


Mereka berkumpul di meja makan untuk makan siang setelah menempati kamar hotel masing-masing. Mereka bercengkerama dan berceloteh tentang banyak hal.


"Bagaimana Ana? Kau suka dengan resort ini?" tanya Alonso.


"Iya, Uncle. Ini sangat luar biasa. Aku tidak menyangka kalian bisa membuat resort seindah ini." jawab Ana antusias.


"Untukmu apapun akan Daddy lakukan." Alfonso memegang tangan Ana.


"Terima kasih, Daddy."


"Oh ya, dan untuk kedua mempelai. Uncle sudah siapkan sesuatu yang spesial." ucap Alfonso.


"Wah, aku sudah tidak sabar, Uncle." balas Jessline. "Iya 'kan, sayang?" Jessline melirik kearah Mike.


"Iya, sayang. Terima kasih, Uncle. Ini sudah sangat luar biasa." balas Mike dengan sedikit melirik kearah Ana. Entah kenapa perhatian Mike kini beralih pada Ana. Gadis cantik itu berhasil memikat hatinya di saat dirinya hampir tak berstatus sebagai lajang.


Malam harinya, Ana baru saja membersihkan diri ketika pintu kamarnya diketuk. Ana yang sudah berganti pakaian dengan piyama menuju ke pintu.


"Ana!!!" teriak dua wanita berwajah sama, Celine dan Cherly. Mereka adalah sikembar sahabat Ana dan Jessline.


"Celine? Cherly? Kalian datang?" Ana menghambur memeluk mereka. Lama sekali mereka tidak bertemu. Dibelakang mereka ada Jessline yang tersenyum karena melihat tingkah ketiga sahabatnya.


"Ana, gantilah bajumu. Kita akan ke kamarku." ucap Jessline.


"Kenapa memangnya dengan memakai piyama?" tanya Ana mengerutkan dahi.


"Sayang, ini bukan pesta piyama. Malam ini adalah malam pesta lajangku. Ayolah! Gunakan gaun seksi." Jessline mengedipkan sebelah matanya pada Ana.


"Gaun seksi? Jess, aku tidak memiliki pakaian seperti itu."


"Astaga! Aku lupa! Kau adalah 'gadis suci' kota ini. Baiklah, kau ikut saja denganku, kami akan mendandanimu." Jessline menarik tangan Ana.


"Hah?! A-Apa?" Tanpa bisa menolak Ana mengikuti langkah Jessline menuju kamarnya.


......***......


Grey mendengus kesal ketika tiba di resort milik keluarga Gerardo. Ia turun dari mobil dan segera memasuki resort.


"Hmm? Lumayan juga." batin Grey ketika memasuki ruangan berbentuk kubah kaca itu.


"Mari, Tuan. Kamar tuan ada di lantai dua." ucap Black.


Grey mengikuti langkah Black sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling resort.


"Jadi, Daddy banyak menginvestasikan uangnya di resort ini." Grey manggut-manggut sambil bermonolog dalam hati.


Usai mengganti setelan jasnya dengan setelan santai kaus dan celana selututnya, Grey berkeliling pantai dan merasakan angin laut buatan yang berhembus sejuk menerpa wajahnya. Grey menyusuri pantai buatan itu sambil membayangkan jika dirinya bersama Nisha saat ini.


Sementara itu, para gadis sedang bercanda ria di dalam kamar Jessline. Mereka mencari situs para pria bayaran yang bisa mereka sewa malam ini. Ana hanya bergeleng pelan melihat rencana teman-temannya.


Celine dan Cherly berseru setuju. Tapi tidak dengan Ana.


"No, Jess! Apa kau sudah gila? Bagaimana jika Daddy mu dan Daddy ku tahu?"


"Sstt!! Ana! Aku yakin mereka pasti mengerti. Ini adalah malam terakhirku sebagai lajang. Oke?"


"Tapi, Jess..."


"Sudahlah, Ana. Bukankah kita harus mengikuti keinginan sang mempelai wanita?" sahut Celine.


"Benar, Ana. Hanya untuk malam ini saja." timpal Cherly.


Ana hanya menghela nafas dengan ide gila teman-temannya. Mereka bertiga bersorak gembira ketika berhasil membooking penari pria yang akan menemani mereka malam ini.


Ana menarik lengan Jessline menjauh dari Celine dan Cherly.


"Jess, kenapa kau melakukan ini? Bagaimana jika Mike tahu kau menyewa pria..."


"Ana, kau tidak perlu khawatir. Lagipula Mike juga kini sedang bersenang-senang dengan teman-temannnya di klab. Ini adalah hal biasa, Ana. Jangan terlalu membesar-besarkannya."


"Hal biasa? Hubungan pria dan wanita kau bilang biasa? Apa kau sudah...."


"Iya, aku dan Mike sudah melakukannya. Apa kau puas?" kesal Jessline.


Ana tidak percaya dengan apa yang dikatakan Jessline. "Kenapa Jess? Kau adalah gadis baik."


"Kita sudah dewasa, Ana. Jadi tidak tabu lagi membicarakan hal semacam itu. Aku dan Mike sama-sama tahu resikonya. Dan kami juga akan menikah. Jadi apa bedanya melakukan sekarang atau nanti? Ayolah, Ana. Jangan merusak suasana pesta lajangku. Ini adalah malam membahagiakan untukku."


"Maafkan aku, Jess. Aku tidak bermaksud untuk merusak momen ini." ucap Ana penuh sesal.


Kemudian mereka kembali bergabung dengan Celine dan Cherly yang sedang berkirim pesan dengan pria bayaran mereka malam ini.


"Oh ya, calon suamimu juga pasti sedang bersenang-senang, bukan?" tanya Celine.


"Yeah. Mike menyewa The Devil Club untuk bersenang-senang bersama teman-temannya."


"What?! The Devil Club? Kau serius, Jess? Itu adalah klab terbaik disini." Celine berjingkat gembira.


"Yeah, begitulah." sahut Jessline.


"Kudengar rumor jika pekerja disana melalui tahap seleksi yang tidak biasa." timpal Cherly.


"Oh ya? Seperti apa, Cher?" tanya Jessline.


"Kudengar untuk bisa dinyatakan lulus tes kerja mereka harus memuaskan si pemilik klab yang kabarnya tampan dan dingin." jawab Cherly.


"Wow! Itu sangat luar biasa, Cher. Bukankah pemilik klab itu adalah Grey Ardana Putra? Pria sedingin es yang sangat tampan dan kaya raya. Aku sangat bersedia jika harus memuaskannya." sahut Jessline.


"Yeah, aku juga bersedia melakukannya, Jess." timpal Celine.


Ana hanya menggeleng pelan dengan penuturan teman-temannya. "Astaga! Apa otak mereka tidak diisi dengan hal lain selain berhubungan badan?" batin Ana.


"Tapi, aku sendiri belum pernah bertemu dengannya. Aku hanya mendengar namanya saja dari Daddy ku." ucap Jessline.


"Pasti pahatan wajahnya sangat sempurna, Jess. Seperti Dewa Yunani." Balas Cherly dengan membayangkan wajah Grey.


Ana hanya memutar bola matanya malas. Sungguh ia ingin keluar dari lingkaran yang menurutnya menyesatkan ini.


Suara ketukan pintu membuat gadis-gadis disana berteriak senang.


"Itu pasti pria penari itu!" seru Celine yang segera membuka pintu.


"Hai, ladies..." Sapa pria itu dengan mengerling pada Celine.


Celine menutup mulutnya karena melihat pria bertubuh atletis itu. "Ayo, masuk!" Celine menarik tangan pria itu.


Semua mata tertuju pada pria itu.


"Hai, namaku Arnold. Jadi, malam ini adalah pesta lajang seorang gadis bernama..."


"Jessline. Namaku Jessline." Jessline segera menjabat tangan Arnold.


Pria bernama Arnold itu mulai menunjukkan keahliannya dalam menari ero'tis. Gadis-gadis didalam kamar itu berteriak histeris dengan aksi Arnold.


Ketika Arnold mulai melucuti pakaiannya, Ana memalingkan wajah dan memilih keluar dari kamar itu. Beruntung tadi Ana memilih dress milik Jessline yang masih terbilang sopan meski tanpa lengan dengan panjang dress tidak terlalu pendek dan pas selutut Ana.


Ana keluar kamar dan mencari udara segar. Degup jantungnya tak beraturan karena ulah teman-temannya itu. Ia berjalan menyusuri pantai buatan yang sangat indah itu. Kecerdasan manusia tetap tidak bisa menyaingi kekuatan Tuhan. Namun bisa melihat hal seperti ini dalam sebuah ruangan itu adalah hal luar biasa bagi Ana.


Di sisi lain, Grey masih berjalan menyusuri pantai. Sudah hampir pukul sembilan malam. Biasanya jam segini ia harus standby di klab untuk mengawasi kinerja karyawannya. Apalagi jika ada yang melamar kerja. Grey harus siap untuk pasang badan agar semua rumor tentang klabnya adalah benar.


Grey tertegun melihat seseorang yang tampak familiar di matanya.


"Rambut panjang kecoklatan dan kaki jenjang itu..." gumam Grey.


Bahkan hanya melihat dari bagian belakanganya saja Grey sudah bisa menebak siapa yang ia lihat. Grey segera mengejar sosok yang ia rindukan selama ini.


GREB!!!


Grey berhasil memegangi lengannya.


"Nisha!" panggil Grey.


Gadis yang di panggil Nisha itu menoleh dan tersenyum pada Grey.


"Maaf, aku bukan Nisha. Sepertinya Anda salah orang."


"Hah?!" Grey tercengang melihat gadis di hadapannya yang tak lain adalah Ana. Tanpa mengucap maaf ataupun berpamitan, Grey segera berbalik badan dan meninggalkan Ana.


"Ada apa dengannya? Dasar tidak sopan! Dia yang salah orang, dia sendiri yang pergi." Ana melanjutkan langkahnya kembali ke kamarnya.


#bersambung...


*Babang Grey gak fokus, ingetnya Nisha terus 😁😁😁


*Sekedar info, sebenarnya untuk visual Ana yg sekarang itu memang mau tak bikin utk visual Nisha 😬 tp utk visual Hernan bukan Edward Cullen ya, hehehe.


Jangan lupa dukungannya untuk karya remukan yg satu ini yak 😍😍😍apalah diriku tanpa adanya kaleyan.


...terima kasih...